EPOCH

EPOCH
Bab 42


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Acara yang dinantikan oleh satuan akhirnya tiba. Namun, sayang sekali aku tidak bisa ikut berpartisipasi. Sebab kaki ku terkilir dan harus duduk di kursi roda.


Alief di gendong oleh Mama. Pagi tadi Mama datang dari Bogor ke Jakarta. Katanya beliau tidak tega dengan keadaan ku sekarang. Makanya, dia datang untuk menjenguk aku dan menjaga Alief untuk beberapa hari ke depan.


Aku menyaksikan kunjungan KASAD ke satuan ini. Suasana nya begitu riuh, ramai seperti di pasar. Semua ibu-ibu Persit sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang jaga di bagian prasmanan, stand es krim, stand buah-buahan, stand kue dan lainnya. Ada juga ibu-ibu yang mencuci piring, jaga di buku tamu dan sebagainya.


Aku hanya diam, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa duduk dan duduk di kursi roda. Aku kecewa pada diri ku sendiri!


“Dek, mau makan apa?” tanya Mas Al pada ku. Ini jam makan siang, acara juga sudah selesai. Tinggal acara makan dan hiburan.


Aku menggeleng lesu, tidak merasa lapar sejak pagi. “Nggak, Mas, makasih. Aku nggak lapar.” balas ku seadanya. Mas Al sontak berjongkok di hadapan ku.


“Dek, mau bikin Mas cemas dan khawatir? Dari pagi kamu belum makan apa-apa. Isi perut mu dulu! Mas takut kamu kenapa-kenapa, Dek!” cecar Mas Al dengan wajah khawatir. Dia terlihat benar-benar cemas sekali.


“Mas suapin, ya, Dek? Kamu mau makan apa, hmm?” tanya nya lagi membuat ku pasrah.


“Aku mau buah melon sama kue Red Velvet aja, Mas. Lagi nggak kepingin makan nasi.” ucap ku di balas anggukan. Mas Al langsung berdiri.


“Mas ambil makanan dulu, kamu stay di sini, ya!” ucap Mas Al, dengan segera tubuh nya menghilang dari padangan ku.


Aku memainkan ponsel, sesekali memperhatikan para anggota Tentara dan istri nya bercengkrama hangat. Ada juga yang joget-joget, nyanyi-nyanyi, makan dan masih beragam.


Dari sekian banyak orang, ada sepasang pasutri yang menarik untuk di pandang. Pasangan itu adalah Mbak Putri dan Bang Arjuna. Mereka kelihatan begitu akrab dan hangat saat berbicara. Sangat jauh berbeda saat mereka sedang berdua.


Tak aneh, mungkin mereka hanya mencari muka. Sok romantis di depan orang banyak, padahal kenyataannya nol besar. Mereka justru seperti kucing dan anjing, debat setiap hari bahkan lebih.


“Sayang, liatin apa sih?” buyar Mas tiba-tiba, suami ganteng ku ini sudah berada di depan mata sembari membawa nampan berisi potongan kue Red Velvet, melon yang sudah di iris, dan es buah.


“Nggak, Mas. Cuma tertarik aja liat sandiwara pasutri itu!” ucap ku sambil memajukan bibir ke arah Mbak Putri dan Bang Arjuna. Sontak Mas Al mengikuti kemana arah bibir ku tertuju.


“Tau dari mana, Dek? Udah lah nggak usah ngurusin hidup orang lain. Mereka mau seperti ini kek, mau seperti itu kek, ya itu urusan mereka. Bukan urusan kita.” bubuh Mas Al sembari memasukkan potongan buah melon ke dalam mulut nya.


Aku mengangguk singkat, “iya, tau Mas. Cuma nggak nyaman aja. Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi.”


“Udah, Dek, udah. Nggak baik lho bicarakan orang macam itu. Dosa sayang ku!” ujar Mas Al. Detik berikutnya dia menyuapi aku sesendok kue Red Velvet.


“Enak nggak, Dek?” tanya Mas Al.


“Enak banget, Mas. Ini 'kan kue buatan Ibu Yonathan. Walah, aku baru sadar.” jawab ku sumringah. Mas Al mesem singkat.


“Kemana aja, Neng? Sibuk ngurusin rumah tangga orang sih!” cibir Mas Al pelan. Aku cemberut, malas banget rasanya.


“Mas, yang ngurusin rumah tangga orang itu bukan aku. Tapi Mbak Putri!” tekan ku penuh emosi.


“Lho, emang Mas bilang kalo kamu ngurusin rumah tangga Putri dan Arjuna? Nggak 'kan? Nah, kalo begini kan ketahuan. Hayo, pasti lagi mikirin mereka, ya?” Mas Al memojokkan aku. Ups, ketahuan deh!


“Tau, ah, Mas nyebelin!”


“Hahaha..” tawa Mas Al pecah. Berbanding terbalik dengan aku yang cemberut kesal karena ulah nya.


Kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat sudah berlalu, beliau beserta jajaran nya sudah meninggalkan satuan ini. Kini acara di ganti dengan acara hiburan. Semua nya ceria, berjoget bersama dan karaoke. Asik, suasana satuan yang biasa nya kaku, hari ini nampak berbeda. Lebih enjoy dan mengalir seperti air.

__ADS_1


Tak berselang lama, Bapak komandan menyuruh prajurit nya untuk menyanyikan yel-yel mereka. Sontak semua prajurit langsung melaksanakan nya dengan semangat yang membara, dengan suara lantang, dan gerakan yang powerfull. Sangat menarik untuk di lihat.


Kami para istri prajurit menyaksikan mereka dengan berseri-seri. Ya seneng, ya geli juga melihat para suaminya yang sedang beraksi. Ada juga dari mereka yang ikutan bergantung, sontak hal itu membuat istri-istri prajurit lain ikutan bergabung juga.


Beda dengan ku yang hanya duduk di kursi roda. Tapi, setidaknya aku senang melihat semangat Mas Al yang membara dan sesekali mencuri padangan ku.


“Nggak enak, ya, cuma bisa duduk di kursi roda. Kasian sekali nggak bisa berbaur dengan yang lain nya!” sinis Mbak Putri yang tetiba muncul di belakang ku. Nada bicara nya terdengar begitu menyeramkan, dia seperti seorang psikopat.


Aku diam tak menjawab. Tak mau berurusan dengan nenek lampir satu ini.


“Jangan pernah kamu melaporkan apapun pada Mas Al! Kalau itu sampai terjadi, Mbak nggak akan segan-segan buat mencelakakan kamu dan anak kamu, Alief! Bahkan lebih parah dari ini!” tegas Mbak Putri membuat aku meneguk ludah. Mbak Putri benar-benar membuat ku takut sepenuhnya.


Tangan ku mengepal keras, ingin membalas namun tak bisa. Aku tidak berdaya!


“Kenapa, Dek? Mau marah? Balas dendam? Mau mukul, Mbak? Silakan! Mbak, nggak takut sama sekali sama kamu! Dasar perempuan lemah yang bisa nya hanya mengandalkan suami!” ucap Mbak Putri semakin dan semakin membuat amarah ku naik ubun-ubun. Aku benar-benar kesal dan emosi. Namun, masih ku tahan sepenuhnya. Ini di depan banyak orang. Bukan hanya itu, aku bukan tipe pendendam. Lebih baik diam saja.


“Mbak, bisa gak, nggak usah buat ulah dulu sekarang? Ini banyak orang 'lho, Mbak nggak takut kebusukan nya bakal terendus oleh orang banyak? Apalagi sama Bapak dan Ibu Komandan? Malu lho kalau ada yang dengar terus di buat viral.” ucap ku dengan nada super malas. Dia hanya diam sambil bergumam kecil.


“Udah deh, Mbak, minggat aja dari hadapan ku. Ngapain sih ngurusin hidup aku dan keluargaku? Repot banget datengin aku terus? Nggak ada kerjaan ya, sampai-sampai nggak bosan mencampuri urusan rumah tangga ku. Pakai bawa-bawa Alief segala. Kenapa? Iri bilang aja, Mbak! Dasar pelakor!” ucap ku sinis sembari pergi dari hadapan nya. Meskipun susah karena aku duduk di atas kursi roda.


Tapi Mbak Putri langsung mencekal lengan ku. Sontak usaha ku menjauh dari nya sia-sia saja.


Mbak Putri membawa aku menjauhi kerumunan, aku tak bisa meminta tolong, tak ingin semuanya terbongkar di hadapan orang-orang. Aku pasrah, semoga yang Kuasa melindungi ku dimana pun aku berada.


“Berani sekali kamu bicara seperti itu! Dasar lancang kamu!” protes Mbak Putri tak suka.


“Kenapa? Mbak nggak suka? Yang aku ucapkan itu fakta! Mbak memang berniat menghancurkan rumah tangga aku dan Mas Al 'kan? Nggak usah mengelak, Mbak, ini semua memang faktanya! Niat Mbak itu hanya mendapatkan Mas Al kembali!” ucap ku semakin berani. Mbak Putri terlihat makin marah, wajah nya memerah dan mata nya terlihat berapi-api. Dia mengambil dahan kayu yang berada di dekat kami.


“Kurang ajar, dasar lont..”


Bugh


Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


Semua orang bersenang-senang. Begitu pun dengan aku dan istri ku. Meski hanya duduk di atas kursi roda, tetapi Kinza tetap bahagia.


Tak berapa lama, Komandan menyuruh anak buahnya untuk melakukan yel-yel. Sontak hal itu membuat semangat ku membara, pun, dengan para prajurit lain nya.


“Adek nggak apa-apa di sini? Mas mau gabung dulu.” tanya ku sesaat sebelum meninggalkan Kinza sendiri. Sebenarnya tidak sendiri, banyak ibu-ibu yang berada di sekeliling Kinza. Aku yakin Kinza tidak akan kenapa-kenapa.


Kinza mengangguk semangat, “nggak apa-apa dong, Mas. Justru aku semangat kalau lihat kamu yel-yel. Suka sekali dengan aksi itu!” ucap nya dengan semangat yang menggebu-gebu. Aku sontak pamit dan langsung ikut bergabung dengan anggota.


Suasana nya begitu pecah. Semua nya terlihat bersemangat dan tentunya bahagia. Sesekali aku memperhatikan Kinza dari kejauhan, kami saling mencuri pandangan.


Namun tak berangsur lama, perhatian ku tertuju pada Putri yang tiba-tiba mendekati istri ku, Kinza. Tatapan yang di lontarkan oleh Putri seperti tatapan mengejek. Aku langsung menghentikan aktivitas dan menghampiri mereka.


Tapi aku masih penasaran dengan apa yang terjadi, aku ingin mendengarkan percakapan mereka terlebih dahulu. Makanya, aku memilih bersembunyi dan menyimak percakapan antara Kinza dan Putri.


“Nggak enak, ya, cuma bisa duduk di kursi roda. Kasian sekali nggak bisa berbaur dengan yang lain nya!”


“Jangan pernah kamu melaporkan apapun pada Mas Al! Kalau itu sampai terjadi, Mbak nggak akan segan-segan buat mencelakakan kamu dan anak kamu, Alief! Bahkan lebih parah dari ini!”


“Kenapa, Dek? Mau marah? Balas dendam? Mau mukul, Mbak? Silakan! Mbak, nggak takut sama sekali sama kamu! Dasar perempuan lemah yang bisa nya hanya mengandalkan suami!” Begitulah ucapan Putri yang bisa ku tangkap. Jadi, bisa ku pastikan sekarang. Putri adalah dalang dari semua insiden yang terjadi. Bahkan sampai mencelakakan istri ku, Kinza.

__ADS_1


“Mbak, bisa gak, nggak usah buat ulah dulu sekarang? Ini banyak orang 'lho, Mbak nggak takut kebusukan nya bakal terendus oleh orang banyak? Apalagi sama Bapak dan Ibu Komandan? Malu lho kalau ada yang dengar terus di buat viral.”


“Udah deh, Mbak, minggat aja dari hadapan ku. Ngapain sih ngurusin hidup aku dan keluargaku? Repot banget datengin aku terus? Nggak ada kerjaan ya, sampai-sampai nggak bosan mencampuri urusan rumah tangga ku. Pakai bawa-bawa Alief segala. Kenapa? Iri bilang aja, Mbak! Dasar pelakor!” ucap Kinza dengan sangat berani. Bagus, Dek! Good job buat mu! Jangan mau kalah! ucap ku kegirangan.


Namun, belum selesai sampai di sana. Ketika Kinza berusaha menjauh, Putri ternyata mencekal lengan nya. Sontak usaha Kinza sia-sia.


Putri mendorong kursi roda Kinza dan pergi menjauhi kerumunan. Wah, nggak bisa ku biarkan! Seperti nya Putri akan melakukan hal aneh lagi. No big no! Sekarang aku tau harus gimana!


“Berani sekali kamu bicara seperti itu! Dasar lancang kamu!” protes Putri tak suka. Rupanya dia membawa Kinza ke halaman belakang yang lumayan sepi.


“Kenapa? Mbak nggak suka? Yang aku ucapkan itu fakta! Mbak memang berniat menghancurkan rumah tangga aku dan Mas Al 'kan? Nggak usah mengelak, Mbak, ini semua memang faktanya! Niat Mbak itu hanya mendapatkan Mas Al kembali!” ucap Kinza semakin berani. Aku senang mendengar nya.


Namun, aku sadar bahwa tangan Putri sudah mengepal keras, dia mengambil dahan kayu yang berada di dekat nya. Seperti nya hal mengerikan akan terjadi setelah ini.


“Kurang ajar, dasar lont..”


Bugh Aku datang di saat yang tepat. Sebelum dahan kayu itu mengenai tubuh istri ku, dengan cepat aku menghalau nya dan pukulan itu mendarat mulus di punggung ku. Rasa nya panas dan perih. Seperti di cambuk saja.


Kedua nya langsung terdiam, sama-sama tidak menyangka dengan kehadiran ku. Putri dan Kinza sama terkejutnya.


“Kalau pukulan nya kena tubuh kamu, aku yakin tubuh kamu pasti berdarah.” ucap ku sambil tersenyum tipis. Namun Kinza masih terlihat syok. Dia masih diam sambil menutupi mulut nya dengan tangan.


“M-mas, kamu ngapain di sini? Punggung mu?” tanya Kinza dengan gagap.


“Aku nggak apa-apa, aku baik-baik aja.”


“Tapi, Mas,”


“Nggak apa-apa sayang.”


Aku bangkit, berbalik badan dan melihat pelaku nya. Putri sangat terkejut dengan kedatangan ku yang tiba-tiba. Apalagi pukulan nya tepat mengenai punggung ku.


Aku meraih ponsel,


“Sersan Bayu, merapat ke halaman belakang asrama. Bawa Lettu Arjuna serta Bapak dan Ibu komandan! Sekarang!”


“Siap, laksanakan!”


Tuuut


“Berani sekali kamu berniat menyakiti Kinza? Ada masalah apa kamu, hah?! Semakin lama tingkah kamu semakin menjadi! Seperti orang tidak waras!”


“Ikut saya, sekarang! Kita selesaikan ini di kantor polisi! Saya sendiri yang akan menjebloskan kamu ke dalam penjara! Saya nggak main-main, Putri!”


Aku menyeret tangan Putri, bersamaan dengan itu, Bapak komandan, Ibu Komandan, Sersan Bayu dan Lettu Arjuna datang kemari. Ada juga beberapa anggota yang ikut.


“Izin, ada apa ini Bapak Danramil?” tanya Arjuna dengan wajah terkejut, sama seperti orang-orang yang ada di sini.


“Tanya sendiri pada istri mu, Pasi! Tapi, nanti saat di kantor polisi!”


“Bapak Danramil, apa tidak di selesaikan dulu di sini. Kalau sudah di kantor polisi urusannya berat.” ujar Bapak komandan, aku berfikir sejenak.


“Izin, siap, Ndan. Tapi saya nggak akan segan-segan buat menjebloskan Ibu Arjuna ke dalam penjara, dia sudah melakukan tindak kriminal. Bisa di lihat dari rekaman CCTV yang ada."

__ADS_1


Semuanya setuju, lantas kami beranjak dari halaman belakang ke ruangan komandan. Siap-siap menerima balasan yang sudah kamu buat, Put!


__ADS_2