
Hari terus berganti, hari-hari indah dimana seorang Kapten Althafariz Ramaditya Dirgantara semakin merasa jatuh cinta pada seorang Kinza Irsyania Malik. Sejauh ini, kehidupan mereka masih dibumbui cinta yang masih manis-manisnya.
Kebayang nggak sih? Seorang Al yang tadinya cuek, judes, kaku, dingin, nyebelin bisa jatuh cinta pada Kinza yang note band nya cewek super menyebalkan di hidup Al. Iya sih, memang cinta itu datang begitu saja. Tanpa sebab dan tanpa alasan. Masa? Iyalah! Terlebih lagi pada orang yang dulu nya saling membenci. Lama-lama bisa saling mencintai juga, kan? Seperti kata orang-orang, jangan terlalu membenci, nanti bisa mencinta. Apa itu benar? Iyalah benar, secara Al dan Kinza sudah merasakan nya. Banyak juga pasangan romantis diluar sana yang bersatu karena saling membenci.
Ah udahlah, bicara soal cinta memang nggak ada habisnya. Dimana-mana ada cinta, dan kemana-mana juga pasti ada cinta!
Seperti malam ini, Al sedang memasak makanan kesukaan Kinza, catatan! dengan penuh cinta saudara-saudara. Buat apasih kira-kira? Makan malam berdua lah! Sengaja Al memilih memasak sendiri ketimbang makan di resto, atau beli makanan via go-food. Bukan ngirit, tapi pingin lebih romantis gitu. Cieeileeh, bapak Kapten kalau udah romantis bikin diabetes ya!
Kinza melangkahkan kakinya ke dapur. Seperti biasalah, gadis itu selalu pakai baju tidur setelah solat isya selesai dilaksanakan.
Rambutnya yang mulai panjang di kuncir kuda, takut ganggu saat makan sih alasannya.
"Ck ck ck udah berapa bulan sih romantis-romantisan kayak gini? Rasanya selalu sama yak, nggak ada bosen-bosennya gitu." imbuh Kinza membuka suara duluan. Al yang sibuk menyajikan makanan di atas piring lantas menoleh singkat.
"Nggak suka memang nya?" tanya Al datar. Kinza terkekeh pelan.
"Suka, suka banget malah!" bubuh Kinza sok imut.
Al kembali sibuk menyajikan makanannya, kali ini ditambah dengan menata dan menghias makanan supaya terlihat lebih cantik. Kinza mencuri padangan Al, dia memperhatikan dengan lekat bagaimana ekspresi Al ketika sedang fokus. Supee ganteng, jawabannya!
"Tadaaa, nasi goreng seafood sudah jadi. Mari makan yuk." ujar Al sambil menunjukkan hasil karya nya. Kinza tergugu sesaat, semacam speechless gitu lah.
"Ihh demi apa kakak masak ginian buat aku? Auw so sweet banget sih, makasih kak." imbuh Kinza seraya memeluk tubuh molek Al. Cari-cari kesempatan aja kerjamu!
"Spesial buat istri tercinta." tambah Al semakin membuat Kinza melayang. Aduh, nggak ada abisnya romantis macam ini.
"Eum, nggak tega deh makan nya. Abis lucu banget, kak." ujar Kinza sok-sokan iba. Padahal perutnya keroncongan akut.
"Dimakan lho sayang, bukan dipandangi macam itu. Keburu dingin nanti." alih Al pelan. Dia lantas mulai menyentuh nasi goreng yang dibentuk sedemikian rupa cantiknya. Memberikan pada Kinza untuk dimakan. Mereka lantas mulai menyantap nasi goreng seafood tersebut. Kinza bahkan dengan lahap memakan nya, saking laper nya kali, yak! Mana nih yang katanya nggak tega buat makannya?!
...---...
Kinza mencuci piring bekas makan nya bersama Al. Tidak terlalu banyak, jadi lebih sedikit cepat.
Setelah siap, kedua manusia itu duduk di sofa panjang depan TV. Seperti biasalah, mesra-mesraan gitu.
"Lusa aku mau ke Magelang, berkunjung ke tempat Claudia tinggal. Boleh kan?" tanya Kinza meminta izin. Wajahnya yang cantik tampak berseri-seri. Antusias bukan main.
Al menatap cewek yang tengah bersandar di bahunya, tangan lentik cewek itu memainkan remote TV mencari saluran TV yang pas. "Boleh aja, berapa hari memangnya?" tanya Al cepat.
"Dua hari aja, nggak mau ninggalin Kakak lama-lama." balas Kinza centil.
"Aku ikut kalau gitu, sekalian mengunjungi kota dimana aku dididik buat jadi seperti ini." ucap Al lempeng.
"Beneran ikut? Nggak ada niat lain selain itu?" tanya Kinza memastikan. Dia baru ingat sekarang, tempat tinggal Putri sekarang adalah di Magelang, kota yang akan dikunjungi nya lusa.
"Iya Kinza, aku ambil cuti." bubuh Al apa adanya.
Kinza mendesah berat, tiba-tiba ketakutan muncul di benak nya. "Kakak nggak pingin temuin mbak Putri, kan?" seloroh Kinza takut-takut. Wajahnya terlihat sedikit murung.
Al menatap Kinza dengan lekat, "Hei, kok murung gitu sih? Dengar ya, Kinza sayang. Hatiku sudah memilih mu. Mana mungkin ada niatan lain, apalagi buat menemui Putri. Dia itu mantan ku sekarang, percaya sama aku ya, jadi jangan berpikir macam-macam, okay?" imbuh Al memberikan kejelasan. Sedikit lega mendengar nya, tapi dia bisa apa sih sekarang, selain hanya percaya dan berdoa.
"Aku percaya sama kakak, janji ya, jangan lakuin hal-hal yang membuat hatiku hancur." alih Kinza tak bersemangat.
"Janji, udah ah jangan murung gitu. Bikin suasana romantis kan lebih enak." ujar Al lembut, membuat Kinza merubah posisi duduk nya. Dari yang tadinya bersandar di bahu, sekarang bersandar di dada bidang milik Al.
"Aku udah libur nih, tiga bulan lho. Lumayan lama, kan?"
"Iyaa lama, tapi siap-siap buat berpartisipasi dalam acara HUT satuan. Kamu juga bakalan sibuk, lho." imbuh Al dengan lembut. Tangan kekar nya membelai anak rambut yang bertengger malas di kepala Kinza.
__ADS_1
Kinza tersenyum kecil, "Siap deh kalo itu."
...---...
Kinza bersiap untuk berangkat ke Magelang. Sengaja dia memilih pagi hari, alasannya supaya tidak terkena macet.
Kinza sudah siap dengan dress berwarna peach selutut, rambut nya ia biarkan digerai. Serta membawa tas ransel berisi beberapa potong pakaian. Sementara Al, pria itu mengenakan celana cream selutut serta kaus hitam lengan pendek. Aura kegantengan nya membuat Kinza cemberut.
"Kok monyong bibirnya? Minta dicium kamu, ya?" seloroh Al judes.
"Itu lho, baju nya kontras banget sama kulit Kakak. Ganteng nya jadi muncrat kemana-mana, lho." imbuh Kinza cemberut.
"Aku kan di mobil sayang, sampe sana juga ganti baju, kok. Udahlah, kalau emang ganteng gini mau gimana lagi dong?"
"Yaudah lah terserah Kakak aja." desah Kinza pasrah.
"Yaudah-yaudah aku ganti baju, puas kamu?" sinis Al judes. Dia buru-buru mencari kaos lain.
Selang beberapa menit, Al sudah menganti kaos hitam nya dengan kaos berwarna merah maroon. Nggak ada perubahan sumpah, Al tetap ganteng itu!
"Udah yuk berangkat, keburu siang takut kena macet."
"Yaudah, ayok." balas Kinza pasrah. Mau gimana lagi, pesona Al terlalu memancar kuat. Mau pakai baju apapun tetap saja terlihat tampan. Susah deh kalau ganteng dari lahir, mau dibuat sejelek apapun kalau sudah ganteng yang tetep ganteng. Ish dasar kak Al dodol, sukanya buat aku cemberut. Batin Kinza protes
...---...
Satu jam, dua jam, dan jam-jam lainnya sudah dilalui Kinza dan Al bersama. Dimana? Didalam mobil, lah.
Waktu terus berjalan, hingga sore hari mereka akhirnya sampai di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Udara nya cukup dingin, apalagi angin-angin mulai bertiup kan. Kinza meregangkan badan nya sejenak, rasa penat dan pegal menyeruak ke dalam tubuh nya. Apalagi yang Kinza butuhkan selain istirahat.
"Ya amsyong, lo udah sampe aja cuy. Gue baru aja mau beli makanan buat lo. Eh, btw ada Kak Al juga nih?" seloroh Claudia sesampainya Kinza dan Al ke rumah nya. Bukan rumah sih, lebih tepat nya apartemen. Sengaja Claudia pindah, karena jarak antara kampus dan apartemen nya, terbilang cukup dekat dibandingkan saat tinggal di rumah neneknya. Maka dari itu, Claudia lebih memilih tinggal di apartemen nya sendirian.
"Eh maaf-maaf, sampe lupa gue. Yaudah yuk masuk, mari Kak Al." ajak Claudia ramah, detik berikutnya mereka langsung diboyong masuk ke dalam apartemen milik Claudia.
Apartemen nya cukup mewah, didalam nya ada dua kamar besar yang masing-masing kamar nya terdapat sebuah kamar mandi. Ada juga dapur di pojok kanan apartemen, ruang tamu di paling depan, serta ruangan kerja yang biasa di pakai oleh Claudia untuk mengerjakan tugas. Cocok sekali untuk Kinza yang hanya tinggal sendirian.
Kinza langsung berhamburan duduk di sofa. Rebahan deh, gadis itu meregangkan otot-otot nya yang terasa sakit. Memang tak punya malu, kalau sudah bersama Claudia, sifat manja nya langsung kentara. Dan Claudia sudah paham itu, memang sudah tak asing baginya.
Al? Jangan ditanya, pria itu memasang wajah judes, tapi tak dihiraukan oleh Kinza. Alis nya berkerut, meliuk seperti sedang diukir padahal tidak. Bodo amat lah, sing penting badan gue lebih enak. Batin Kinza protes.
"Yang sopan, lho sayang. Ini rumah ada yang punya, jangan seenak jidat mu!" bubuh Al tak suka. Wajahnya sudah terlihat biasa saja, sedikit judes sih.
Kinza manyun, ya capek ya kena omel. Serba salah deh ah. "Iya, kak, lagi pula udah biasa kayak gini kok sama Claudia." cibir Kinza memelas, dia malah semakin gencar merebahkan diri.
Al hanya bisa pasrah, dia lantas membiarkan saja Kinza bertindak semaunya. Selama tidak menyakiti orang ya nggak masalah. Toh, di apartemen ini cuma ada mereka bertiga.
"Nih minuman nya, yuk silahkan di minum, Kak, Kinzaaa!" seru Claudia sambil membawa nampan berisi air putih serta cemilan di tangan nya.
"Makasih lho, Cla. Btw, lo besok libur kan?" alih Kinza. Claudia mengangguk pelan.
"Iya, kenapa emang nya?" tanya Claudia berbalik.
"Pingin jalan-jalan, joging gitu pagi-pagi, kan enak he he he." balas Kinza sambil terkekeh, satu tangan nya mencomot cemilan.
"Boleh tuh boleh, oh iya, ngomong-ngomong si Kenzo udah masuk AKMIL ya?" alih Claudia cepat. Kinza mengangguk singkat.
"Iya, emang kenapa?"
"Beberapa bulan lalu gue sempat ketemu dia, naik truk apa gitu gue nggak tau. Yang jelas kepala dia botak terus bawa ransel besar." jujur Claudia apa adanya.
__ADS_1
"Iya, dia lagi pendidikan di AKMIL selama empat tahun." sambar Al tiba-tiba. Kedua cewek yang sedang mengobrol itu langsung menoleh.
"Eh iya ya, sampai lupa ada lulusan AKMIL disini." bubuh Kinza seraya terkekeh.
Mereka lantas melanjutkan mengobrol, kali ini Al tak diam saja. Dia juga ikut nimbrung bersama, apalagi sekarang bahasan mereka tentang Tentara dan dunia nya. Pasti lah dia paling nomor satu, secara dia kan Perwira TNI. Hi hi hi sombong dikit kali, ah.
...---...
Keesokan harinya, mereka bertiga sudah siap dengan setelan olahraga. Claudia memutuskan untuk joging di sekitaran balai kota. Memang suasana di sana cukup ramai apalagi kalau weekend begini. Dan, tempat nya nggak terlalu jauh dari apartemen milik Claudia.
Ada yang lucu diantara mereka. Siapa sih yang paling beda? Yang paling mencolok gitu. Itu tuh si anak manja bernama Kinza. Baju olahraga nya super lucu. Mirip kue rainbow, bisa dibayangin nggak sih. Celana traning berwarna pink fanta, kaos garis-garis berwarna, merah, kuning, hijau dan biru. Setdah, udah kayak pelangi, kan?
Tapi nggak masalah, nggak usah malu juga. Yang penting pakai baju, iya kaaaan?
Skip skip.
Mereka memulai kegiatan nya dengan pemanasan. Mulai dari kaki, tangan, kepala. Setelah dirasa cukup, mereka langsung berlari kecil dan mulai menuju ke balai kota.
Seperti yang dikatakan oleh Claudia, weekend ini banyak orang-orang yang juga pergi Joging. Nggak joging aja sih, banyak juga diantara mereka yang jajan, duduk-duduk santai, sampai ada juga yang pacaran, lho. Ck ck ck, beragam sekali manusia-manusia ini.
Kinza tak ambil pusing, biar sajalah seperti itu. Toh niat mereka ingin berolahraga dan sekedar melihat-lihat suasana pagi hari di Kota Magelang.
Memang sih kota ini asri, banyak pepohonan juga. Di tambah di sekitar jalanan juga di tanami pohon-pohon yang cukup besar. Mirip-mirip bogor gitu lah. Yang jelas mereka betah berlama-lama disini, apalagi pacaran gitu, wk wk wk.
Kurang lebih setengah jam, gadis itu mulai merasa capek. Nafas nya pun sedikit terengah-engah. Mereka lantas memilih duduk di bangku taman yang sudah disediakan, meregangkan otot-otot kaki yang mulai lelah.
"Tunggu disini, aku mau beli minum." ujar Al seraya berdiri. Kinza dan Claudia mengangguk cepat. Sontak, badan tegap Al langsung menjauh, mencari penjual minuman terdekat.
"Lo tau mbak Putri, gak?" tanya Kinza membuka suara. Nafasnya sudah kembali normal.
Claudia nampak berfikir sejenak, mengingat-ingat wajah orang yang dimaksud oleh Kinza. "Yang waktu itu nemuin lo pas di resto mall?" tanya Claudia balik.
Kinza mengangguk cepat. "Iya yang itu, lo ingat?"
"Ingat, dia sering juga lho ketemu gue di rumah sakit. Eh, tunggu-tunggu, iya gua baru ingat sekarang. Dia kan perawat di rumah sakit tempat gue praktek." balas Claudia antusias.
Kinza sontak merasa kaget kaget, dia tak menyangka sama sekali. "L-lo-lo serius?" gugup Kinza memastikan.
"Iya gue serius, seriburius malah. Waktu itu ada tentara yang datengin dia, mirip banget sama bang Arjuna." imbuh Claudia menambahkan.
Kinza semakin yakin, bahwa itu memang Putri. Putri mantan pacar Al. Dan Tentara itu? Pasti dia adalah Arjuna!
"Dia mantan pacar Kak Al." bubuh Kinza pelan. Claudia merasa kaget, dia langsung memperhatikan Kinza. Pandangan gadis itu terlihat kosong, padahal jauh di lubuk hatinya, Kinza sangat-sangat merasa takut.
Gimana kalau Kak Al ketemu mbak Putri? Apa yang akan dia lakukan? Pelukan kah? Cium kening kah? Gimana kalau ternyata mereka CLBK? Arrrghhh kenapa gue jadi takut gini, sih! Batin Kinza cemas.
"Eh, woy, kok diam gitu sih? Dan kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?" bingung Claudia.
"Nggak apa-apa kok, udahlah lupain aja. Cuma masa lalu aja, kok." alih Kinza.
"Yakin nggak mau cerita sama gue? Selain mantan Kak Al, apalagi kira-kira yang gue nggak tau dari lo?" vonis Claudia.
"Nggak kok, nggak ada. Udahlah lupakan aja, Cla." alih Kinza cepat.
"Hem yaudah lah, btw Kak Al kemana ini, kok lama banget sih." bingung Claudia. Mata mereka berdua langsung mencari sosok Al. Tidak hanya itu, Kinza bahkan beranjak dari tempatnya untuk mencari Al. Tiba-tiba hati Kinza merasa tak enak, ketakutan muncul dibenaknya. Gadis itu benar-benar takut sekarang.
Claudia mengikuti langkah Kinza dari belakang. Dia juga ikut menemani Kinza mencari Al. Bingung juga sih, Al pergi kemana? Lama sekali membeli minum.
Langkah Kinza terhenti. Dia bahkan tak sanggup untuk kembali melangkah. Kakinya tiba-tiba kaku, bibirnya terasa kelu sebab melihat pemandangan tak sedap di hadapan nya.
__ADS_1
Ternyata benar, ketakutan Kinza terbukti sekarang. Dia, Al, bersama perempuan itu!