
Kinza Irsyania Malik POV
Satu minggu berasa satu bulan. Rasanya waktu berjalan begitu lama sekali. Aku bosan berada di rumah sakit ini.
Hari ini aku sudah di perbolehkan pulang. Sebenarnya maksa pulang sih, hehe. Pasalnya, Mama, Papa, Bunda dan Mas Al belum membolehkan aku pulang. Katanya, mereka ingin aku benar-benar pulih dulu. Barulah saat aku sudah pulih, mereka akan membolehkan aku pulang.
Tapi aku menolak, aku memohon-mohon supaya dipulangkan saja. Dan, setelah di periksa oleh dokter pun, kondisi ku sudah mumpuni untuk berobat jalan saja. Alhamdulillah.
Kini, rumah serba hijau menjadi tujuan ku sekarang. Yups, perumahan militer tempat Mas Al berdinas. Aku sudah yakin untuk pulang ke rumah itu lagi. Meski, banyak luka yang sempat menggores hati.
Mas Al dan Bunda sudah pulang lebih awal. Kini tersisa aku dan Mama serta Alief. Katanya, mereka mau membereskan rumah supaya aku lebih nyaman untuk beristirahat. Uh, senang nya.
“Assalamu'alaikum.” ucap ku dan Mama bersamaan.
“Wa'alaikum sallam, iya sebentar.” balas Bunda dari dalam sana. Klek, pintu terbuka.
“Alhamdulillah sudah sampai. Mari masuk, yuk.” Bunda dengan ramah menggandeng aku masuk ke dalam rumah. Sementara Mas Al membawa tas pakaian. Dan si gimbul, dia sudah bobok saat sedang di perjalanan.
“Nduk, mau di sini dulu atau langsung ke kamar saja?” tanya Bunda dengan lembut. “Mau di sini saja, Bunda. Kinza pengen lihat-lihat rumah ini dulu. Kangen berat.” Bunda terkekeh.
“Bunda istirahat aja. Pasti capek 'kan habis bebenah rumah ini. Pasti rumah nya kayak kapal pecah, berantakan ya, Bunda?” ujar ku pada Bunda. Bunda refleks menggeleng dengan cepat.
“Eh, nggak ko, nduk. Kamu salah besar, rumah ini tuh sangat rapi dan bersih. Beberapa hari lalu 'kan Mas Al pulang. Dia merapihkan semua nya. Maklum saja, walaupun laki-laki, Mas Al itu pintar bebenah, pintar masak. Kerja apa saja dia bisa, Nduk.” Aku sudah bisa menebak. Dia memang bisa kerja apa saja. Teringat saat dulu-dulu dia mengajari ku masak. Sangat rapi dan cekatan. Ah, jadi rindu.
“Ehe, iya Bunda. Dulu juga 'kan Mas Al yang ngajarin Kinza masak. Jujur, dulu aku cuma bisa masak mie instan dan telor ceplok. Itu pun sangat berantakan dan beleber kemana-mana. Rasanya juga asin, Bunda. Tapi, karena Kinza giat belajar, Alhamdulillah sekarang sudah pandai masak. Bunda sudah bisa request mau di masakin apa.” ucap ku berbangga hati. Ya jelas dong, ini salah satu bentuk kerja keras ku dulu. Aku bisa memasak karena terus berusaha.
“Za, ini di minum dulu. Bu Sada, ini teh hangat nya. Monggo di minum.” ucap Mama sembari membawa air putih untuk ku dan teh manis hangat untuk Bunda. Iya, paham betul kok. Sesuai apa yang di katakan dokter, aku harus banyak minum air putih. Hiks.
“Terima kasih banyak, Bu.” ucap Bunda.
“Terima kasih, Ma.” ucap ku sambil tersenyum tipis.
“Mas Al kemana, ya?” tanya ku sembari menelisik ke sekitar, Mas Al nggak ada dimana-mana.
“Dia lagi di kamar Alief.” balas Mama. Lantas aku berdiri untuk menemui nya. Tapi, Mama dan Bunda juga ikutan berdiri.
“Mama dan Bunda tunggu di sini saja. Kinza bisa berdiri sendiri kok. Sudah bisa jalan sendiri juga.” ucap ku mencoba menenangkan mereka.
“Bener, nduk?" tanya Bunda.
“Bener.”
“Ya sudah. Hati-hati, ya, sayang.”
“Siap."
Aku menghampiri Mas Al yang duduk di kursi sembari menggendong Alief. Dia sedang memberikan Alief susu formula. “Mas?” Mas Al menengok saat aku memanggilnya. Dia sontak berdiri.
“Lho, kok sendiri? Bunda sama Mama mana?” tanya Mas Al dengan cemas.
“Mereka ada di luar, aku yang menyuruhnya untuk duduk saja. Tenang saja Mas, aku sudah bisa berjalan sendiri. Nggak usah cemas gitu, dong.” balas ku sembari menghampiri nya.
“Gimana ngurus Alief? Capek nggak sayang?” tanya ku sambil memainkan tangan si gembul.
__ADS_1
“Ya gitu sayang, lumayan capek. Lebih capek dari pada sekedar latihan perang.” ucap nya sambil terkekeh pelan. Weh, apa kata Mas Al? Lebih capek dari pada latihan perang? Bisa di bayangkan teman?*aku sih nggak wkwk
“Alief benar-benar sedang aktif-aktif nya. Dia sudah mulai bisa berjalan. Nggak bisa diam, Mas. Jahil nya minta ampun. Suka main tanah, suka ngerusak tanaman hias yang kamu tanam. Sering mencoret-coret tembok pakai lipstik aku. Dan, sering masukin tanah ke dalam sepatu PDL mu.” ucap ku gemas sembari memandang wajah Alief yang damai sebab tertidur.
“Wah, bagus dong, Mam. Anak kita super aktif gitu. Nah, kalau gini kan harus jadi penerus, Mas. Jadi Tentara.” ucap nya mulai membicarakan masa depan. Ide mu sudah melampaui batas, Mas. Bahkan saat usia Alief masih balita. hiks.
“Biarkan saja dia mau menjadi apa, Mas. Yang penting sesuai dengan keinginan nya." Mas Al mengangguk cepat.
“Siap, Cinta!”
...---...
“Za, makan dulu, yuk. Bunda mu sudah buatin sup ayam suwir dan perkedel kentang. Sini keluar, nduk” Mama berteriak mengajak aku makan. Padahal, rasanya baru tadi makan, kok sekarang sudah di suruh makan lagi? Gendut lama-lama aku ini. Tapi, nggak enak sama Bunda. Gimana dong?
“Iya sebentar, Ma.” aku menyahut sambil terburu keluar.
Aku berjalan menuju meja makan. Ku lihat Mas Al ada di sana membantu Bunda memasak. “Makan dulu, nduk. Nih, bunda buatkan sup ayam suwir kesukaan mu.” ajak Bunda sumringah. Dia lantas mendudukkan ku di kursi, melayani aku dengan sepenuh hati. Tuhan, bersyukur sekali aku ini. Sebab, di berikan mertua yang hati nya baiiiiik sekali.
“Bunda, duduk aja di sini. Aku nggak mau merepotkan Bunda. Bunda 'kan jauh-jauh datang dari Yogyakarta, masa sampai di Jakarta repot-repot jagain dan layani Kinza. Aku nggak enak, Bunda.” Ucap ku sembari menahan tangan Bunda. Dia lantas tersenyum lembut.
“Nduk, Bunda nggak apa-apa kok. Bunda malah senang bisa jagain kamu. Denger ya, nduk. Kamu ini sudah Bunda anggap sebagai anak Bunda sendiri. Masa anaknya sakit, Bunda nya diam saja? Nggak mungkin 'kan, nduk?” aku speechless mendengar penjelasan Bunda. Rasanya beruntung sekali hidup ku ini. Berasa hidup di negeri dongeng. hu hu.
“Da - da mam nak.” (dedek makan enak) ucap Alief dari arah depan. Woah, anak ku datang rupanya. Tau saja ada makanan enak di sini. hi hi.
“Iya, Lek. Duh ganteng nya baru bangun tidur. Nyenyak tidur nya, ya, Lek? Yuk, sini makan sama eyang uti.” ajak Bunda sembari memburu gendongan Alief dari Mama. Hoey, bakalan berebut cucu nih.
“Sayang, tuh lihat. Udah mulai rebutan kan mama sama Bunda. Progam yuk, Dek.” ucap Mas Al tepat di telinga ku. Seketika bulu kuduk ku berdiri. Si dia gerak cepet banget menangkap situasi. Asem
“Mas ngaco ih. Ini luka jahitan masih belum sembuh.” tolak ku halus.
“Iya, deh gimana kamu aja, Mas."
“Kalau kamu pasrah gitu, Mas makin gak tahan loh, Dek. Pengen nyosor bawaan nya.” ucap Mas Al semakin membuat ku merinding disko. Uhuy, otak ku berfikir kemana-mana. Aku malah membayangkan uwu-uwu dengan nya. Ya gustiii, jangan dulu, jangannn!
“Eh, kok muka nya gitu, nduk. Nahan buang air kamu?” mama menyadari perubahan di wajah ku. Oh no, Mas Al jangan sampai membocorkan nya. Bisa berabe pakai banget.
“Eh nggak, Ma. Nggak apa-apa kok. Ya udah yuk makan. Itu Alief kayak nya sudah lapar.” ajak ku mengalihkan pembicaraan.
“Da - da ma - m na - k.” (dedek makan enak) Alief terus-terusan ngoceh. Eum, dia sudah lapar rupanya.
“Alief biar Bunda yang suapin, ya. Kamu makan aja, Nduk. Yuk, Bu Zahra mari di nikmati.”
“Mari, Bu. Saya makan ya, Bu.”
“Silakan, Bu."
Suasana ruang makan terasa begitu hangat. Jarang-jarang momen seperti ini terlaksana. Pasalnya rumah Bunda jauh, di Yogyakarta. Beda dengan Mama yang hanya di Bogor saja. Jarak tempuh nya tidak memakan waktu lama.
Ku lihat Bunda nampak asik menyuapi Alief. Dia tidak terlihat kerepotan padahal sambil memakan makanan nya sendiri. Alief juga nampak anteng, seperti nya dia senang bisa di suapi oleh eyang uti dari Yogyakarta, hi hi.
“Da - da nu - m maa..” (dedek mau minum, Ma) huft, bahasa nya kurang aku mengerti. Maklum, bahasa bayi mana paham aku ini. Sulit untuk diartikan.
Ah, tak jarang Alief nangis minta sesuatu. Namun, aku tidak mengerti dia bicara apa. Bunda? Ada yang sama nggak? Apa hanya aku saja yang seperti ini? hiks miris sekali.
__ADS_1
Mas Al lantas memberikan botol minum bayi berwarna biru, isi nya tentu air putih. Si gimbul itu langsung kegirangan. “Nu - m nu - m." (minum, minum) ucap nya heboh.
“Udah, ya, jangan mimi terus. Nanti Alief kenyang sama minum, dong.” ucap ku sambil mengambil alih botol minum nya.
“N - no ma - ma nooo..” (No, mama no) Alief merajuk. Dia nangis karena botol minum nya aku ambil. Huh anak iniii.
“Udah, gak apa-apa, Za. Tadi Mama lihat Alief makan nya banyak kok.” mama membela cucu nya. Fine, aku kalah melawan bayi gimbul berusia satu tahun lima bulan ini, hiks
“Iya, ma.”
“Yuk lanjut makan.”
Tok tok tok.. pintu tiba-tiba di ketuk oleh seseorang. Hemm, siapa kah yang bertamu siang-siang bolong gini? Aduh, ganggu aja nih. Padahal lagi enak makan.
Mas Al lantas yang bertindak pertama kali. Dia langsung bangkit dari duduk nya. Pergi dari ruang makan menuju pintu depan.
“Wa'alaikum sallam. Mari silahkan masuk ibu-ibu.” ajak Mas Al. What, ibu-ibu? Maksudnya ibu-ibu Persit gitu? Waduh, mau apa mereka? Ya ngejenguk kamu lah Kinza dodol.
“Ma, Bunda, Kinza keluar dulu ya. Kayaknya ada ibu-ibu Persit datang ngejenguk deh. Sebentar, ya.” aku pamit menyusul Mas Al. Seperti nya dia kewalahan menghadapi ibu-ibu itu. Lha wong kedengaran nya banyak suara. Pasti banyak juga ibu-ibu yang datang.
“Nah, ini istri saya. Mam, ibu-ibu ini datang mau menjenguk kamu. Mas masuk ya, kalau begitu.” Mas Al pamit dari hadapan kami semua.
“Ibu-ibu, saya lanjut kegiatan makan. Monggo di lanjut acara nya.”
“Siap, Bapak.” sahut ibu-ibu Persit bersamaan.
Aku duduk di tengah para ibu-ibu yang membawa banyak sekali bingkisan. Mulai dari Ibu Yonathan, Ibu Joni, dan ibu-ibu lainnya yang tidak bisa ku sebutkan satu per satu.
“Izin, ibu. Bagaimana keadaan nya sekarang? Saya dengar, ibu di operasi ya?” tanya Bu Yonathan nampak panik. Ibu asuh ku di asrama ini memang beda. Dia yang paling kelihatan cemas terhadap kondisi ku.
“Iya, Bu. Saya sempat di operasi di bagian perut. Tapu, Alhamdulillah luka nya sudah membaik.” balas ku sekenanya.
“Izin bertanya, Bu.” ujar Bu Joni.
“Ya, silakan saja Bu. Insya Allah saya jawab.” aku mempersilahkan Bu Joni untuk bertanya. Mau nanya apa sih dia? Kok pake izin segala. Semoga saja Bu Joni nggak nanya kenapa peristiwa mengenaskan ini bisa terjadi. Aku nggak mau nama orang lain terbawa dalam masalah ini. Sudah cukup.
“Izin, Bu. Kenapa bisa sampai di operasi? Memang nya Ibu Danramil kenapa?” Oh no, yang aku takutkan benar-benar terjadi. Gimana dong? Mau jawab apa?
Nggak mungkin aku bawa-bawa nama Mbak Amira. Bisa-bisa nama nya tercemar. Kasihan kalau sampai di hujat oleh semua warga Asrama. Ini memang salah ku, tapi 'kan masih ada sangkut pautnya dengan Mbak Amira. Lantas, aku harus apa?
“A - nu, i - tu saya..”
“Selamat siang ibu-ibu, waduh. Ternyata kedatangan tamu, ya.” SELAMAT, BUNDA DATANG DI SAAT YANG TEPAT!
“Izin, selamat siang juga, Ibu.” jawab mereka serentak.
“Wah, ini 'kan ibu nya Bapak Danramil. Izin, betul kan ibu?” tanya Bu Yonathan sumringah. Bunda langsung mengangguk.
“Betul sekali, ini Ibu Yonathan, ya?” tanya Bunda. Baiklah Bunda, terima kasih banyak. Aku terselamatkan kali ini, huwaaa.
“Izin, betul sekali Ibu.” balas Bu Yonathan dengan ramah.
“Izin, nggak nyangka bisa ketemu langsung dengan istrinya jenderal. Beruntung sekali, ya, Ibu-ibu. Kesempatan langka lho.” sambar Bu Gunawan. Baiklah, lupa kalau ada ibu biang gosip di sini. Hiks. Bahkan, setelah ini sepertinya masalah besar lain nya akan datang menghampiri ku. Tolongin aku Bunda!
__ADS_1
“Wah, Ibu bisa saja. Nggak ada beda nya to, Bu. Mau istri jenderal, mau istri kopral, mau istri Mayor. Kita ini sama, sama-sama istri prajurit, to?” ucap Bunda sangat merendah. Aku terkesima. Kagum dengan kerendahan hati Bunda. Senang bisa melihat bagaimana cara Bunda menghadapi ibu-ibu yang karakter nya berbeda-beda. fix, ini pengajaran baru buat ku. Aku harus bisa seperti Bunda dan Mama. Tetap tenang dan kalem dalam menghadapi banyak orang, tetap merendah walau pangkat suami sudah tinggi. Dan, tetap merangkul orang-orang yang bahkan pernah melukai perasaan kita sekali pun.
Bantu Vote ya temans🥰