
Kinza melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah dengan tatapan kosong. Setelah selesai membungkus cinderamata, suami nya, Al di hukum oleh komandan. Al di suruh lari keliling lapangan. Alasan nya yaitu, tidak bisa membimbing istri dengan benar.
Tak hanya Al, Arjuna juga ikut menjadi sasaran. Dia pun di suruh lari keliling lapangan bersama senior nya, Al. Keduanya terlibat permasalahan yang di mulai oleh Putri.
Sementara itu, Al menyusul masuk. Wajahnya terlihat marah dengan keringat yang membanjiri pelipis nya.
“Duduk!” tegas Al sembari mendudukkan Kinza di kamar nya. Kinza merasa takut, dia bahkan tak berani menatap wajah suami nya.
“Kamu bohongin aku? Kamu bilang ini semua salah Putri, tapi ternyata kamu pun salah, Kinza!” cecar Al sembari berjalan mondar-mandir. Dia nampak sangat kecewa.
Beberapa detik, Kinza tak menjawab. Dia terus membisu sambil sesekali menitikkan air mata. “Lihat aku! Tatap mata aku sekarang! Kamu bohong kan sama aku? Jawab, Dek!” cecar Al sekali lagi dengan nada tinggi. Kinza tersentak kaget dan langsung menangis.
Al mengusap wajah nya dengan kasar. Bagaimana pun Kinza adalah istri nya, dia tak pantas memperlakukan Kinza dengan kasar.
Perlahan, Al berjongkok di hadapan Kinza. Kedua tangan nya meraih tangan Kinza yang menutupi wajah nya karena menangis. Al benar-benar meras bersalah karena sudah membentak Kinza dengan keras.
“Mas minta maaf, Dek. Mas tersulut emosi.” ucap Al dengan lembut. Dia membawa Kinza ke dalam dekapan nya. Seketika itu pula, Kinza semakin mengencangkan tangisnya. Dia benar-benar meluapkan semua rasa sesak yang berada di dada nya.
“Aku nggak bohong, Mas! Aku berkata jujur dan apa ada nya. Kamu percaya sama aku 'kan? Lalu kenapa kamu menuduh aku seperti itu? Aku sakit hati, Mas! Aku nggak terima! Bahkan aku nggak di percaya sama suami ku sendiri! Sakit rasanya, Mas!” Kinza mengeluarkan semua unak-unak nya. Seperti gunung meletus, semuanya ia keluarkan walau hatinya panas membara. Kinza benar-benar merasa tersakiti sebab tidak di percaya oleh suami nya sendiri.
“Iya Mas minta maaf, Dek. Mas percaya sama kamu. Maafkan, Mas, ya?” Lagi-lagi Al hanya bisa meminta maaf. Bagaimanapun juga, perbuatannya begitu menyakiti hati orang yang begitu di cintai nya. Al benar-benar meras bersalah.
“Mbak Putri memfitnah aku, Mas. Demi Allah, demi Rasulullah aku nggak mengejek dia. Aku nggak pernah memaksa supaya tugas nya aku yang kerjain semuanya. Justru aku mau dia yang mengerjakan. Tapi, kenyataannya apa? Dia justru menyerahkan semua tugas nya pada ku. Dia tega betul, Mas! Mbak Putri justru mau nya menjaga Alief. Jelas aku nolak, aku nggak mau Alief tersakiti!” Kinza terus mengeluarkan unak-unak yang ada di dalam kepala nya. Dia benar-benar sudah mengatakan hal yang sejujur-jujurnya.
“Iya, Dek, iya. Mas percaya sama kamu. Maafkan Mas, ya, karena sudah meragukan kepercayaan mu. Mas benar-benar merasa bersalah.” ucap Al meminta maaf. Laki-laki itu terlihat sangat menyesali perbuatannya.
“Mas beneran 'kan percaya sama aku? Mas nggak mendukung Mbak Putri 'kan? Jawab aku dengan jujur, Mas. Kamu jangan bohongin aku!” tegas Kinza sambil menelisik wajah suami nya, Al.
“Mas jujur, Dek. Mas benar-benar percaya sama kamu. Dan, Mas pasti mendukung kamu, cinta!” kukuh Al dengan lembut sembari mengusap kepala Kinza dengan sayang.
“Mas, Mbak Putri itu jahat! Dia sepertinya punya niatan buruk pada keluarga kecil kita. Terutama Alief, dia seperti mengincar Alief, Mas! Mbak Putri mau melakukan hal yang tidak-tidak!” racau Kinza sembari menangis lagi. Tiba-tiba ingatan nya kembali pada peristiwa dimana Putri ingin merebut Alief dari tangan Kinza. Kinza benar-benar merasa takut dan cemas.
“Suut, itu nggak akan terjadi, Dek. Mas sendiri yang akan melindungi mu! Mas berjanji, tidak akan terjadi apa-apa pada anak kita Alief. Mas akan menjamin keselamatan nya.” ucap Al berusaha menenangkan hati dan pikiran istri nya.
“Kamu nggak usah khawatir, nggak usah takut. Banyak-banyak berdoa saja, ya, sayang! Pesan Mas, tingkatkan lagi kewaspadaan pada Putri. Jangan berikan Alief pada sembarangan orang. Jangan pernah tinggalkan Alief sendirian, ya, Dek.” sambung Al memperingatkan Kinza. Sontak, Kinza hanya bisa mengangguk lemah.
“Iya, Mas, aku pasti jaga Alief dengan sangat hati-hati. Aku nggak mau Alief kenapa-kenapa, Mas. Aku mau keluarga kita baik-baik aja.” balas Kinza masih dengan tangisan yang sama. Apalagi sambil memperhatikan Alief yang sedang tertidur pulas di atas kasur.
“Jangan menangis lagi, ya, sayang. Masalah ini kita jadikan pembelajaran untuk lebih meningkatkan kepercayaan. Sekali lagi Mas minta maaf, ya, Dek. Mas benar-benar menyesal.” ucap Al mengakhiri kegelisahan Kinza.
Mereka akhirnya bisa berdamai dengan keadaan. Peristiwa yang di alami nya hari ini membuat mereka semakin mempererat ikatan keluarga. Mereka lebih meningkatkan kepercayaan satu sama lain.
__ADS_1
...---...
Kinza Irsyania Malik POV
Jujur, kejadian pada hari ini membuat ku semakin merasa takut. Mbak Putri benar-benar bertingkah di luar dugaan ku. Dia memberikan kesaksian palsu! Dia memfitnah aku di depan Bapak dan Ibu Komandan! Sungguh kejam!
Aku tersakiti karena Mas Al tidak mempercayai ku. Sakit sekali rasanya tidak di percaya oleh orang yang paling kita sayangi. Bahkan, Mas Al menuduh kalau aku adalah dalang di balik semua nya. Benar-benar sakit sekali rasanya saudara-saudara.
“Kamu bohongin aku? Kamu bilang ini semua salah Putri, tapi ternyata kamu pun salah, Kinza!” cecar Mas Al sambil berjalan mondar-mandir. Mas Al kelihatannya nampak tidak percaya dengan semua penjelasan ku. Hiks, ini yang membuat ku sakit. Di tuduh bahkan di bentak oleh suami sendiri. Padahal, aku tidak pernah melakukan hal itu. Aku tidak pernah mengejek Mbak Putri. Tidak pernah sama sekali!
Aku hanya bisa diam dan menunduk saat Mas Al membentak ku. Aku masih teramat sakit hati dan kecewa pada nya. “Lihat aku! Tatap mata aku sekarang! Kamu bohong kan sama aku? Jawab, Dek!” cecar Mas Al semakin meninggikan nada bicara nya. Tuhan, aku benar-benar takut, hiks!
Aku tak bisa menahan tangisan. Benteng pertahanan ku runtuh setelah mendapat bentakan kasar yang keluar dari mulut Mas Al. Tega sekali dia berbuat hal kasar seperti ini pada ku.
Mas Al mengusap wajah nya dengan kasar. Setelah itu dia berjongkok di hadapan ku sambil memegang tangan ku dengan lembut. “Mas minta maaf, Dek. Mas tersulut emosi.” ucap Mas Al sambil membawa ku ke dalam dekapan nya. Tangis ku semakin pecah, rasa sesak di dada ku semakin membuncah, alhasil aku hanya bisa menangis sesenggukan.
“Aku nggak bohong, Mas! Aku berkata jujur dan apa ada nya. Kamu percaya sama aku 'kan? Lalu kenapa kamu menuduh aku seperti itu? Aku sakit hati, Mas! Aku nggak terima! Bahkan aku nggak di percaya sama suami ku sendiri! Sakit rasanya, Mas!” aku mengeluarkan semua unak-unak yang ada di dalam pikiran dan hati ku. Apa salah nya jujur pada kenyataan. Aku memang sakit hati sekarang.
“Iya Mas minta maaf, Dek. Mas percaya sama kamu. Maafkan, Mas, ya?” Mas Al meminta maaf lagi pada ku. Jujur, tidak semudah itu memaafkan. Tapi aku selalu mencobanya.
Tak ingin hubungan ini malah menjadi renggang. Apalagi, saat ini masalah pelik datang silih berganti. Aku tak mau ada keretakan terjadi pada kehidupan rumah tanggaku. Ku mohon, jangan biarkan itu terjadi Tuhan.
“Iya, Dek, iya. Mas percaya sama kamu. Maafkan Mas, ya, karena sudah meragukan kepercayaan mu. Mas benar-benar merasa bersalah.” Mas Al pasrah dan pada akhirnya percaya lagi kepada ku. Aku memang patut di percaya, bukan Mbak Putri! Dialah yang bersandiwara, dia yang mengarang cerita. Bukan aku!
“Mas beneran 'kan percaya sama aku? Mas nggak mendukung Mbak Putri 'kan? Jawab aku dengan jujur, Mas. Kamu jangan bohongin aku!” ucap ku tegas sambil menelisik wajah tampan nya. Mas Al dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Mas jujur, Dek. Mas benar-benar percaya sama kamu. Dan, Mas pasti mendukung kamu, cinta!” balas Mas Al dengan lembut dan teguh pada pendiriannya. Aku pun mempercayai itu. Tapi tetap saja ada yang aku khawatirkan. Sikap, sifat, dan perbuatan Mbak Putri terhadap aku. Sepertinya dia ada niatan jahat.
“Mas, Mbak Putri itu jahat! Dia sepertinya punya niatan buruk pada keluarga kecil kita. Terutama Alief, dia seperti mengincar Alief, Mas! Mbak Putri mau melakukan hal yang tidak-tidak!” aku kembali ketakutan. Apalagi melihat Alief yang sedang tertidur pulas, wajahnya terlihat damai dan tentram. Hal itu justru membuat ku semakin takut dan takut.
“Suut, itu nggak akan terjadi, Dek. Mas sendiri yang akan melindungi mu! Mas berjanji, tidak akan terjadi apa-apa pada anak kita Alief. Mas akan menjamin keselamatan nya.” Mas Al mencoba menenangkan pikiran ku yang rancu.
“Kamu nggak usah khawatir, nggak usah takut. Banyak-banyak berdoa saja, ya, sayang! Pesan Mas, tingkatkan lagi kewaspadaan pada Putri. Jangan berikan Alief pada sembarangan orang. Jangan pernah tinggalkan Alief sendirian, ya, Dek.” sambung nya sembari memperingatkan aku agar tetap waspada. Aku hanya mengangguk lemah. Mau bagaimana lagi? Hanya itu satu-satu nya cara yang tepat dan bisa aku lakukan sekarang. Semoga Alief tetap di lindungi oleh Allah, Mama janji akan selalu jaga Alief. batin ku lemah.
“Iya, Mas, aku pasti jaga Alief dengan sangat hati-hati. Aku nggak mau Alief kenapa-kenapa, Mas! Aku mau keluarga kita baik-baik aja.” ucap ku sembari menitikkan air mata lagi. Aduh, maafkan aku yang cengeng ini temans. Sumpah, aku benar-benar merasa takut dan khawatir. Aku tak berdaya, Hiks!
“Jangan menangis lagi, ya, sayang. Masalah ini kita jadikan pembelajaran untuk lebih meningkatkan kepercayaan. Sekali lagi Mas minta maaf, ya, Dek. Mas benar-benar menyesal.” ucap Mas Al mengakhiri kegelisahan ku.
Merasa benar-benar mendapatkan dukungan kembali, aku pun merasa lebih lega sekarang. Sumber kekuatan di hidupku telah mendukung aku sepenuhnya. Aku yakin, semua masalah yang berdatangan akan cepat terselesaikan. Apalagi ada Mas Al yang selalu mendukung ku dengan penuh. Sungguh, semangat ku benar-benar tumbuh kembali.
...---...
__ADS_1
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
Rasa bersalah menyelubungi hati ku. Aku begitu merasa bodoh karena sudah membentak Kinza hingga menangis. Bahkan untuk kesalahan yang tidak pernah ia buat sebelumnya.
Aku terus mendekap Kinza. Sekarang tangis nya mulai mereda. Perdebatan besar kami telah usai dan berujung pada perdamaian. Syukurlah dia mau memaafkan kesalahan ku.
Untuk saat ini aku membiarkan dia memeluk ku erat. Mumpung Alief tertidur pulas, jadi tidak ada yang menggangu kami Berharap Kinza merasa tenang sepenuhnya.
Sejenak ingatan ku berputar pada kejadian beberapa jam lalu. Persidangan dadakan itu telah membuat ku menunda rapat penting bersama komandan. Harus nya siang ini. Tapi karena ada masalah terjadi, alhasil harus di tunda sampai nanti malam.
Begitu pun dengan Arjuna. Sesama perwira, kami mengadakan rapat penting bersama komandan. Namun harus tertunda sebab kejadian ‘itu’.
Kinza melepas pelukan nya pada tubuh ku. Bisa terlihat dengan jelas wajah nya yang basah karena air mata yang tadi bercucuran. Mata nya memerah dan sedikit bengkak, hidungnya juga merah dan basah.
“Mas, maafin aku, ya. Karena masalah ini kamu jadi keserat-seret. Nama mu jadi jelek karena aku. Bahkan, rapat besar mu dengan komandan harus tertunda gara-gara aku. Aku minta maaf, Mas. Tolong maafkan kesalahan aku.” Kinza meminta maaf sembari mencium tangan ku. Sumpah demi apapun, aku benar-benar merasa tidak keberatan sama sekali. Yang penting masalah ini selesai.
Aku meraih tangan nya, kini berganti dengan aku yang mencium tangan Kinza.
“Nggak, Dek. Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak bikin kesalahan, buat apa meminta maaf?”
“Tapi, Mas, gara-gara aku kamu jad...”
“Suuut, nggak usah berfikiran macam-macam. Mas nggak pernah merasa di rugikan karena ulah mu. Karena Mas tau, ini bukan kesalahan mu, sayang.” ucap ku lembut sembari menutup mulutnya dengan jari tangan ku. Kinza langsung terdiam.
“Terima kasih banyak dan maaf, sayang.” ucap nya kembali meminta maaf sambil berhamburan memeluk tubuh ku lagi.
“Jadi, gimana sama program penyatuan kita? Mumpung ada waktu sebelum nanti rapat. Boleh dong uwu-uwu sebentar?” ucap ku menggoda Kinza. Sontak dia langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang ku. Dia terlihat malu-malu, dan tentu itu membuatku semakin gemas pada nya.
“Mas, aku merinding, ah. Jangan bahas itu dulu!” bubuh Kinza sembari memukul kecil dada ku.
“Berani, ya, mukul Mas kayak gini. Kamu harus di kasih pelajaran!” ucap ku dengan nada sok-sokan marah.
“Maaf, sayang.”
Kinza mengubah posisi duduk nya, sekarang gadis kecil ku ini malah duduk di pangkuanku. Benar-benar membuat ku merinding, pengen rasanya uwu-uwu dengan gadis ini.
“Mau godain, Mas, hm? katanya nggak mau bahas uwu-uwu.” cecar ku sok cuek.
Kinza memegangi pipi ku dengan kedua tangan nya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan,
“Cup.”
__ADS_1