EPOCH

EPOCH
Bab 57


__ADS_3

Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


Aku masuk ke dalam ruangan rawat ini secara diam-diam. Ku dengar Kinza sedang tertidur, makanya aku memberanikan diri untuk menyelinap masuk ke dalam ruangan ini.


Ku lihat kondisi nya berangsur-angsur membaik. Kata dokter, dia sudah bisa makan dan minum namun dalam porsi kecil. Itu pun makanan nya harus benar-benar di perhatikan.


Kinza sedang tertidur pulas. Wajah nya terlihat begitu damai dengan nafas yang teratur. Bibir nya sudah tidak terlalu pucat. Bekas kemerahan di hidung nya pun sudah hilang. Syukurlah, dia baik-baik saja.


Semua orang sengaja keluar dari ruangan ini. Mama dan Papa lah yang menyuruh nya. Dia bilang, untuk menebus kesalahan Kinza karena sudah mengusir ku dari ruangan ini. Padahal aku tidak mengapa, aku tau ini juga karena ulah ku.


Perlahan aku mendekati nya. Tanpa suara, tanpa bicara. Seperti seorang prajurit yang sedang berperang menggunakan siasat gerilya. Secara diam-diam. Sunyi dan senyap.


Semakin mendekati nya, semakin cepat jantung ku memompa. Aku takut dia tiba-tiba terbangun, lalu, mengusir ku lagi.


“Dek, Mas nggak tega melihat mu seperti ini. Kalau bisa, biar Mas saja yang menggantikan nya.” ucap ku lirih sembari duduk di kursi sebelah brangkar. Aku meraih tangan nya yang terpasang jarum infusan.


Untung lah dia diam saja. Mungkin sedang bermimpi indah. Sampai-sampai, Kinza tak merasakan bahwa tangan nya sedang ku genggam.


“Andai kamu mendengar semua penjelasannya, Dek. Pastinya kamu tidak akan terluka seperti ini. Pastinya kamu tidak akan terbaring lemah tak berdaya di brangkar ini. Tapi semuanya terlambat, Mas gagal menjelaskan semuanya kepadamu. Mas gagal menjaga dirimu, Dek. Mas minta maaf." lirih ku sembari menggigit bibir bawahku. Menahan suatu yang berkecamuk di dalam dada. Sesak.


“Dek, semua nya tidak seperti yang kamu lihat. Mas tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat hati mu sakit. Itu kecelakaan, Dek. Itu murni kecelakaan. Mas sudah menjaga hati mu. Mas juga bersikap dingin pada Amira.”


“Tapi kejadian nya sungguh di luar kendali. Shakira tiba-tiba menutup pintu. Menjatuhkan pot bunga sehingga menyebabkan Mas dan Amira harus jatuh bersamaan demi menolong Shakira agar tidak tertimpa pot besar Bahkan Mas harus terjatuh tepat di atas tubuh nya. Tapi Mas berani bersumpah. Mas tidak mengambil kesempatan apapun. Mas benar-benar tidak melakukan apa-apa dengan nya. Mas tidak macam-macam, Dek!” air mata ku menetes.


“Percayalah, percayalah pada ku, sayang. Mas tidak melakukan apa-apa dengan nya. Sumpah demi Allah, Mas hanya berniat menolong Shakira. Itu saja.” ingin rasanya berteriak. Namun aku tidak bisa melakukan. Begitu sesak di dada.


“Lek?” panggil Mama dari belakang. Refleks aku menengok dan melihat wajah kemayu mertua ku.


“Iya, ada apa, Ma?” tanya ku sembari menghapus air mata yang mulai mengalir. Mama mengehentikan aktivitas ku. “Tidak, Lek. Jangan tutupi itu dari Mama. Mama tau kamu sedang rapuh, Mama tau kamu menangis. Mama tau kamu sedang bersedih hati. Tidak perlu di tutupi, Lek.” Mama menghapus air mata ku. Dia pun ikut menangis.


“Lek, maafkan keegoisan Kinza, ya. Maafkan sikap nya yang buruk kepada mu. Hati Kinza sedang tidak baik. Emosi masih menguasai hati nya. Mama harap kamu mengerti. Mama harap kamu kuat menghadapi semua nya. Mama percaya, kamu laki-laki yang baik. Kamu laki-laki yang bertanggung jawab.” Mama memeluk ku erat.


“Kita keluar dari sini saja, ya, Ma. Saya takut ganggu Kinza.” Mama melepas pelukan nya.


“Iya, Lek.”


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Aku pura-pura memejamkan mata saat ku tau Mas Al akan masuk ke ruangan ini. Mereka pikir, aku sedang tertidur. Padahal kenyataannya tidak. Aku hanya sekedar memejamkan mata. Tetapi telinga masih bisa menangkap suara.


Aku bisa merasakan kehadiran Mas Al. Dia semakin mendekat dan mendekat. Tapi Mas Al hebat, dia berjalan ke arah ku tanpa menimbulkan bunyi dari gesekan antara lantai dan sepatu. Mas Al benar-benar pandai bersiasat.


“Dek, Mas nggak tega melihat mu seperti ini. Kalau bisa, biar Mas saja yang menggantikan nya.” Mas Al meraih tangan ku yang terpasang jarum infusan. Dia mengelus nya lembut, sesekali memberikan kecupan di sana. Hati ku menciut.


“Andai kamu mendengar semua penjelasannya, Dek. Pastinya kamu tidak akan terluka seperti ini. Pastinya kamu tidak akan terbaring lemah tak berdaya di brangkar ini. Tapi semuanya terlambat, Mas gagal menjelaskan semuanya kepadamu. Mas gagal menjaga dirimu, Dek. Mas minta maaf." ucap nya lirih sembari membawa tangan ku ke dalam dekapan nya.


Ucapan Mas Al membuat ku penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu? Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa pintu nya tertutup rapat? Mengapa ada suara gaduh. Dan, mengapa mereka terjatuh bersama. Bahkan Mas Al menimpa tubuh perempuan itu, Mbak Amira.

__ADS_1


“Dek, semua nya tidak seperti yang kamu lihat. Mas tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat hati mu sakit. Itu kecelakaan, Dek. Itu murni kecelakaan. Mas sudah menjaga hati mu. Mas juga bersikap dingin pada Amira.” sambung nya semakin membuat aku merasa penasaran. Kecelakaan apa nya? Jelas-jelas ku lihat Mas Al menimpa tubuh Mbak Amira. Yang aku tangkap hanya itu, bahkan aku tak sanggup untuk menelisik lebih dalam lagi. Hati ku sakit.


“Tapi kejadian nya sungguh di luar kendali. Shakira tiba-tiba menutup pintu. Menjatuhkan pot bunga sehingga menyebabkan Mas dan Amira harus jatuh bersamaan demi menolong Shakira agar tidak tertimpa pot besar Bahkan Mas harus terjatuh tepat di atas tubuh nya. Tapi Mas berani bersumpah. Mas tidak mengambil kesempatan apapun. Mas benar-benar tidak melakukan apa-apa dengan nya. Mas tidak macam-macam, Dek!” ucap Mas Al membuat jantung ku memompa lebih cepat. Suara Mas Al bergetar, disertai dengan jatuhnya air mata tepat di atas tangan ku yang sedang berada di genggaman Mas Al. Dia menangis.


“Percayalah, percayalah pada ku, sayang. Mas tidak melakukan apa-apa dengan nya. Sumpah demi Allah, Mas hanya berniat menolong Shakira. Itu saja.” racau nya terdengar frustrasi. Ingin sekali memeluk tubuh tegap nya, mendekap tubuh Mas Al dengan penuh cinta. Mas, aku memaafkan mu, tapi aku ingin melihat bagaimana perjuangan mu mendapatkan hati ku kembali. Aku ingin melihat kamu berjuang mengembalikan kepercayaan itu kepada ku.


“Lek?” panggil seseorang dari arah depan. Ku tahu ini suara Mama. Dia pasti sudah mendengar semua yang Mas Al katakan pada ku.


“Iya, ada apa, Ma?” tanya Mas Al.


“Tidak, Lek. Jangan tutupi itu dari Mama. Mama tau kamu sedang rapuh, Mama tau kamu menangis. Mama tau kamu sedang bersedih hati. Tidak perlu di tutupi, Lek.” ucap Mama membuat ku ingin sekali membuka mata. Mama sedang apa? Mas Al kenapa? Dia benar menangis kah? Karena aku?


“Lek, maafkan keegoisan Kinza, ya. Maafkan sikap nya yang buruk kepada mu. Hati Kinza sedang tidak baik. Emosi masih menguasai hati nya. Mama harap kamu mengerti. Mama harap kamu kuat menghadapi semua nya. Mama percaya, kamu laki-laki yang baik. Kamu laki-laki yang bertanggung jawab.” ucap Mama.


“Kita keluar dari sini saja, ya, Ma. Saya takut ganggu Kinza.” ucap Mas Al menyuruh untuk keluar kamar. Mereka lantas meninggalkan aku yang terbaring di brangkar padahal sedang berakting.


“Iya, Lek.”


Aku tak mendengar apa-apa lagi.


Tak lama kemudian, ku dengar pintu terbuka. Bersamaan dengan itu, mata ku juga ikutan terbuka.


“Kinza, beb. Ya ampun kenapa lu bisa gini, sih?!” teriak seseorang menggema ke seluruh penjuru ruangan. Satu orang bumil di temani pria bertubuh tegap mendekat ke arah ku. Claudia dan Kenzo.


Mereka terlihat syok, apalagi dengan Claudia yang sudah menitikkan air mata. Bumil itu menangis.


“Bang, ngomong nya kayak biasa bisa nggak? Jijik sumpah denger lu bilang Adek ke gue!” tukas ku judes. Bukan nya menjawab, aku justru membuat kegaduhan.


“Yee, gue pukul juga nih itu luka. Bukan nya jawab malah protes. Sekali-sekali manggil ku romantis, salah gitu?” ancam nya membuat ku ngeri. Di pukul bagian luka? Oh no, itu sakit nya luar biasa!


Aku mesem, “ada lah masalah rumah tangga. Lu berdua ga perlu tau.”


“Ah ya, gue ngerti. Tapi lu nggak apa-apa 'kan? Lu nggak kenapa-kenapa kan, beb? Sumpah, sepanjang perjalanan ke sini gue nangis terus. Gue beneran cemas banget, takut lu kenapa-kenapa, Zaaaa!” rewel Claudia terdengar lebay sembari memeluk tubuh ku. Aku jijik, tapi senang. Sejauh ini, masih ada sahabat yang benar-benar peduli pada ku. Ah ya, dia juga 'kan kakak ipar ku. Pantas khawatir nya bukan main. Sampai di buat nangis uhuhu.


“Nggak usah lebay! Gue nggak apa-apa, kok. Ini bekas jahitan nya juga udah mulai kering.”


“Gue denger lu di operasi, ya? Sakit dong, beb?” tepuk jidat dengan pertanyaan Claudia.


“Ya pas di operasi nya gue nggak ngerasain apa-apa lah Claudia oon! Gue di suntik bius, nggak ngerasain apa-apa. Lu 'kan calon dokter, kok oon banget sih?!” Dia nyengir kuda sembari mengelus perutnya yang sudah membesar.


“Astaga gue lupa. Terlalu cemas gue! terlalu panik kepikiran lu tau!"


“Makasih loh udah mikirin gue. Tapi ada bagian lain yang lebih sakit dari ini. Sakit nya luar biasa. Nggak bisa disembuhkan dengan cara medis.” Ucap ku sembari melihat ke sekitar ruangan. Hanya ada aku, Claudia dan Kenzo.


“Yang mana? Dimana sakitnya?” tanya Claudia.


“Di sini!” aku menunjuk dada ku sendiri. Claudia tersenyum tipis.


“Ada apa sih, beb? Bilang sama gue. Siapa tau gue bisa bantuin lu. Gue akan usahakan demi lu.” ujar Claudia menawarkan bantuan nya. Namun, aku menggeleng lemah.

__ADS_1


“Thanks sebelum nya, beb. Tapi, masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh pihak yang bersangkutan. Gue, suami gue, dan hati gue.” ucap ku sedu sembari tersenyum tipis. Claudia menunduk.


“Maaf, gue lupa.” ujar nya tak enak hati.


“Santai aja, gue nggak apa-apa kok. Btw, gimana perkembangan ponakan gue? Dia sehat-sehat aja 'kan?” tanya ku mengalihkan pembicaraan. Claudia langsung kembali bersemangat.


“Alhamdulillah sehat, beb. Kemarin baru aja USG. Abis nya dia nendang-nendang terus. Udah kaya tanding bola di perut gue. Kayak ada dua bayi gitu.” kekeh Claudia pelan sembari mengelus perutnya yang besar. Kayak nya kembar, gede sih perutnya.


“Alhamdulillah, ikut seneng dengernya. Selamat ya, beb, sebentar lagi bakalan jadi ibu, cieee!”


“Eh - eh dia nendang-nendang ini. Mau pegang?” tawar nya antusias, sontak aku mengiyakan. Penasaran sama calon keponakan ku ini.


Claudia membawa tangan ku memegangi perut nya. Aku terkejut seketika. Claudia benar, bayi di dalam kandungan nya sedang aktif menendang. Mungkin sudah tidak sabar ingin keluar.


“Gimana? Kerasa kan?”


“Banget, beb. Sumpah, dia aktif banget nendang nya. Udah nggak sabar pengen lihat dunia kayak nya.” Claudia terkekeh.


“Iya, sebentar lagi Alief bakalan punya temen main bola.” Kami tertawa bersamaan.


...---...


Tiga hari berlalu, kondisi Kinza sudah membaik. Luka tusuk nya berangsur-angsur mengering meski kadang kali terasa perih.


Pagi ini, Ibu dan Bapak Komandan serta jajaran nya menjenguk Kinza ke rumah sakit. Bingkisan demi bingkisan buah diterima oleh Kinza dan keluarga.


“Mayor, apa benar masalah ini bukan masalah pembunuhan?" tanya Bapak Komandan pada Al.


Al mengangguk cepat, “Izin, siap betul, Ndan. Ini masalah pribadi rumah tangga saya dan istri. Mohon izin, jangan di laporkan ke pihak berwajib.” ucap Al tegas.


“Iya, Pak. Ini masalah rumah tangga anak saya. Jangan di laporkan kemana-mana. Karena ini masalah pribadi. Soal bercak darah dan lain nya sudah selesai di urus oleh kami sekeluarga.” ucap Papa memberikan informasi terkait kejadian yang ada. Lantas Bapak Komandan mengangguk.


“Izin, siap jenderal!”


“Gimana keadaan istri bapak Danramil? Apa sudah lebih baik?” tanya Ibu Komandan sembari mendekat ke arah Kinza yang sedang terbaring di atas brangkar.


“Izin, alhamdulilah sudah ada kemajuan, Bu. Lebih baik dari hari sebelumnya.” balas Al dengan ramah. “Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Jujur, saya begitu khawatir begitu mendengar berita ini menyebar di asrama.” sambung Ibu komandan.


“Izin, maaf sebelumnya Ibu. Maaf sudah menggemparkan satu Asrama. Maaf sudah membuat Khawatir. Izin, keadaan saya sudah membaik. Mungkin tiga atau empat hari lagi sudah bisa pulang ke rumah.” ucap Kinza sungkan.


“Panggil Mbak saja, Dek. Jangan terlalu formal."


“I - iya, Mbak.”


“Ini, Dek. Kami membawa buah tangan untuk Adek. Tidak banyak, tidak seberapa. Mungkin ini tidak ada apa-apa. Tapi meskipun sedikit, saya harap bisa bermanfaat untuk Adek.” Ibu komandan menyerahkan dua bingkisan buah ukuran jumbo. Refleks Kinza tertegun. “Izin, ini sudah lebih dari cukup, Mbak. Terima kasih banyak sudah menyempatkan diri untuk datang menjenguk saya. Terima kasih untuk bingkisan nya. Insyaallah sangat bermanfaat untuk saya sekeluarga. Saya terima, ya, Mbak.”


“Iya, Dek. Sama-sama.”


Semua nya saling bercengkrama hangat. Apalagi pertemuan bapak komandan dengan jenderal yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua dari Al dan Kinza. Lelaki yang biasa di panggil Ayah dan Papa itu sama-sama mengobrol hangat dengan komandan. Beda dengan Kinza yang diam sembari mencuri pandangan suaminya, Al.

__ADS_1


__ADS_2