
Air membasahi tanah di kota hujan. Ternyata, langit yang sedikit teduh memberi isyarat bahwa hujan akan turun. Dan itu terjadi betulan, membuat sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta ini, harus merasakan dingin nya air hujan serta angin yang cukup kencang.
Kinza semakin merapatkan tubuh nya pada tubuh tegap milik Al. Angin yang lumayan kencang membuatnya merasakan dingin yang menusuk.
Bayangkan saja teman-teman, Kinza dan Al harus terjebak hujan ketika sedang duduk-duduk mesra di padang rumput. Suasana yang tadinya romantis mendadak menjadi suatu kepanikan! Rasain deh, pulang ngebucin auto sick! Hiiii merinding disko!
"Pakai ini." ujar Al seraya menyodorkan sebuah jas untuk tas ransel nya.
Kinza mengernyitkan dahinya, "Buat apa lho, Kak. Tubuh ku segede ini, mana muat masuk kedalam jas hujan kecil ini!" bingung Kinza sambil mendengus kesal.
Al geleng-geleng kepala, "Oon mu nggak berkurang sama sekali, yak. Itu tuh buat kepala, supaya kamu nggak sakit sayang!" gemas Al sambil memasangkan jas hujan tersebut ke kepala Kinza. Sedangkan Kinza? Beuuuh jangan ditanya, gadis itu sudah blushing sampai ke ubun-ubun!
Kinza tersenyum kecil, pipi nya merona sebab mendadak mendapat panggilan sayang dari Al. "He he he maaf Kak, masih belum konek." balas Kinza tak tau malu.
Al menatap Kinza yang semakin kedinginan. Ternyata berteduh di saung mini tak mendapat hasil apapun. Secara, di saung ini mereka tak hanya berdua. Banyak juga pengunjung yang ikut berteduh di bawahnya.
Al mengeratkan pelukan nya pada tubuh mungil Kinza. Merengkuh gadis itu agar memberikan kehangatan. "Kakak nggak dingin?" tanya Kinza seraya mendongak menatap Al. Wajah pria di hadapan nya terlihat lempeng saja.
Al menggeleng cepat, "Nggak, udah biasa hujan-hujanan." balas Al sekenanya.
"Aku senang bisa kayak gini dengan Kakak, rasanya happy, super happy deh. Jadi makin cinta sama Kakak." Alih Kinza seraya mengeratkan pelukan nya. Dasar modus kerdus kau Kinza!
Al tersenyum tipis. "Anak kecil nggak boleh cinta-cintaan!" tandas Al cepat. Kinza cemberut.
"Nggak boleh gitu jatuh cinta sama suami sendiri?" ketus Kinza sebal. Al mengacak puncak kepala Kinza dengan gemas. "Nggak, musti fokus belajar!" balas Al membuat Kinza semakin cemberut.
"Malesin nih, udah ah pelukan nya. Nggak mau peluk-peluk lagi!" Kinza mendesah berat, sok-sokan menyudahi pelukan hangat dari Al tubuh Al.
Al semakin dibuat gemas, tingkah Kinza selalu bisa membuat Al tertawa kencang. Emang sih, rada kesal juga. Secara Kinza tuh nggak kurang-kurang oon nya. Dasar Kinza, urusan cinta aja nomor satu, dodol!
"Uh uh uh, coba sini liat gimana cemberut nya? Sok-sokan nolak pelukan aku, padahal angin nya kencang, lhoo!" goda Al semakin menjadi. Kinza dibuat geram seketika.
"Tauk, Kakak nyebelin ah!" dengus Kinza.
Al merengkuh tubuh Kinza, memaksa tubuh mungil nya untuk tetap bersatu dengan Al. Pria itu tak ingin Kinza sakit setelah ini. "Nggak kuat deh, mana tahan sih kalo dipaksa gini. Kan jadi enaaak!" bubuh Kinza tak tau malu. Idiiiii, bikin gengges sumpah! Geli-geli-geli!
Al mengacak kepala Kinza. "Dasar bocil, urusan ginian aja cepet!" tandas Al sok serius. Kinza terkekeh pelan, malu-malu kucing garong nih yeee.
"Abisnya pelukan kak Al tuh bikin aku nyaman. Iyaa sih, secara tubuh dia itu hangat, lembut, dan wangiii. Mana tahan sih nolak pesona nya yang ganteng, apalagi saat merengkuh aku kayak tadi. Uh, double happy rasanya wk wk wk!"
...---...
Kinza dan Al melanjutkan perjalanan dadakan nya. Mereka berdua berniat untuk mengunjungi kediaman kecil Kinza, rumah kedua orang tua Kinza. Mumpung sedang berada di bogor, apa salah nya sih mampir kerumah orang tua sendiri?
Meskipun basah-basahan, mereka berdua tetap ngotot untuk pergi kesana. Sebenarnya Al melarang, cuma dia mengalah sebab ingin membuat Kinza senang di hari spesial nya. Tuhkan gais, Al itu tipe cowok idaman kok. Dia super perhatian, yaa walaupun ego nya tinggi. Tapi dia bisa buat kalian meleleh dan senyum-senyum sendiri. Jangan benci-benci dia lagi, lama-lama suka, lhoo! Wk wk wk.
Skip-skip!
Al memarkirkan mobil di halaman luas milik mertua nya. Pria itu buru-buru keluar dari mobil disusul oleh Kinza. Baju yang sempat basah kini mulai mengering. Sepertinya habis ini bakalan ada yang sakit.
"Assalamualaikum, mama!" ucap Kinza seraya menekan bel. Tak lama kemudian, seorang wanita berparas cantik membukakan pintu untuk nya dan Al.
"Wa'alaikum sallam, aduh-aduh siapa ini yang datang. Ihh seneng banget, akhirnya Kinza datengin mama." balas Zahra lembut. Detik berikutnya dia merasakan sesuatu bergelayut manja di tubuh nya.
Kinza memeluk mama saudara-saudara! Gadis itu bahkan menangis di pelukan mamanya.
"Kinza kangen mama, maafkan Kinza ya ma. Kinza jarang kunjungi mama ke Bogor." imbuh Kinza di sela-sela tangisan nya. Pelukan mereka semakin erat.
Al diam sejenak, dia membiarkan seorang anak dan ibu nya melepas rindu. Sebenarnya bukan tanpa alasan Kinza menangis. Bukan sekedar hanya rindu, melainkan merasa bersalah karena sempat berprasangka buruk terhadap orang tuanya. Ya, apalagi kalau bukan karena perjodohan itu!
__ADS_1
Zein keluar dari rumah sebab merasa penasaran, senyuman pria itu mengembang sebab melihat anak dan juga menantunya. Al buru-buru mencium tangan mertua nya, setelah itu memeluk Zein dengan erat.
...---...
"Jadi ceritanya udah saling cinta nih?" goda papa, Kinza tersipu malu. Kerjaan siapa sih ini? Kerjaan suami Kinza laaah!
"Udah dong jangan bicarakan itu, Kinza malu, pa!" rengek Kinza.
"Okay, eh, ngomong-ngomong Al sedang bebas dinas atau gimana?" alih papa, pertanyaan nya barusan membuat Al langsung menaruh gelas teh nya di meja.
"Siap, pa, Al sedang bebas dinas. Lumayan lah dapet cuti setengah hari, bisa ajak Kinza jalan-jalan juga. Soalnya minggu-minggu besok akan sibuk mengurusi HUT satuan." balas Al dengan sopan, ramah, dan wajah yang tenang. Papa menganggukkan kepala pertanda paham.
"Duh, kalau gitu sih Kinza juga bakalan sibuk." seloroh mama tiba-tiba. Kinza merasa bingung sekarang.
"Sibuk ngapain?" bingung Kinza.
"Itu lho, bantu-bantu lap ini-itu. Siapin cinderamata, prasmanan, kue-kue, hiasan bunga dan embel-embel lainnya. Kayak yang mama lakuin waktu masih tinggal di asrama." balas mama lempeng saja.
Kinza mengangguk paham, iyalah jelas paham. Waktu jaman nya di asrama, mama selalu sibuk tiap ada acara-acara besar macam HUT satuan, kunjungan-kunjungan, dan pergantian danyon baru. Kinza juga pernah bantu mama melipat tissue, lap piring-piring, dan mencuci ini itu.
"Ah itu sih nggak masalah, cuma lap-lap doang mah gampil, asal jangan disuruh masak aja." ujar Kinza sok-sokan. Dengan mantap nya dia bilang macam itu. Nyadar dong Kinza, nggak bisa masak bikin malu itu!
Mereka lantas terbahak dengan kedodolan Kinza, bikin malu banget kan bocil satu ini? Hempaskan aja deh ke planet mars!
Ya memang jarang-jarang bisa seperti ini, bulan-bulan lalu nggak ada tuh kumpul-kumpul macam ini. Suasana rumah begitu panas, bukan kebakaran yaaak. Mereka, sedang perang dingin tapi membuat rumah menjadi panas. Alasannya masih sama, karena perjodohan itu gais.
Namun ada yang kurang, karena Kenzo sudah tidak dirumah lagi. Dia sedang ditempa di medan laga. Alias sedang pendidikan di AKMIL, Magelang. Pendidikan khusus calon perwira TNI. Ya, mau tak mau Kinza harus merelakan saudara kembar nya pergi. Sementara kok, hanya empat tahun saja, whehehe!
"Kinza pamit ya, ma. Besok harus kuliah lagi, siap-siap buat UAS semester dua." pamit Kinza undur diri. Wajah cantiknya terlihat sedikit ditekuk.
"Iyaa sayang, hati-hati ya. Maaf ya pulang dari sini nggak bawa apa-apa, cuma ada bolu pisang aja. Abisnya Kinza nggak bilang-bilang mau kesini nya." ujar mama tak enak.
"Al pamit, ya ma, pa!"
"Iyaa, hati-hati yaa."
"Siaap!"
...---...
Kinza terbangun saat merasakan sebuah tangan kekar memeluk tubuh nya. Dia melirik ke samping, nampak terlihat dengan jelas wajah lelap Al saat tertidur.
Fokus Kinza masih belum terkumpul, gadis itu bahkan belum menyadari soal tidur satu ranjang. Wajahnya terlihat biasa saja, yakin sih. Pasti dia belum konek! Ampun deh Kinza, makin kesini makin lemot aja dia. Kebanyakan makan cintanya Al sih!
Skip skip!
Kinza menyibakkan selimut yang membungkus badan nya. Perlahan tapi pasti, gadis itu berjalan keluar kamar untuk bersiap kuliah. Jam berapa sih ini? Batin Kinza bertanya-tanya. Gadis itu mendongak ke atas TV, melirik sekilas jam yang bertengger manja di tembok bercat hijau pupus.
Setengah empat pagi. Gumam Kinza seraya melanjutkan langkah nya. Gadis itu buru-buru membersihkan diri, solat subuh dan berniat membuatkan sarapan untuk suaminya.
Selang beberapa menit, tubuh mungil Kinza yang terbalut kaos pink serta celana tidur, bersiap untuk bergelut dengan perabotan dapur. Masak lho teman-teman, gadis itu mau mencoba memasak meskipun bingung harus memasak apa.
Pertama-tama, dia mencuci beras terlebih dahulu. Memasak nasi supaya matang lebih cepat. Setelah siap, dia kembali kebingungan ingin memasak apa.
"Kenapa tiba-tiba bingung sendiri sih, kayaknya tadi tuh semangat banget buat masak, lha kenapa udah sampai di dapur malah bingung!" protes Kinza.
Tangan lentik nya mulai mencari bahan masakan apa saja yang bisa dibuat makanan.
Telor, dan mie. Masak apa kira-kira?
__ADS_1
"Masak mie telur aja kali yaaak, siapa tau aku bisa, hi hi hi." ujar nya kegirangan sendiri. Okay cukup, mari kita lihat keahlian Kinza, saudara-saudara!
...---...
Sementara di lain tempat, Al sibuk memperhatikan istri nya yang sedang berjuang. Masak aja sampe butuh perjuangan ya teman-teman, jangan di anggap remeh lho!
Pria itu senyum-senyum sendiri, antara terharu, gemas dan merasa cemas. Iyalah jelas cemas, Kinza kan gadis yang anti sama perabotan dapur macam kompor. Al takut Kinza kenapa-kenapa. Sayang Kinza atau sayang dapurnya nih?
Langkah kaki nya menuju ke arah Kinza. Gadis yang tengah menyatukan bumbu-bumbu ke dalam mangkuk berisi telur, belum menyadari kehadiran Al. Saking fokus nya, Al sampai dibuat semakin gemas.
"Ces ces ces"
Bunyi percikan air yang mengenai kompor, dasar Kinza dodol. Panci yang berisi air dan mie dengan porsi penuh, malah di tutup oleh tutup panci dan api di bawahnya yang cukup besar. Bisa dibayangkan nggak teman-teman? Air nya bisa tumpah kemana-mana, kan?!
"Masak mie itu dengan api sedang, kalau isinya penuh, jangan ditutup!" seloroh Al dengan wajah sok judes. Kinza langsung terperanjat, kaget bukan main dengan suara suami nya yang serak khas bangun tidur.
Kinza terkekeh, dia langsung gelagapan tatkala melihat kompor yang sudah banjir oleh air rebusan mie.
"Eh eh eh, aduh kenapa jadi gini siiiih?" protes Kinza sambil bergidig ngeri, buru-buru tangan lentiknya mematikan kompor.
"Dasar oon, itu mie nya udah kelewat matang, cepat masukkan ke dalam mangkuk. Aduk, terus goreng!" imbuh Al sambil terbahak.
Kinza manut, dia mengikuti cara-cara yang dilontarkan oleh Al. Gadis itu mengisi penggorengan dengan minyak dalam kemasan.
"Minyak nya nggak usah terlalu banyak." tandas Al pelan.
"Iya-iya."
"Api nya kecil aja." bubuh Al.
"Iya."
"Lakuin lho, jangan iya-iya doang sayang." seloroh Al judes, Kinza cemberut.
"Ini dilakuin lho, Kak. Udah deh Kakak mandi aja sanaa." usir Kinza halus sambil mengecilkan api. Setelah dirasa minyak cukup panas, gadis itu buru-buru memasukkan mie beserta telur yang sudah tercampur rata.
Al belum beranjak dari tempatnya, pria itu masih memasang badan sambil melipat tangannya di dada. Al memperhatikan Kinza dengan seksama, melihat apa yang akan terjadi setelah ini saudara-saudara.
Benar saja, gadis itu kewalahan saat membalikkan masakan nya. Percikan minyak muncrat kemana-mana. Al memutar bola matanya dengan jengah. Dia langsung turun tangan untuk membantu Kinza.
"Sini, biar aku bantu." alih Al seraya mengambil spatula di tangan Kinza. Gadis itu buru-buru melipir, memperhatikan betapa mudahnya Al membalikkan masakan yang ia buat.
Takjub betul, Kinza dibuat melongo saudara-saudara! Bukan nya memasang wajah malu, dia malah mesem nggak jelas.
"Nih, tunggu minyak nya turun. Habis itu disajikan di atas piring."
"Siap, kak."
"Ya udah, kamu siap-siap ngampus deh. Aku mau mandi, solat dan siap-siap apel." imbuh Al seraya melengos pergi ke kamar mandi.
Okay, lagi-lagi Kinza manut saja. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar, merapihkan tempat tidur dan mengganti pakaian untuk berangkat ke kampus.
...---...
"Enak nggak makanan nya?" tanya Kinza antusias.
Al mengunyah makanan hasil pergelutan Kinza di dapur. "Enak, tapi sedikit asin. Kalau dimakan pakai nasi cocok banget." jawab Al apa adanya. Senyum Kinza mengembang, tak menyangka makanan nya di sukai Al.
"Makan yang banyak, kak." bubuh Kinza seraya menambahkan nasi ke dalam piring Al. Siap-siap gendut ya Al, habis ini otw nge-gym sebab terlalu banyak makan lemak!!
__ADS_1
Al tersenyum kikuk, manut ajalah, menghargai perjuangan istri gitu. Kan kasian kalau nggak dihabiskan, mubazir juga, lho.