
Kedatangan rombongan keluarga Kinza membuat heboh seketika. Semua anggota keluarga yang ada di rumah Al lantas bersiap di tempatnya untuk menyambut rombongan besan.
Kinza dan Al sudah berada di atas pelaminan. Keduanya nampak serasi dengan Kinza yang memakai gaun berwarna peach dan Al yang memakai jas berwarna senada. Tampan dan cantik bak raja dan ratu.
Semua orang tampak sibuk dan tampak bahagia. Begitu juga dengan Kinza, gadis itu merasa senang. Sebab, pesta pernikahan nya nampak seperti pernikahan idaman.
...---...
"Terima kasih, Bunda. Maaf selama dua hari ini Kinza banyak merepotkan, Bunda." ujar Kinza seraya memeluk Bunda, ujung kelopak matanya terlihat basah, mungkin Kinza menangis. Entah lah.
"Sama-sama sayang. Bunda nggak pernah merasa direpotkan, kok oleh Kinza. Justru Bunda senang bisa bersama dengan Kinza." alih Bunda sambil membalas pelukan Kinza. Wanita paruh baya itu mengelus punggung Kinza dengan sayang.
Kinza menatap Bunda, air wajah nya terlihat sedih. "Kinza pamit ya, Bunda. Jaga kesehatan terus, Kinza sayang Bunda." pamit Kinza.
"Iya sayang, hati-hati di jalan, ya?"
"Siap, Bunda." imbuh Kinza seraya melepas pelukan Bunda.
"Bun, Al pamit ya. Bunda jaga kesehatan terus, nanti Al akan sering-sering tengokin Bunda." pamit Al bergantian. Pria itu turut memeluk Bunda Sada.
"Iya, Nak. Kamu juga harus jaga kesehatan, ya. Jagain Kinza dengan benar, buat dia bahagia. Bunda percaya, suatu saat nanti kalian akan saling mencintai." ujar Bunda dengan lembut. Senyum nya mengembang, seketika memberikan Al semangat yang tinggi.
"Siap, Bunda, kalau begitu Al pamit, ya." imbuh Al. Mereka berdua lantas memasuki mobil. Lambaian tangan mengiri kepergian Kinza dan Al dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Berpisah itu, nggak enak ya, Kak." bubuh Kinza terlihat sedih. Al lantas menatap Kinza datar.
"Ya gitu, suka nggak suka tetap harus menjalani." balas Al datar.
"Aku udah nyaman disini, rasanya kebahagiaan ku telah kembali." ujar Kinza pelan. Matanya menatap lurus ke depan.
"Memang selama ini kamu nggak bahagia?" tanya Al sambil menatap Kinza dengan lekat.
"Bahagia, tapi tak sepenuhnya. Selama satu tahun, aku merasa berbeda kalau ada di rumah Mama. Entah kenapa rasanya begitu canggung. Kebahagiaan yang tercipta selama tujuh belas tahun rasanya terlupakan begitu saja. Jujur, aku juga merasa ada yang berubah dengan diri ku sendiri. Aku merasa sendiri." balas Kinza jujur. Dia merasa sedih, tapi entah kenapa suasana hati nya merasa tenang setelah mengatakan hal demikian pada Al.
Al langsung terkejut, kedua kali nya dia mengetahui betapa menderita nya Kinza. Bahkan detik ini terucap dari bibir nya sendiri. Kinza mengatakan langsung kepada Al.
"Saya minta maaf, ini semua salah saya." imbuh Al dingin. Pria itu tak menatap Kinza lagi, pandangan nya lurus ke depan dan terlihat sedikit kecewa.
"Kakak masih ingat ucapan, Yangti?" tanya Kinza memastikan. Al mengangguk pelan pertanda masih ingat.
"Ya." balas Al cepat.
"Jangan membenci siapapun, jangan salahkan siapapun. Ini semua kehendak Yang Kuasa. Kita, harus terima dengan lapang dada." ulang Kinza menirukan perkataan Yangti nya. Seulas senyum lembut terukir di wajah cantiknya.
Perlahan, senyum Al mengembang. Dia lantas mengacak puncak kepala Kinza dengan gemas. Jantung Kinza langsung berdetak lebih cepat. Senang juga gugup turut mendominasi hati nya.
"Kak Al sadar dengan perbuatan nya barusan? Duh duh, kenapa rasanya seneng banget." heboh Kinza dalam hati.
"Bim, di depan berhenti sebentar, ya. Saya mau beli oleh-oleh buat orang Asrama." pinta Al pada Serda Abim.
"Siap, pak." balas Serda Abim, perlahan mobil yang dikendarai nya menepi ke sebuah toko oleh-oleh khas Yogyakarta.
"Kamu mau tunggu di sini atau ikut saya?" tanya Al pada Kinza.
"Ikut." balas Kinza cepat.
Al dan Kinza memasuki sebuah pusat toko oleh-oleh. Beberapa barang seperti gantungan kunci, gelang, kalung, dan macam-macam kue tersusun rapih di tempat nya.
"Kak, aku mau cari ke sebelah sana, ya." ujar Kinza seraya menunjuk deretan kue yang nampak sedap. Al mengangguk kecil.
"Iya, beli apa aja yang kamu mau. Saya mau cari sesuatu di sana." balas Al. Kinza tersenyum tipis lalu beranjak menemui jajaran kue-kue. Sementara Al pergi menuju susunan pernak-pernik yang terlihat lucu dan memikat hati.
Kurang lebih lima belas menit, Kinza sudah berhasil meraup berbagai macam kue khas Yogyakarta. Tangan nya dipenuhi bungkusan demi bungkusan makanan tersebut. Sementara Al, dia membawa macam-macam pernak-pernik pilihan nya yang cukup banyak.
"Udah ini aja?" tanya Al.
"Iya, ini udah banyak, kok." balas Kinza spontan.
__ADS_1
Mereka lantas menuju meja kasir untuk membayar semua belanjaan nya. Setelah itu, kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang.
...---...
Tubuh Kinza menggeliat pelan. Gadis itu terbangun saat merasakan sebuah tangan kekar mengangkat tubuh nya. Kinza kaget setengah mati, kenapa rasanya seperti melayang.
Gadis itu mendapati Al tengah menggendong tubuh nya. Samar-samar, terlihat wajah Al yang seperti nya kelelahan.
"Kak, kita sudah sampai?" tanya Kinza setengah sadar.
"Sudah, kamu langsung istirahat aja duluan." pinta Al pelan. Saat tiba di dalam kamar, Al langsung membaringkan tubuh Kinza dengan perlahan.
"Istirahat, ya. Saya mau urusin di depan dulu." ujar Al.
"Makasih banyak, Kak."
"Sama-sama." balas Al sambil tersenyum tipis.
...---...
Kinza terbangun karena tenggorokan nya terasa kering. Gadis cantik itu mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Tidak ada Al di sini, jadi Kinza hanya tidur sendirian?
Perlahan, kaki nya mulai menapak ke lantai, gadis itu berjalan menuju dapur untuk membasahkan kerongkongan nya yang terasa kering.
Kinza melihat jam dinding sekilas. "Jam setengah lima pagi." gumam Kinza, gadis itu kembali melangkah menuju dapur.
Samar-samar, bunyi percikan air terdengar di telinga Kinza. "Kak?" panggil Kinza dengan suara serak khas bangun tidur.
Tak ada jawaban dari dalam kamar mandi, Kinza lantas memilih untuk membasahkan kerongkongan nya.
Hingga tanpa Kinza sadari, Al keluar dari dalam kamar mandi dengan dada yang tak di tutup sehelai benang pun. "Mau mandi juga?" tanya Al tiba-tiba. Kinza terkejut bukan main, jantung nya serasa ingin copot dari tempatnya. Dia lantas membalikkan tubuh.
"Astagfirullah, Kakak suka banget sih pamer dada gini." kaget Kinza seraya menutup wajah nya dengan tangan. Wajah nya memerah menahan malu.
Al tersenyum tipis. " Pemandangan Ini akan kamu lihat setiap hari. Saya lebih suka bertelanjang dada saat di rumah." bubuh Al dengan mantap. Pria itu meninggalkan Kinza yang masih menahan rasa malu sekaligus rasa gugup di hati nya.
...---...
Kinza berjalan ke arah dapur saat sebuah aroma masakan masuk ke indera penciuman nya. Jujur, Kinza merasa lapar saat ini.
"Kakak masak?" tanya Kinza sambil memperhatikan keterampilan Al dalam memasak. Cukup mengagumkan, Al seperti chef yang handal.
"Kamu pikir saya lagi apa? Dangdutan?" balas nya judes dan cuek. Bukan nya bertambah romantis, Al justru kembali bersikap dingin pada Kinza.
Kinza kesal, bukan nya menjawab, Al justru terlihat merendahkan Kinza. Memang salah untuk sekedar basa-basi? Dasar Al judes! Batin Kinza protes.
"Kamu duduk aja deh, sebentar lagi masakan nya matang. Eh tunggu, kamu siapin piring untuk kita sarapan. Ambil di rak bawah." suruh Al datar. Pria berwajah tampan itu terlihat fokus kembali.
Kinza manut, dia mengikuti perintah dari Al. Tak lama kemudian, masakan Al sudah matang. Bau masakan seketika menyeruak ke penciuman Kinza.
"Kayak nya enak, Kak." seru Kinza seraya menyodorkan piring kepada Al. Mata nya berbinar ketika melihat omelette yang begitu menggugah selera. Hellooow, Kinza, itu cuma omelette keleus!
Al mendelik pelan. "Jangan-jangan kamu nggak bisa masak, ya?" tanya Al judes seraya menebak, sementara tangan nya sibuk menata makanan nya ke atas piring.
Kinza terlihat gusar. "Gue bisa masak? Suatu keajaiban banget kaleee. Aduh, sumpah nggak bisa masak. Kak Al marah nggak, ya, kalau aku bilang gak bisa masak, dia bakalan makin judes dong?" batin Kinza protes. Dia nampak berfikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat.
"Heh, kok malah diam? Jangan-jangan benar, ya, kamu nggak bisa masak?" cecar Al sekali lagi, matanya terlihat menyipit.
"Bisa, kok, tapi nggak banyak. Aku bisa goreng telur, masak air, dan bikin mie instan." balas Kinza penuh semangat. Jawaban nya barusan tak salah, kan?
Al tepuk jidat, gemas alias gedek dengan jawaban Kinza. "Goreng telur, masak air, dan bikin mie instan, kamu sebut itu bisa masak? Itu mah anak SD juga bisa kaleeee!" cibir Al judes. Alamaaaak, mati kutu, malu sekali rasanya.
"Kok disamain sama anak SD sih, Kak." ujar Kinza tak suka. Bibir nya mengerucut maju beberapa senti, membuat kesan lucu tersendiri bagi Al.
"Udah, udah deh, akuin aja kalau kamu nggak bisa masak. Sekarang cepat makan, saya harus apel." bubuh Al menyudahi percakapan mereka.
Dengan pergerakan cepat, Kinza berhasil meraup omelete lezat buatan Al. Seperti orang kelaparan dan seperti nya urat malu Kinza sudah putus. Al dibuat takjub, dia terlihat jijik menatap Kinza yang makan dengan lahap dan berantakan.
__ADS_1
"Kamu tuh nggak makan berapa tahun, sih? Atau baru pertama kali makan omelet?" tanya Al judes.
"Eunak, omeulet Kakak, eunek." balas Kinza dengan mulut penuh. Double membuat Al jijik dan terlihat ngerii.
Al menuangkan air pada gelas dan memberikan nya pada Kinza. Dengan hati-hati, Al menyodorkan nya pada gadis itu. "Pelan-pelan, Kinza, kamu bisa tersedak nanti." ujar Al sedikit melembut. Kinza belas menatap Al. Senyum merekah terpampang di wajah cantik nya.
"Makasih banyak, Kak." balas Kinza serasa memperlambat tempo makan nya.
Al kembali melahap makanan nya. Tak berapa lama, Al sudah selesai makan, pria itu lantas beranjak dari duduk nya.
Kinza memperhatikan Al yang sedang memakai sepatu PDL nya. Dengan telaten, pria bertubuh kekar itu memakai sepatu dan membetulkan seragam loreng nya. Terlihat gagah dan tampan.
"Kinza, dengerin saya baik-baik, ya. Habis ini saya mau apel pagi dan kembali berdinas. Maaf, saya nggak ada waktu buat beres-beres meja makan atau yang lain nya. Kamu bisa kan bantuin saya untuk beres-beres?" tanya Al pelan saat merapihkan seragam dinas nya.
Kinza mengangguk kecil, "Iya bisa, Kak. Nanti aku rapihkan semua nya." seru Kinza dengan semangat. Al mendekat seraya mengacak puncak kepala Kinza.
"Terima kasih." bubuh Al lembut.
Kinza menyodorkan tangan nya. Al dibuat bingung atas perlakuan nya. Dahi Al berkerut, "Maksudnya apa?" bingung Al.
"Mau salim." ujar Kinza sambil tersipu malu. Al terdiam beberapa detik.
"Ah, ya." balas Al kikuk. Pria itu lantas menyodorkan tangan nya. Tanpa berfikir panjang, Kinza langsung mencium tangan Al dengan lembut.
Al di buat bungkam, entah harus berbuat apa. Tapi yang jelas, hati Al menghangat seketika. "Kakak hati-hati, ya, semangat kerja nya." imbuh Kinza seraya melepas tangan Al.
"I-iya, saya berangkat, ya, kamu juga hati-hati di rumah." balas Al seraya meninggalkan Kinza yang senyam-senyum sendiri. Kinza senang, apalagi jika melihat Al gugup.
Bruaaak!!
Kinza tersentak kaget saat sebuah suara kencang memekikkan telinga nya. Kinza buru-buru menuju ke sumber suara yang berasal dari depan rumah.
Kaki mungil nya melangkah dengan cepat, begitu membuka pintu, Kinza mendapati sebuah pot kecil yang hancur berantakan. Di samping itu, Kinza melihat seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan tengah jatuh terduduk di atas rerumputan. Al sudah tidak terlihat. Batin Kinza.
Kinza langsung menggendong anak itu, badan nya terlihat kotor dengan wajah yang khas seperti baru bangun tidur.
"Hai, adek kecil, kok bisa jatuh di sini? Sini yuk tante gendong, yuk." seru Kinza lembut, dia lantas meraih tubuh gimbul milik anak perempuan yang kira-kira berusia dua tahun.
Bocah itu memperhatikan wajah Kinza, mungkin terlihat asing sampai-sampai tak berhenti menatap Kinza.
"Nama adek siapa?" tanya Kinza lembut.
"Aluni." balas anak yang bernama Aruni itu.
"Oh, Aruni, rumah nya dimana sayang?" tanya Kinza lagi.
"Di cana." bubuh Aruni sambil menunjuk sebuah rumah yang letak nya tidak terlalu jauh dari rumah dinas Al.
"Tante anterin, ya, sayang. Aruni harus mandi, tuh lihat tuh baju nya kotor semua. Yuk, mandi, yuuk." ajak Kinza. Dia menutup pintu seraya mengantarkan Aruni ke rumah nya.
"Aruni, aduh nak, kok bisa kotor begini?" panggil seorang ibu-ibu muda yang Kinza yakini bahwa dia adalah orang tua Aruni. Wajah cantik nya terlihat panik dan cemas.
"Maaf, mbak, tadi Aruni main di halaman rumah saya. Baju nya kotor sebab memecahkan pot bunga dan main tanah." ujar Kinza lembut, gadis itu lantas menyerahkan Aruni pada orang tua nya.
Perempuan itu mengambil alih Aruni. "Maaf merepotkan, mbak, Aruni memang suka sekali kelayapan." balas nya pelan.
"Saya Avita, istri nya Serda Bima, ngomong-ngomong, nama mbak siapa?" tanya Avita. Tangan nya terulur.
"Saya Kinza, istri nya Kapten Althafariz. Panggil aja Kinza, mbak." bubuh Kinza seraya membalas uluran tangan Avita. Avita langsung diam, wajah nya terlihat takut.
"Aduh, bu, maaf sekali. Maaf saya lancang memanggil dengan sebutan 'Mbak'. Saya baru tau kalau ibu adalah istri nya bapak Danki." balas nya tak enak. Wajah nya terlihat pucat.
Kinza di buat bingung. Berbagai pertanyaan muncul di benak nya.
"Iya, tidak apa-apa, kalau begitu saya pamit, ya. Mau berbenah rumah." pamit Kinza. Dia lantas meninggalkan Avita dan Aruni dengan perasaan bingung.
Kinza harus tanyakan ini semua pada Al, harus!
__ADS_1