EPOCH

EPOCH
Bab 23


__ADS_3

Kinza duduk termenung di ruang tunggu RSPAD. Dia tidak sendirian, ada kedua orang tua dan juga mertua nya di sana. Sudah hampir tiga jam menunggu, namun ruang UGD belum juga terbuka. Itu tandanya, penanganan medis masih berlanjut.


Kinza kembali terisak, dia menyesali kebodohan nya tempo lalu. Andaikan Kinza tak pergi meninggalkan Al, pasti pria itu baik-baik saja. Begitulah kata Kinza.


Kinza Irsyania Malik POV


Nasi sudah menjadi bubur, kira-kira seperti itulah keadaan yang bisa aku gambarkan. Sesal tiada guna, dan menangis adalah akhirnya. Pingin rasanya memutar waktu, tapi aku bukanlah doraemon.


Pasti kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi pada kak Al. Dia kecelakaan, dan itu semua adalah salah aku. Salah aku!


Jika bisa aku berandai-andai, aku tak ingin ini semua terjadi, aku hanya ingin waktu diputar kembali. Hingga semua ini tak pernah ku alami. Ah, tapi lagi-lagi aku hanya manusia biasa.


Mungkin aku sedang dihukum sebab meninggalkan kak Al. Inilah hukuman yang pas buat ku. Selama seminggu aku menghindari nya, tak ingin mendengarkan ucapan nya, dan sekarang benar-benar terjadi. Tuhan mengabulkan permintaan dodol ku, aku tak bisa mendengar suara beliau sekarang, hiks hiks!


Tiga jam sudah aku terduduk di kursi ruang tunggu. Menunggu hasil penanganan medis yang dilakukan pada kak Al. Semoga hasilnya baik, dan semoga kak Al selamat. Jujur saja, setelah mendengar kabar bahwa beliau kecelakaan, aku langsung terduduk lemas. Hanya isak tangis yang menderu, aku benar-benar pilu. Sakit sekali hati ku!


Tiga jam sudah aku menangisi beliau sambil memohon pada Tuhan agar kak Al diselamatkan. Melihat kondisi mobil nya yang rusak, aku langsung mati rasa. Meskipun hanya bagian depan yang rusak parah, tapi bisa mengakibatkan dia masuk UGD. Pingin rasanya teriak sekencang mungkin. Tapi aku sadar diri, ini rumah sakit bukan puncak!


Mama dan bunda dengan sabar menenangkan aku, meredakan tangis ku yang lagi dan lagi terus menderu. Aku pikir mereka akan marah, kecewa akut atau semacam kesal gitu. Tapi nyatanya nggak sama sekali, kedua ibu itu justru memeluk, merangkul aku. Hiksss, lagi-lagi aku hanya bisa menangis tersedu.


Sedangkan kedua jenderal, yaitu papa dan ayah, mereka juga sama. Justru mereka lebih khawatir padaku. Entahlah aku juga nggak ngerti kenapa bisa begini, mungkin setelah mendengar penjelasan dariku yang entah benar atau tidak, mereka jadi simpati sama aku. Ah, udahlah kesampingkan dulu masalah itu. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan kak Al, suamiku, hiks!


“Sabar ya sayang, Al pasti baik-baik aja, kok.” ucap mama untuk yang kesekian kalinya, menenangkan aku supaya meredakan tangis ku. Jujur sangat sulit meredakan tangis disaat seperti ini, sulit pake banget malah!


Bunda mendekap aku ke dalam pelukan nya, tangan nya yang lembut, putih dan mulus mengusap punggung ku dengan sabar. Semakin aku diperlakukan baik, semakin juga aku merasa sakit. Hu hu hu, semoga kamu baik-baik aja kak.


Beberapa saat kemudian, akhirnya pintu ruang UGD terbuka. Bersamaan dengan itu, brangkar yang ditiduri kak Al ikut dikeluarkan. Dengan jelas aku melihat kak Al yang terbaring lemah dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Ya Tuhan, sungguh sakiiit!


Bayangkan saja, pelipis beliau diperban melingkar, selang dimana-mana, dan alat-alat lainnya yang kurang aku mengerti. Hu, lagi-lagi tangis ku memecah sambil mendekati kak Al yang masih tidak sadarkan diri.


“Alhamdulillah tidak ada luka yang begitu parah, hanya benturan disini yang mengakibatkan kita harus menunggu beliau sadar lebih lama. Sekitar satu minggu jangka waktu yang diperlukan, itu kalau tidak ada perubahan.” ucap sang dokter seraya menunjukkan bagian-bagian luka di tubuh kak Al. Aku sedikit lega, tapi juga tetap merasa takut. Sebab, mama pernah bercerita tentang masa mudanya. Beliau pernah tertabrak saat bertengkar dengan papa. Butuh waktu sangat lama untuk menunggu mama sadar, tapi kak Al, alhamdulillah tak seperti mama. Mungkin karena dia berkendara, tidak seperti mama yang terpental jauh. Asli deh, kedua-duanya bikin aku sedih.


Aku mengikuti kemana beliau dibawa, sambil berjalan sambil menangis. Biarin aja deh orang-orang mau bilang apa, peduli banget sih sama mereka, paling-paling mereka membicarakan aku dibelakang. Serah kalian aja deh!


Setelah sampai, para dokter dan perawat meninggalkan kami. Kini tinggallah aku, mama, papa, bunda dan ayah.


Perlahan, langkah ku mendekati kak Al. Dengan perasaan campur aduk, aku berhasil berada di samping nya. Tangan lentik ku mengelus wajah tampan kak Al. Sungguh menyesakkan dada, lagi-lagi aku menyesal atas semua tindakan yang membuat beliau menjadi seperti ini. Sambil menelusuri wajahnya, air mata ku juga terus mengalir. Aku bisa apa sekarang? Ya cuma nangis, dasar Kinza cengeng!


“Permisi.” pecah sebuah suara, kami berempat lantas menengok.


Hem, rupanya itu bapak dan ibu komandan serta ajudan nya. Bukan hanya itu, ada juga beberapa orang anggota yang ikut dengan beliau.

__ADS_1


“Izin, kedatangan kami kemari ingin menjenguk Kapten Al.” ujar bapak komandan tegas, papa dan ayah langsung menyambut mereka semua. Begitu juga dengan mama dan bunda. Mereka menyalami para ibu-ibu persit yang mendampingi. Sedangkan aku? Hanya bisa diam tergugu macam tembok.


“Yang sabar, ya, dek. Mbak yakin Kapten Al tidak apa-apa.” ujar ibu komandan alias ibu Nina, tangan putih beliau mengusap punggung ku lembut.


Aku hanya bisa mengangguk lesu, saking capek nya menangis. “Izin, siap ibu terima kasih.” balas ku ramah dan terdengar lemah.


Mereka melihat kondisi kak Al, setelah itu mengobrol di luar ruangan. Dan sekarang hanya ada aku, kak Al yang terbaring lemah, serta adik asuh beliau, lettu Ivan.


“Izin mbak, yang sabar ya. Saya yakin kapten Al akan segera sadar.” ujar lettu Ivan. Lagi-lagi aku mengangguk lesu sambil memegang tangan kak Al yang penuh infusan.


“Terima kasih om.” balas ku sekenanya.


“Sebelum kecelakaan terjadi, malam nya kami nongkrong bersama. Saya melihat beliau terus melamun, sepertinya sedang terjadi sesuatu antara mbak dan Kapten Al.” sambung Ivan, ucapan beliau membuat ku merasa semakin bersalah. Aku menunduk lesu, kembali menangis jawaban nya.


“Iya, itu karena kami bertengkar, om.” balas ku apa adanya.


Lettu Ivan juga terdiam, tak bisa berkata-kata lagi sepertinya. Iyalah jelas, ini masalah rumah tangga ku. Dia nggak mungkin berkomentar banyak, apalagi Ivan adalah adik letting kak Al. Makin-makin lah dia terdiam, jaga lisan gitu.


...---...


Hampir satu jam bapak komandan, ibu komandan, ajudan, serta beberapa anggota menjenguk kak Al. Mereka akhirnya pamit undur diri menyisakan buah tangan yang begitu melimpah ruah. Aku melepas mereka sambil bersalaman dan senyum lesu.


“Iza pulang dulu, ya, biar bunda yang jagain Al. Kamu harus istirahat, jangan lupa makan.” seru bunda saat mereka sudah pulang. Aku menggeleng cepat, nggak mau meninggalkan kak Al begitu saja.


Mama mendekat ke arah ku, “Nak, jangan gitu dong. Pikirkan juga kesehatan mu, ya. Tenang aja, bunda Sada akan jagain Al disini, Kinza pulang ya. Mama antar kok.” imbuh mama. Aku menghela nafas panjang. Dengan berat hati akhirnya aku mengiyakan keinginan mereka. Ya memang betul sih, ini semua demi kebaikan aku juga. Mereka hanya khawatir aku kenapa-napa apalagi sampai sakit. Kalau aku sakit, siapa yang bakal nemenin kaka Al? Yakali si Putri, ups maksudnya mbak Putri. Idih ogah, lagian kenapa sih tiba-tiba aku keinget sama dia, cuih!


Aku mencium kening kak Al singkat sebelum pulang ke rumah dinas. Berat sekali rasanya meninggalkan kak Al untuk yang kedua kalinya. Jujur aku ingin berada di samping nya, tapi aku nggak mungkin egois, aku juga harus menjaga kesehatan ku.


...---...


Beberapa menit diperjalanan, akhirnya aku sampai di rumah dinas kak Al. Aku sendiri, sebab aku memaksa mama untuk pulang saja dengan dalih aku hanya ingin sendirian. Ya mau tak mau mama menuruti perkataan ku. Lagi pula tidak semuanya bohong kok, aku memang ingin sendiri. Ibarat kata, menebus kesalahan ku gitu lah, ya, walaupun aku nggak tau harus gimana dan berbuat apa.


Perlahan langkah kaki ku masuk ke pekarangan rumah tempat kak Al dinas. Seperti biasa, rumah nya selalu rapi, bersih dan tertata. Ini baru depan nya sih, nggak tau dalamnya seperti apa. Oke, aku jadi pingin cepet-cepet masuk. Rindu sekali dengan suasana rumah yang kadang hangat, kadang dingin, dan kadang-kadang lainnya. Hu huuuu, aku rindu penghuni rumah ini.


Aku memasukkan kunci yang diberikan bunda kepada ku, lantas ku buka pintu dengan hati-hati. Setelah pintu terbuka, nampaklah ruang tamu beserta antek-antek nya. Perabotan yang berada di sana masih sama. Tertata rapih dan tentunya bersih.


Lalu langkah ku menuju ruangan kedua, di sana tertata sofa panjang, meja, dan sebuah TV layar datar.


Perlahan, ingatan ku kembali pada masa-masa dimana aku dan dia sedang romantis-romantisnya. Aku jadi pingin peluk kak Al, didekap nya dan menangis sejadinya di pelukan hangat dia. Menikmati masakan nya yang selalu enak, merasakan sentuhan nya yang membuat aku melayang, dan semua yang beliau lakukan kepada ku. Ya ya ya, aku rindu diaaa, hiks!


Udah cukup, waktu nya aku berbenah diri. Niat ku pulang hanya istirahat sejenak dan kembali menemani kak Al di rumah sakit.

__ADS_1


“Tok tok tok..” suara ketukan pintu membuyarkan lamunan ku seketika. Aduh, siapa sih yang datang sore-sore gini. Gak tau apa yak aku sedang buru-buru, males juga sih kedatangan tamu. Udahlah datengin aja!


Dengan langkah cepat, aku menyongsong keluar kamar. Membuka pintu buat manusia yang tadi mengetuk pintu. Lantas ku buka pintu dengan pelan, dan nampak lah seorang.


Deg!


Jantung ku serasa ingin copot dari tempatnya. Tamu itu? Dia adalah si pembuat masalah! Siapa lagi kalau bukan Putri Naima alias Mbak Putri!


Aku berusaha tenang, padahal aslinya pingin marah dan cabik-cabik wajahnya nya. Kenapa sih dia datang? Berani banget kayaknya menampakkan wajahnya kedahadapan ku setelah membuat masalah. Oke, hati ku memanas sekarang! Tapi tunggu dulu, itu mobil yang terpakir mulus di pekarangan rumah seperti nya aku kenal deh, mobil itu seperti milik...


Tiba-tiba seorang laki-laki menyusul mbak Putri, dan orang itu adalah bang Arjuna. Iya itu beneran bang Arjuna, aku nggak mungkin salah lihat! Jadi dia kesini sama bang Arjuna, kekasih barunya yang dulu pernah aku sayang, cih!


“Maaf menganggu, mbak ingin bicara sama adek, boleh?” ujar mbak Putri dengan air wajah yang tak tergambarkan. Aih, kenapa juga sih dia minta bicara sama aku, sumpah aku gak mauuu, kesel liat wajah dia yang cantik tapi sok polos itu.


Aku menghela nafas dengan panjang, mengangguk singkat dan membukakan pintu masuk yang lebar untuk nya. Dia lantas masuk ke dalam, begitu juga bang Arjuna yang tersenyum tipis kepadaku.


“Aku ambil minum dulu, ya, mbak.” ujar ku halus, tapi tiba-tiba tangan ku di cekal.


“Nggak usah dek, kami ada minum di mobil. Kamu duduk aja di sini. Mbak hanya ingin masalah ini cepat-cepat selesai, dan kamu tidak salah paham lagi.” tolak nya halus sembari menyuruh ku duduk. Bagus juga sih, nggak perlu kan aku capek-capek bergelut di dapur, dasar Kinza kejam!


Oke, baiklah-baiklah aku nurut aja. Lantas aku dudukkan kembali bokong ku di atas sofa, serta merta menyimak apa yang akan mbak Putri katakan. Sejujurnya aku super malas, tapi mau dikatakan apa dong, dia kayaknya mau ngomong yang serius. Dan, seperti nya aku harus dengar penjelasan dia kali ini.


“Langsung aja ya, dek. Mbak kemari hanya ingin mengklarifikasi soal kejadian di Magelang satu minggu yang lalu.” ujarnya menggantung. Wait-wait, jadi dia mau memberikan penjelasan gitu?


“Jadi gini dek, mbak dan Al itu sama sekali tidak berpelukan dengan di sengaja. Al hanya menolong mbak menghindar dari tabrakan para pemain skateboard. Waktu itu mbak hampir tertabrak, dan mbak tidak menyadari bahaya sedang mengintai mbak. Tapi tiba-tiba Al datang dan menyelamatkan mbak. Jadi mbak mohon, jangan salahkan Al, jangan benci dia, Za.” sambung mbak Putri dengan tatapan sendu. Aku belum mengerti, maksudnya mbak Putri tuh apasih? Sumpah aku lemot banget ini, hi hi tulung!


Aku mulai mencerna ucapan beliau sedikit-sedikit. Jadi maksudnya itu mereka berpelukan dengan tidak disengaja karena kak Al nolongin dia? Iya gitu kan? Tapi kok aku nggak yakin, yak? Aduh, apa harus gitu aku percaya sama ucapan beliau?


Aku menghela nafas pelan, “Mbak, nggak ada yang tau kan gimana itu terjadi. Aku nggak bisa langsung percaya gitu aja, jujur hati ku masih merasa sakit, mbak.” balas ku gamang. Emang iya kan, ya mana bisa sih aku langsung percaya gitu aja sama mbak Putri. Secara dia juga pernah menyakiti aku, bahkan satu tahun lamanya.


“Dek percayalah, mbak dan Al itu tidak pernah ada niatan untuk bersama kembali, dia sudah punya kamu dan mbak sudah punya Arjuna. Tolong percaya, kali ini aja dek.” bubuh nya sendu sambil meraih tangan lentik ku. Mata mbak Putri mulai berkaca-kaca. Aduh, sepertinya dia pingin nangis, tapi kenapa? Apa penyebab nya? Ya kamulah Kinza dodol?


“Apa yang harus mbak lakukan supaya kamu percaya sama perkataan, mbak?” tanya beliau sambil terisak kecil. Hum, seketika hati kecil ku meronta, nggak tega lihat perempuan menangis. Masalahnya aku juga perempuan, dan gimana pun itu, mbak Putri adalah orang yang dulu sangat aku sayangi.


Bang Arjuna mengusap punggung mbak Putri dengan lembut, cowok itu menatap ku dengan tatapan aneh. Kenapa juga sih orang-orang ini, sumpah aku jijik!


“Za, Putri itu nggak bohong. Abang udah liat kok rekaman cctv nya. Kejadian itu memang murni kecelakaan.” imbuh bang Arjuna kalem. Huy, kalo sama dia mah aku percaya deh. Nggak tau kenapa udah yakin aja gitu, klop banget sama ucapan beliau.


Ih apaan sih aku, inget udah punya suami. Bang Arjuna juga udah milik mbak Putri meskipun belum sah. Jaga hati oy, suami mu sedang berjuang di rumah sakit, hiks!


“Aku percaya, tapi tetap saja musti mendengar penjelasan dari kak Al secara langsung. Setelah itu barulah aku akan benar-benar percaya.” balas ku dengan tatapan kosong. Seketika wajah mbak Putri berubah, senyuman penuh arti terpasang jelas seakan ingin berkata ‘Akhirnya’ gitu lah kira-kira.

__ADS_1


“Akhirnya kamu percaya, makasih dek. Mbak minta kali ini, jangan benci sama Al. Dia nggak salah sama sekali.” ujar nya lembut. Aku lantas mengangguk kecil. Sebenarnya masih belum percaya sih, tapi yaudahlah. Percaya dulu aja buat kali ini, buat kali ini aja, ya, nggak lebih!


__ADS_2