
Putri dan Arjuna pergi ke rumah Kinza. Dengan penampilan kacau, dengan perasaan bersalah, mereka berniat mendatangi Al dan Kinza untuk meminta maaf. Tak lupa membawa bingkisan buah segar, karena mereka berniat menjenguk Kinza dan suami nya.
Pintu di ketuk dua kali, tapi tak kunjung di buka oleh pemilik rumah. Putri pikir, dia terlalu hina untuk di bukakan pintu maaf mereka.
Putri menggigit bibirnya, perasaan bersalah kembali muncul di hati kecilnya. Perlahan, air mata Putri mulai mengalir, membentuk aliran kecil di pipi nya.
“Mas, ini gimana? Kinza nggak bukain pintu buat kita.” tanya Putri dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
Arjuna lantas memeluk Putri, membawa gadis nya ke dalam dekapan. Berharap Putri bisa sedikit tenang.
“Sabar, kita coba satu kali lagi, ya? Kalau masih tidak di buka juga, positif thinking saja. Mungkin mereka sedang kelelahan, atau mungkin mereka ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu sebelum bertemu dengan orang lain.” bubuh Arjuna menenangkan hati istri nya.
Toktoktok
Pintu kembali di ketuk, setelah itu Arjuna dan Putri terdiam. Menunggu sang pemilik merespon mereka.
Klek
Pintu terbuka, dan orang yang membuka nya adalah Al. Dengan cepat Al berniat menutup Pintu kembali, namun gerakan Arjuna tak cepat. Dia langsung menahan nya.
“Bang, saya mohon terima permintaan maaf dari istri saya. Beliau sudah benar-benar menyesal, Bang.” ucap Arjuna dengan sisa tenaga yang ia punya. Tangan nya masih bergelimang menahan supaya pintu terbuka.
Al masih tetap tidak menjawab. Dia malah semakin kuat berusaha menutup pintu. Tapi, tiba-tiba Kinza datang. Dia lantas menyuruh Al membukakan pintu untuk Putri dan juga Arjuna.
“Terima kasih, Ibu Danramil.” ucap Arjuna dengan lembut.
“Masuk, Mbak, Bang.” ajak Kinza pada Arjuna dan Putri. Kedua orang itu lantas masuk.
“Ini kami bawakan buah, selain untuk meminta maaf. Kami juga berniat untuk menjenguk bapak dan ibu Danramil. Ah ya, biaya pengobatan nya biar kami yang urus, Bang.” ucap Arjuna sembari menyerahkan bingkisan buah tersebut.
“Aduh, Lek, basi banget ucapan mu itu! Pasti kamu cuma mau menyogok kami pakai buah dan uang 'kan? Ck, kami nggak butuh itu! Gaji saya sudah lebih dari cukup!” tandas Al sembari melipat kedua tangannya di dada.
“Izin, siap tidak, Bang. Niat kami memang tulus ingin meminta maaf. Tidak ada niatan menyogok atau apa. Kami benar-benar tulus, Bang. Izin petunjuk.”
“Kamu ini mau nyogok 'kan supaya istri mu tidak di penjara? Ngaku saja, tidak usah bawa-bawa bingkisan seperti ini!” sinis Al semakin tajam.
“Izin, tidak Bang!” sangkal Arjuna lagi.
Kinza memegang tangan Al, “Mas, nggak boleh kayak gitu. Niat mereka baik 'kan ingin meminta maaf? Sudahlah, dengarkan dulu apa yang ingin mereka sampaikan.” Bubuh Kinza menyangkal ucapan Al.
Mereka lantas menatap ke arah Putri.
__ADS_1
“Sayang, bicaralah. Ungkapan semua yang ingin kamu sampaikan. Jangan malu, jangan ragu.” ucap Arjuna pada Putri.
Putri masih banyak terdiam. Dia bingung harus memulainya dari mana. Padahal, saat berada di rumah nya sendiri, ia sangat antusias untuk datang ke rumah Kinza dan meminta maaf. Tetapi ketika sudah berada di hadapan Kinza, nyali nya malah menciut.
“Ada apa, Mbak? Ada yang ingin di sampaikan?” tanya Kinza dengan lembut. Sangat jauh berbeda dengan Al yang hanya diam saja sembari melontarkan tatapan sinis dan tajam.
“Anu, M-mbak mau minta maaf, Dek. Mbak benar-benar merasa bersalah kali ini. Tolong maafkan kesalahan, Mbak. Sekarang Mbak terima apapun yang ingin kalian lakukan pada, Mbak. Mbak ingin menebus semua kesalahan yang sudah Mbak lakukan. Mbak benar-benar menyesal, Dek!” Putri mengakui kesalahannya dengan isak tangis. Dia sudah bersedia mendapatkan hukuman apapun yang akan di berikan oleh Al dan Kinza kepadanya nanti.
“Bagus kalau kamu sadar. Hukuman yang tepat untuk mu hanyalah penjara!” balas Al dengan sinis dan tajam.
“Mas, No!” tolak Kinza.
“Mbak terima itu, Dek. Jika dengan memasukkan Mbak ke dalam penjara, dan kalian bisa memaafkan semua kesalahan Mbak. Tidak apa-apa, Mbak akan terima sepenuh nya. Tapi tolong, ampuni Mbak dan semua dosa-dosa Mbak sama kamu, Dek!” lagi dan lagi Putri memohon pengampunan. Kali ini dia benar-benar tulus, tak ada dusta apapun lagi. Dia bahkan berlutut di hadapan Kinza.
Kinza menahan tubuh Putri, dia tak kuasa berada di posisi saat ini. Sungguh hati kecilnya berontak, dia begitu ingin memaafkan Putri saat ini juga. Namun, dia masih sedikit kecewa terhadap perlakuan Putri kepadanya tempo lalu.
“Bangun Mbak, tidak usah melakukan hal ini. aku bersedia memaafkan Mbak, tanpa memasukkan Mbak dalam penjara. Asalkan, Mas Arjuna dipindahkan tugas dari satuan ini. Dan, kita tidak bertemu untuk selama-lamanya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kami lakukan supaya kami memaafkan Mbak, tanpa memasukkan Mbak ke dalam penjara. Maaf jika ini sudah keterlaluan, tapi hal itu memang harus dilakukan, Mbak.” ujar Kinza tanpa menatap Putri. Dia lantas menitikkan air mata sebab terlalu berat mengatakan hal demikian.
Putri bangun dan berjongkok di hadapan Kinza. “Tidak apa-apa, Dek. Mbak akan terima semua nya. Mbak dan Mas Arjuna akan pergi dari sini dan akan meninggalkan kalian sejauh-jauhnya. Tapi Mbak mohon, Maafkan kesalahan-kesalahan yang sudah mbak perbuat kepadamu dan Mas Al. Mbak benar-benar menyesali perbuatannya sudah mbak lakukan.” balas Putri dengan wajah serius nya. Dia nampak bersedia meski harus pergi jauh dari kota ini.
“Maaf jika ini terlalu kejam untuk Mbak, tapi kuharap Mbak bersedia melakukan hal itu. Dengan demikian, mungkin aku dan masalah akan memaafkan kesalahan yang sudah Mbak lakukan pada kami.” ucap Kinza tak enak hati. Sejujurnya dia merasa bersalah karena telah mengatakan hal demikian. Pasti itu membuat Putri merasakan suatu hal sedih di dalam hatinya. Namun Kinza tak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Siap Dek, Mbak akan berusaha melupakan masalah di dalam hati Mbak. Mbak kan berusaha mencintai Mas Arjuna sama seperti Mbak mencintai Mas Al. Maaf kalau mbak lancang, tapi memang itulah kenyataannya, Dek. Mbak yakin, Mbak pasti bisa mencintai Mas Arjuna dan melupakan Mas Al. dengan begitu, Mbak bisa tenang dan bisa ikhlas menerima semuanya yang telah terjadi pada kehidupan Mbak. Sekali lagi Mbak minta maaf kepadamu. Dan, Mbak ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kamu telah membukakan pintu maaf untuk Mbak.”
“Aku terima ucapan maaf dan terima kasih dari Mbak. Kuharap, setelah ini Mbak benar-benar taubat dan tidak menjadi manusia pendendam lagi. dan Aku harap semoga Mbak bisa melupakan masa dan mencintai Mas Arjuna. Semangat mbak, mbak pasti bisa melewati semuanya.” Kinza memeluk tubuh Putri. Tanpa rasa benci di dalam hatinya dan tanpa dusta apa-apa lagi. Meskipun memang sakit, tapi kenyataannya Kinza sudah memaafkan kesalahan yang sudah Putri lakukan terhadap diri nya.
...---...
Kinza Irsyania Malik POV
Terkejut. Satu kata yang menggambarkan perasaan ku saat ini. Demi apa Mbak Putri datang kesini? Oh God, dia tidak ingin melakukan hal aneh-aneh 'kan? No big no kalau sampai iya!
Mas Al enggan membukakan pintu. mungkin dia terlalu kesal dan kecewa pada perlakuan Mbak Putri terhadap aku dan juga dirinya. Tapi apa boleh buat, aku tidak setega itu, apalagi Dia adalah seorang wanita. Bayangkan jika kita yang berada di posisinya, pasti sakit bukan?
Tangan Mas Al masih setia di pintu. Dia menahannya supaya Mbak Putri dan Bang Arjuna tidak bisa masuk. Namun aku tidak bisa diam saja. Kita perlu bicara baik-baik bukan?
“Mas, sudahlah bukakan saja. Kasihan Mbak Putri, pasti tambah merasa bersalah kalau kita tidak membukakan pintu untuknya. Ingat Mas menjadi manusia pendam itu tidak baik. Kita harus bisa saling memaafkan sebesar apapun itu kesalahannya. Ayolah Mas, bukakan saja.”
Mas Al akhirnya menurut. Walaupun dengan berat hati, dia akhirnya membukakan pintu untuk Mbak Putri dan Bang Arjuna.
“Terima kasih, Ibu Danramil.” ucap Bang Arjuna dengan lembut. Mungkin dia mendengarkan pembicaraan ku dengan Mas Al dari balik pintu? Siapa yang tahu.
__ADS_1
“Masuk, Mbak, Bang.” ajak ku berusaha ramah. Sebesar apapun rasa kecewa dan sakit hati, aku tak mungkin memungkasi niatan baik seseorang. Maka dari itu perlu bagi ku berusaha seramah mungkin.
“Ini kami bawakan buah, selain untuk meminta maaf. Kami juga berniat untuk menjenguk bapak dan ibu Danramil. Ah ya, biaya pengobatan nya biar kami yang urus, Bang.” ujar Bang Arjuna sembari menyerahkan bingkisan besar berisi buah-buahan segar. Niat nya baik juga, ya, temans?
“Aduh, Lek, basi banget ucapan mu itu! Pasti kamu cuma mau menyogok kami pakai buah dan uang 'kan? Ck, kami nggak butuh itu! Gaji saya sudah lebih dari cukup!” tandas Mas Al terdengar judes dan menusuk. Haduh suami ku, bersikap ramah lah sedikit saja.
“Izin, siap tidak, Bang. Niat kami memang tulus ingin meminta maaf. Tidak ada niatan menyogok atau apa. Kami benar-benar tulus, Bang. Izin petunjuk.” ralat Bang Arjuna terdengar tak setuju dengan pemikiran Mas Al. Ya memang betul, sih. Mungkin Mas Al berbicara demikian karena merasa di rendahkan. Aku nggak tau.
“Kamu ini mau nyogok 'kan supaya istri mu tidak di penjara? Ngaku saja, tidak usah bawa-bawa bingkisan seperti ini!” pungkas Mas Al lagi dan lagi. Tepuk jidat.
“Izin, tidak Bang!” sangkal Bang Arjuna.
Aku memegang tangan Mas Al. Tak ingin perdebatan ini mengacaukan suasana. “Mas, nggak boleh kayak gitu. Niat mereka baik 'kan ingin meminta maaf? Sudahlah, dengarkan dulu apa yang ingin mereka sampaikan.” ucap ku menyudahi perdebatan yang ada.
Aku lantas menoleh ke arah Mbak Putri.
“Sayang, bicaralah. Ungkapan semua yang ingin kamu sampaikan. Jangan malu, jangan ragu.” bubuh Bang Arjuna terdengar sangat tulus. Wah, seperti nya Bang Arjuna sudah mencintai Mbak Putri. Kalau itu benar, aku adalah orang pertama yang senang karena nya.
“Ada apa, Mbak? Ada yang ingin di sampaikan?” tanya aku pada Mbak Putri. Pasalnya dia hanya diam saja tak menggubris ucapan Bang Arjuna.
“Anu, M-mbak mau minta maaf, Dek. Mbak benar-benar merasa bersalah kali ini. Tolong maafkan kesalahan, Mbak. Sekarang Mbak terima apapun yang ingin kalian lakukan pada, Mbak. Mbak ingin menebus semua kesalahan yang sudah Mbak lakukan. Mbak benar-benar menyesal, Dek!” ucap Mbak Putri meminta maaf. Sedikit gagap di awal, mungkin dia grogi untuk mengatakan semua nya.
“Bagus kalau kamu sadar. Hukuman yang tepat untuk mu hanyalah penjara!” balas Mas Al dengan sinis dan tajam.
“Mas, No!” pungkas ku dengan cepat.
“Mbak terima itu, Dek. Jika dengan memasukkan Mbak ke dalam penjara, dan kalian bisa memaafkan semua kesalahan Mbak. Tidak apa-apa, Mbak akan terima sepenuh nya. Tapi tolong, ampuni Mbak dan semua dosa-dosa Mbak sama kamu, Dek!” perkataan Mbak Putri terdengar pasrah. Dia bahkan berlutut di hadapan ku. Ya Allah, aku mana tega memasukkan dia ke dalam penjara. Sisi kemanusiaan ku langsung memberontak.
“Bangun Mbak, tidak usah melakukan hal ini. aku bersedia memaafkan Mbak, tanpa memasukkan Mbak dalam penjara. Asalkan, Mas Arjuna dipindahkan tugas dari satuan ini. Dan, kita tidak bertemu untuk selama-lamanya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kami lakukan supaya kami memaafkan Mbak, tanpa memasukkan Mbak ke dalam penjara. Maaf jika ini sudah keterlaluan, tapi hal itu memang harus dilakukan, Mbak.”
Mbak Putri bangun dan berjongkok di hadapan ku. “Tidak apa-apa, Dek. Mbak akan terima semua nya. Mbak dan Mas Arjuna akan pergi dari sini dan akan meninggalkan kalian sejauh-jauhnya. Tapi Mbak mohon, Maafkan kesalahan-kesalahan yang sudah Mbak perbuat kepadamu dan Mas Al. Mbak benar-benar menyesali perbuatan yang sudah mbak lakukan.” beliau nampak terlihat tulus. Aku semakin tidak tega melihatnya. Mbak Putri yang biasanya angkuh, kali ini terlihat sangat merendah.
“Maaf jika ini terlalu kejam untuk Mbak, tapi kuharap Mbak bersedia melakukan hal itu. Dengan demikian, mungkin aku dan masalah akan memaafkan kesalahan yang sudah Mbak lakukan pada kami.” ucap ku gamang.
“Kuharap, Mbak bisa belajar dari kejadian ini. janganlah menjadi orang pendendam, ikhlas dan sabar adalah jalan yang terbaik, Mbak. Dan aku harap, semoga setelah ini tidak ada lagi niatan buruk di dalam hati Mbak. Apalagi sampai berniat untuk merebut Mas Al kembali dari genggamanku. Cukup sampai di sini Mbak, ada Bang Arjuna yang sudah setia dan pastinya mencintai Mbak dengan sepenuh hati. Terimalah dia apa adanya, Aku yakin cinta kalian akan bersemi seiring berjalannya waktu. percayalah Mbak usaha tidak akan menghianati hasil.” sambung ku panjang lebar.
“Siap Dek, Mbak akan berusaha melupakan masalah di dalam hati Mbak. Mbak kan berusaha mencintai Mas Arjuna sama seperti Mbak mencintai Mas Al. Maaf kalau mbak lancang, tapi memang itulah kenyataannya, Dek. Mbak yakin, Mbak pasti bisa mencintai Mas Arjuna dan melupakan Mas Al. dengan begitu, Mbak bisa tenang dan bisa ikhlas menerima semuanya yang telah terjadi pada kehidupan Mbak. Sekali lagi Mbak minta maaf kepadamu. Dan, Mbak ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kamu telah membukakan pintu maaf untuk Mbak.” Tuhan, dosa kah aku? Sesak dada ku karena mendengar Mbak Putri masih mencintai suami ku sampai saat ini.
“Aku terima ucapan maaf dan terima kasih dari Mbak. Kuharap, setelah ini Mbak benar-benar taubat dan tidak menjadi manusia pendendam lagi. dan Aku harap semoga Mbak bisa melupakan masa dan mencintai Mas Arjuna. Semangat mbak, mbak pasti bisa melewati semuanya.” ucap ku mengakhiri semua nya.
Semoga Mbak Putri benar-benar bertaubat. Semoga dia di beri hidayah dari Allah. Aamiin.
__ADS_1