EPOCH

EPOCH
Bab 8


__ADS_3

"Bukan hanya kenal tapi Mas Al adalah calon tunangan, Mbak."


Kinza langsung membelalakkan mata ketika mendengar penuturan Putri. Sesuatu dalam dada nya bergemuruh hebat. Kinza menatap Al dan Putri tak percaya. Jadi mereka pacaran? Kenapa gue baru menyadari sekarang? Ah lo bodoh banget, Zaaa!


"Kenapa? Kamu kaget ya?" tanya Putri sambil tersenyum miris.


"Yang kamu rasakan ini belum ada apa-apa nya, Dek. Kamu harus tau bagaimana perasaan Mbak ketika mendengar berita perjodohan kalian. Bahkan perempuan itu adalah orang yang sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri." sambung Putri sambil berkaca-kaca. Memori nya berputar pada peristiwa enam bulan lalu pada saat Al mengatakan yang sebenarnya.


Kinza meraih tangan Putri, tapi wanita itu langsung menepis nya. "Mbak, a-aku nggak m-maksud. A-aku nggak tau k-kalau Mbak calon tunangan nya Kak Al." ujar Kinza gagap sambil berderai air mata. Kedua gadis itu sama-sama menangis. Sementara Al hanya diam membisu.


"Maafkan Kinza, Mbak. Kinza benar-benar nggak tau." sambung Kinza sambil terus bercucuran air mata.


"Kalau Mbak mau, Kinza bisa kok batalkan perjodohan ini. Tapi Kinza mohon jangan benci sama Kinza." ujar Kinza pasrah. Gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam. Terisak pelan.


Putri tidak menjawab. Dia hanya diam tak menggubris ucapan Kinza. "Kamu nggak perlu membatalkan perjodohan ini. Mbak juga tidak akan membenci kamu. Tapi ada satu syarat..." ujar Putri menggantung kalimat terakhir nya. Sontak Kinza mendongak, menatap Putri lekat.


"Syarat nya apa, Mbak?" tanya Kinza lirih.


"Biarkan Mbak berhubungan dengan Al meskipun kalian sudah menikah!" ujar nya datar sambil menatap lurus ke arah Al. Kinza dan Al sama-sama terkejut. Bagaimana mungkin ini terjadi?


"T-tapi, Mbak."


"Kalau kamu nggak setuju gak apa-apa, tapi maaf. Mungkin Mbak akan membenci kamu seumur hidup." potong Putri cepat lantas berdiri dari duduk nya.


"Mbak, aku akan mengabulkan permintaan Mbak." ujar Kinza sambil menahan tangan Putri supaya tidak pergi. Air mata Kinza mengalir semakin deras membuat make-up di wajah nya memudar. Penampilan nya begitu kacau.


Al menatap kedua nya tak percaya. Dia bisa apa sekarang? Bukankah pria itu sudah seperti seorang pengecut?


"Kinza permisi." ujar Kinza seraya meninggalkan pasangan kekasih itu sambil berderai air mata. Sementara mereka berdua sama-sama masih terdiam di dalam restoran. Bahkan Al diam saja tak bergeming dari tempat nya, dia tak mengejar gadis itu sama sekali.


"Kamu setuju kan dengan syarat yang aku berikan?" tanya Putri pada Al. Cowok itu masih diam tak menggubris pertanyaan kekasih nya.


"Al, jawab aku!"


"I-iya, aku setuju." balas Al sambil tersenyum. Detik itu juga Putri membalas senyuman Al. Di dalam hati, Putri bersorak senang. Tak apalah tak menikah dengan Al. Yang terpenting dia masih bisa dekat dan berhubungan dengan Al. Meskipun dia tau itu adalah perbuatan yang salah. Tapi Putri tak peduli. Hati nya sudah hancur berantakan. Tidak ada lagi Putri yang lemah lembut, tidak ada lagi Putri yang baik. Yang ada hanyalah Putri dengan segala kekecewaan dan kebencian.


---


Kinza melangkahkan kaki nya tanpa arah. Gadis itu menyusuri jalanan yang entah apa namanya. Sekarang dia harus apa? Uang dan ponsel ia tak memegang nya. Hanya paper bag kecil yang berisi pakaian ganti.


Pulang ke rumah hanya akan membuat suasana hati nya semakin kacau. Dia tidak ingin bertemu mama dan papa nya untuk saat ini. Rasanya terlalu sesak untuk mengingat keputusan yang ia ambil enam bulan lalu. Tapi Kinza juga bingung, kemana ia harus pergi sekarang?


Gadis itu terus berjalan melewati bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Dia baru sadar, tempat ini adalah tempat dimana dia sering menghabiskan waktu bersama Arjuna semasa SMP dulu. Dia rindu Arjuna. Pria yang menghilang sejak enam bulan lalu. Entah dimana sekarang Juna berada. Yang jelas Kinza rindu. Dia membutuhkan sosok Juna sekarang. Hanya Arjuna lah yang mampu menghapus semua kesedihan Kinza.


Sudah pukul tujuh malam. Kinza masih belum menemukan tempat untuk singgah. Hujan tiba-tiba membasahi Kota Bogor, seakan tau bagaimana kondisi hati Kinza saat ini. Dia buru-buru meneduh di halte yang dekat dengan nya. Untung saja sepi. Jadi Kinza bisa meluapkan semua kesedihan nya.


Gadis itu semakin merasa sedih lantaran tidak ada yang menjemput nya. Tidak ada yang khawatir pada diri nya terutama Al. Mama dan papa tentu saja tidak tau karena berfikir Kinza aman bersama Al. Tapi nyata nya? Dia malah terduduk sendirian di Halte sambil memeluk tubuh nya sendiri.


...---...


Sementara di lain tempat. Seorang pria berkaos navy tengah kebingungan mencari sosok gadis yang pergi beberapa jam lalu. Pria itu adalah Althafariz Ramaditya Dirgantara. Al nampak panik sebab gadis yang di cari nya tak memegang ponsel. Dia menyusuri setiap bangunan yang menjulang tinggi dengan lampu yang berkelap-kelip. Hujan yang mengguyur jalanan membuat Al sedikit kesulitan mencari Kinza.

__ADS_1


Samar-samar, Al melihat seorang gadis dengan kebaya serta paper bag yang menemani di samping nya. Gadis itu terlihat begitu mengkhawatirkan. Al tau, itu pasti Kinza.


Al segera menepikan mobil nya mendekati halte. Dia mengambil payung sebelum akhirnya turun menemui Kinza. Gadis di hadapan nya terlihat begitu kacau. Mata nya membengkak, make-up nya berantakan, serta baju kebaya yang sedikit basah.


"Za?" panggil Al dengan suara pelan. Perlahan pria itu berjongkok di hadapan Kinza. Kinza yang belum menyadari kehadiran Al, sama sekali tak merespon. Gadis itu tak bergerak sedikit pun.


"Kinza?" panggil Al sekali lagi, dia lantas memegang bahu Kinza.


"Bang Juna? Abang kemana aja? Kinza rindu sama Abang, Kinza benar-benar rindu." racau Kinza tak karuan sambil memeluk tubuh Al. Gadis itu bahkan tak menyadari bahwa laki-laki di hadapan nya ini bukan lah Arjuna, melainkan Al. Pria itu terkejut bukan main mendengar penuturan Kinza. Entah gadis ini sadar atau tidak. Yang jelas Al hanya menunggu kelanjutan kalimat yang akan di lontarkan dari bibir tipis Kinza.


"Kinza menyesal mengiyakan perjodohan ini. Tanpa kompromi dengan Bang Juna terlebih dahulu. Tolong bantu Kinza Bang, bantu Kinza untuk kabur, hiks."


"Kinza menyerah, sungguh Kinza menyesali nya Bang." sambung gadis itu sambil terisak. Pandangan nya memburam karena terlalu banyak mengeluarkan air matanya. Kepala pun sedikit pusing sebab kehujanan beberapa menit lalu.


"Abang mau kan b-bantu Kinza? T-tolong B-bang. Kinza mohon." ucap gadis itu terbata. Entah kenapa kepala nya semakin memberat. Pandangan nya tak bisa fokus, dan tubuh nya bergetar hebat.


"Kinza ca-capek." ujar nya lirih sebelum akhirnya pandangan gadis itu benar-benar mengabur dan semua nya menggelap. Kinza pingsan di pelukan Al.


Al terkejut bukan main mendapati gadis di pelukan nya jatuh pingsan. Pria itu lantas mengangkat tubuh mungil Kinza dan membawa nya masuk ke dalam mobil. Tak peduli dengan baju nya yang basah serta hujan yang terus-menerus mengguyur mereka berdua.


Al melajukan mobil nya dengan perlahan. Angin kencang serta kabut yang menebal membuat Al kesulitan melihat jalanan. Sekilas Al melihat gadis di samping nya yang sudah lemah tak berdaya. Bibir gadis itu memucat serta rambut nya yang basah juga berantakan.


Perlahan tangan nya mulai terulur membenarkan posisu rambut Kinza. Dia menyadari kesalahan terbesar nya. Al memang pengecut. Tidak bisa mengambil keputusan tegas. Bahkan Al sangat lemah jika menyangkut soal wanita.


"Maafkan saya, Kinza." gumam Al lirih. Dia menepikan mobil nya sebentar. Mengambil bomber maroon di kursi belakang lalu memakaikan nya ke tubuh Kinza. Setelah selesai, Al kembali fokus ke jalanan.


Perlahan tubuh Kinza menggeliat. Kesadaran gadis itu mulai kembali walaupun kepala nya masih terasa berat.


Memory Kinza tiba-tiba berputar pada kejadian beberapa jam lalu. Rasa sesak yang sejak tadi bergemuruh di dada nya sekarang mulai reda. Kinza menangis lagi.


"Turunin aku sekarang, Kak!" pinta Kinza lirih. Dia menatap lurus ke depan. Terlihat kosong. Al diam tak bergeming. Pria itu tidak mungkin menurunkan Kinza dalam kondisi hujan deras seperti ini.


"Kak Al stop! Berhenti Kak! Aku bilang berhenti sekarang." ucap nya sekali lagi sambil menggoncang lengan Al. Namun lagi-dan lagi Al tak bergeming. Menoleh ke arah gadis itu pun tidak.


"Saya nggak akan turunin kamu dengan kondisi seperti ini!" balas Al dingin. Matanya nya tak berpaling sedikit pun. Masih tetap sama menatap lurus ke depan. Kinza terdiam sejenak.


"Alasan nya apa Kak? Nggak mungkin kan alasan nya karena Kakak peduli sama aku?! Aku rasa itu nggak akan pernah terjadi!" lirih Kinza sambil mengusap kasar air matanya. Sekuat apapun mencoba membujuk Al. Gadis itu tak akan pernah bisa. Al terlalu sulit untuk di taklukan.


"Kenapa harus nggak mungkin?! Saya memang betulan peduli sama kamu, Kinza!" balas Al tak kalah dingin. Al memang benar. Pria itu mencemaskan keadaan Kinza.


Kinza semakin beringsut.


"Kalau Kakak peduli sama aku, kenapa nggak sejak tadi jemput aku? Masih mau bilang kalau Kakak peduli sama aku, hah?!" bentak Kinza sambil menangis. Emosi nya semakin meletup. Dia membuka pintu mobil yang tak akan pernah di buka oleh Al.


Al diam. Pernyataan Kinza barusan membuat nya mati kutu. Al memang tak langsung menjemput Kinza. Pria itu mengantar Putri terlebih dahulu. Al salah. Tapi dia tidak punya pilihan.


"Nggak bisa jawab kan?! Sejak kapan Kak Al jadi pengecut kayak gini? Sejak kenal cinta? Atau sejak kenal aku?! Jawab Kak Al!" bentak Kinza lagi. Dia semakin meninggikan suara nya. Kinza kesal bukan main pasa pria pengecut di samping nya ini.


"Emang bener ya, orang bisa jadi pengecut cuma karena perempuan. Macam Kak Al gini. Baju loreng pun nggak menjamin!" sindir Kinza tajam. Dia mendesis karena lagi dan lagi Al tak menjawab.


Al memilih diam. Dia membiarkan Kinza dengan segala umpatan kekesalan nya. Al tau, tidak akan beres melayani orang yang sedang di puncak kemarahan.

__ADS_1


Hingga tak lama kemudian. Mereka berdua sampai di sebuah rumah sederhana bercat peach. Kinza langsung diam. Al membawa Kinza kemana?


"Turun sekarang." perintah Al judes. Dia melepas sabuk pengaman nya lalu bersiap turun. Sementara Kinza masih diam tak bergeming. Pertanyaan-pertanyaan langsung memenuhi rongga otak nya.


"Turun Kinza." perintah Al sekali lagi. Kali ini menjadi lebih halus dan sabar.


"Gak!" ketus Kinza datar.


"Mau saya gendong?" tanya Al sinis.


"Gak!"


"Kinza tolong, jangan buat kesabaran saya habis."


"Ya bagus, jadi kita nggak perlu melakukan perjodohan ini!" balas Kinza enteng.


"KINZA!!" bentak Al kasar. Gadis di samping nya langsung diam seketika. Menyiapkan kata-kata yang cocok untuk pria macam Al.


"Apa?! Kakak itu tuli atau gimana sih, hah? Nggak dengar beberapa kali saya bilang gak mau?! Apa musti saya perjelas lagi? SAYA NGGAK MAU TURUN!" tutur gadis itu angkuh sambil menekan kata-kata terakhir nya.


"Ini juga nih, rumah siapa sih? Kakak mau culik aku?!"


Al bringsut mendengar pertanyaan Kinza. Dia menarik nafas nya pelan. Al harus tenang. Dia harus tenang.


"Kinza yang cantik, ini rumah yang saya beli beberapa bulan lalu untuk istri saya nanti. Saya nggak akan mengantarkan kamu pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini. Jadi, kamu harus memperbaiki penampilan mu sebelum pulang. Jelas?!" tutur Al lembut.


Kinza langsung mendongak. Dia mendapati mata hitam pekat milik Al. Pria itu tengah memandang nya sekarang. Tapi tak berlangsung lama. Kinza langsung membuang ke samping tatapan nya. Dia diam sejenak memikirkan perkataan Al. Menurut Kinza ada baik nya juga. Dia juga tak ingin pulang dengan kondisi seperti ini. Terlebih lagi, Kinza tak ingin pulang ke rumah.


"T-tapi, aku nggak mau pulang." ujar gadis itu lirih. Al langsung menautkan alis nya.


"Aku nggak mau ketemu mama dan papa, terutama Kak Al, makanya dari tadi emosi ku meluap sebab dekat-dekat dengan Kakak terus!" Al semakin merasa kebingungan.


"Aku nggak mau bertemu dengan orang yang sudah menyuruhku untuk di jodohkan dengan Kakak! Sebab karena kalian. Hubungan baik ku dengan Mbak Puput harus tercoreng buruk." sambung gadis itu sambil mengeluarkan air mata kembali. Al langsung terkejut dengan kelakuan gadis di samping nya.


"Terus mau kamu apa?" tanya Al datar.


"Nggak tau." balas Kinza cepat.


Al menarik nafas nya pelan. Lagi-lagi emosi nya menggunung.


"Saya harus apa Kinza?"


"Batalkan perjodohan ini!"


"Apa?! Nggak mungkin itu terjadi. Mama dan papa saya sudah urus pengajuan. Kamu mau bikin perasaan mereka berdua hancur?!" balas Al frustasi.


"Lantas bagaimana perasaan ku dan perasaan Mbak Puput? Kakak tega melihat Mbak Puput hancur melihat pernikahan kita?"


"Bukankah kalian sudah membuat kesepakatan? Kami akan tetap berhubungan meskipun kita sudah menikah." ucap Al gamblang. Kinza tersenyum miris. Hati nya kembali tergores oleh luka. Al memang jahat, dia tak memedulikan perasaan Kinza.


"Lantas bagaimana dengan perasaan aku Kak?"

__ADS_1


__ADS_2