EPOCH

EPOCH
Bab 60


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


“Ah lupa, ini kami ada bingkisan untuk Ibu dan Bapak Danramil. Tidak banyak, tapi semoga bisa bermanfaat dan bisa di nikmati bersama.” ucap Ibu Yonathan memberikan aku satu keranjang buah ukuran besar. Sementara ibu lain, ada yang membawa dua kotak kue lapis legit. Ada yang membawa satu plastik jajanan pasar seperti kue lupis, klepon dan lain-lain. Ada juga yang membawa manisan. Alhamdulillah kebanjiran makanan. Lantas aku menerimanya dengan sangat senang hati.


“Aamiin, terima kasih banyak, Ibu-ibu. Maaf merepotkan ibu-ibu sekalian. Maaf juga jamuan nya kurang mumpuni.” balas ku tak enak hati.


“Izin, sama-sama, Ibuu. Bagi saya, nggak ada kata merepotkan, Bu. Justru saya yang merasa merepotkan, mohon maaf jika kedatangan kami ke sini membuat gaduh. Maaf karena sudah mengganggu santap siang ibu bersama keluarga.” ucap Bu Joni ramah.


“Walah, nggak ko, Bu. Saya nggak merasa di repotkan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas kunjungan nya.”


“Izin, sama-sama, Bu. Kalau begitu kami semua pamit. Izin mendahului, Bu. Assalamualaikum..”


“Wa'alaikum sallam, ya, silakan ibu-ibu.”


Fyuh, lega rasa nya. Alhamdulillah, pertanyaan mendebarkan itu tidak perlu ku jawab. Bunda datang di saat yang paling tepat, asoy.


“Nduk, sini duduk.” ajak Bunda setelah semua ibu-ibu keluar dari rumah ini. Lantas aku menghampirinya Bunda yang sedang duduk ayu di di kursi depan TV.


“Bunda senang, disini Kinza di hormati oleh ibu-ibu warga asrama. Dan, Bunda senang ternyata banyak ibu-ibu yang peduli sama kamu, Nduk. Hanya satu pesan Bunda. Tetaplah rendah hati. Tetaplah merangkul orang-orang yang jauh di bawah kita. Tetaplah bersikap layak nya sebagai istri seorang prajurit biasa. Jangan karena pangkat suami sudah tinggi, kita lupa pada orang-orang yang ada di bawah kita.” ucap Bunda memberikan wejangan nya.


“Siap, Bunda. Kinza selalu menerapkan itu. Mama selalu bilang seperti itu sama Kinza. Insyaallah, Kinza akan terus rendah hati, Kinza akan terus merangkul orang-orang yang ada di bawah Kinza. Dan, Kinza tidak akan memandang orang-orang hanya dengan sebelah mata saja. Semua nya sama rata, Bunda. Tidak ada yang berbeda atau di bedakan.” ucap ku dewasa. Bunda lantas merangkul bahuku.


“Pintar. Anak Bunda memang yang terbaik! Nggak salah pilih menantu, kamu sangat begitu istimewa buat Bunda, buat keluarga, buat orang-orang di sekitar Kinza, dan pastinya begitu istimewa di hati nya Al.” Ucapan Bunda membuat hati ku menghangat. Percayalah, di sayang mertua itu rasanya begitu menyenangkan. Sebab, jarang-jarang ada mertua yang begitu peduli pada menantu nya. iyaa kaaaan?


“Aduuuh, ini mertua sama menantu udah kayak anak dan ibu kandung. Rapet bener, Mama nya aja kalah ini, Duh.” Mama cembukur. Ha ha ha, berasa istimewa sekali diri ku ini. Kayak berlian, sangat berharga. Aku benar-benar di jaga dan di sayang oleh mereka hi hi.


“Aduh, kayak nya ada yang cemburu nih, sini-sini ikut peluk dong!” ucap ku sembari merangkul Mama. Kamu berpelukan bertiga. Ah senang nya hidupku di kelilingi orang-orang yang mencintai dan dicintai dengan sepenuh hati. Percayalah teman, keluarga lebih berharga dari apapun. Bahkan, harta sekalipun belum tentu bisa membeli keharmonisan sebuah keluarga.


...---...


“Mama pamit, ya, Nduk. Jaga kesehatan mu. Kalau ada apa-apa langsung kabari Mama. Jangan sampai nggak!”


“Bunda juga pamit, ya, nduk. Semoga kamu cepat-cepat pulih kembali seperti sedia kala. Nanti kita jalan-jalan bareng, ya, nduk. Tapi sehatkan dulu badan mu.”


Kepulangan mereka berdua membuat rumah terasa sepi. Apalagi, kini Mas Al sedang sibuk-sibuknya di kantor. Aku yang belum bisa beraktivitas seperti biasa hanya bisa diam sembari menjaga Alief. Sesekali bebenah, itu pun hanya menyapu, cuci piring dan merapihkan seprei. Selebihnya, Mas Al yang mengerjakan. Kalau urusan cucian, ada Mbok Surti. Setiap dua hari sekali dia datang untuk mencuci pakaian.


Makanya, aku lebih banyak diam. Kerja ku seharian ini hanya mengurusi Alief, nyapu dan cuci piring. Selebihnya rebahan dan rebahan. Hu hu bosan.


“ Ma - ma- u wit - wit cu - cu.” (Mau biskuit susu) Alief mendatangi ku sembari menyodorkan tangan kotor nya. Lelah habis main tanah, pengen ngemil biskuit. Dasar bayi gimbul, gemesin.


"No, no. Dedek harus cuci tangan dulu okay? Ah, mandi saja sekalian gimana? Papa mau pulang sebentar lagi, lho.” ucap ku sembari menggendong tubuh gimbul Alief.


“O - cey.” (oke) sahut nya.

__ADS_1


“Pintar. Alief sudah jadi anak penurut. Mama seneng banget denger nya.” Aku menciumi wajah nya yang tampan. Dia kegelian, mencak-mencak gitu he he.


“Ma - ma a - cay." (Mama nakal) dia protes. Mungkin tak suka mendapatkan perlakuan seperti ini dari ku. Hu hu, ada-ada saja bayi ini. Bikin aku gemes.


Aku membuka semua pakaian kotor Alief. Celana nya kotor sebab duduk di tanah. Ekhm, aku membiarkan Alief bermain di tanah bukan tanpa alasan. Bukan berarti aku juga tak peduli pada kebersihan. Ini semua justru di lakukan untuk membiasakan diri. Supaya Alief suka dengan alam, jadi tidak mudah terserang penyakit. Pantas, sekarang tubuh nya lebih kuat. Alief jadi jarang sakit.


“Syuuur, dingin ya, Nak?"


“Di - nin errrr.” ucap nya girang sembari memukul air di bak. Gusti, basah semua ini.


“Pakai sabun dulu. Gosok yang bersih biar Alief wangi, biar kuman nya mati.” Alief tertawa-kecil sembari menunjukkan gigi nya yang mulai banyak. Dia nampak senang sekali bermain air, apalagi di tambah dengan busa yang melimpah. Hu hu hu, semakin tidak bisa di pisahkan saja. Pasti dia betah mandi lama-lama. Asoy bener kan.


“Udah yuk, Nak. Rambut nya udah wangi, badan nya udah bersih. Yuk udahan, sebentar lagi papa pulang lhooo.” aku mengangkat tubuh gimbul nya. Namun, seperti biasa. Dia malah nangis, minta di turunkan lagi. Huwaaa tulung aku.


“Tiga menit harus sudah selesai, ya, Lek. Sebentar lagi kan papa pulang. Malu dong kalau belum siap, malu dong belum pakai baju.” Aku mencelupkan tubuh nya ke dalam bak mandi. Dia langsung tertawa-tawa. Memukul-mukul air dan membuat baju ku basah. Huft, kebiasaan.


“Assalamu'alaikum..” ucap seseorang dari luar sana. Sudah bisa ku pastikan. Orang itu adalah si Babang. Nah kan apa aku bilang, papa nya Alief sudah pulang. Lah ini anak nya masih betah berada di bak mandi.


“Papa tolong akuuu. Anak mu ini betah di bak mandi. Dia nangis kalau di angkat.” aku mengeluh meminta bantuan dari Mas Al. Dia langsung tertawa puas. Dih, sue banget.


“Halo jagoan papa? Asik bener main air nya. Udahan yuk, Nak.” ajak Mas Al dengan lembut.


“No - no, da - da ma - in a - ir.” (No, no, dedek mau main air). Nah lho, rasakan Babang tercinta. Nikmatilah kebersamaan kalian di dalam kamar mandi. Anak mu ini sudah lengket dengan air. Mau nya nempel-nempel terus. mau nya berlama-lama terus. ha ha ha.


Sedang aku malah kabur, niat nya menyiapkan segala sesuatu untuk Mas Al. Dia pasti lapar, tapi ku jamin kalau dia akan mandi terlebih dahulu. Jadi, siapkan saja baju nya. *padahal sudah suntuk mandiin Alief, lama bener di kamar mandi, ups


Lama bener ini bapak dan anak. Ngapain aja mereka di kamar mandi? Kok lama pakai banget. Lantas aku menyusul mereka berdua.


“Mas, lagi ngapain? Kok lama sekali?” tanya ku sembari mengetuk pintu kamar mandi.


“Ma - ma da - da ma - n - di.” ucap Alief dari balik pintu. Bapak nya lagi ngapain hoy?


“Mas, udah yuk mandinya, nanti Alief kedinginan lho.”


“Iya sayang, sebentar lagi. Ah ya, tolong ambilkan handuk, Mam. Aku lupa bawa handuk.” ucap Mas Al setengah berteriak. Huft, sudah ku pastikan dia mandi bersama. Ehe he, ada-ada saja anak dan bapak ini.


...---...


“Mam, besok aku free. Gimana kalau kita jalan aja? Lumayan kan refreshing bareng? Soalnya, tiga hari kedepan Mas bakalan benar-benar sibuk banget. Mas takut nggak ada waktu buat mu, Dek.” ajak Mas Al saat kami tengah santap malam. Aku sih setuju setuju saja, idenya Mas Al boleh juga. Otakku memang sedikit penat, aku memang butuh refreshing.


“Boleh aja Mas, aku juga memang kebetulan butuh banget liburan. Sumpek di rumah terus, sekali-sekali kita liburan di tengah kesibukan.” aku mengangguk setuju, wajah Mas Al langsung sumringah.


“Gimana kalau kita sekalian ajak Kenzo dan Claudia. Pasti seru ngajak mereka berdua liburan bareng." ucap nya berniat mengajak Kenzo dan Claudia. Ah ya, boleh juga. Boleh banget malah. Senang bisa bertemu bumil itu lagi.

__ADS_1


“Yuk, aku setuju banget kalau itu. pasti mereka senang banget deh kita ajak jalan. Pasti liburannya bakalan seru banget, Mas." balasku tak kalah antusias. Kalau dengan Claudia, aku nggak akan sungkan-sungkan. Dia teman bobrok ku sejak SMP. makanya nya kalau dengan dia sudah tidak ada urat malu lagi.


“Okey, selesai makan langsung hubungi Kenzo dan Claudia. Supaya mereka bisa prepare dan menyiapkan segala sesuatunya." ucap Mas El seraya menyantap bakwan jagung buatan ku.


“Oke siap sayang!"


Mas Al, lantas buru-buru kami menyelesaikan santap malam nya. Dia tidak sabar untuk mengabari Kenzo dan Claudia tentang liburan dadakan ini.


“Halo Jo, loudspeaker ya! Gue mau ngomong sama Claudia juga, biar dia denger apa yang akan gue ucapin.” ucapku memperingati Kenzo.


Setelah selesai makan aku langsung menghubungi Kenzo dan Claudia. Nggak sabar banget ngajak mereka liburan bareng. Semoga saja mereka mau, lumayanlah kita bisa seru-seruan bareng.


“Hello, Za. Gue dengar semuanya kok. Tenang aja. Lu ngapain sih nelpon malem-malem, btw.” tanya Claudia dari seberang sana. Dia nampak penasaran dengan apa yang akan aku ucapkan.


“Jadi gini, gue dan Mas Al mau ngajak lu dan juga Kenzo untuk liburan bareng. Butuh refreshing nih gue, lu mau kan ikut liburan bareng sama kita besok?” ucapku mengajak Kenzo dan Claudia untuk liburan bersama, esok hari.


“Wah, lu seriusan ngajak gue liburan bareng? Luka jahitan lu gimana, apa udah benar-benar pulih? Gue sama Kenzo sih mau-mau aja, tapi gue mengkhawatirkan kesehatan lo cuy.” ucap Claudia nampak setuju. Ku yakin dia mau saja, tapi seperti yang dia bilang. Dia mengkhawatirkan kesehatanku.


“Gue nggak kenapa-napa kok. Gue beneran udah pulih. Please lu ikut gue ya. Kita liburan bareng bareng." ucapku memohon-mohon pada Claudia dan Kenzo.


“Dek, emangnya lu udah benar-benar pulih? Bukan apa-apa sih, Gue hanya khawatir aja sama keadaan lu. Yang ada nanti Gue disalahin sama Papa dan Mama kalau sampai lu kenapa-napa." ujar Kenzo dari seberang telepon. Dia juga sama, sama-sama mengkhawatirkan kesehatan tubuh ku. Ah, baik nya Abang ku. Perhatian sekali dengan Adek nya ini. Ini sih definisi so sweet yang sesungguhnya. a hi hi. Benarkan aku?


“Iya Bang, gue bener-bener udah pulih kok. Lu nggak usah khawatir, gue akan baik-baik aja. Ada Mas Al juga yang jaga gue, udah pokoknya kalian nggak usah pikiran gue. Fix ya, besok kita liburan bareng. Lu prepare deh sekarang juga sama Claudia. Besok kita piknik ke kebun Raya Bogor, oke?"


“Oke deh Dek. kalau gitu sekalian aja ajak mama dan papa juga. Dia pasti mau banget tuh kita ajak refreshing. Gimana lu mau kan?” ujar Kenzo memberikan ide barunya. Aku sih setuju saja dengan ide ini setuju banget malah.


“Oke Jo, besok langsung gue kabarin mama dan papa. ya udah sekarang teleponnya Gue tutup ya. Lu jangan lupa siap-siap dari sekarang, bawa apapun yang diperlukan buat piknik nanti. Bye Abang, bye bumil! Assalamualaikum." ucap ku mengakhiri telepon.


“Bye Kinza dodol, Wa'alaikum sallam."


Tuut, telepon sudah ku tutup. Sekarang aku harus menghubungi Mama untuk mengajak Mama dan Papa liburan bersama besok.


“Halo Ma, assalamualaikum." ucapku ceria.


“Waalaikumsalam, halo sayang yang ada apa nih telepon mama malam-malam? pasti mau ngajak mama liburan ya?" tebak Mama yang seratus persen benar. Aku menelpon Mama karena mau ngajak mama dan papa liburan bersama.


“Eh, iya nih mah aku mau ngajak mama dan papa liburan bareng besok. Kita piknik aja di kebun Raya Bogor, udara di sana kan sejuk. Banyak pohon-pohon yang rindang, pastilah kita bakalan have fun bareng. Mau kan, Ma, liburan besok? Papa free juga kan besok?" brondongku dari seberang telepon.


“Memangnya kamu udah benar-benar pulih, nduk? Jarak Jakarta dan Bogor kan lumayan, mama takut kamu kenapa-napa.”


“Nggak kok. Alhamdulillah aku udah membaik. Sepertinya luka jahitan ku juga benar-benar kering ma. Udah ya Mama tenang aja nggak usah khawatir. Pokoknya malam ini Mama prepare kita berangkat besok pagi.”


“Oke sayang."

__ADS_1


Oh senangnya bisa liburan dadakan. Meskipun cuma piknik, tapi rasanya begitu senang sekali. Baiklah, Mari kita prepare, cus!


Maaf banyak typo nya, aku lagi ngebut hehe. Jangan lupa vote aku temans


__ADS_2