EPOCH

EPOCH
Bab 21


__ADS_3

Apa yang kalian rasakan saat seseorang yang kalian cintai bertemu dengan mantan kekasihnya? Bukan sekedar bertemu, mereka bahkan berkontak fisik. Macam pelukan gitu? Atau cium kening gitu?


Gila sih, benar-benar gila. Aku pribadi bakalan langsung nangis sejadinya. Nggak peduli orang disekitar, karena memang yang aku rasa sangat-sangat sakit. Peduli amat sih sama sikon!


Okay skip!


Kinza terhenti, jantung nya berdegup kencang, matanya mulai memanas. Ingin rasanya dia menangis saat itu juga. Dan benar, aliran kecil terbentuk mulus di wajah cantiknya.


Kinza mundur beberapa langkah, semakin lama melihat, semakin sakit rasanya.


"K-kak Al." teriak Kinza lirih. Al langsung melepaskan pelukan tangannya pada tubuh Putri. Wajah pria itu pucat pasi, bak maling yang tertangkap basah!


Sama seperti Putri, wajah cantiknya diselimuti ketakutan.


"Kakak tega banget, Kak Al jahat!" vonis Kinza sembari berlalu pergi. Dia bergegas meninggalkan Putri, Al, dan Claudia yang melongo dengan mulut terbuka. Asli itu anak malu-maluin banget!


"Za, mau kemana?" bingung Claudia, dia lantas menyusul Kinza yang sudah mulai menjauh sambil menangis kencang.


Al juga sama, pria itu meninggalkan Putri dan langsung menyusul Kinza. Ini salah paham, batin Al gusar. Langkah kaki nya semakin cepat, dia bertekad untuk menjelaskan yang sesungguhnya.


Al berhasil menyusul Kinza, tangan lentik gadis itu berhasil ia genggam. Kinza terhenti, tapi tidak dengan tangis nya. Claudia yang bingung sontak meninggalkan mereka berdua, dia membiarkan Kinza menyelesaikan masalah nya terlebih dahulu. Apalagi ini masalah rumah tangga mereka. Claudia memilih menepi, tapi seorang perempuan tiba-tiba mendatangi nya.


"Lepasin, Kak, lepas!" Ujar Kinza sambil terisak. Wajah cantiknya terlihat kacau dengan air mata yang terus-menerus mengalir deras. Hati nya hancur, benar-benar hancur!


"Dengar Kinza, ini salah paham. Kamu harus dengar penjelasan aku." bubuh Al seraya mendekap Kinza, tapi gadis itu langsung menghindar.


Kinza menghapus air mata nya dengan kasar, sepertinya dia mencintai orang yang salah, dia benar-benar bodoh sebab langsung percaya pada Al begitu saja.


"Apa, apa yang mau kakak jelasin ke aku, hah? Semuanya udah jelas, kak, Kakak meluk mbak Putri. Dan aku lihat itu, aku lihat dengan jelas!" vonis Kinza menghakimi.


"Kinza, sayang dengerin aku dulu. Kita bicara baik-baik, ya?" balas Al mencoba tetap sabar.


"Nggak! Nggak ada yang perlu aku dengar lagi! Semua perkataan yang keluar dari mulut Kakak itu hanya kemanisan semata, Kakak nggak cinta sama aku. Kakak masih mencintai mbak Putri, kan?" tuduh Kinza yang membuat Al semakin frustrasi.


Kinza melepas paksa tangan nya dari genggaman Al, tapi kekuatan pria itu begitu kuat. "Kinza, kamu salah paham. Aku nggak seperti yang kamu pikirkan, aku mohon, dengarkan penjelasan aku." pinta Al memohon, tapi Kinza tetap pada pendirian nya.


"Dengar sayang, dengarkan aku. Tolong percaya, aku dan Putri tidak semata-mata berpelukan, tadi aku hanya..."


"Cukup, kak! Aku nggak mau dengerin apapun dari mulut Kakak. Udah cukup aku dibohongi sama Kakak sampai detik ini!" imbuh Kinza tetap ngotot. Gadis itu meninggalkan Al setelah berusaha melepas paksa genggaman tangan nya.


"Kinza, Kinzaa!"


"Kejar dia Al, Kinza harus tau yang sebenarnya." ujar Putri setibanya di dekat Al. Nafas nya terengah-engah sebab berlari mengejar Al dan Kinza.


"Jangan dekati aku, Put. Aku takut Kinza semakin salah paham. Tanpa kamu suruh, aku akan menjelaskan nya pada Kinza." imbuh Al dengan mantap, detik berikutnya pria itu berlari menyusul Kinza.


...---...


"Kak Al jahat, jadi selama ini gue cuma di beri cinta palsu?!"


"Cih, sebegitu percaya dirinya gue sampai langsung percaya gitu aja sama Kak Al."


"Kenapa gue baru sadar sekarang? Dan kenapa ini sakit sekalii Tuhaaan!"


Kinza terus meracau sambil terisak, sementara tangan lentik nya membereskan baju-baju yang ada di apartemen milik Claudia.


"Za, gue rasa lo harus dengerin perkataan Kak Al. Lo hanya salah paham." imbuh Claudia sambil menghentikan kegiatan Kinza.


Kinza menepis tangan Claudia dengan kasar, "Nggak usah belain dia, Cla. Lo nggak tau apa-apa!" sungut Kinza emosi. Dia langsung bergegas meninggalkan apartemen Claudia.


"Kamu mau kemana?" tanya Al panik setibanya di apartemen, nafas nya sedikit terengah-engah.

__ADS_1


"Bukan urusan, Kakak!" sentak Kinza cepat.


"Kinza, dengar sayang, jangan keluar dengan keadaan marah. Selesaikan ini secara baik-baik, kita butuh bicara." balas Al mencoba tetap sabar. Air wajah nya terlihat cemas.


"Udahlah, Kak. Aku udah muak, selama ini Kakak nggak pernah cinta kan sama aku? Yang ada di benak Kakak cuma ada Putri, Putri dan Putri!" vonis Kinza lagi-lagi menghakimi. Al mengusap wajahnya dengar gusar. Dia menarik nafasnya dengan panjang.


"Maaf kalau mbak ganggu, tapi memang itu semua salah paham, Za." ujar Putri tiba-tiba. Datang dari mana sih ini orang, tiba-tiba nongol tanpa diundang! Al semakin frustrasi dengan kedatangan Putri, Al sudah memberitaukan kepada nya supaya jangan mendekat. Tapi wanita itu tak menurut sama sekali. Dia bahkan datang ke apartemen Claudia dan membuat suasan semakin memanas.


Kinza mendelik, gadis itu menatap Putri dengan tatapan sinis. "Udah puas mbak hancurkan hati aku? Udah puas selama ini mbak siksa aku? Kenapa sih, mbak nggak membiarkan aku bahagia dengan Kak Al, kenapa mbak? Apakah mbak masih cinta dengan Kak Al? Terus buat apa ada Bang Juna? Mbak nggak mikirin perasaan dia?" tuduh Kinza semakin ngawur. Bahasan nya sudah kemana-mana, ngaco tingkat dewa!


Al mendekat ke arah Kinza, "Nggak usah mendekat, Kak!" cecar Kinza tajam. Al mengalah, pria itu langsung diam di tempat.


"Jangan pergi, aku mohon jangan pergi dengan keadaan kacau seperti ini. Tolong sayang, tolong dengarkan penjelasan aku." pinta Al memohon.


"Aku butuh sendiri, tolong jangan ganggu aku!" balas Kinza cepat.


"Okay aku paham, tapi kamu mau kemana?" tanya Al pasrah.


"Kemana pun itu yang jelas jauh dari, Kakak!" decak Kinza tajam. Dia langsung bergegas pergi tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Dengan berbekal tas ransel, ponsel dan uang dia lantas meninggalkan ketiga manusia yang terlihat cemas.


"Kinza, kamu mau kemana? Aku antar kamu, ya? Tolong izinkan aku untuk tau kemana kamu pergi." pinta Al lagi-lagi memohon. Kinza hanya bisa mendesah berat, sebenarnya dia juga merasa bingung harus kemana.


"Aku mau pulang." pasrah Kinza.


"Tunggu sebentar ya, aku ambil kunci mobil, kita pulang sekarang." balas Al cepat, pria itu buru-buru mengambil kunci mobil dan barang-barang yang ia tinggalkan di apartemen Claudia.


Dengan cepat, Al kembali keluar untuk menemui Kinza. Tapi nihil, Kinza sudah menghilang dari tempat nya.


Kemana Kinza?


...---...


Al terus menghubungi Kinza, satu tangan nya fokus menyetir mobil. Dia, Claudia dan juga Putri sama-sama mencari keberadaan gadis itu. Rasa panik, cemas dan takut terus menghantui pikiran mereka masing-masing.


"Nggak, coba kamu yang telepon, siapa tau di jawab." imbuh Al pasrah.


Claudia langsung mencari kontak Kinza, menelepon gadis itu dengan harapan dia mengangkat nya.


"Nggak, Kak, ponsel nya nggak aktif sekarang." bubuh Claudia lemas.


Al tertohok seketika, rasa cemas menyelimuti hati dan otak nya. Al benar-benar merasa takut kehilangan Kinza di hidupnya.


"Maafkan aku, Al. Aku benar-benar merasa bersalah, coba aja kamu nggak nolongin aku tadi. Pasti kejadian nya nggak akan serumit ini." vonis Putri merasa bersalah. Gadis itu terisak kecil.


Al menarik nafas panjang-panjang, dia pikir tidak ada yang perlu disalahkan. Ini hanya kesalahan pahaman.


"Udahlah, Put, nggak apa-apa. Ini semua bukan salah kamu, ini terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Mungkin ini hukuman Tuhan untuk pria brengsek macam aku." balas Al sambil tertunduk. Dia juga ikutan menangis.


"Nggak ada yang perlu disesali, yang harus kita lakukan hanyalah berdoa dan berusaha mencari Kinza. Dia gadis manja, tidak bisa hidup sendirian. Apalagi dia baru menginjakkan kaki di kota ini." ujar Claudia menyudahi.


Semua nya langsung diam, hening, hanyut dalam pikiran masing-masing. Claudia terus memperhatikan jalanan, siapa tau Kinza masih berada di kawasan ini. Batin nya harap-harap cemas.


...---...


Kinza berjalan terseok, langkah kakinya terasa memberat. Entah sudah berapa lama dirinya berjalan tak tentu arah, Kinza merasa benar-benar bingung dan hancur.


Matanya sembab karena menangis terlalu lama, wajah nya pucat akibat belum memakan apapun sejak pagi tadi.


Apa kabar dengan hati? Jangan ditanya, hati nya sudah hancur berkeping-keping. Rasa sakit nya seakan menusuk, membuat Kinza tak berhenti menangis.


Haruskah sesakit ini, Tuhan? Batin Kinza menangis. Langkah nya terhenti, gadis itu tak kuat melangkah lagi. Kinza terduduk lemas sambil terus terisak. Tak peduli apapun, dan tak peduli siapapun!

__ADS_1


"Bangun." sebuah suara mengejutkan Kinza. Suara itu? Ah, rasanya begitu menyesakkan dada.


Tangan orang itu terulur, menarik dengan pelan, membantu gadis itu berdiri. Kinza mendongak, melihat siapa pelaku nya.


Arjuna!


Kinza semakin terisak, tangisnya semakin kencang sambil memeluk Arjuna. Gadis itu jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya di pelukan Arjuna.


Arjuna ikut menangis, rindu bukan main dengan gadis manja pembawa ceria di hidupnya. Arjuna tak berbohong, dia masih mencintai Kinza sepenuh hati. Arjuna masih mencintai Kinza!


Arjuna membiarkan Kinza terisak di pelukan nya, dengan begitu, Kinza dapat merasa sedikit legah. Tangan kekar nya mengusap punggung Kinza, sambil sesekali mencium puncak kepala gadis itu. Arjuna tak peduli bahwa Kinza sudah bersuami. Dia tau sekarang, penyebab Kinza menangis adalah Al. Si pria brengsek itu!


Tangis Kinza mulai mereda, dia melepaskan pelukan Arjuna. "Maaf, Bang." seru Kinza sambil menundukkan kepala dalam-dalam.


Arjuna tersenyum lembut, tangannya menyentuh wajah cantik Kinza, menghapus air mata yang masih mengalir kecil di sana. "Jangan nangis lagi." balas Arjuna lembut. Bukannya diam, Kinza malah semakin gencar menangis. Dia tak kuasa menahan semua nya, Kinza juga merindukan Arjuna. Kinza sadar, sudah ada Al yang mengisi hatinya. Tapi kenapa Al justru membuat hatinya hancur seketika.


"Kk-ka-kak Al jjj-jah-hat, hiks. Dia pel-ll-luk m-m-mbak Putri!" tangis Kinza mulai mengadu. Al tersenyum kecut, dugaan nya benar sekarang!


"Kinza sudah bicara dengan Al?" tanya Arjuna lembut, gadis itu menggeleng cepat, "Bb-belum." jawab nya gagap.


"Kita datengin Al, ya? Bicara baik-baik sama dia, Kinza mungkin salah lihat." bujuk Arjuna lembut, lagi-lagi Kinza menggeleng. Tangis nya kembali mereda.


"Kk-kinza nggak mau ketemu Kak Al, Kinza ingin sendiri dulu." imbuh gadis itu.


"Terus sekarang mau kemana, pulang? Biar Abang antar kamu." tanya Arjuna.


Kinza tergugu sesaat, dia bahkan bingung harus pergi kemana. Otak nya benar-benar buntu sebab terlalu lama menangis. Gadis itu menggeleng lemas, "Kinza nggak tau harus kemana, bingung, Bang." ujar nya pasrah.


"Kinza ingin sendiri?" tanya Arjuna memastikan. Kinza mengangguk cepat, "Abang bisa saja membantu Kinza, tapi bagaimana kalau orang tua Kinza mencari, dia pasti khawatir." tambah Arjuna.


"Nggak apa-apa, mereka pasti setuju, selama itu baik buat Kinza." imbuh Kinza.


"Yaudah, kalau gitu ikut Abang. Abang yakin, Kinza pasti suka sama tempat nya. Tempat itu bagus, bisa untuk memulihkan hati dan pikiran yang kacau balau. Kinza mau?"


Kinza mengangguk antusias, "Mau bang, mau banget." balas Kinza cepat.


Tak peduli dengan Kak Al, aku hanya butuh menata hati sekarang. Biarlah dia ingin berbuat apa. Yang jelas, aku hanya butuh menenangkan hati dan pikiran. Dengan begitu, aku harap semuanya kembali membaik, dan aku bisa menerima kenyataan walaupun itu sakit.


Semoga Kakak baik-baik saja, maaf untuk beberapa waktu aku menghilang. Jangan cari aku, jangan khawatirkan aku, semua nya akan baik-baik saja. I love you, Kak. Gumam Kinza dalam hati.


Gadis itu lantas mulai beranjak dari tempatnya, mengikuti kemana Arjuna membawa nya. Kinza percaya, Arjuna pasti tidak mempunyai niat buruk, Kinza yakin itu.


...---...


Al duduk termenung di rumah dinas nya. Malam ini, Al benar-benar merindukan Kinza.


Sejak sore pilu di Kota Magelang, Al benar-benar merasa kehilangan arah. Dia sering duduk menyendiri, telat makan, dan penampilan nya begitu kacau. Al sadar, dia telah begitu kehilangan sesuatu yang amat berharga di kehidupan nya.


Flashback on


Al, Claudia dan Putri masih terus mencari keberadaan Kinza. Hari mulai menjelang malam, matahari sebentar lagi akan tenggelam menyisakan pilu yang mendalam. Al hanya bisa berdoa demi keselamatan Kinza. Dimana Pun dia berada, semoga Tuhan selalu melindungi nya.


“Drttdrtt” sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Al.


*From: My wife**❤


Kak Al, tidak usah cari aku kemanapun. Keadaan ku baik-baik saja sekarang. Aku hanya butuh sendiri untuk menenangkan hati dan pikiran ku. Maafkan aku yang egois ini, tapi menghindari kakak adalah cara terbaik. Doakan saja semoga hatiku lekas membaik. Aku mencintai kakak, sangat mencintai kakak❤*


Tes!


Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Al. Pria itu terdiam sesaat, mencerna baik-baik apa yang kinza tuliskan. Benar apa yang Kinza katakan, mendoakan adalah cara terbaik untuk saling melindungi.

__ADS_1


Dimana pun kamu berada, semoga kamu selalu bahagia dan baik-baik saja. Maafkan aku, maafkan aku karena telah menyakiti mu. Semoga hati mu lekas membaik, sayang.


Flashback off


__ADS_2