EPOCH

EPOCH
Bab 32


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


“Sayang, ini botol susu Alief sudah kamu masukin ke tas bayi?”


“Popok bawa berapa, kamu? Bawa yang banyak buat persediaan. Alief kan nggak suka pakai popok instan atau apalah itu.”


“Jangan pakai sepatu hak tinggi, nanti bisa jatuh kalau kamu gendong Alief.”


“Terus jangan lupa bawa gendongan bayi nya!”


“blablabla”


Kalian pusing nggak sih pagi-pagi mendengar ocehan seperti itu? Kalau aku iya! Udah sakit kepala di buat kelimpungan dan sibuk sendiri.


Padahal tanpa beliau suruh, aku sudah paham. Sudah mengerti apa yang harus aku lakukan. Hello, jangan remehkan aku, beb! Aku sudah dewasa, sudah tau dan paham betul harus apa dan bagaimana. Aku tau apa yang di butuhkan Alief, aku ibunya, aku tau harus gimana, sayang!


“Yuk, Mas, aku udah siap!” ajak ku riang gembira sembari membawa gembolan yang super besar. Mas Al melongo melihat aku dan tas di bahu ku.


“Serius sebanyak ini, sayang? Kamu bawa apa aja sih? Kok seperti mau perang.” ujar nya sembari geleng-geleng kepala dan membolak-balik tas bayi Alief.


“Lha, ada yang salah gitu? Ini memang keperluan Alief semua, Mas. Dia pasti membutuhkan ini! Semua ini kan kamu juga yang menyebutkan tadi! Gimana sih kamu ini!” balas ku meyakinkan nya. Dia hanya mengerutkan alis. Sembari terkekeh pelan.


“Ya sudah, kamu gendong Alief, nih. Aku yang bawa tas nya. Kamu pasti keberatan 'kan.” ucap nya sembari menyerahkan tubuh Alief, sementara itu, dia mengambil alih tas di bahu ku. Lucu sekali dia.


“Yuk berangkat, nanti telat 'lho, Mas!” ajak ku seraya pergi dari hadapan Mas Al. Kemudian dia menyusul ku dari belakang.


Ah ya, pasti kalian bertanya-tanya. Mau kemana sih, kok repot banget? Bawa gembolan tas besar pula! Mau minggat, ya, kalian?


Iya teman, aku mau minggat. Pergi dari rumah menuju ke acara resepsi pernikahan Mbak Putri dan Bang Arjuna. Kaget nggak sih kalian? Kalau aku kaget. Iya, kaget sebab tak menyangka jodoh Mbak Putri adalah mantan orang yang pernah aku cintai, ups


Udah mantan ya, teman. Sumpah, sekarang sudah tak ada tersisa di hati ku. Sekecil apapun itu, mau sekecil debu kek, mau sekecil biji jarak kek. Pokoknya udah nggak ada, titik! Cinta ku cuma buat Mas Al seorang. Hanya dia pemilik hati ku yang sebenarnya.


Begitu juga Mas Al. Hanya ada aku yang mengisi relung hati nya. Beliau hanya cinta sama aku. Bukan Mbak Putri apalagi orang lain. PD banget Kinza! Iya dong, aku berani jamin seratus persen!


Nah, pagi ini aku sudah siap untuk pergi menuju tempat resepsi pernikahan yang berada di salah satu hotel mewah di Jakarta. Iya jelas mewah, sebab ada akan ada upacara Pedang Pora. Dan, itu hanya bisa di lakukan oleh seorang perwira. Udah nggak usah bahas pangkat, Pusing!


Gaun brokat berwarna peach selutut telah melekat pas di tubuh ku. Beberapa aksesoris mutiara di dada membuat kesan cantik dan mewah. Sementara rambut, aku sanggul bak putri solo! *Hem, bercanda! Sementara Mas Al, dia mengenakan baju kemeja berwarna senada yang di padukan dengan celana bahan berwarna putih. Jam tangan sport hitam di tangan kanan nya menambah kesan mewah. Uh, dia super ganteng!


Nah, si kecil Alief, dia mengenakan baju kemeja bayi yang sama dengan Mas Al. Lucu dan tampan sekali anak ku!


Mobil kami mulai melaju. Untunglah hotel yang di gunakan untuk resepsi tak terlalu jauh. Jadi, tidak perlu terburu-buru untuk segera sampai.


Beberapa menit berlalu, kami pun sudah sampai di tempat tujuan.


“Kinza?” panggil sebuah suara yang tak asing bagi ku. Hem, Claudia.


“Hello, beb, kapan datang? Kenzo mana, kok nggak keliatan?” tanya ku sembari cipika-cipiki dengan Claudia. Asoy bener, padahal beberapa hari lalu kami sudah bertemu.


“Tuh lagi ngisi buku tamu. Gue di sini cuma mendampingi, jadi melipir deh haha.” balas Claudia sembari menunjuk ke arah Kenzo yang sedang mengisi buku tamu. Wow, itu anak bawa kado gede banget! Sudah bisa ku tebak isi nya apa. Tapi kok niat amat?


“Mas isi buku tamu dulu, ya, kamu tunggu di sini sama Claudia.” imbuh Mas Al tiba-tiba.


“Oke, Mas.” ucap ku lembut, dengan segera Mas Al menuju ke meja tamu.


“Tumben si Jojo mau repot-repot bawa kado segala?” tanya ku pada Claudia. Dia menggeleng cepat.


“Mana gue tau, ini kali pertama gue lihat dia kondangan!”


“Owalah, btw, kapan nih acara lamaran mau di resmikan? Keluarga lo udah pada tau?” tanya ku super kepo. Iya jelas kepo, mereka semua penting di hidup ku. Harus jelas gimana kelanjutannya hubungan mereka.


“Kenzo bilang, tunangan kami bulan depan. Tapi gue nggak bisa memastikan soalnya ini baru wacana. Doakan aja yang terbaik buat gue dan Kenzo.” ucap nya terdengar malu-malu.

__ADS_1


“Aamiin ya Robb, semoga aja beneran bulan depan. Sumpah, Cla, gue bener-bener nggak nyangka lo bakalan jadi kakak ipar gue!” ucap ku sambil terkekeh.


“Iya, Za, ternyata rencana Tuhan jauh di luar dugaan. Gue aja sempat nggak mengira bakalan kayak gini akhirnya. Si Jojo yang aneh dan nyebelin itu, akan menjadi suami gue wkwk!”


“Oh, jadi aku aneh, gitu?” pecah suara laki-laki dari belakang sana, sontak aku menengok dan melihat Kenzo juga Mas Al sudah berdiri tegap.


“Eh, kayak ada yang ngomong sesuatu, ya, Cla? Horror banget!” ucap ku sok-sokan tak tahu.


“Sialan, lo!” umpat Kenzo dengan kesal.


“Udah-udah jangan ribut, mending kita masuk biar nggak telat lihat Upacara Pedang Pora. Nah, Jo, ini yang nanti akan kamu tempuh. Rasanya ah, mantap!” bubuh Mas Al sembari menepuk-nepuk pundak Kenzo. Sedangkan aku dan Claudia hanya geleng-geleng kepala.


skip-skip!


Seperti pernikahan tentara pada umumnya. Pertama-tama kami mengisi buku tamu. Menyapa dan menyalami kerabat-kerabat yang kebetulan di undang di sana. Kemudian, mengikuti tuntutan upacara Pedang Pora yang begitu khidmat dan menyentuh hati.


Kadang, aku menyesali peristiwa masa lalu. Kenapa waktu pernikahan ku dulu, tak ada cinta di antara aku dan Mas Al. Justru kami malah berada pada titik kebencian masing-masing.


Aku membenci Mas Al, dan Mas Al membenci ku. Tepat di hari pernikahan kami, justru kami saling membenci. Sangat di sayangkan bukan?


Tapi tak mengapa, rencana Tuhan selalu di luar dugaan. Sekarang, cinta kami sangat besar. Bahkan kami merasa tak ada cinta yang indah selain kehidupan percintaan kami. Maaf, kami sedang berada di level tertinggi perihal mencintai.


“Sayang, kok lesu gitu?” tanya Mas Al sembari mencolek dagu ku.


“Terharu aja, Mas. Nggak nyangka mereka akan berjodoh dan berakhir di pelaminan seperti ini.” ucap ku tak sepenuhnya bohong.


“Bener? Kamu nggak lagi menyesali pernikahan kita yang dulu di langsungkan tanpa cinta 'kan?” tanya nya sedikit menyentil perasaan ku. Boleh jujur aja nggak sih? Tapi kalaupun jujur, nggak akan ada ngaruhnya. Toh, kami sudah menikah bukan?


“Sedikit.” balas ku sekenanya.


Dia menghentikan aktivitas nya memakan puding coklat, “Kamu menyesal, ya, nikah sama, Mas? Mas minta maaf, sayang.” ucap nya sembari menatap ku dengan sendu. Wajah kalem nya terlihat begitu merasa bersalah.


“Nggak, Mas, ini bukan salah mu, bukan juga salah ku. Semua ini sudah rencana Tuhan, bukan? Jadi, tak masalah dengan cara apapun dan dalam kondisi apapun saat kita menikah dulu. Yang penting buat ku, hari ini, besok dan seterusnya kamu selalu cinta dan sayang sama aku.” balas ku dengan lembut dan penuh ketulusan.


“Udah ah, Mas, jangan kayak gitu. Malu di lihat orang!” ucap ku sembari terkekeh kecil. Mas Al garuk-garuk kepala.


“Yuk lanjut salaman, aku nggak betah lama-lama di sini. Pengen ceper istirahat, Mas.” ajak ku sembari berdiri.


“Siap, cinta!”


Kami mulai berjalan menuju pelaminan. Sementara Alief, dia di bawa kabur oleh Kenzo dan Claudia. Maaf, masih ada di sekitar sini kok.


“Happy wedding, ya, Bang Arjuna dan Mbak Putri!” ucap ku sembari menyalami beliau. Bahkan aku cipika-cipiki dengan Mbak Putri.


Dia sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna hijau, senada dengan baju PDU yang di pakai oleh Bang Arjuna. Rambutnya di sanggul dan di beri mahkota kecil di atas nya. Tak lupa, kembang melati yang di pasang menjuntai ke bawah. Cantik banget, asli nggak bohong!


“Happy wedding, ya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, Aamiin..” ucap Mas Al.


“Aamiin, terima kasih, Bang.”


“Sama-sama.”


...---...


Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


“Mereka serasi, ya, Mas.” pujian Kinza untuk Arjuna dan Putri membuat ku mengangguk. Benar apa yang di katakan istriku barusan. Mereka memang cocok. Pantas lah berjodoh, mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku sekolah.


Ku harap, semoga tak ada keributan terjadi setelah ini. Meskipun pada akhirnya kami tinggal di satu kesatuan yang sama, semoga saja tak terjadi kesalahpahaman apapun lagi. Cukup, aku tak mau ini terjadi pada kehidupan cinta ku bersama Kinza.


“Dengar-dengar, mereka akan pindah ke satuan tempat kita tinggal.” ucap ku membuka pembicaraan.

__ADS_1


“uhuk” Kinza tiba-tiba tersedak.


“Serius, Mas? kok bisa?” tanya nya seakan tak percaya. Aku salah ngomong, kah?


“Iya benar, cinta. Emang kenapa sih?” tanya ku penasaran.


“Kamu nggak kepikiran ke depannya, Mas? Aku takut terjadi apa-apa nantinya. Aku udah trauma, Mas. Udah cukup ngalamin peristiwa yang membuat hati ku sakit.” bubuh Kinza dengan lesu. Wajah nya yang tadi ceria, sekarang mendadak murung.


Aku memegangi tangannya dengan lembut, “sayang, apa yang kamu khawatir, hem? Mas cuma cinta sama kamu, Mas nggak mungkin berpaling dari kamu. Tolong percaya sama, Mas, ya? Kita hadapi semua nya dengan penuh kepercayaan.” ucap ku berusaha meyakinkan bahwa tak akan terjadi apa-apa lagi.


Sejatinya, aku pun merasa khawatir. Tinggal satu Asrama, satu pekerjaan meski berbeda bidang, dan terlebih lagi menjadi satu ikatan keluarga dalam satu kesatuan. Mungkin hal-hal terduga akan terjadi, entah, tak tahu itu apa.


Semoga saja Tuhan berpihak pada kami. Semoga Tuhan mengabulkan doa-doa kami. Dan, semoga tuhan selalu melindungi keluarga ku dari peristiwa yang menyebabkan keruntuhan, Aamiin..


“Aku percaya kamu, Mas. Kita jalani semua nya sama-sama, dengan penuh cinta dan kepercayaan! Aku cinta kamu, Mas!”


“Aku lebih cinta kamu, sayang! Sangat-sangat mencintaimu!”


“Cup.” aku mencium tangan nya dengan penuh ketulusan.


Tuhan, hanya dia yang ku cintai. Kuatkan hati kami untuk menghadapi semua nya. Lindungi kami dari bahaya apapun, Tuhan. Aamiin..


...---...


Malam hari nya, rumah ku di penuhi sanak saudara. acara aqiqah Alief akan di laksanakan esok pagi. Jadi, semua nya sibuk. Kecuali aku dan Kinza. Kami di suruh beristirahat demi kelancaran acara besok. Hum, over protektif sekali mereka ini.


Tapi, tetap saja aku tidak bisa tinggal diam. Untuk itu, aku dan Kinza memilih untuk membagikan undangan acara aqiqah Alief pada ibu-ibu Persit dan kepada para anggota. Juga, membeli beberapa makanan untuk keluarga di rumah.


Alief tak di ajak, sebab sudah di perebutkan oleh Mama mertua dan Bunda. Kedua ibu-ibu itu bahkan bergantian menggendong Alief. Cucu kesayangan gitu 'lho haha.


“Sayang, nanti ke rumah Bu Joni dulu, ya. Baju buat acara besok belum aku ambil.” ucap Kinza dengan suara lembutnya. Aku mengangguk cepat.


“Iya siap sayang ku. Ada lagi yang kurang?” tanya ku memastikan.


“Sepertinya nggak ada, Mas. Eh, btw amplop untuk anak-anak yatim sudah siap, Mas?”


“Beres, Cinta, udah aman di handle Papa.”


“Wah asik nya, banyak sekali yang berkontribusi terhadap acara ini. Seneng deh, Mas, rasanya.” ucap Kinza sembari bergelayut manja di pundak ku. Hem, jarang-jarang lho kami bisa seperti ini. Maklum, sudah ada di kecil.


“Iya sayang, alhamdulilah sekali. banyak-banyak bersyukur supaya nikmat kita semakin bertambah.”


“Iya, Mas, Aamiin..”


Mobil ku berhenti di depan Domino's pizza, sengaja aku membeli beberapa box Pizza untuk orang-orang di rumah. Pesta pizza jilid dua!


“Mau pizza apa, sayang?” tanya ku pada Kinza. Dia nampak memilah dan memilih menu makanan.


“American Classic Cheeseburger satu, Chicken Lovers satu, sama Italian Supreme satu.” ucap nya dengan mantap.


“Mas tambahin, ya, Beef Pepperoni Feast satu sama Tuna Delight satu.”


“Oke sayang.”


Kami lantas menunggu sejenak, tak lama kemudian, lima box Pizza sudah siap.


“Kamu mau apa lagi? Atau ada yang mau di beli selain makanan?” tanya ku berbaik hati.


“Nggak Mas, ini udah cukup. Sekarang kita ke rumah Bu Joni aja, setelah itu pulang. Capek nih, sayang.”


“Siap laksanakan sayang ku!”

__ADS_1


Kami berdua lantas meninggalkan restoran dan pulang ke asrama.


*Note : Di sini, Arjuna bukan anggota kopassus ya, dia hanya anggota TNI AD biasa. Bukan seorang Tentara pasukan khusus. *sengaja aku ganti demi kelancaran penulisan 🥰*


__ADS_2