
Kinza Irsyania Malik POV
“Izin, Bapak Danramil ada di rumah saya, Bu. Beliau dan beberapa anggota ikut membereskan barang-barang. Saya di suruh Ibu Komandan untuk ikut acara ini, sekalian perkenalan. Untuk acara peresmian nya nanti menyusul.”
Perkataan Mbak Amira membuat ku tergugu seketika. Wajah ku nampak terkejut, sangat terkejut sebab tak menyangka suami ku akan berbohong seperti ini.
Mas Al keterlaluan. Dia sudah membohongi ku, orang yang dia cintai. Bahkan sekarang aku sendiri ragu, masihkah Mas Al mencintai ku? Masihkah aku sendirian yang menjadi pemilik hati nya? Aku ragu, jujur.
“Izin, memang nya Bapak Danramil tidak bilang, Bu?” tanya Mbak Amira. Aku terkesiap.
“Ah, ng - nggak, Mbak. Dia bilang cuma sibuk, soalnya ambil apel pagi.” ucap ku apa ada nya. Mbak Amira manggut-manggut.
Lama kami berbincang, akhirnya sampai di tempat tujuan. Aula sudah ramai di penuhi oleh ibu-ibu berpakaian sama dengan ku. Seragam olahraga berwarna hijau. Acara pun di mulai.
Acara yang akan di laksanakan nanti berbeda dengan biasa nya. Kali ini di barengi dengan santunan untuk para anak yatim, bagi-bagi sembako untuk para warga sekitar, dan gerak jalan. Tiga hari berturut-turut acara tersebut di langsungkan. Siap-siap badan remuk, siap-siap puter otak. Dan harus siap di perintah apapun itu.
Aku dan Ibu Yonathan kebagian menjadi panitia pelaksana santunan anak Yatim. Syukurlah, ini memang keinginan ku. Nggak sabar lihat anak-anak lucu dan menggemaskan. Pasti Alief juga bakalan senang bertemu dengan kakak-kakak baru nya.
“Ibu Satria, masuk ke tim santunan untuk anak yatim bersama dengan Ibu Al dan Ibu Yonathan.” ucap Ibu komandan membuat jantung ku berdegup lebih kencang. Ibu Satria? Bukan kah itu adalah Mbak Amira? Oh no, jangan lagi Tuhan!
“Izin, siap Bu!” balas Mbak Amira berlogat khas seorang Tentara wanita. Iya, maklum saja, Mbak Amira ini 'kan seorang Kowad. Pantes dong dia seperti ini, hm.
Sebenarnya agak malas menerima Mbak Amira satu tim dengan ku. Aku 'kan 'kurang suka' dengan dia. Apalagi ini menyangkut Mas Al. Tapi gimana dong? Lagi-lagi tindakan ku dibatasi oleh instansi. ups.
“Izin, jadi mau bagaimana, Bu. Acara nya mau di bikin seperti apa?” tanya Ibu Yonathan pada ku. Aku nampak berfikir sejenak.
“Izin, gini aja, Bu. Acara nya di lakukan pada hari terakhir. Alasan nya untuk mengucapkan syukur atas semua kegiatan yang sudah kita lakukan selama ini. Atau mau dilakukan awal juga boleh, alasan nya untuk memulai kegiatan sekalian juga acara pengajian. Saran saya, di awal saja, Bu.” ucap Mbak Amira tiba-tiba, eh, btw ini aku lho yang di tanya. Kenapa tiba-tiba Mbak Amira main sosor aja? Nyolong start nih ah. Kelewat aktif, Bund.
“Menurut saya dilakukan nya di akhir saja, Bu. Jadi, kita bisa sekalian evaluasi dan syukuran atas kesuksesan yang sudah kita capai. Hari pertama pelaksanaan gerak jalan, hari kedua kegiatan bagi-bagi sembako untuk warga sekitar, di hari ketiga nya santunan untuk para anak yatim plus di tutup dengan acara pengajian.” Aku mengeluarkan pendapat ku. Nggak salah 'kan? Ya, meskipun aku dan Mbak Amira beda pendapat, tapi aku masih menghargai pendapat nya.
Ibu Yonathan terlihat berfikir sejenak. “Nah, saya setuju saran Ibu Danramil. Tertata dan sesuai dengan kondisi kita. Izin, Ibu bisa langsung usulkan ke Ibu Komandan.” bubuh Ibu Yonathan menyetujui usulan ku.
Ku lirik ke samping. Mbak Amira nampak terdiam. “Mbak, gimana, usulan saya bisa diterima?” tanyaku pada Mbak Amira yang sedikit terkejut. Huft sepertinya dia bengong.
“I - iya, Bu. Saya terima, tidak apa-apa kalau acara santunan nya di laksanakan pada hari terakhir.” balas Mbak Amira dengan gagap. Lha, ini orang kenapa sih?
“Baiklah, kalau begitu saya laporan dengan Ibu Komandan. Nanti masalah keuangan nya saya serahkan pada bendahara.” ucap ku setelah itu pergi menemui Ibu Komandan. Aku memberikan semua ide-ide yang sudah dirundingkan tadi. Alhamdulillah ibu komandan setuju, dia langsung menerima usulan yang sudah aku berikan.
Baiklah Kinza, siap-siap sibuk mengurusi laporan dan teman-temannya. Kamu kuat, kamu pasti bisa!
...---...
__ADS_1
“Da - da mam wi - wit.." (Dedek makan biskuit) ucap Alief sambil menyodorkan biskuit Promina rasa susu pada ku. Dia suka sekali dengan biskuit itu. Jangankan Alief, aku yang jadi Mama nya juga suka wkwk.
“Alief sudah mulai pandai bicara, ya, Mbak. Pertumbuhan nya cepat.” ujar Mbak Amira yang sedari tadi berada di sampingku. Oh no, sampai lupa kalau agenda Persit belum selesai. Lagi ishoma ini (istirahat, sholat, makan).
Tumben sekali sampai lama gini, biasa nya hanya sampai jam sebelas siang, atau mentok jam dua belas siang. Tapi sekarang, sudah hampir jam satu siang namun acara belum kunjung selesai.
Tiba-tiba segerombolan Tentara datang ke aula. Aku kaget, nggak biasanya mereka datang berbondong-bondong ke mari. Ada Mas Al juga di sana. Ada apa kira-kira?
“Ibu-ibu, siang ini acara di lanjutkan dengan rapat bersama para bapak-bapak tentara dan juga Bapak Komandan. Mohon di pahami dan di simak baik-baik!” ujar Ibu komandan dengan lantang. Kami semua hanya bisa mengangguk.
“Siap, ibuuuu." jawab kami dengan serentak.
Pasrah ajalah, walaupun aku ngantuk berat. huhu
Acara di mulai saat komandan memasuki aula. Kami semua menyimak apa yang di sampaikan oleh komandan. Sesekali menanyakan hal-hal yang kurang di pahami.
Tema nya sama, yaitu membahas seputar acara HUT satuan nanti. Yang tidak jauh-jauh dari pembagian tugas, pembentukan panitia dan persiapan dana.
Mas Al kebagian menjadi panitia gerak jalan. Dia di bantu oleh beberapa anggota dan beberapa ibu-ibu Persit. Maklum saja, acara gerak jalan butuh banyak tenaga. Butuh banyak orang-orang untuk mengatur jalan nya acara. Semangat terus Mas Al!
Hampir dua jam rapat, akhirnya kegiatan itu selesai juga. Pukul tiga sore, kami baru bisa beristirahat dengan tenang. Huft, Alief sudah tidur sejak tadi. Dia nampak kelelahan setelah hampir seharian di ajak kegiatan. Anak Mama harus terbiasa di ajak kemana-mana oke! Alief nggak boleh manja, ya, Nak!
“Mas, sejak kapan kantor mu ada di rumah Mbak Amira?” tanya ku sambil sesekali menatap Alief yang tengah tertidur di kasur bayi dekat Tv. Lantas aku menatap nya dengan wajah penuh penasaran.
“Nggak perlu tau aku dapat info ini dari mana. Coba sekarang jelaskan, kenapa kamu tiba-tiba ada di rumah Mbak Amira? Katanya ambil apel pagi, itu tanda nya sibuk dong? Terus kenapa ujung-ujungnya bantuin Mbak Amira beberes barang-barang rumah nya? Kamu bohongin aku, ya, Mas?!” berondong ku tanpa ampun. Namun Mas Al tetap kalem. Ih bikin kesel banget nggak sih? Pengen nyeruduk di pakai kepala!
“Sayang, satu-satu lah nanya, nya. Mas bingung mau jawab yang mana dulu.” ucap ku sembari mengunyah biskuit Promina kesukaan ku dan Alief.
“Jangan di habiskan, kalau bangun tidur Alief nanyain biskuit nya gimana?" ketus ku sewot. Sumpah bukan nya pelit, aku hanya kesal karena dia tidak langsung menjawab pertanyaan ku. Kesan nya seperti diulur-ulur.
“Ih, gemesin kalau lagi marah. Mas cium nih!” ucap Mas Al tak membuat hati ku jinak. Aku masih tetap kesal, sumpah!
“Nggak usah godain aku, Mas! Jawab saja pertanyaan ku yang tadi. Apa begitu sulit pertanyaan aku barusan? Apa memang kamu beneran menyembunyikan sesuatu dari aku? Kamu bohong ya, Mas?” tuding ku begitu berani, Maafkan semua sifat buruk ku, Mas. Sungguh aku nggak bermaksud, aku hanya ingin kebenaran saja.
Mas Al tersenyum, “Dek, apa salah kalau Mas bantu-bantu anggota baru pindahan rumah? Tadi Mas memang ambil apel pagi, setelah itu rapat sebentar dengan anggota. Nah, jam delapan pagi, Bapak Komandan memberi perintah untuk membantu Kapten Satria pindahan rumah. Masa mau Mas tolak? Perintah komandan itu nomor satu, Mas nggak berani menolaknya.” Mas Al menjelaskan semua nya padaku. Ternyata seperti itu kejadian nya. Tapi, tetap saja aku merasa ada yang janggal. Berbeda dengan biasa nya. Seperti ada sesuatu yang lain. Ih, gimana dong. Percaya atau jangan?
“Kamu mau curiga soal Amira? Hey, dengar sayang. Aku itu nggak ada apa-apa sama dia. Amira cuma aku anggap sebagai adik. Itu saja. Nggak ada hubungan spesial atau anggapan spesial lain nya. Aku hanya cinta sama kamu, percayalah!” ucap Mas Al sembari memegang tangan ku. Dia mengelus-elus, memberikan kehangatan sekaligus memberikan keyakinan untuk ku.
“Tapi, Mas. Mbak Amira itu pernah suka sama kamu. Kalau dia macam-macam sama keluarga kita gimana? Kalau ternyata dia seperti Mbak Putri gimana? Kamu mau memang nya? Kamu berani bertanggung jawab?” ucap ku begitu pahit. Amit-amit tapiiii!
“Hush, ngomong mu sembarang aja! Semua itu tergantung mindset kita. Kalau kamu mikir nya jelek terus, mikir aku suka sama Amira, atau mikir macem-macem. Itu bisa jadi kenyataan, kalau aku suka sama Amira beneran gimana?” ucap Mas Al super ngaco.
__ADS_1
Aku memukul lengan nya kuat-kuat, “kok ngomong nya gitu, Mas? Kamu ada niatan buat suka sama Mbak Amira? Iya?!” tandas ku tak terima. Aku benar-benar di buat merasa takut. Mas Al keterlaluan!
Dia terbahak, “aduh sayang, aku bercanda! Mana mungkin aku suka sama Amira. Stop deh, jangan ngaco cinta ku! Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, titik!” Mas Al merangkul pundak ku setelah berkata demikian. Demi apa ini teh? Bener-bener nggak bisa di terima. Aku nggak percaya!
“Lakukan sesuatu supaya aku bisa percaya sama ucapan mu, Mas. Aku butuh bukti!” ucap ku menantang Mas Al. Dia malah tersenyum jahil.
“Mari kita buktikan di ranjang, Dek. Kita buat adik untuk Alief. Kamu mau 'kan?” ujar nya mulai usil. Aku kalah telak. Mas Al memang pandai membalikkan suasana.
Sekarang aku di buat diam seketika, tak berani berucap apa-apa lagi sebab bahasan nya sudah kemana-mana. Ya kali mau buat anak sekarang juga, ogah amat. Aku nggak mau!
“Udah ah, males sama kamu. Nggak serius! Aku butuh bukti betulan, Mas. Bukan mau uwu-uwu dengan mu!” tegas ku ngambek. Aku cemberut karena ulah nya.
“Sayang, kalau kamu cemberut gini, Mas semakin ingin melakukan hal ‘itu’ dengan mau. Mas nggak tahan, Dek!” ucap Mas Al semakin dan semakin menjadi-jadi. Aku pasrah, nggak mau neko-neko. Lebih baik aku kabur sekarang juga daripada harus berbuat hal ‘itu’ dengan nya. Mas Al ganas kalau sudah di atas ranjang, bisa-bisa kebablasan dan jadilah bayi kedua, ups gak mau sekarang!
“Udah, ya, sayang. Aku mau masak dulu. Kamu nggak usah macam-macam! Kalau Alief bangun, tolong kamu jaga, ya?!” tegas ku sembari nyelonong pergi dari hadapan Mas Al. Dia hanya mesem singkat pada ku.
“Nanti malam dua atau tiga ronde, ya, Dek! Mau lima ronde juggaHarus bablas jadi anak. Sekarang isi tenaga mu!” ucap nya dengan keras sambil tertawa-tawa. Ih, malu-maluin. Kalau ada orang yang denger gimana? Bisa di sidang karena mengumbar kemesraan! Nggak etis banget!
“Nggak usah ngaco, Mas! Udah diam, ah!”
“Sekarang, Mas mau minum jamu kuat. Biar bisa kuda-kuda sampai pagi.” teriak nya makin ngaco.
“Mas aku jijik, deh! Sumpah!” balas ku sambil merinding. Tiba-tiba ingatanku berputar pada malam 'itu' enak sih, walau sakit di awal haha.
“Kamu pasti suka, sayang!”
“Tau, Mas ngaco!”
Mas Al tertawa semakin kencang. Sesukamu aja deh, Mas!
...---...
“Makasih, lho repot-repot bawain ini segala. Padahal saya ikhlas kok bantuin nya.” ucap Mas Al berterima kasih pada adik asuh nya dulu, Mbak Amira dan istri nya.
“Izin, tidak apa-apa Bang. Saya tidak merasa direpotkan oleh Abang. Harusnya saya berterima kasih.” balas Kapten Satria.
“Aduh, kalau lagi kumpul gini, jadi inget masa-masa di Akmil dulu, ya, Mas. Aku kan sering banget di hukum sama Bang Al gara-gara sering bangun siang. Di suruh lari keliling lapangan lah, bersihin satu bangsal sendirian lah, yang paling parah, di hukum nyebur kolam renang yang kotor dan banyak kodok nya.” ucap Mbak Amira memulai percakapan. Mereka nampak asik dan wellcome saja. Beda dengan aku yang hanya diam menyimak. Iyalah, aku kan nggak tau apa-apa soal AKMIL dan teman-temannya.
“Kamu belum seberapa, dulu Mas pernah di hukum karena jailin teman, Mas. Kapok banget, soalnya di suruh lari keliling lapangan menggunakan ransel seperti orang yang ingin perang. Nggak tanggung-tanggung. Seratus putaran, Dek.” tambah Kapten Satria yang membuat ku merasa semakin tersingkirkan. Mereka semakin larut dalam obrolan tersebut. Tanpa memedulikan aku yang diam saja tanpa bicara sepatah kata pun.
Aku sakit, aku cemburu berada di posisi ini. Nggak nyaman sama sekali. Apalagi terus-terusan di tatap oleh Mbak Amira yang seakan berkata “Kamu nggak ada apa-apanya!”
__ADS_1
Aku mati kata.