EPOCH

EPOCH
Bab 30


__ADS_3

Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


“Mas, itu Alief nangis. Coba tolong liatin dulu, aku lagi mandi ini.” teriak Kinza dari kamar mandi. Aku yang sedang mengerjakan beberapa laporan lantas meninggalkan pekerjaan ku, dengan segera aku menengok Alief di kamar nya.


“Uh, anak Papa, sini nak.” ujar ku sambil meraih tubuh mungil Alief. Ku letakkan dia di pangkuan tangan ku. Begitu aku cek, ternyata popok nya basah. Duh, Alief ngerjain papa kayak nya ini.


“Nggak betah, ya nak? Sebentar ya, Papa ganti popok mu.” perlahan, aku mengembalikan Alief ke posisi semula. Sementara itu, aku mengambil popok dari keranjang pakaian bayi.


Dengan cekatan, tangan kekar ku yang berotot mengganti popok celana Alief. Jangan rendahkan aku, ya, gini-gini aku sering lho gantiin popok bayi Alief. Makanya sudah terbiasa juga. Ya, lumayan lah bantu-bantu Kinza disaat sedang repot. Biar ada gunanya jadi suami, ha ha ha.


“Alief ngompol ya, Mas?” tanya Kinza cemas. Sumpah, dia masih pakai handuk di tubuh dan kepala nya. Ck ck ck, mau godain aku atau apa sih dia tuh?


“Iya sayang, ini lagi aku ganti.” balas ku sekenanya. Pura-pura tak lihat dia ajalah.


“Sini mas biar aku aja. Kamu kerja lagi aja sana.” tawar Kinza lembut. Lantas aku menggeleng cepat. “Kamu pakai baju aja, cinta, apa mau sekalian aku pakaikan kayak Alief gini?” goda ku ceriwis. Wajah dia langsung merah merona.


“Ish, Mas apaan sih. Ya udah aku pake baju dulu.” ujar Kinza malu-malu, serta merta tubuh ramping nya yang masih terbalut handuk berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian.


“Uh, Alief langsung diem ini. Tadi nggak betah ya, sayang?” tanya ku sok-sokan. Alief langsung ngoceh-ngoceh nggak jelas. Iya–iya, itu bahasa bayi, Papa mana paham.


“tok..tok..tok” tetiba suara ketukan pintu langsung membuat aku dan Kinza terdiam. Kami masih mendengarkan baik-baik dan saling melempar tatapan.


“Assalamualaikum..” ucap orang tersebut. Oke, kayaknya ini beneran tamu.


“Mas, itu ada tamu, kamu bukain pintunya gih. Aku belum selesai ini.” bubuh Kinza yang masih sibuk dengan dunianya. Aku menurut ajalah, lantas aku menggendong Alief dan berjalan menuju pintu depan.


“Ceklek” aku membuka pintu, daaann...


“Arjuna, Putri?” ucap ku spontan. Eh, aslinya aku kaget banget. Demi apa rumah ku kedatangan manusia dari masa lalu. Eh, maksud ku Putri dan Arjuna.


“Izin selamat pagi, Bang, maaf mengganggu waktu nya. Kedatangan kami kesini untuk mengundang Abang dan juga Kinza dalam acara pernikahan kami.” ujar Arjuna nampak serius. Sedikit terkejut juga sih, Arjuna sama Putri mau nikah? Yaudah lah, mungkin mereka memang jodoh. Semoga saja, aamiinn..


“Eh, yuk mari masuk dulu.” ajak ku ramah. Mereka langsung mengikuti perkataan ku.


“Mas, itu siapa?” tanya Kinza sambil mendekat. Dia pasti kaget ini.


“Mmm–mmbak Putri? Bang Arjuna?” pekik Kinza sambil tergagap. Kan, aku bilang juga apa.


“Maaf kalau kedatangan kami mengganggu.” ucap Putri. Kinza lantas menggeleng pelan. “Nggak kok, santai aja.” balas Kinza.


“Sebentar, ya, Kinza ambilkan minum dulu.“ pamit Kinza pelan, istriku langsung ngacir ke dapur, menyisakan aku, Putri dan juga Arjuna yang masih terdiam.


“Itu bayi Abang dan Kinza?” tanya Arjuna memecahkan suasana. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.


“Wah lucunya, namanya siapa, Mas?” tanya Putri ikut-ikutan.


“Alief Arzanta Dirgantara, panggil aja Alief.” balas ku sekenanya. Mereka langsung mengangguk paham.


“Mau gendong?” tanya ku pada mereka. Abis kasian, masa lihat bayi jauhan gitu wkwk.


“Boleh mas?” tanya Putri kalem.


“Iya boleh, ini.” ujar ku sambil menyerahkan Alief pada Putri. Calon manten itu lantas mengambil alih dengan senyuman merekah.


“Wah lucu banget ya, jadi gak sabar kepingin punya yang kayak gini.“ bubuh Arjuna spontan. Aku mesem singkat dan kembali seperti biasa.


Tak lama kemudian, Kinza datang dengan membawa empat cangkir teh manis dan kue bolu serta buah-buahan macam melon dan semangka yang sudah dipotong.


Dengan sigap dan telaten, istriku menyajikan pada kedua manusia purba ini. Eh, maksudnya masa lalu.


“Silahkan di nikmati Mbak, Bang, maaf hanya ada ini.” imbuh Kinza segan.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Dek. Harusnya, Mbak yang minta maaf sebab merepotkan kalian.” balas Putri ramah.


“Nggak apa-apa, Mbak.”


“Oh iya, ini undangan pernikahan kami. Kami harap Abang dan Kinza bisa hadir dan memberikan doa restu.” ujar Arjuna sambil menyodorkan dua buah undangan berwarna navy. Dengan spontan aku meraih undangan tersebut. Cuma diambil kok, nggak langsung dibaca!


“Iya siap, nanti kami usahakan datang. Ngomong-ngomong ini kenapa ada dua? Satu lagi buat siapa?” tanya ku bingung.


“Oh iya, ini buat Kenzo. Tadinya saya mau memberikan langsung, cuma baru ingat kalau dia baru selesai pendidikan. Saya nggak tau tempat dinas dia dan juga nomor telepon nya, makanya saya titipkan ke Abang. Tolong disampaikan ya, Bang? Lewat telepon pun tidak apa-apa.“ ujar Arjuna segan. Oke baiklah, tapi berani banget dia nyuruh senior? Ck ck ck, untung beda satuan.


“Oke, nanti saya sampaikan.“


Semua kembali terdiam, hanya suara ocehan Alief yang saling bersahutan dengan Putri dan Arjuna. Aku dan Kinza terdiam dan saling tatap, kayaknya membiarkan mereka berada di sini nggak masalah deh. Ya kali mau aku usir. Tapi gimana dong? Aku kepalang nggak suka sama dua cecunguk ini, bawaan nya emosi akut.


“Kayaknya kalian udah ga sabar, ya? Semoga setelah menikah langsung diberikan momongan.” ujar Kinza lembut, mereka lantas tersenyum kikuk.


“He he he, aamiin.. makasih ya, Dek.” balas Putri ramah.


“Iya, mbak, sama-sama.”


...---...


“Mas, aku nggak percaya deh bang Arjuna mau nikah sama mbak Putri.” ujar Kinza polos.


Aku mendelik, “Emang nya kenapa? Kamu masih nyimpen perasaan sama Arjuna?” tanya ku ceplas-ceplos


“Hiii, Mamas apaan sih, gak jelas banget!” ujar nya sewot. Aku tertawa geli.


“Udah lah sayang biarin aja, kalau memang udah jodoh gimana dong? Toh mereka yang menjalankan, kita doakan aja supaya mereka berdua bisa langgeng.” balas ku lembut.


Oke, kedua manusia dimasa lalu sudah musnah alias pergi dari rumah ini. Setelah dua jam berada di sini, membicarakan hal-hal yang membuat ku panas hati. Akhirnya kedua cecunguk itu pergi. Kejam ya aku? Bodo amat lah!  Aku udah kepalang emosi terus liat mereka, baik Arjuna ataupun Putri. Sedikit trauma juga intinya.


Nah, ini sih waktu yang tepat buat aku berduaan dengan sidia. Lumayan lah bisa nempel-nempel di waktu weekend, biasanya rumah kami selalu dikunjungi orang-orang yang ingin menengok bayi. Ya gitu lah pokoknya. Weekend gak weekend sama aja, jarang berduaan.


“Udah lama ya kita nggak berduaan gini, kangen sekali aku, Dek.“ ujar ku spontan. Sidia yang tengah memakan potongan buah melon lantas menengok.


“Mas kode?” tanya Kinza yang seratus persen benar. Gimana dong? Aku kangen berat masalahnya.


“Iya cinta, kenapa memangnya?” tanya ku sambil membelai lembut pipinya, sesekali aku mencium puncak kepala Kinza dengan gemas.


“Mas, kok aku merinding ya? Ih gimana dong ini?” ujar nya malu-malu, wajah cantiknya sudah seperti kepiting rebus, merah padam gitulah.


Aku mendekatkan wajah ku ke wajahnya, sidia langsung diam, senyap tak berkata apa-apa lagi. Mata kami beradu, saling tatap seperti orang yang pertama kali jatuh cinta. Uh, aku suka ini, aku suka dimana dia menatap mataku.


Tak berapa lama, bibir kami bersatu. Kami masih terdiam, tak melakukan banyak hal.


“Mas, kan masih masa nifas, nggak boleh 'lho gituan.” ujar Kinza menyadarkan ku untuk berhenti beraksi. Ya ampun, kenapa aku bisa lupa sih? baiklah, kita hentikan sekarang. Terus gimana? Udah gak tahan!


“Maaf cinta, aku lupa.” ujar ku sambil menjauhkan wajah ku dari wajahnya. Ya bagaimana pun aku harus bisa tahan. Padahal udah kangen berat!


“Srek” tahan Kinza cepat. “Kalo cuma gini boleh, Mas,” ujar Kinza sambil mencium bibir ku dengan lekat.


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Aku terbangun saat mendengar suara tangisan Alief. Ku lirik jam dinding, masih pukul satu malam.


Aku menyibak selimut berwarna merah motif bunga, pelan-pelan supaya tak mengganggu Mas Al tidur. Kasian dia, pagi-pagi sekali harus ikut apel persiapan buat kunjungan KASAD. Masih ada sisa waktu empat jam sebelum apel dilangsungkan.


“Oek..oek..oek..” pecah suara tangisan Alief, kali ini lebih kencang. Masya Allah, bayi ku kenapa ya? Batin ku bertanya-tanya.

__ADS_1


Aku meraih tubuh mungil Alief, tubuhnya hangat sekali. Eh bukan hangat, ini udah mau ke arah panas. Duh gimana dong? Alief demam kah?


Aku langsung panik, buru-buru aku menggoncang tubuh Mas Al. Membangunkan dia demi si kecil Alief. “Mas, bangun, Mas. Alief demam, badan nya panas banget.” ujar ku dibarengi suara tangisan Alief yang kian mengencang.


Mas Al langsung terkesiap, wajah nya masih polos khas bangun tidur. Rambutnya acak-acakan bak terkena tsunami. “Ada apa cinta?” tanya Mas Al bingung. Aku langsung meraih tangan Mas Al, membawa nya supaya bisa menyentuh dahi Alief.


“Ya Allah, Alief demam sayang, kita bawa ke klinik sekarang.“ ujar mas Al heboh. Wajahnya yang tadi polos kini langsung berubah cemas. Dengan sigap sidia memakai jaket dan langsung membawa kami masuk ke mobil.


Ih gimana dong, pertama kalinya aku ngalamin kayak gini. Sekecil ini Alief sudah demam. Huft, biar Mama aja nak, kamu nggak usah sakit. Batin ku cemas.


“Alief kok bisa demam gini, Mas? Padahal kan aku udah jaga dia baik-baik. Aku nggak kasih dia makan aneh-aneh kok. Maaf ya, Mas, aku belum becus jadi ibu.” ujar ku lesu pada Mas Al yang fokus menyetir.


Dia menoleh singkat, satu tangan nya menyentuh puncak kepala ku. “Hei, bukan gitu sayang, bayi itu biasanya demam setelah diimunisasi. Jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri! Apalagi bilang kalau kamu gak becus jadi ibu! Pokoknya aku nggak mau denger kamu bilang gitu lagi!” tekan mas Al tegas dan terdengar menyeramkan. Aku hanya mengangguk lesu, mengiyakan ucapan beliau padahal hatiku belum bisa menerimanya.


“Ciiittt.” mobil kami terhenti di parkiran klinik. Mas Al dengan segera mengambil alih Alief dan membawa nya ke ruang pemeriksaan. Terus aku ngapain? Ya, buntuti mereka lah!


“Alief nggak apa-apa, Bu, ini efek yang ditimbulkan ketika bayi sudah diimunisasi. Tidak usah cemas, besok atau lusa sudah bisa kembali normal.” jelas Dokter Mia. Aku menghela napas berat, gimana bisa aku nggak khawatir. Anak ku sakit ini lho, mana bisa aku menye-menye aja!


“Baik Dokter, terimakasih banyak.” ucap mas Al ramah.


“Saya berikan resep obat supaya demam nya mereda.” sambung dokter Mia.


“Siap Dokter, terimakasih.”


Setelah berucap demikian, kami berdua lantas keluar dari ruang pemeriksaan. Sementara itu, mas Al kebagian administrasi dan Alief digendong oleh aku. Anak ini sudah tak menangis, hanya saja mengerang macam ayam yang ingin bertelur. Ih, apasih aku, kenapa pula aku samain Alief kayak ayam. Hush dasar Kinza dodol!


“Yuk sayang kita pulang.” ajak mas Al setelah selesai membereskan administrasi. Aku menurut saja.


“Mas, maaf ya aku ganggu tidur kamu. Padahal hari ini kamu harus apel pagi banget.” ujar ku lesu sambil mendekap Alief, bayi itu sudah tertidur.


“No, sayang, ini kan tanggung jawab Mas sebagai kepala keluarga. Lagi pula ini kan demi keselamatan Alief, mana bisa Mas diem aja.” balas Mas Al lembut. Ah ya, lagi-lagi aku hanya bisa terdiam. Dia selalu bisa mengalihkan kecemasan ku. Ya udahlah aku bisa apa!


Beberapa menit kemudian, kami sampai di rumah. Ku lirik sekilas jam dinding, pukul setengah tiga dini hari. Huft, mau lanjutin tidur udah kepalang tanggung. Mataku juga udah nggak ngantuk. “Mas bobok lagi aja, nanti aku bangunin jam empat subuh.”


“Iya sayang, maaf ya Mas nggak nemenin kamu. Mas masih ngantuk, takut ngantor ga fokus.” balas nya lesu. Aku menggeleng cepat.


“No, Mas, aku nggak apa-apa kok.”


“Ya udah mas tidur, ya, selamat berjaga sayang.”


“cup” ujar nya sembari mencium kening ku dan Alief.


Mas Al kembali tidur, begitu juga dengan Alief. Aku nggak bisa bobok, gimana dong? Aku harus ngapain ini?


Ahaaa, mendingan aku nyuci baju, bikin sarapan buat Mas Al dan berbenah. Yups, itu lebih berguna ketimbang harus bengong liatin anak dan suami bobok. Oke lah, jiwa mamah muda ku keluar.


Pertama-tama, aku rendam pakaian di mesin cuci. Nggak perlu di tungguin, rendam dulu habis itu diputer deh. Kedua, aku berbenah ruang TV, ruang tamu dan ruangan kerja Mas Al. Ketiga, aku mulai bergelut dengan beberapa bahan makanan macam wortel, brokoli, baso dan bahan lainnya untuk membuat capcay.


Cukup memakan waktu lama untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini. Ku lirik jam dinding, sudah pukul empat pagi. Oke, waktunya membangunkan si Papa.


“Mas, bangun Mas, udah jam 4.” bubuh ku lembut pada mas Al yang masih tertidur lelap. Sebenarnya agak nggak tega, tapi mau gimana lagi? Dari pada telat kan?


“Engghhh.” erang nya menggeliat, kelopak matanya terbuka. Menampilkan manik hitam pekat yang selalu ku suka.


“Selamat pagi cinta, kiss dulu dong.” ujar nya menggoda. Lantas ku pukul pelan lengan nya.


“Ish nakal, ayo cepetan bangun, nanti telat apel bisa kena hukum kamu.” ucap ku sewot, dia hanya tersenyum tipis.


“Iya-iya, cinta. Tapi boleh kan cium kening mu?” tanya nya dan membuat ku merinding seketika. Lagi pula cuma cium kening kan? Yaudahlah nggak usah nolak.


Aku mengangguk pelan, sidia langsung mencium kening ku lembut dan hangat. Uh, aku suka aku suka!

__ADS_1


__ADS_2