
Kenzo bergegas ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Al bahwa Kinza di rawat. Pria itu masih mengenakan seragam khas pemain Basket. Iya dong, secara gitu Kenzo di telepon pada saat latihan Basket. Dia langsung panik ketika mendengar kabar tentang adik nya.
Mama dan papa juga sudah di beri tau oleh Kenzo. Maka malam nya mereka bertiga sama-sama ke RSPAD dari arah yang berbeda.
"Al, Kinza nggak apa-apa kan?" tanya mama setibanya di rumah sakit, air muka nya kelihatan begitu cemas. Wanita paruh baya itu berdiri di samping brangkar tempat Kinza terbaring tak sadarkan diri.
"Kata dokter dia sakit tifus, terus Anemia nya kambuh lagi." ujar salah seorang cowok. Dia bukan Al tapi Juna.
"Lho, mas ini siapa ya?" tanya Zahra ramah. Sontak Juna langsung menyalami Zahra.
"Saya Arjuna, panggil aja Juna. Senior Kinza di Paskibra tante. Saya yang bawa Kinza ke rumah sakit." balas Juna memperkenalkan. Juna sesekali melirik ke arah Al. Al tak peduli, pria itu masih tetap sama. Dingin dan cuek.
"Oh syukurlah, terima kasih banyak ya nak Juna."
"Sama-sama tante, kalo begitu Juna pamit yaa. Ini tas dan handphone Kinza." ujar Juna berpamitan. Setelah dia keluar, papa dan Kenzo datang. Mereka langsung panik tatkala melihat kondisi Kinza.
Kinza masih tak sadarkan diri. Tapi bersyukur tangan nya sudah tidak kaku lagi. Secara gitu yak, tangan kiri nya di pasang infus dan hidung nya di beri selang oksigen. Dia juga sempat di suntik, entahlah suntik apa yang jelas di suntik.
"Mama khawatir banget, Pa." ujar Zahra pada Zein. Wanita itu menangis di pelukan suami nya. Dia takut Kinza tertekan karena perjodohan ini.
Perlahan Kinza mulai membuka matanya. Dia mengerjapkan beberapa kali pertanda menetralkan cahaya yang masuk ke mata bulatnya. Dia melirik ke samping, rupanya mama tengah menangis sambil memeluk papa.
"Ma?" Panggil Kinza dengan suara serak. Zahra langsung menengok ke arah suara, dia mendapati putri semata wayang nya sudah sadarkan diri.
"Sayang, apa yang sakit nak? Apa yang Iza rasain?" tanya mama panik sambil terus berderai air mata. Semua orang di sana lantas memperhatikan kedua nya.
"Pusing ma, Iza lemes banget." balas Kinza lirih.
"Jangan pikirkan apa-apa dulu, ya, sayang. Kalau Iza terbebani sama perjodohan ini mama akan batalkan. Tapi Iza janji harus sembuh ya, nak?" ucapan Zahra sukses membuat semua orang tercengang. Terutama Zein. Pria itu langsung mendekatkan diri ke arah Kinza.
"Mam, nggak bisa gitu dong." tukas Zein cepat. Dia tak terima jika perjodohan di batalkan. Kinza menggeleng cepat, dia tidak ingin terjadi keributan di sini .
"Kinza mau kok di jodohkan dengan Kak Al, tapi ada syarat nya." ujar Kinza. Al langsung menoleh, secuil rasa bahagia muncul di hati nya. Sedikit saja! Dia pikir Kinza akan menolak.
"Apa sayang? Papa akan kabulkan." tanya Zein cepat. Sebelum menjawab, Kinza menarik nafas nya terlebih dahulu. Relax, Za. Batin nya.
"Yang pertama Kinza mau pernikahan dilaksanakan enam bulan setelah Kinza masuk kuliah. Kedua, Kinza nggak mau di boyong cepet-cepet punya anak. Ketiga, Kinza pengen pernikahan nya mewah." Ucap Kinza dengan mantap. Lantas Zein, Al dan Zahra mengerutkan alis nya.
"Cuma itu sayang?" tanya Zahra, lantas Kinza mengangguk kecil.
"Itu urusan mudah, bisa di atur." tukas Zein dengan wajah berbinar.
Kinza menghela nafas nya pelan. Nggak apa-apa, gue harus bisa berbakti sama kedua orang tua. Gumam Kinza dalam hati. Tapi bagaimana perasaan nya dengan bang Juna? Bagaimana jika dia marah karena keputusan ini? Kinza memang belum tau Juna menyimpan perasaan atau tidak. Tapi dia merasa ada aneh saat bersama Juna. Begitu pun dengan Juna. Sungguh rumit.
"Mama sama papa pulang dulu ya, mau ambil baju ganti buat Kinza. Masa di rawat di rumah sakit pakai seragam Paskibra. Sekalian mama mau beli makanan, Iza gak apa-apa kan di tinggal sebentar sama Kak Al?" Kinza mengangguk pelan, mengiyakan ucapan mama nya. Dia tidak ingin ambil pusing.
"Nak Al bisa tolong temenin, Kinza? Tante, nggak mungkin ninggalin Kinza sendirian." Al juga mengangguk mendengar ucapan Zahra. Dia pun sama, tidak ingin ambil pusing.
"Iya nggak apa-apa kok, Tante, Al sudah izin sama Komandan." ujar Al ramah.
Zahra, Zein juga Kenzo pulang terlebih dahulu. Mereka mengganti baju masing-masing supaya lebih nyaman. Masalah Kinza sudah beres, dia di temani oleh Al.
"Om?" panggil Kinza serak. Dia ingin berbicara sesuatu pada Al. Al menoleh tapi tak menjawab.
__ADS_1
"Om, denger saya 'kan?"
"Hmm."
Kinza merubah posisi tidur nya menjadi duduk. Sedikit pusing memang, tapi tak betah rasanya berlama-lama. Al yang melihat aksi Kinza lantas tercengang.
"Kamu ngapain sih sok-sokan duduk, mau jatuh kamu, hah?" cibir Al datar, judes dan cuek. Tapi entah kenapa seperti ada perhatian yang di lontarkan dari ucapan nya.
Kinza mendelik. Bukan nya di bantuin malah marah-marah, ini orang punya hati nggak sih? Kinza mendengus. Sumpah nggak dimana-mana, harus gitu dengerin omelan om-om tua ini? Bikin kepala mau meledak rasanya!
"Bantuin kek Om, gak peka banget sih!" Kinza mendengus sebal. Iyaa sebal sebab tak mendapat perlakuan indah dari Al.
Al menoleh, bagaimana pun juga dia tidak tega melihat kondisi gadis cerewet dan bawel macam Kinza. Akhirnya dengan penuh pertimbangan, Al resmi membantu gadis yang menurutnya menyebalkan itu. Kinza tersenyum kecil. Wajah Al terlihat lucu saat sedang pasrah.
"Gitu dong om, harus baik-baik sama calon istri." kekeh Kinza pelan. Gadis itu langsung mendapat tatapan judes dari Al.
"Nggak usah mimpi kamu!" potong Al cepat. Idiih makin galak dan judes aja sih om ini. gumam Kinza dengan malas.
"Kan kita mau menikah, walaupun terpaksa!" sungut Kinza tak mau kalah.
"Memang nya kamu pikir saya nggak terpaksa nikahin kamu?" tanya Al kembali judes.
"Nggak." balas Kinza cepat. Al mendelik, memperhatikan Kinza dengan tatapan tajam.
"Kalo nggak karena orang tua, saya gak akan nikahin kamu. Saya udah punya pacar bahkan berniat tunangan. Tapi gagal karena kedatangan kamu yang nggak jelas ini!" balas Al angkuh. Jujur Kinza terkejut, dia pikir Al itu masih menjomblo tapi ternyata perkiraan gadis itu meleset. Al sudah punya pacar, bahkan ingin bertunangan tapi batal karena Kinza. Semoga gadis itu tidak di cap pelakor yaa saudara-saudara!
"Emang nya om pikir saya doang yang menderita?! Saya musti kehilangan masa muda saya buat nikah sama om! Saya juga udah punya pacar!" ucap Kinza tak kalah angkuh. Sumpah ini anak nekat juga ngaku-ngaku sudah punya pacar.
"Oh si Juna yang tengil itu pacar kamu?" Al tertawa sinis.
"Iya sih bukan urusan saya, lagi pula saya nggak peduli sama kamu termasuk pacar kamu!"
...---...
Enam bulan sudah berlalu. Sejak Kinza mengiyakan perjodohan ini, Al jadi semakin dekat dengan Kinza. Terpaska kah? Iya jelas terpaksa. Kedekatan mereka berdua adalah perintah dari kedua orang tua Al maupun Kinza.
Seperti hari ini. Kinza sudah siap dengan setelan kebaya modern serta make-up natural di wajah nya. Bukan untuk menikah, tapi hari ini adalah acara graduation Kinza dan Kenzo. Kelulusan mereka berdua dari bangku SMA. Kinza di antar oleh kedua orang tua nya juga ajudan ayah nya.
Suasana Gedung Braja Mustika sudah ramai di padati siswa-siswi kelas dua belas beserta ayah ibu nya. Mereka mengenakan baju serupa dengan Kinza dan Kenzo. Yakni baju kebaya untuk perempuan dan jas untuk laki-laki. Sementara para orang tua menggunakan batik.
"Za, lo cakep bener!" seru Claudia seraya memuji Kinza. Gadis itu juga tak lupa menyalami kedua orang tua Kinza.
"Ah, lo juga cantik kok." balas Kinza sambil terkekeh. Tiba-tiba dua orang datang mendekati mereka, kedua orang tua Claudia rupanya. Lantas mereka bercengkerama hangat.
Acara sudah mau di mulai. Satu persatu dari mereka mulai duduk di kursi yang sudah tertata rapi menghadap panggung. Acara nya dimulai dari sambutan-sambutan, upacara adat, pengumuman siswa-siswi berprestasi, sesi pembagian medali dan tanda kelulusan di ikuti dengan foto di atas panggung.
Kinza menjadi salah satu siswa terbaik. Dia di terima masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa biaya. Ya jelas dong, secara gadis itu pintar di bidang akademik maupun non akademik.
Begitu nama nya di panggil, Kinza langsung naik ke atas panggung dengan senyum merekah. Kedua orang tua Kinza tak henti-hentinya mengacungkan kedua jempol. Mereka berdua bangga melihat putri nya mendapatkan prestasi yang luar biasa.
Bukan hanya Kinza. Kenzo, saudara kembar Kinza juga mendapatkan Beasiswa masuk ke perguruan tinggi negri. Kenzo akan melanjutkan pendidikan ke Akmil.
Zahra dan Zein tersenyum bangga. Kedua buah hati nya sama-sama mendapatkan prestasi yang luar biasa. Bukan mereka saja yang bangga, aku pun sebagai author ikut berbangga hati, huehehew.
__ADS_1
...---...
Satu persatu acara telah di laksanakan. Tinggal acara penutupan dengan doa. Setelah itu semua nya membubarkan diri.
"Yuk pulang, Iza udah capek banget." ujar Kinza sambil mengipas rambut nya yang di gelung.
"Iya sayang, gak sabaran banget sih pengen ketemu kasur." tebak mama sambil terkekeh. Dia tau pasti tujuan putri nya jika ingin segera pulang.
Keempat orang itu melangkahkan kaki ke parkiran. Samar-samar, Kinza melihat mobil Al terparkir mulus di sana. Pertanyaan-pertanyaan langsung membanjiri otak nya.
Nggak mungkin ada om tua itu di sini, mana peduli dia sama gue. Gumam Kinza dalam hati. Gadis itu masih menatap dengan lekat mobil Kijang Inova yang mirip dengan kepunyaan Al. Tiba-tiba pintu nya terbuka, menampilkan sosok pria berbadan tegap khas tentara dengan kaos navy berkerah di padukan dengan jeans hitam selutut sambil membawa bucket bunga. Pria itu adalah Althafariz Ramaditya Dirgantara.
Kinza langsung membelalakkan matanya tatkala melihat sosok Al menghampiri mereka berempat sambil membawa bunga yang terbuat dari kain flanel. Dengan langkah gagap akhirnya Al sampai ke tempat Kinza berdiri sekarang.
Al langsung mencium tangan Zahra dan Zein sambil tersenyum ramah. Kedua orang tua itu malah mesem-mesem gak jelas melihat kedatangan Al sambil membawa bunga, dan sebuah paper bag.
"Ini buat kamu, Happy Graduation yaak, Kinza dan Kenzo." ujar Al ramah. Entah ini hanya akting atau tidak. Lantas Kinza menerima bunga tersebut dan Kenzo menerima paper bag yang berisi sesuatu.
"Makasih bang." ucap Kenzo berterima kasih. Sementara Kinza malah diam tak bergeming. Lantas Zahra menoel pipi anak nya, memberi isyarat untuk mengucapkan terima kasih juga kepada Al.
"M-makasih Kak." balas Kinza datar.
"Om, tante, Al izin ya mau ajak Kinza makan. Boleh nggak?" tanya Al pada sepasang suami istri itu. Mereka langsung mengangguk mengiyakan. Sementara Kinza? Dia menatap Al dengan tidak percaya.
Jadi gue di ajak ngedate gitu? Duh, kok jantung gue deg-degan banget sih. Jangan baper dulu, tahan Za, tahaaan. Gumam Kinza dalam hati. Tiba-tiba sesuatu dalam tubuh nya bergerak cepat. Siapa lagi kalau bukan si jantung.
"Lho, Kinza kan belum ganti baju. Berarti kita pulang dulu ke rumah." protes Kinza halus. Masa iya, harus ngedate pakek kebaya? Hellowww, nanti di kira pengantin kabur.
"Nggak usah, saya sudah minta baju kamu sama Bi Tata. Sudah ada di dalam mobil." balas Al cepat. Double terkejut! Jadi Al sudah mempersiapkan semua nya? Gilak, niat banget dia ngajak gue ngedate. Sudah suka kah sama gue? Lagi dan lagi Kinza bergumam.
Tubuh nya tiba-tiba menghangat seketika. Antara senang dan terkejut bercampur menjadi satu.
"Al sama Kinza pamit ya, om, tante, Jo." Al berpamitan, setelah itu masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkan mereka bertiga.
Di dalam perjalanan suasana nya berubah menjadi dingin. Al sudah kembali pada sifat asli nya. Dingin, cuek, dan judes. Baik Kinza maupun Al, kedua nya sama-sama tak ada yang mengajak bicara. Tapi, bukan Kinza nama nya kalau tak gatal ingin bertanya. Cewek itu lantas menatap Al lekat.
"Kita mau kemana om?" tanya Kinza pelan. Gadis itu seakan tak ingin mengganggu konsentrasi Al saat menyetir. Cowok itu melirik ke arah Kinza sekilas, lantas kembali menatap lurus ke jalan.
"Kamu bodoh apa gimana sih? Nggak denger tadi saya bilang apa di depan orang tua mu?!" balas Al judes. Kinza menarik nafas nya pelan. Dugaan nya benar. Al hanya berakting di depan orang tua nya.
"Okay aku ngerti." ucap Kinza lantas membuang wajah nya ke samping. Dia tak ingin menatap Al lagi.
“Ciittt...”
Mobil Al terhenti di sebuah restoran besar di Bogor. Lantas mereka berdua turun dari mobil, tak lupa Kinza membawa paper bag yang berisi baju ganti.
"Om, aku ke toilet dulu. Mau ganti baju." ujar Kinza di ambang pintu. Tapi Al malah mencekal lengan gadis itu.
"Nggak usah, kita nggak lama kok." balas Al datar.
Kinza langsung kebingungan dengan ucapan Al. Bukankah makan memerlukan waktu yang lama? Lantas kenapa Al bilang mereka tidak akan lama?
Al menarik Kinza ke kursi pojokan yang sudah di duduki seorang wanita cantik. Kinza tau, dia adalah Mbak Puput. Kakak asuh semasa tinggal di asrama dulu. Kinza langsung berhamburan memeluk Putri. Dia lantas duduk di samping wanita itu.
__ADS_1
"Kalian udah saling kenal ya?" tanya Kinza pada Putri. Lantas gadis yang di tanya itu langsung menatap Al.
"Bukan hanya kenal, tapi Mas Al adalah calon tunangan, Mbak."