
Kinza Irsyania Malik POV
Aku dan Mas Al menyiapkan segala sesuatunya untuk piknik besok. Di temani Alief yang ngoceh dan mengacak apapun yang ia temui. Help, ini anak bayi nggak bisa diam. Berisik, apalagi tangan gimbul nya merusak apapun yang di dapat nya.
Aku kebagian bawa tikar dan minuman. Kenzo dan Claudia kebagian bawa cemilan dan buah-buahan. Sedangkan Mama, dia membawa makanan berat seperti nasi dan lauk pauknya. Kami sudah sepakat, sudah membicarakan ini via grup WhatsApp.
“Ma-ma da-da ma- m na-k.” (Mama dedek makan enak) ucap Alief sambil mengunyah biskuit Promina rasa susu kesukaan nya.
“Iya, sayang. Besok Alief ketemu Eyang Kakung dan Eyang Uti. Ketemu Tante Claudia dan Om Kenzo juga. Kita makan enak sama-sama, ya, Lek.” balas ku sembari menciumi wajah nya ganteng. Alief menanggapi dengan tertawa kecil.
“Mam, aku udah siapin semua nya. Tikar sudah aku lipat. Semuanya sudah beres, tinggal On the way saja besok.” bubuh Mas Al sembari menunjukkan tas ransel besar yang di isi minuman dan tikar di bawah nya. Suami ku pahlawanku, baik banget mau menyiapkan semua nya he he.
“Top banget, Mas. Makasih banyak ya, sayang. Maaf tadi bantuin nya setengah, Alief rewel minta cemilan.” ucap ku tak enak hati sembari memburu dekapan nya. Dia tersenyum lembut, sangat lembut.
“No problem, Dek. Ini pekerjaan yang sangat mudah buat, Mas. Ya udah, sekarang kita istirahat, ya. Besok pagi kita cus pergi ke Bogor.” ajak nya lembut. Aku mengangguk.
“Eh, Mas. Ini bayi mu lho, masih seger aja matanya. Padahal sudah jam setengah sepuluh malam.” ucap ku merajuk pasalnya Baby Alief masih belum juga mengantuk. Bayi berusia satu tahun lima bulan itu asik ngemil biskuit. Papa nya tepuk jidat ha ha.
“Lek, masih ngemil aja kamu. Yuk bobok, Nak. Papa sama mama ngantuk lho ini.” ucap Mas Al sambil menggendong tubuh gimbul Alief.
“No - no pa - pa, no ma - ma.” ( No Papa, no mama) tolak Alief ? mungkin dia lapar. Padahal sudah makan sup daging plus brokoli tadi. Hadeuh, bisa makin gembrot kamu, Lek. Bisa-bisa cepat pegal saat Mama gendong kamu.
Mas Al berencana merebut biskuit yang di pegang Alief. Niat nya bercanda, pingin lihat bagaimana ekspresi anak laki-laki nya ini. Tapi, belum sempat di rebut, Alief lebih dulu melahap habis biskuit nya. Dia lantas bertepuk tangan dan tertawa kegirangan. Mungkin, dia senang bisa mengerjai Papa nya.
Aku tertawa geli, bisa-bisanya Alief bertingkah cerdas dan di luar dugaan. Benar-benar menggemaskan anak ku ini.
“Yuuk bobok, yuk. Kita cuci tangan dulu, jagoan!” Mas Al membawa Alief ke kamar mandi, dia mencuci tangan dan wajah Alief yang berantakan setelah memakan biskuit susu kesukaan nya.
Setelah siap, Mas Al membawanya ke kamar bayi. Dia memberikan Alief susu formula yang sudah ku buat tadi. Namun, dengan cepat Alief menolak nya. Dia bahkan membuang muka. Lha, ini anak kenapa? Tumben nggak mau susu botol?
__ADS_1
“Ma - ma cu - cu, huwaaa.” (mama, susu) ucap nya sambil menangis minta di gendong oleh ku. Mungkin Alief sedang tidak mau minum susu formula, mungkin dia pengen mimi ASI.
“Cup cup cup, jangan nangis dong, Lek. Iya - iya, sini nak.” Aku mengambil alih tubuh Alief, memberikan nya ASI. Dan benar, dia langsung diam. Tidak merajuk lagi. Mungkin bosan minum susu botol, hi hi. Baiklah, selamat mimi cucu jagoan Mama. Selamat malam, selamat beristirahat!
...---...
Kinza Irsyania Malik POV
Jalanan di ibukota masih lenggang. Maklum, pukul enam pagi kami sudah berangkat dari asrama. Ngejar waktu supaya nggak kesiangan. Panas-panasan di jalan nggak enak, sumpah!
Alief tidur pulas di atas pangkuan ku. Dia nangis saat air hangat mengguyur tubuhnya. Iya, aku tau di kaget. Tapi setelahnya, Alief langsung kembali seperti biasa. Anteng, bahkan enggan untuk berhenti. Hem, kebiasaan.
Waktu tempuh kamu kurang lebih satu jam tiga puluh menit. Ku lihat, mobil Honda jazz milik Kenzo sudah terparkir mulus di garasi rumah Mama. Ku yakin, dia berangkat lebih awal dari pada aku. Rajin sekali kakak ku ini.
“Selamat pagi bumil. Selamat pagi Abang.” sapa ku ceria pada kedua manusia yang sibuk menurunkan barang. Claudia sontak memburu pelukanku.
“Selamat pagi juga, beb. Eh gimana-gimana, udah baikan sekarang? Masih sakit nggak?” tanya Claudia sambil menelisik wajah ku.
“Uh, sayang-sayang Mama sudah datang. Yuk masuk dulu, yuk.” ajak Mama ceria. Lantas kami semua bersalaman dengan nya, setelah itu masuk ke dalam rumah.
“Papa dimana, Ma?” tanya Claudia yang sedang mengusap perut buncitnya.
“Papa di sini!” teriak Papa dari atas tangga. “Ngapain sih, Pa? Sini turun dong!” ajak ku ceriwis. Jenderal bintang dua itu lantas menghampiri kami semua.
“Udah nggak sabar, ya, mau jalan-jalan?” tanya Papa yang sekarang duduk di sebelahku. Dia tetiba menggendong Alief yang ternyata sudah bangun.
“Iya dong nggak sabar, pengen piknik nih. Udah lama 'kan kita nggak jalan-jalan bareng.”
“Iya bener banget.” sambung Kenzo.
__ADS_1
“Mama lagi apa, sih?” tanya ku super penasaran. Lantas, aku menghampiri nya di dapur. Dan, rupanya dia sedang menyiapkan makanan. Pantas nggak ikut nimbrung.
“Apa yang kurang, Ma?" tanya ku pada Mama yang sedang menggoreng ayam dan tempe.
“Eh, Nduk, ngapain di sini? Duduk aja, gih.”
“Pengen bantuin mama, dong. Kan udah lama kita nggak masak-masak berdua. Kangen.” ucap ku sambil mengupas bawang yang teronggok di atas meja.
“Tapi kamu nggak apa-apa 'kan, nduk? Mama takut kamu kenapa-kenapa lho.” Mama menghentikan aktivitas nya sejenak.
“Nggak apa-apa. Kinza baik-baik aja. Udah sehat, udah seger, Ma.” aku berusaha meyakinkan Mama. Tapi memang benar, alhamdulilah sekarang kondisi ku sudah membaik. Sudah baik malah. Makanya, aku berani ajak mereka liburan bersama.
“Alhamdulillah kalau gitu. nggak usah ikutan masa Nduk. Kamu duduk saja di ruang tamu, Mama bisa sendiri kok.” ujar Mama dengan lembut. Aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku, makanya mama tidak ingin aku capek-capek. Mungkin dia takut luka jahitan ku kenapa-kenapa. Padahal aku aku sudah baik-baik saja.
“Nggak, ma. Aku beneran udah sehat kok. Kinza mau bantuin Mama masak, supaya cepat selesai.” Mama pasrah. Dia lantas menyuruhku mengupas bawang. Padahal, dari tadi aku sudah melakukannya. hi hi
Beberapa menit kemudian, acara masak sudah selesai. Semua makanan sudah selesai di masak dan sudah dimasukkan ke dalam tote bag. Kami semua lantas masuk kedalam mobil masing-masing dan mulai berangkat menuju kebun Raya Bogor.
Waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Sebab, jarak antara rumah mama dan kebun Raya Bogor tidak terlalu jauh. Cukup di tempuh dalam waktu 25 menit saja.
“Yip ja - yan - ja - yan.” (Alief jalan-jalan) Alif terus mengoceh di sepanjang perjalanan. apalagi saat jalan menuju gerbang kebun Raya. di sana banyak kijang dan tentu menarik perhatian Alief untuk melihatnya.
Dia girang, karena aku memang jarang mengajak Alif pergi ke kebun binatang. Kebanyakan main di halaman rumah bersama tetangga. Kadang bersama anak kucing, serta tanaman tanaman dan tanah tanah. Irit biaya. ha-ha-ha bercanda.
“M - puuss” (Mpus, kucing)
“bukan, Lek. Itu namanya kijang bukan kucing.” ucapku diikuti tawaan Mas Al. dia malah tertawa melihat tingkah Alief yang baginya sangat lucu dan menggemaskan.
Nah, inilah alasan ku mengapa aku memilih kebun Raya untuk liburan bersama keluarga. Karena, tempatnya nyaman, lumayan sejuk karena banyak pepohonan dan banyak spot foto. Lumayanlah untuk koleksi foto di galeri.
__ADS_1
Selain itu, lapangannya luas. Alief bisa lari kesana kesini. Banyak pepohonan yang bisa menjadi media supaya Alief bisa mengenal alam lebih dalam.
Jangan lupa like, komen dan vote teman-teman^^