EPOCH

EPOCH
Bab 14


__ADS_3

"Hati-hati ya, sayang. Kabarin Mama, kalau sudah sampai di rumah Bunda Sada." ujar Mama sebelum Kinza masuk ke dalam mobil. Wanita itu memeluk Kinza dengan lembut.


"Iya, Mama juga hati-hati, ya. Kinza dan Kak Al pamit, ya Ma, Pa." bubuh Kinza. Dia meraih tangan Mama juga Papa nya, seraya menciumnya dengan lembut.


"Hati-hati, ya, sayang. Jangan kebanyakan jajan, jangan merepotkan Al." ujar Papa dengan lembut. Pria itu mencium puncak kepala Kinza.


"Siap, Papa." balas Kinza cepat.


"Al pamit ya, Ma, Pa. Al pasti jagain Kinza dengan baik." pamit Al bergantian. Pria itu juga turut mencium tangan Zahra dan Zein.


"Iya, Al. Mama titip Kinza, ya." balas Zahra.


"Siap."


Setelah berpamitan, Al dan Kinza masuk ke dalam mobil. Beberapa koper berisi pakaian sudah tertata rapih di dalam bagasi. Setelah acara tiga harian di Yogyakarta terlaksana, Al dan Kinza langsung pindah ke kesatuan tempat Al berdinas. Maka dari itu, perpisahan nya barusan terkesan lebih menyedihkan.


"Jadi ini, rasanya pisah sama orang yang kita sayangi." gumam Kinza pelan. Al langsung menoleh ke samping, dia mendapati Kinza yang menangis sendu.


"Sakit, kan?" imbuh Al datar.


"Sakit banget, sedih, Kak." tekan Kinza.


"Itu yang saya rasain, saat melepas Putri." sindir Al cuek.


"Nggak ada bahasan lain, Kak?" kecam Kinza malas.


"Nggak ada, karena itu yang sedang saya rasakan." balas Al tak mau kalah.


Kinza menghela nafas nya gusar. "Iya terserah, Kakak." pasrah Kinza.


"Nggak usah pake nangis bisa, gak?" tanya Al judes.


"Nggak bisa, karena itu yang sedang aku rasakan." ujar Kinza menirukan gaya Al bicara.


"Terserah kamu, deh." cibir Al malas.


Kedua nya diam. "Izin Mbak, berantem terus nanti cinta, lho." celetuk serda Abim, ajudan Papa nya Kinza.


"Duh, Om Bim-bim bisa diem, gak? Nggak usah ikut campur, deh." cibir Kinza malas.


"Siap salah, hehe maaf yak, Mbak." alih Serda Abim. Lantas seisi mobil itu langsung bungkam. Tak ada yang berbicara lagi.


...---...


"Udah sampai mana, Kak?" tanya Kinza sedikit bingung. Matanya mengerjapkan beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatan nya.


"Udah sampai Afrika." balas Al ngawur. Kinza lantas menatap Al tajam.


"Aku serius tanya lho, Kak. Ini kita udah sampai mana?" ulang Kinza.


"Bentar lagi sampai, tinggal masuk gang kecil aja di depan." balas Al.


"What?!!!" pekik Kinza setengah berteriak, dia kaget lantaran belum menyiapkan diri terlebih dahulu. Penampilan nya sedikit berantakan sebab tertidur pulas selama perjalanan.


"Kenapa sih?" tanya Al judes, pria itu menatap Kinza intens.


"Aduh, Kakak tuh kenapa nggak bangunin aku dari tadi? Kan, udah deket kan, aduh malu nya. Penampilan ku jelek banget kayak habis di seruduk banteng." panik Kinza. Dia lantas merapihkan dandanan nya yang sedikit berantakan. Bersyukur sekali, tidur kali ini tidak sampai membuat pulau.


Al memperhatikan Kinza yang sedang kalang kabut. "Ribet banget sih, padahal cuma ketemu Bunda. Hellow, ini mau bertemu keluarga, bukan mau pashion show." sambar Al judes.


"Aduh, Kakak tuh nggak liat penampilan ku semrawut macam ini? Aku malu lah ketemu keluarga Kakak dengan penampilan acak-acakan." imbuh Kinza sambil memoles sedikit bedak di wajah nya. Supaya lebih fresh, gadis itu juga memoles lipbalm di bibir tipis nya.


"Udah stop, sekarang turun dari mobil!" seru Al, saat mobil yang ditumpangi nya berhenti. Kinza manut, dia ikutan turun dari mobil.


Pemandangan yang pertama kali di tangkap oleh Kinza. Sebuah rumah megah bercat putih yang di kelilingi taman bunga warna-warni. Berbagai pepohonan yang ditanam di samping dan belakang rumah, membuat kesan asri tersendiri.


Decak kagum terlihat dari wajah Kinza. Senyuman manis terpampang di wajah cantik nya.


"Kamu ngapain sih senyum-senyum, ayok datengin semua keluarga ku. Itu lho, mereka udah menyambut kita." cibir Al membuyarkan lamunan Kinza. Gadis itu mengerucutkan bibir nya malas.


"Ganggu aja deh!" sinis Kinza.


"Yaudah ayok, jangan lupa sama drama kita." ujar Al datar, pria itu menggenggam lengan Kinza supaya mengikuti langkah nya.


Dari kejauhan, Bunda Sada melambaikan tangan ke arah mereka berdua. Senyum merekah terpampang jelas di wajah cantik nya.


"Assalamualaikum." ucap Al dan Kinza berbarengan.


"Wa'alaikum sallam." jawab mereka serentak.


Kinza dan Al lantas menyalami mereka satu-persatu.

__ADS_1


"Hallo sayang, mari masuk yuk. Kinza pasti capek, kan." ajak Bunda Sada lembut. Wanita itu langsung memeluk tubuh Kinza.


"Hai, Bunda, iya sedikit capek." balas Kinza jujur.


"Kinza istirahat aja, ya. Maaf rumah nya berantakan, soalnya siap-siap buat acara besok." bubuh Bunda Sada.


"Iyaa nggak apa-apa, Bunda."


"Al, ini ajak Kinza ke kamar kamu. Kalian berdua istirahat dulu." ujar Bunda Sada sedikit berteriak. Al yang sedang mengobrol dengan Papa nya lantas menoleh. "Iya, Bunda, sebentar."


"Al laper, Bun. Bisa makan dulu gak?" kekeh Al manja.


"Aduh Bunda sampai lupa, ya udah yuk mari makan dulu. Abis nya Bunda nggak tega liat Kinza kelelahan." imbuh Bunda Sada sambil tersipu malu. Mereka langsung diboyong ke meja makan untuk santap sore.


...---...


Langit kota Yogyakarta pada malam hari terlihat indah. Apalagi, jika di lihat dari atas balkon. Udara nya pun lumayan dingin, membuat Kinza betah berada di balkon kamar milik Al.


Entah kebetulan atau tidak. Mengunjungi kota Yogyakarta, adalah salah satu dari sekian banyak impian Kinza bersama teman nya. Sejak duduk di bangku SMP, Kinza ingin sekali mengunjungi kota ini. Kota dimana kuliner dan jajanan nya terbilang cukup murah. Kota dengan sport wisata yang menarik untuk di kunjungi.


Dulu, begitu sulit untuk mengunjungi kota ini. Lantaran usia Kinza masih belum cukup untuk berpergian jauh. Dan sekarang? Kota ini mampu Kinza pijak dengan begitu mudah nya.


"Heh, di panggil Bunda, tuh." panggil Al judes. Kinza sedikit tersentak dengan kehadiran Al yang tiba-tiba.


"Ada apa Bunda manggil aku?" tanya Kinza pelan.


"Nggak tau, kamu samperin aja deh sana." balas Al datar.


"Kakak temenin aku, ya? Malu nih sendirian ke bawah." pinta Kinza malu. Al memutar bola matanya dengan malas.


"Boleh, ya? Ya ya ya?" ulang Kinza memelas. Dengan berat hati, Al mengiyakan permintaan Kinza.


"Ya udah cepet, kasian Bunda nungguin kamu." sewot Al tak suka. Pria itu langsung menarik lengan Kinza dengan tergesa.


Setibanya di lantai bawah, tepat nya di halaman rumah, Kinza berdecak kagum melihat halaman rumah Al yang sudah di dekorasi sedemikian rupa. Persis seperti istana.


Tenda berwarna pink putih menjulang tinggi ke atas. Bunga mawar pink dan putih tertata rapih di sepanjang red karpet. Serta, pelaminan dengan warna bunga serba pink dan putih.


Kinza bahagia, sangat bahagia. Dari mana ide dekorasi macam ini? Sungguh Kinza tak pernah memberitau pada siapapun kecuali Mama dan Kenzo.


"Za, gimana dekorasi nya? Kinza suka, kan?" tanya Bunda Sada lembut.


"S-suka, Bunda, Kinza suka banget. Makasih banyak ya, Bunda." balas Kinza seraya memeluk tubuh Bunda Sada.


"Alhamdulillah kalau Kinza suka. Ini semua ide, A..."


"Bunda!" potong Al cepat.


"A, apa Bunda?" tanya Kinza penasaran.


"Ayah, ide Ayah, ini semua ide Ayah." Alih Bunda Sada, wajahnya terlihat gugup.


"Oh, begitu."


"Ya udah, Kinza lihat-lihat saja dulu. Kalau ada yang kurang, tinggal bilang aja Bunda. Kalau bosan, bilang aja sama Al, kalian jalan-jalan aja keluar." bubuh Bunda lembut.


"Iya, Bunda."


...---...


Flashback on


Malam hari sebelum keberangkatan Al dan Kinza ke Yogyakarta.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kinza. Gadis itu lantas beranjak dari tempat tidur nya.


"Iya sebentar." ujar Kinza setengah berteriak.


Perlahan, tangan mungil nya menyentuh dan memutar knop pintu.


"Kenzo?" pekik Kinza kaget.


"Bang Al ada?" tanya Kenzo dingin.


"Tadi dia ti..."


"Ada, kok. Ada perlu apa, Jo?" tanya Al tiba-tiba, Kinza lantas terkejut. Setau Kinza, Al sudah tertidur pulas.


"Jojo mau bicara, Bang. Ikut ke taman belakang sebentar bisa gak?" tanya Kenzo sopan.

__ADS_1


"Iya bisa, kok." balas Al cepat. Kedua pria itu lantas meninggalkan Kinza yang masih ternganga.


...---...


"Duduk, Bang." seru Kenzo setibanya di taman belakang.


"Iya, Jo, makasih. Kamu mau bicara apa?" tanya Al bingung. Pria itu menatap Kenzo yang sedang mengatur nafas nya.


"Jojo sudah tau semua yang terjadi antara Kinza, Abang, dan Mbak Putri." tegas Kenzo dingin. Entah kenapa suasana nya berubah menjadi canggung.


"M-maksud kamu apa sih?" bingung Al seakan tak tau apa-apa.


Kenzo merubah posisi duduk nya menatap Al. Tatapan nya terlihat dingin dan kecewa.


"Abang ini tentara, kan? Kenzo rasa, Abang juga cukup pintar. Jadi tolong, jangan bersikap seakan Abang tidak tau apa-apa." tekan Kenzo lebih dingin.


Al menghela nafas nya pelan. "Saya terpaksa lakukan ini." bubuh Al datar.


Kenzo tersenyum kecut. Rasa hormat nya pada Al hilang seketika. Kenzo sudah terlalu kecewa.


"Kenapa harus terpaksa? Abang ini laki-laki, seharusnya bisa lebih tegas dalam mengambil keputusan."


"Kenzo pun sudah tau semua isi pembicaraan Abang dan Mbak Putri tempo hari. Mbak Putri bahkan meminta supaya Abang melupakan diri nya. Jadi Kenzo mohon, Bang. Tolong lupakan Mbak Putri, dan cintai Kinza."


"Dia perempuan baik, hatinya sungguh lembut. Walaupun kadang menyebalkan, tapi Kinza selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Abang dan keluarga. Cukup sudah selama satu tahun Kinza menderita. Dia rela menghindari Papa dan Mama hanya untuk melupakan rasa kecewa, jauh di lubuk hati nya, Kinza sangat-sangat merindukan sosok Papa dan Mama, terlebih dia anak yang manja. Tapi sekarang? Dia sudah berubah menjadi gadis yang dewasa yang menderita."


"Sekali lagi Kenzo mohon, buat Kinza bahagia. Hanya abang yang bisa melakukan nya, Kenzo percaya sama Abang, Kenzo yakin Abang pasti mampu membuat Kinza bahagia." Ujar Kenzo panjang lebar dan membuat Al tertohok. Jadi sebegitu menderita nya, gadis yang yang telah menjadi istri nya sekarang.


"S-sa-saya, minta maaf." gugup Al. Pria itu merasa sangat bersalah sekarang.


"Kenzo nggak butuh maaf Abang, yang Kenzo butuhkan sekarang hanyalah tindakan Abang untuk membuat Kinza bahagia." tegas Kenzo dingin.


"Dia suka apapun yang berwarna pink putih, hati nya akan senang melihat warna-warna kesukaan nya. Kenzo harap, Abang bisa mengerti." tegas Kenzo sambil beranjak dari tempat nya, pria itu meninggalkan Al yang masih mematung.


Flashback off


...---...


Kinza mulai melihat-lihat dekorasi tenda untuk acara besok. Semua nya terlihat begitu cantik dan indah. Kinza suka sekali apapun yang bernuansa pink putih. Bahkan Kinza selalu takjub dibuatnya.


Dari kejauhan, Al terus memperhatikan Kinza. Senyum tipis terlihat di wajah tampan nya. Al bahagia saat melihat Kinza tersenyum. Dan Al tak sia-sia telah memilih konsep serba pink putih ini.


Perlahan, Al mendekati Kinza. Pandangan nya tak berhenti menatap sosok Kinza.


"Mau jalan-jalan, gak? Kuliner di sini enak-enak lho, kamu suka jajan kan?" ajak Al tiba-tiba.


"Wah, Kakak kok tau sih? Yuk kita jajan." balas Kinza antusias, tanpa sadar dia menggenggam lengan kekar milik Al.


Mereka berdua mulai menyusuri jalanan kota Yogyakarta. Dengan berjalan kaki, semua keindahan kota ini terlihat begitu menawan.


"Dulu aku pengen banget bisa jalan-jalan ke Yogyakarta. Rasanya susah banget deh buat pergi kesini. Tapi, sekarang dengan mudah nya aku bisa menginjakkan kaki di kota ini." ujar Kinza dengan perasaan senang. Mata cantik nya terus melihat-lihat malam di Kota Yogyakarta dan keramaian di Jalan Malioboro.


"Kak, foto di situ yuk. Aku lihat di instagram, kayak nya bagus banget kalau malam hari foto di plang itu." ajak Kinza seraya menunjuk plang bertuliskan jalan Malioboro.


Al mengangguk pelan. Dia mengikuti saja keinginan Kinza.


"Mbak, bisa tolong fotoin kita?" pinta Kinza pada salah satu pengunjung di sini. Orang itu lantas mengangguk sambil menerima ponsel Kinza.


Kinza lantas berdiri di samping Al, tangan nya melingkar di lengan kekar milik Al. Senyum cantik dia pasang agar terlihat bagus saat di foto.


"Kak, senyum, dong." imbuh Kinza saat melihat ekspresi wajah Al yang datar. Hellow, ini foto bukan untuk KTP kok.


Al menurut, bibir nya terlihat mengembang walaupun tipis.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


"Makasih, ya, Mbak." ucap Kinza berterima kasih. Dia lantas melihat hasil tangkapan gambar yang ada di ponsel nya.


"Lucu banget." bubuh Kinza sambil tersenyum puas.


"Udah malam, balik ke rumah aja, gimana?" alih Al pelan.


"Tunggu sebentar, kita beli makanan buat orang-orang di rumah." ajak Kinza, dia menarik lengan Al lagi untuk membeli beberapa cemilan.


Langkah nya mendekati sebuah kedai kue berisi makanan khas Yogyakarta. Beragam cemilan tertata rapi di dalam nya. Kinza meraih dua box kue bakpia dan kue lain nya. Sedangkan Al, pria itu menunggu di luar sambil terus memperhatikan pergerakan Kinza. Senyum tipis nya kembali terukir.


"Maafkan saya, dan semoga kamu selalu bahagia." gumam Al dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2