EPOCH

EPOCH
Bab 38


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Pagi ini cerah, tapi tak secerah hati ku. Entah kenapa mendadak buram sebab ulah Mbak Putri.


Demi apa dia menyerahkan semua tugas nya pada ku? Padahal dia tau, aku punya bayi yang masih kecil. Belum berusia dua bulan, Mbok! Tapi dengan tega nya dia menimpakan semuanya pada ku.


Alasan nya sungguh nggak masuk akal. Dia bilang, kalau dia tidak mengerti sama sekali. Takut semua salah dan harus di ulang. Bukan nya ibu komandan bilang, kalau ada yang tidak di mengerti, maka tanyakan. Lha ini? Belum di coba sudah bilang tidak bisa!


Berkali-kali aku mencoba menjelaskan bagaimana membungkus cinderamata yang benar, namun dia tetap tidak bisa. Help, tidak ada yang tidak bisa. Ah ralat, tidak mau lebih tepatnya. Itu hanyalah kemalasan belaka. Benar-benar membuat ku nyaris gila.


“Mbak, aku nggak bisa bantuin semua. Alief lagi rewel.” ucap ku sambil menenangkan Alief yang terus menangis.


“Biar, Mbak yang gendong Alief. Kamu bisa 'kan bantuin, Mbak? Mbak mohon, Dek. Mbak takut salah.” ucap Mbak Putri untuk yang ke sekian kali nya. Kesabaran ku nyaris hilang. Aku tidak akan menyerahkan Alief pada Mbak Putri saat Mas Al tidak ada. Terlalu beresiko tinggi.


“Nggak, Mbak. Aku bisa urus Alief sendiri. Mbak pergi aja, biar aku yang selesaikan semua nya!”


Damn, emosi ku meledak saat itu juga. Tapi aku tidak bisa menolak keinginan nya. Karena bagaimanapun, sifat kekeluargaan yang aku utamakan. Demi terjaga nya nama baik satuan ini, bukan karena kasihan pada Mbak Putri.


“Bener, Dek, nggak mau serahin Alief sama, Mbak? Kamu pasti repot ini, lho.”


“Nggak, Mbak. Makasih tawaran nya.” tolak ku dengan malas. Sumpah, pengen ku usir rasanya!


“Kalau Alief rewel gimana, Dek? Yang ada nggak selesai cinderamata nya. Mbak bisa kena omel.” cecar nya mulai membuat ku naik darah. Sumpah, pengen ku bejek-bejek mulut nya.


“Mbak, tolong lah tidak usah memaksa! Aku bisa, kok, jaga Alief sambil membungkus cinderamata. Kenapa jadi Mbak yang repot mau urus Alief? Seharusnya Mbak belajar membungkus ini! Bantu aku membungkus nya, bukan malah memaksa ku menyerahkan Alief pada, Mbak! Aneh betul. Apa Mbak punya niatan lain?!” tegas ku tersulut emosi. Begitu juga dengan Mbak Putri. Wajah nya merah padam seperti menahan gejolak amarah.


“Lebih baik Mbak pergi, aku mau mulai mengerjakan ini supaya cepat selesai dan besok siap.” usir ku terang-terangan.


Mbak Putri terdiam. Amarah nya seperti ingin meledak namun di tahan.


“Baiklah, Dek. Maaf merepotkan, Mbak pulang sekarang.” bubuh nya sembari pergi dari hadapan ku dengan wajah kesal. Lebih kesal aku yang di tinggal dengan setumpuk pekerjaan.


Aku menghela nafas berat melihat tumpukkan cinderamata yang belum siap. Di tambah dengan Alief yang terus-menerus menangis. Rasanya seperti ingin berteriak. Aku kacau sekarang!


“Lief, tenang dong, Nak. Mama pusing dengar Alief nangis terus. Alief bantu Mama, ya, Nak. Jangan nangis lagi, sayang.” Aku menggendong Alief dan menimang nya. Hati ku terasa sakit, dada ku terasa sesak Ingin melampiaskan kemarahan, tapi pada siapa?


Aku menaruh Alief di kasur bayi nya dan mulai bekerja. Membungkus satu-persatu dari sekian banyak cinderamata yang ada. Tangis ku mulai pecah bersamaan dengan tangisan Alief dan gerakan tangan yang mulai bekerja. Tuhan, kuatkan aku. Berilah aku ketabahan, hiks.


“Tok tok tok..”


“Assalamu'alaikum..” ucapan salam Mas Al menghentikan aktivitas. Aku terdiam, tangis ku pun terhenti, beda dengan Alief yang masih saja terus menangis.

__ADS_1


Pintu di buka, sosok Mas Al masuk dan langsung menatap ku tak percaya. Dia terlihat begitu terkejut. Baik, kita dengar apa yang akan beliau katakan.


“Ya Allah, Dek, kenapa bisa gini? Ini kenapa jadi kamu yang ngerjain? Ini tugas Putri, bukan tugas mu!” tegas Mas Al sembari menghentikan paksa kegiatan ku. Tangis ku semakin menjadi saat Mas Al mendekap tubuh ku ke dalam pelukan nya. Aku benar-benar tersiksa.


“Kemana Putri?! Sayang dengar, nggak sepatutnya kamu mengerjakan ini semua. Membantu boleh, tapi tidak harus kamu semua yang mengerjakan nya. Kamu bisa sakit, Dek.” bubuh nya tak terima kalau aku di perlakukan seperti ini oleh Mbak Putri.


Dia melepas pelukan nya, berdiri dan seperti nya hendak menemui Putri. Dengan cepat aku mencegahnya, tak ingin terjadi keributan.


“Mas udah nggak apa-apa. Aku bisa kerjakan ini semua sendirian.” ujar ku mencoba menahan nya.


“Nggak, gak bisa! Mau sampai kapan kamu ngerjain ini semua, Dek? Dua kardus itu bukan jumlah yang sedikit, ini terlalu banyak!” Mas Al tersulut emosi nya, sementara aku masih terus menangis.


“Sekarang ikut Mas ke rumah Putri. Kita selesaikan ini sekarang juga.” cecar Mas Al masih dengan emosi yang sama. Aku harus apa teman? Ini semua hanya akan mengundang keributan. Aku nggak mau nama Mas Al jelek di mata orang-orang. Aku nggak mauuu!


“Udah Mas, nggak perlu kamu membuat keributan. Lebih baik kamu pergi ke kantor. Pasti sudah di cari komandan!” ucap ku sambil menangis sesenggukan. Maafkan aku, ya, Mas. Maafkan kata-kata ku yang tidak sopan ini. Semuanya ku lakukan demi kebaikan keluarga kita.


“Yang membuat keributan itu Putri, Dek. Mas hanya ingin kamu di perlakukan adil. Bukan seperti ini caranya meminta bantuan pada orang. Dia hanya memanfaatkan kamu, Dek. Tolong lah percaya sama, Mas. Tidak akan terjadi apa-apa pada ki...”


“Tok tok tok..” pintu di ketuk oleh seseorang membuat ucapan Mas Al terhenti. Aduh gawat kalau itu ternyata adalah ibu komandan.


“Assalamu'alaikum, selamat pagi Dek Al.” itu suara dari ibu komandan. Hah, gawat gawat gawat!


“Mas Ibu Komandan!” ucap ku sambil dibarengi tangisan dan rasa takut. Tapi Mas Al cuek dan justru pergi menemui beliau.


Ibu komandan terlihat kaget setelah melihat aku dan tumpukan kardus cinderamata. Wajahnya terlihat kesal dan malu. Iya jelas malu, sebab dia punya anggota yang kelakuan nya membuat ku tersiksa.


“Lho, kenapa ini semua Dek Al yang mengerjakan? Dek Arjuna kemana, Dek?” tanya beliau dengan wajah tak percaya. Ekhm, ku yakin dia pasti kaget sekali.


Aku diam tak menjawab, “Dek Al, bicara saja tidak apa-apa. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Tugas sudah saya berikan masing-masing. Boleh membantu, tapi jangan sampai saling mengandalkan. Acara besar satuan kita bisa rusak kalau anggota nya saja tidak kompak.” beliau memberikan wejangan panjang. Aku menghela nafas sambil sesekali menarik ingus yang hendak keluar dari hidung.


Mas menggenggam tanganku yang mulai bergetar, dia mengangguk pertanda menyuruhku untuk mengatakan semuanya. “Cerita saja, Dek.” ucap Mas Al dengan lembut.


“Izin, Ibu, Mbak Putri ada di rumah nya, Bu. Beliau menyerahkan tugas ini pada saya dengan alasan tidak bisa dan takut semua nya rusak. Saya sudah jelaskan bagaimana cara membungkus nya, tapi dia tetap bersikeras tak mau melakukan pekerjaan ini. Mbak Putri justru mau nya mengasuh Alief anak saya.” ucap ku dengan suara gemetar dan air yang menggenang di pelupuk mata ku. Aku kembali menangis.


“Dek Al dan bapak Danramil sekarang ikut saya ke kantor suami. Nanti biar suami saya yang memanggil Lettu Arjuna dan istri nya.” ujar Ibu komandan yang membuat ku serasa terhuyung. Ya Tuhan, cobaan apalagi ini? Masalah pelik apa yang akan terjadi, jika sudah bersangkutan dengan Mbak Putri. Ku mohon beri aku kekuatan dan kesabaran, huhu


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Suasana kantor Bapak komandan terasa canggung. Apalagi saat Mbak Putri dan Bang Arjuna masuk ke ruangan tersebut, makin dan makin menjadi canggung serta tercium bau-bau keributan.

__ADS_1


Aku datang berdua dengan Mas Al, sementara Alief ku titipkan pada Mbak Yuni karena sekarang sedang tertidur.


Bapak Komandan dan Ibu Komandan datang. Bersamaan itu, pintu dan jendela di tutup rapat-rapat. Hem, sidang dadakan dengan kesalahan yang tak pernah aku lakukan. Mari, simak persidangan ini dengan seksama.


“Dek Arjuna, coba jelaskan mengapa semua tugas yang saya berikan, di timpakan semua pada Dek Al. Apa Adek merasa keberatan, sampai semua pekerjaan nya di serahkan pada Dek Al?” tanya Ibu komandan dengan lugas. Aku bahkan sampai tak berani menatap beliau dan juga Mbak Putri.


“Izin, menjawab ibu.”


“Ya, silakan!”


“Sebenarnya Bu Al lah yang meminta ini semua. Beliau mengejek saya, karena saya tidak bisa membungkus cinderamata nya dengan benar. Saya sudah coba, dan saya sudah menahan agar tugas ini saya yang mengerjakan. Namun Bu Al menolaknya.”


Aku melongo saat itu juga. Apa-apaan ini! Ini nama nya fitnah, aku nggak pernah mengatakan hal itu, nggak pernah gustii!


Ibu komandan sontak menatap ku, “Apa itu benar, Dek?” tanya beliau pada ku yang sedang menahan tangis. Please jangan dulu keluar ini air mata, aku nggak mau di bilang air mata buaya saja!


“Izin, tidak betul, Bu. Kenyataan, Mbak Putri lah yang menyerahkan semua tugas nya pada saya. Seperti yang sudah saya jelaskan, saya sudah mengajari beliau bagaimana caranya membungkus cinderamata dengan baik dan benar, tapi beliau tetap tidak mau. Mbak Putri justru memilih menjaga Alief, namun saya tidak mengizinkan sebab Alief sedang rewel. Izin, tidak pernah sekali pun saya mengejek Mbak Putri, Bu, saya berani bersumpah!” air mata ku tumpah bersamaan dengan penjelasan yang sudah aku sebutkan.


Mas Al menggenggam tangan ku, “izin, Bu. Istri saya tidak pernah berbohong sedikit pun. Dia selalu jujur dan apa adanya.” ucap Mas Al memberikan pembelaan nya untuk ku.


Ku tatap Mbak Putri yang mulai terpancing emosi. Dia nampak marah setelah mendengar penjelasan ku.


“Izin, itu tidak benar. Dek, nggak usah lah kamu mengarang cerita. Mbak tau kamu nggak suka sama, Mbak, Mbak juga tau kalau pangkat Mas Al lebih tinggi dari pada suami Mbak. Tapi tolong, jangan kamu bersandiwara di hadapan ibu komandan.” cecar Mbak Putri tak mau kalah.


“Lho, Dek Arjuna! Nggak baik memanggil Dek Al seperti itu! Kita mesti menghormati sesama. Ingat jabatan suami, Dek!” Ibu komandan terlihat murka. Suasana semakin runyam dan pelik.


“Stop, biar saya yang melanjutkan sidang. Mam, kamu tenang dulu. Jangan tersulut emosi.” ucap Bapak komandan tegas pada istrinya. Aku semakin takut berada di posisi ini.


“Apa benar Dek Al mengarang cerita?" tanya Bapak komandan pada ku.


“Izin, siap tidak komandan. Saya benar-benar sudah mengatakan yang sebenarnya. Yang mengarang itu Mbak Putri, bukan saya.” ucap ku terus mengatakan kebenaran. Entah bapak komandan akan percaya atau tidak. Yang jelas, aku sudah berkata jujur tanpa mengurangi atau menambah kan perkara.


“Saya rasa, di sini ada masalah pribadi yang di sangkut pautkan dengan kepentingan satuan. Kelihatannya ada yang janggal, saya bisa lihat itu.” ucap Bapak komandan seakan mengetahui semuanya. Memang betul, Pak. Ini semua karena masalah pribadi kami dahulu. Mbak Putri yang memulai semua nya! Saya hanya di fitnah, ini hanya fitnah! Batin ku menjerit.


“Bapak Danramil, Lettu Arjuna? Saya harap kalian bisa membimbing istri kalian masing-masing. Selalu tebarkan lah kebaikan, tanam kan dalam hati dan pikiran lalu laksanakan dalam bentuk perbuatan. Untuk apa menjadi pendendam? Masa lalu tercipta, agar di jadikan pembelajaran, bukan menjadi alat untuk membalaskan dendam! Selesaikan masalah pribadi kalian, dan jangan di sangkut pautkan dengan kepentingan satuan. Jelas?!” tegas Bapak komandan memberikan wejangan nya yang menusuk. Aku langsung menunduk. Tak berani menatap beliau apalagi menjawab nya.


“Siap, jelas!” balas Mas Al dan Bang Arjuna secara bersamaan. Sementara Mbak Putri, dia hanya diam dengan raut wajah yang masih merah padam. Aku tau dia emosi, sangat emosi. Mungkin juga takut kejahatan nya akan terbongkar.


“Sebagai hukuman nya, saya ingin tugas ini di selesaikan sekarang juga! Kalian berempat bekerja sama agar tugas ini cepat terselesaikan. Di hadapan saya!” tegas Bapak komandan semakin membuat ku bergidik ngeri. Ini lebih baik, adil!


Ibu komandan lalu menyerahkan dua kardus cinderamata beserta plastik pembungkus nya pada kami. Lalu, detik itu juga kami membereskan semuanya. Membungkus satu-persatu cinderamata yang jumlah nya terbilang banyak.

__ADS_1


Sesekali aku menatap wajah Mas Al yang kelihatannya sedang menahan amarah. Jelas, karena seharusnya beliau rapat dengan bapak komandan di kantor nya. Tapi, Mas Al justru terseret ke sini karena ulah mantan pacarnya yang sudah berbohong. Tetap saja, setelah ini aku adalah sasaran kemarahan nya.


__ADS_2