
Kinza Irsyania Malik POV
Mas Al sudah berangkat ke kantor nya pagi-pagi sekali. Untung nya, rumah sudah selesai aku rapihkan. Tinggal mengurus Alief yang sedang demam dan masih tertidur pulas.
Mumpung Alief sedang tidur, aku menyempatkan diri untuk menjemur pakaian yang pagi hari tadi sudah ku cuci bersih. Lumayan banyak, sebab beberapa hari lalu tak sempat aku cuci. Numpuk, karena Alief rewel terus.
Saat sedang menjemur pakaian, ku lihat banyak anggota Tentara dan beberapa Ibu Persit sedang berkumpul. Iya aku tau, mereka pasti sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk kunjungan KASAD nanti. Maaf, Pak, Bu aku tidak bisa bantu, hiks!
“Selamat pagi, Dek Al!” sapaan ramah meluncur dari mulut Ibu Komandan.
“Izin, selamat pagi kembali, Ibu.” balas ku ikutan ramah. Jelas ramah dong, Ibu Komandan ini aslinya baik sekali! Super ramah. Kecuali kalau sedang ada agenda, beliau bersikap tegas dan begitu berwibawa.
“Saya dengar Alief demam, ya, Dek?” tanya nya sembari berhenti sejenak. 'Lha ini Ibu malah nangkring di sini.
“Izin, siap betul, Bu. Pukul satu dini hari dia terbangun dan ketika saya cek ternyata suhu badan nya panas.”
“Semoga lekas sembuh, ya, Dek. Kalau begitu saya lanjut pengecekan.” ucap beliau seraya berpamitan.
“Izin, siap terima kasih banyak, Ibu. Iya, silakan.”
Mereka melanjutkan kegiatan pengecekan nya. Sementara aku melanjutkan kegiatan menjemur pakaian. Tapi, eh tapi, samar-samar terdengar suara tangisan Alief dari kejauhan. Rupanya jagoan ku sudah terbangun. Mama datang, Sayang!
“Selamat pagi, anak Mama.” sapa ku dengan riang gembira. Ku raih tubuh mungil nya. Ternyata di bawah sana ada sesuatu yang basah. Alief ngompol ini, hi hi.
“Alief masih demam, nggak boleh mandi dulu, ya, Sayang! Mama lap saja, supaya Alief merasa segar.” ujar ku mengajak Alief berbicara. Tangis nya sudah reda. Alief memang senang di ajak berbicara sepertinya.
Dengan cekatan dan hati-hati, aku mulai mengelap seluruh tubuh Alief dengan air hangat. Syukurlah dia tidak rewel, demam nya pun sudah mulai reda. “Sehat-sehat, ya, anak Mama. Sebentar lagi 'kan acara aqiqah Alief.”
“Tok tok tok..” suara ketukan pintu menghentikan aktivitas ku saat mengenakan pakaian untuk Alief.
“Assalamu'alaikum..” orang tersebut berucap salam. Ini suara Mama. “Wah, nenek datang sayang. Yuk, keluar, yuk!”
Lantas aku membukakan pintu sembari mengendong tubuh Alief. Setelah di buka, rupanya ada Mama dan Papa di sana.
“Hallo, selamat pagi cucu, Eyang. Tampan sekali kamu, Nak! Cucu Eyang sehat-sehat, ya!” sapa Mama sembari menciumi wajah Alief. Si kecil ikutan kegirangan.
“Alief demam, Ma. Ini baru aja reda.” ucap ku pada Mama yang kini tengah menggendong Alief. Sontak, Mama langsung menempelkan tangan nya di dahi Alief.
“Sudah di periksa, Za?”
“Sudah, Ma. Kata dokter, ini efek samping dari pemberian imunisasi.” tutur ku lembut.
“Oh iya–iya, Mama baru paham.”
“Titip Alief ya, Ma. Kinza mau buatkan minum buat Mama sama Papa.”
“Iya, sayang, nah itu Mama bawa buah sama kue-kue. Kamu bawa ke dalam, gih.”
“Oke, Ma.”
Aku buru-buru ke dapur membuat makanan dan minuman untuk Mama Papa. Mumpung Alief di jaga oleh Mama, aku jadi bisa leluasa melakukan kegiatan apapun.
“Ini minuman nya, Ma.” ucap ku setelah selesai membuat minuman.
“Makasih, ya, sayang.”
“Oh iya, perihal acara aqiqah Alief. Mama sudah siapkan semua nya. Kerja sama dengan Bunda mertua mu. Jadi, pelaksanaan nya dua minggu lagi. Pokoknya kamu nggak usah capek-capek! Nggak usah urus apapun lagi! Cukup fokus jaga Alief saja!” ucap Mama membuat ku jadi senang. Aku nggak perlu repot-repot urusin ini dan itu. Sebab, sudah ada dua peri yang menyiapkan semuanya. Walah, beruntung nya Alief.
“Siap, Nyonya!”
...---...
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
Sibuk. Satu kata yang menggambarkan kondisi saat ini.
Pertama, aku sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kunjungan KASAD nanti. Mulai dari berkas-berkas anggota, senjata, dan lainnya. Semua harus siap dalam waktu satu bulan mendatang.
Kedua, dua minggu lagi acara aqiqah Alief di laksanakan. Istriku, Kinza, tadi baru saja menelepon. Katanya Mama mertua ku datang dan memberikan informasi terkait pelaksanaan acara nanti. Meskipun semua siap, tetapi tetap saja aku tidak bisa tinggal diam. Mesti ada bentuk partisipasi lain nya.
“Drttdrtt” ponsel ku bergetar.
”My Wife ❤️” memanggil..
__ADS_1
“Assalamu'alaikum, Mas. Mas masih sibuk, nggak?” tanya Kinza dari seberang telepon.
“Wa'alaikum sallam, Sayang. Iya, Mas masih sibuk. Maaf, ya?” ujar ku tak enak hati.
“Memang nya ada apa?” tanya ku.
“Oh ya udah gak apa-apa, Mas. Ini, aku mau urusin undangan buat acara aqiqah Alief. Kebetulan di rumah kan masih ada Mama. Jadi sekalian aja kita bicarakan langsung biar enak.” ujar nya membeberkan. Aku makin tak enak. Apalagi ada Mama mertua.
“Maaf banget, ya, sayang. Mas benar-benar masih sibuk. Ini aja laporan masih belum beres, terus nanti ngambil apel malam.”
“Iya, Mas, gak apa-apa. Ya udah aku tutup, ya, telepon nya. Semangat tugas nya sayang ku!”
“Terima kasih banyak, sayang. Sekali lagi Mas minta maaf, ya?”
“Iya nggak apa-apa, sayang. Aku tutup, ya, telepon nya. Assalamualaikum..”
“Wa'alaikum sallam..”
“Tuuutt..”
Sambungan telepon terputus. Rasa bersalah menjalar ke seluruh hati ku. Nggak enak pakai banget harus menolak keinginan orang-orang terkasih. Maafkan Mas, ya, Sayang!
...---...
Di sebuah halte, seorang gadis cantik berseragam khas dokter sedang menunggu kehadiran seseorang. Cukup lama dia menunggu, tak lama kemudian mobil Honda jazz berhenti tepat di hadapan nya.
“Maaf, ya, lama. Aku banyak kerjaan tadi.” ucap orang itu tak enak hati. Dia keluar dari mobil, setelah itu membukakan pintu mobil untuk gadis cantik yang sudah menunggu nya beberapa menit.
“Nggak apa-apa, kok. Kita mau langsung jalan?” tanya gadis itu, Claudia.
“Iya, kebetulan Mama ada di rumah Kinza.” balas Kenzo sekenanya.
“Siap.”
Mobil mereka mulai melaju dengan kecepatan sedang. Ah, ya, perlu kalian ketahui. Saat ini Kenzo sudah menyelesaikan pendidikan nya di lembah tidar, Akmil, Magelang. Tempat Dinas nya sekarang di Jakarta.
Sementara Claudia, gadis itu sudah lulus kuliah dan mendapat gelar S.Ked. Sekarang melanjutkan koas di salah satu rumah sakit yang berada di Jakarta. Kedua manusia itu sudah menjalani hubungan asmara selama empat tahun lebih. Dan, sebentar lagi akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Perjalanan cinta mereka tidak mudah. Sama seperti Kinza, kisah mereka rumit dan penuh liku-liku.
“Assalamu'alaikum..” ucap Kenzo dan Claudia bersamaan. Mereka berdua di sambut hangat oleh pihak keluarga Kinza dan Kenzo.
“Wa'alaikum sallam.. Alhamdulillah Kenzo dan Claudia udah datang. Masuk sini, Nak.” ujar Mama nya Kenzo dan Kinza. Zahra.
“Iya, Tante terima kasih.”
“Hallo, beb, long time no see! Gue kangen banget sama lo!” ucap Kinza dengan nada manja. Mama muda itu langsung memeluk Claudia dengan erat.
“Hai, beb, sama nih kangen juga! Oh iya, mana keponakan gue? Gak sabar pengen lihat dia, pengen gendong juga, nih!” tanya Claudia sembari melihat ke seluruh ruangan. Rupanya beliau sudah tidak sabar.
“Itu lagi di gendong sama, Papa.” balas Kinza sembari menunjuk ke arah Papa nya, Zein.
Claudia buru-buru pergi menuju calon mertua nya. “Selamat malam, Om!” sapa Claudia dengan ramah. Dia mencium tangan Zein terlebih dahulu.
“Malam juga, Nak. Eh, kapan sampai? Kok Om nggak sadar, ya?” tanya Zein terlihat sedikit terkejut.
“He he barusan, Om. Om nya fokus sama Alief, jadi nggak sadar ada aku.” canda Claudia.
“Ini Alief, ya, duh ganteng nya keponakan, Tante..” ucap Claudia dengan gemas. Dia mencium pipi Alief dan memegangi tangan mungil nya.
“Pasti kamu mau gendong 'kan. ini, Nak!” bubuh Zein sembari menyerahkan tubuh mungil Alief pada Claudia.
“Makasih, Om.” Claudia mengambil alih tubuh Alief.
“Lucunya Alief. Aunty gemes banget lihat nya, pengen cium terus..” imbuh Claudia dengan gemas. Tentu nya hal itu membuat semua orang tersenyum.
“Kayak nya Claudia udah nggak sabar 'tuh, Jo! Kapan mau nyusul? Kapan nikahin Claudia?” tanya Zahra sembari melempar kode. Sontak, Claudia menengok dan wajahnya merah padam.
“Nanti lah, Ma. Bu dokter nya masih sibuk. Belum pengen di ajak nikah! Gimana mau buat anak coba?” balas Kenzo tak ingin kalah, dia melempar kode sambil melirik Claudia.
“Kenzo ngawur, nggak gitu 'kok, Tante.” ucap Claudia tak terima.
“Berarti Claudia udah siap, dong di nikahi sama Kenzo?” tanya Zahra lagi.
__ADS_1
“Siap saja, Tante. Tapi Claudia masih sibuk koas. Takut Kenzo nggak ke urus.” balas Claudia dengan lesu.
Zahra mendekati Claudia dan memegang pundak nya. “Sayang, Tante mengerti kesibukan mu. Tapi coba deh kamu atur waktu. Tante yakin Claudia pasti bisa 'kok. Kamu pasti bisa melewati semua nya bersama Kenzo.” bubuh Zahra memberikan wejangan nya pada Claudia.
“S-ssiap Tante.”
“Jo, gimana? Udah siap ini anak nya. Jangan di gantung kayak jemuran dong! Kalau udah di ambil orang, tau rasa kamu!” ujar Papa memberikan kode. Sontak Kenzo mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru. Dia membuka nya di hadapan Claudia, dan, nampak lah sebuah cincin berlian.
“Will you marry me?”
Claudia mematung seketika.
“Yes, I will!”
“Thank you so much, I love you!”
“To!”
“Tadi aku lama soalnya beli ini buat kamu. Semoga muat ya ukuran nya. Aku cuma nebak ukuran jari kamu soalnya.” ucap Kenzo sembari memasangkan cincin berlian itu ke jari tangan Claudia.
“Alhamdulillah cukup!” ucap Zahra.
“Jadi gimana? Ini ceritanya Kenzo ngelamar Claudia gitu? Nggak romantis banget ngelamar di rumah!” cibir Kinza ikut-ikutan.
“Yee, rese banget lo! tenang aja, nanti bakalan ada jilid dua nya. Gue akan bikin lo melongo!” balas Kenzo tak terima.
“Buktikan aja, Bang!”
“Oke!”
“Assalamu'alaikum..” suara ucapan salam membuyarkan pertengkaran antara Kenzo dan Kinza. Refleks semua orang menghadap ke sumber suara.
“Wa'alaikum sallam. Mas, udah pulang? Ku pikir kamu akan lembur.” ujar Kinza sembari berhamburan ke hadapan Al.
“Nggak, cinta. Besok di lanjut lagi tugas nya. Ini Mas baru aja selesai apel, pengen cepet-cepet pulang karena ada Mama.” balas Al sembari mencium tangan Zahra dan Zein.
“Sudah makan?” tanya Zein pada Al.
“Belum, Pa.” balas Al dengan cepat.
“Nah kebetulan banget. Kita makan malam bersama-sama. Sekalian Papa pesan Pizza untuk merayakan hari lamaran Kenzo dan Claudia.” ajak Papa dengan penuh keceriaan. Al sontak mengerutkan keningnya.
“Lamaran? Kenzo udah resmi melamar Claudia?” tanya Al setengah tak percaya. Semua orang di sana langsung mengangguk.
“Iya, Mas, baru aja mereka lamaran beberapa menit sebelum kamu datang.” bubuh Kinza memberikan penjelasan.
“Wah, selamat, ya, Jo!”
“Terima kasih, Bang.”
“Sama-sama!”
“Yuk makan, Papa sudah lapar!”
“Yuuk!” ucap semua nya dengan kompak
...---...
Kinza Irsyania Malik POV
Senang, terharu, dan tentunya bersyukur. Beruntung sekali rasanya hidup di tengah-tengah keluarga yang hangat. Kebayang nggak sih sama kalian, gimana rasanya jadi aku? Super senang bukan? haha sombong!
Jadi teman, aku beneran bahagia sekarang. berkali-kali lipat bahkan. Kenzo yang tadi nya jomblo, sekarang sudah punya pacar. Calon istri bahkan! Dan, yang membuat ku semakin senang, Kenzo akan menikahi sahabat ku sendiri, Claudia!
Coba kalian bayangkan, gimana hubungan kekeluargaan kami nanti? Bakalan lebih erat dan hangat bukan? Ah maaf, lagi-lagi aku menyombongkan diri. Maklum, aku sangat bahagia hihi.
Saat ini semua nya berbincang hangat. Saling berbagi cerita dan berbagi candaan. Apalagi Kenzo dan Claudia, mereka jadi sasaran untuk di bully karena belum sah sepenuhnya. Ah, kalian pasti sudah tau 'kan kemana arah pembicaraan kami? Maklum, kalau sudah mengobrol dengan tetua ya seperti ini, ngawur kemana-mana!
Tiga buah box Pizza tersedia di hadapan kami. Tak hanya itu, ada juga beberapa menu dessert spesial yang di pesan oleh Papa. Tentu kalian tahu, ini semua karena Papa ingin merayakan hari lamaran Kenzo dan Claudia. So sweet sekali menurut ku, begitu hangat dan romantis!
“Mau tambah pizza nya, sayang?” tanya ku pada Mas Al yang sedang mengunyah pizza. Dengan cepat beliau menggeleng.
“Nggak sayang, ini sudah cukup. Mas udah habis tiga potong 'lho.” balas nya seraya terkekeh. Aku maklum, pasti Mas Al sedang lapar. Di tambah pekerjaan nya pasti menguras otak. Bikin kepala pusing dan perut kosong.
__ADS_1
Nah, kalau aku jangan di tanya. Aku lebih suka makan dessert yang papa pesan. Tiramisu cake Italia dan cheesecake Amerika sudah ku telan habis. Maklum, aku lebih suka makanan manis. Kayak Mas Al, ups
Sementara Alief, dia sudah tertidur di kamar nya. Adem ayem, nggak nangis sedikit pun sebab perutnya sudah terisi penuh oleh ASI. Alhasil, kami semua menikmati kebersamaan ini dengan tenang. Bobo yang nyenyak ya, Lif, biarkan Mama dan Papa mu tenang dulu, hehe. Selamat malam jagoan Papa dan Mama!🥰