
Tandai letak typo nya dimana biar langsung aku revisi. Sumpah, nggak sempat baca ulangš
---
Aruna memperhatikan pantulan tubuh nya dari cermin. Baju tidur berwarna biru motif katak telah melekat pas di tubuh nya. Tak lupa, dia memakai kardigan hitam lengan panjang karena udara lumayan dingin malam ini.
Benda persegi panjang milik nya sudah ada di genggaman. Kini, gadis itu siap untuk bertemu dengan Ervin. Si pria pemegang kunci mobil miliknya.
"Mbak, Aruna ke depan sebentar, ya. Mau ketemu sama temen." pamit gadis itu pada kakak ipar nya, Alisha.
"Iya. Jangan pulang larut malam, ya. Inget, ini kan kawasan militer. Wajib ikutin peraturan." balas Alisha sembari memperingati Aruna. Gadis itu hanya mengangguk singkat. "Siap, Mbak."
Aruna mulai berjalan menyusuri rumah-rumah anggota Tentara lain nya. Seperti biasa, rumah di asrama militer itu selalu terlihat kaku bagi Aruna. Semua nya sama rata, mulai dari desain, cat tembok, dan bentuk nya. Mungkin beberapa ada yang berbeda, tapi, jika dilihat keseluruhan semuanya akan terlihat sama.
Tak jauh dari rumah Alisha, ada sebuah taman bermain kanak-kanak lengkap dengan fasilitas bermain nya. Macam ayunan besi, prosotan dan lain-lain. Ada juga kolam ikan dan beberapa tanaman yang sengaja di tanam di sekeliling kolam. Dan yang terpenting, selalu ada pohon di sepanjang jalan. Itu yang membuat kawasan ini terlihat begitu asri dan sedap di pandang mata.
Cukup lama berjalan sambil melihat-lihat keadaan sekitar, akhirnya Aruna sampai di koperasi. Di sana sudah ada Ervin dan tiga orang Tentara lain nya.
"Ndan, ada cewek cantik itu." ujar salah satu dari ketiga pria di samping Ervin. Aruna sontak menundukkan kepala sebab merasa malu dan risih.
"Hush, adik nya Danki ini. Kamu jangan macam-macam, ya!" tegas Ervin sedikit kesal. Aruna yang mendengar itu langsung terkejut dan bertanya-tanya.
"Izin, siap maaf Danton, saya nggak tau kalau Mbak ini adalah adiknya Danki." ujar orang itu.
Ervin berdiri, meninggalkan ketiga anggotanya dan sekarang mendekati Aruna. Saat sudah dekat, lengan Aruna di tarik pelan oleh Ervin. Pria itu membawa Aruna menjauh dari rekan nya.
"Aduh, lepasin kek!" ujar Aruna sedikit meringis. Bukan sakit, tapi lebih kepada tak nyaman sebab banyak mata yang menyorot ke arah mereka berdua.
"Sreek." Aruna melepas paksa lengan nya dari genggaman Ervin.
"Kita mau kemana sih? Mau ngasih kunci aja kok repot banget!" cibir Aruna dengan malas.
"Udah, lo ikut aja. Rewel banget sih!"
"Vin, kita mau kemana? Nggak usah bertele-tele deh, gue capek, pengen istirahat." bubuh Aruna namun tak di hiraukan oleh Ervin. Dia justru terus berjalan.
Ervin terhenti. Begitu juga dengan Aruna. Mereka sampai di depan sebuah mobil Honda Brio terparkir. Ervin masuk ke dalam mobil itu. "Naik sekarang." perintah Ervin tiba-tiba. Sontak Aruna menolak.
"Gak, lo mau ngapain sih? Apa lagi yang bakalan lo lakuin ke gue?" sungut Aruna tak ingin kalah. Ervin mendesis pelan, pria itu keluar dari mobil dan menghampiri Aruna.
"Lo mau kunci mobil balik, kan?"
"Ya iya lah!"
"Ya udah, masuk!" titah Ervin sedikit kesal. Pasalnya Aruna tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Gue nggak mau, Ervin!"
"Ya udah, gue balik ke anggota. Lo pulang aja sana!" putus Ervin dengan cepat. Aruna sontak menahan lengan Ervin agar tidak pergi.
Aruna mengalah, "Hm, ya udah gue naik sekarang! Puas lo?!"
"Nah gitu, kek. Buang-buang waktu aja, lo!"
"Ck." decak Aruna kesal. Gadis itu hanya bisa pasrah. Ervin ini bukan orang biasa. Dia nekat, dan sepertinya bisa melakukan apapun. Kalau keinginan lo mau tercapai. Lo harus nurut. Batin Aruna mendesis.
Ervin mulai menjalankan mobil nya. Masih pelan, 20km/jam, ini peraturan di asrama yang wajib di tepati. Ervin juga membuka kaca mobil nya, menyapa orang-orang yang ia temui di jalan.
---
Aruna Anandita Dirgantara POV
Deretan perumahan elit menjadi tempat tujuan kami. Ah, lebih tepatnya Ervin saja. Aku hanya mengikuti Ervin. Entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya, yang jelas, aku hanya pasrah.
__ADS_1
"Ayo turun." titah Ervin dengan kalem. Dia melepas sabuk pengaman nya seraya turun dari mobil.
Aku menurut saja. Walaupun dalam hati merasa takut, tapi haruskah aku diam saja? Bisa-bisa kunci mobil ku tak akan dia kembalikan.
Aku menyusul Ervin. Salah satu rumah megah di perumahan itu telah berada tepat di hadapan ku. Rumah nuansa modern yang ku yakini harganya pasti sangat mahal. Ini mirip rumah yang ada di film-film gitu. Sumpah, bagus dan begitu mewah sekali. Rumah ku saja sepertinya kalah, bahkan tak ada apa-apa nya.
"Lo nggak lagi merencanakan sesuatu kan? Serem soalnya di bawa ke rumah segede ini." ujar ku setengah mencurigai, namun Ervin tetap diam saja.
"Vin, jawab!" ulang ku lagi.
"Nggak! Please, nggak bawel sebentar bisa gak sih?" ketus Ervin membuat ku langsung terdiam. Nada bicara nya nyeremin, macam mau nelan orang hidup-hidup. Udah Aruna, kamu pasrah aja deh! Nggak usah banyak bantah! Demi kunci mobil!
Kami mulai berjalan masuk. Ervin dengan mudah nya masuk ke rumah segede ini. Jadi ini rumah orang tua nya Ervin? Kok gede bener? Dia anak orang kaya? Kok bisa?!
Tepat di depan kami, ada seorang perempuan cantik tengah duduk di sofa yang menghadap ke TV besar. Ervin menepuk bahu orang itu tanpa permisi. Sontak, gadis itu menengok.
"Kebiasaan nggak pake salam kalau masuk. Udah jadi Tentara masih aja kayak gini kamu, Vin." decak perempuan itu setengah kesal. Ervin hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya.
"Lha ini kamu bawa siapa? Cantik bener, Vin." tanya perempuan cantik itu. Wait, sepertinya aku dan Mbak ini pernah bertemu. Tapi dimana, ya?
"Lho, kamu ini kan gadis yang aku temui di supermarket beberapa minggu lalu. Iya kan, Dek?" tanya nya ceriwis sembari merangkul pundak ku. Aku tersenyum kikuk.
"Eh, i-iya, Mbak. Nama ku Aruna, gadis yang Mbak temui beberapa minggu lalu." ujar ku sedikit gugup. Mbak cantik ini sontak mengajak aku duduk. Sementara Ervin, dia diam sembari menatap aku dengan bingung.
"Nama aku Erliana, panggil aja Mbak Erlin. Mbak kakak nya Ervin." balas Mbak Erliana memperkenalkan diri. Oh, pantes aja mirip. Ternyata dia kakak nya Ervin. Ck ck ck dunia sesempit ini ternyata.
"Kamu pacar nya Ervin, ya?" tanya Mbak Erliana ngawur. Sontak aku menggeleng cepat. "Nggak, Mbak. Ervin in.."
"Calon pacar aku, gimana Mbak, cantik nggak?" potong Ervin dengan cepat. Aku melongo. Menatap Ervin dengan tatapan tak percaya. Ervin ngomong apa sih!
"Oh, masih calon toh. Baiklah Vin, Mbak tunggu kabar bahagia nya." sambar Mbak Erliana dengan senang.
"Iya Mbak, tunggu aja. Tapi jangan bilang ke Mami dan Papi. Tunggu mereka pulang."
Wong edan! Ervin bener-bener udah gilak! Aku? Calon pacar Ervin, cih, nggak banget!
Aku tersenyum kikuk sambil sesekali memelototi Ervin. Dia nampak santai sambil mencicipi cemilan kering yang ada di atas meja. Sesekali juga Mbak Erliana mengajak aku bicara, menanyakan perihal keluarga, pekerjaan, dan awal mula ketemu dengan Ervin.
Mbak Erliana juga bicara banyak mengenai keluarga nya, Papi dan Mami nya, suaminya dan juga pekerjaannya. Ternyata, rumah ini bukan rumah orang tua Ervin, melainkan rumah Mbak Erliana dan suami nya. Dan, yang paling membuat aku melongo, ternyata Ervin ini adalah anak dari pengusaha besar. Cabang perusahaan mereka sudah ada dimana-mana, termasuk ke Malaysia dan Singapura. Tapi kok, anak nya malah jadi Tentara? Songong pulak!
Yang menjadi pertanyaan, ngapain aku di ajak ke rumah Mbak Erliana? Dalam rangka apa? Jangan-jangan, dia mau pamer kekayaan nih! Cih, dasar Ervin geblek! Edan! Udah gesrek dia !
---
"Kenapa lo nggak pernah cerita?" tanya ku membuka suara saat kami berada di perjalanan pulang. Ervin terkekeh pelan sembari menatap ku.
"Segitu pengen taunya lo tentang keluarga gue?" cecar Ervin berbalik tanya. Aku risih, Ervin malah terus-terusan menatap ku dengan lembut.
"Nggak sih, cuma gue nggak nyangka aja ternyata lo anak orang kaya. Dan, aneh banget kenapa lo malah jadi Tentara. Bahkan gajinya nggak sebanding sama apa yang orang tua lo punya."
"Kalau lo mau tau alasannya, gue akan cerita. Tapi tolong, lo nggak boleh cerita ini ke siapa-siapa. Karena gue nggak mau ada orang yang deket sama gue karena ngincar harta doang."
Aku menyetujui. Lagi pula, mau cerita ke siapa. Ke Mbak Acha, nggak mungkin! Ke Mika dan Alika? Kayaknya nggak mungkin juga, mereka resek kalau aku cerita tentang cowok. Yang ada bakalan heboh satu bangsal.
"Gue cuma pengen hidup mandiri. Makanya gue ambil jalan ini. Mami awalnya nggak setuju dengan keputusan gue masuk Akmil. Dia bilang terlalu bahaya jadi Tentara, mending jadi pengusaha aja, ikutin jejak Papi. Tapi gue nolak, hidup dikelilingi kekayaan orang tua itu nggak enak. Makanya gue nekat ambil keputusan ini. Gue terus meyakinkan Mami sampai akhirnya dia setuju dan menerima alasan gue."
"Tapi gue nggak cuma jadi Tentara, gue punya bisnis sendiri, yaitu bisnis makanan. Dan, resto tempat kita makan tadi adalah restoran milik gue."
"Gue harap, setelah lo tau ini. Lo terus deket sama gue, dan nganggep gue ini sebagai seorang Tentara. Bukan sebagai seorang anak orang kaya. Dan gue harap, ini menjadikan awal pertemanan kita."
Deg!
Aku terlalu speechless dengan penjelasan Ervin. Ternyata dia ini menyimpan banyak rahasia yang begitu membuat aku bangga. Ervin nyatanya bukan anak manja yang tau nya cuma minta pada orang tua. Ervin justru lain, dia berbeda.
__ADS_1
"Kok diem?" tanya Ervin menyadari ku.
"Nggak apa-apa."
"Oh iya, gue minta maaf karena kata-kata gue terlalu kasar. Dan, nggak sepantasnya gue bersikap buruk sama lo. Gue harap, lo nggak menilai gue dari satu sisi. Melainkan dari sisi yang lain. Soal permintaan gue tadi, kalau lo nggak mau ya nggak apa-apa. Gue nggak akan maksa."
"Permintaan lo yang mana?"
"Gue harap, setelah lo tau ini. Lo terus deket sama gue, dan nganggep gue ini sebagai seorang Tentara. Bukan sebagai seorang anak orang kaya. Dan gue harap, ini menjadikan awal pertemanan kita."
"Gue nggak akan ninggalin lo. Meskipun sikap lo aneh, nyebelin, dan bikin gue jengkel. Gue akan tetap temenan sama lo. Dan nggak akan menilai lo dari satu sisi, melainkan sisi yang lain." ujar ku mantap dan penuh keberanian. Semoga keputusan ku ini benar. Lagi pula, Ervin orang baik. Dan sepertinya dia nggak akan membawa pengaruh buruk pada ku. Baiklah, es batu mulai mencair sekarang. Hati ku mulai luluh.
"Thanks."
"Hmmm."
Kami terdiam. Setelah keterbukaan ini, atmosfer berubah menjadi canggung. Entah malu atau apalah itu. Yang jelas, Ervin lebih banyak diam dan hanya fokus pada jalanan di depan. Dan aku, hanya memandangi jalanan lewat jendela mobil.
"Lho, Vin. Ini kan jalan ke rumah gue. Mau ngapain?" tanya ku setengah kebingungan. Mau apa malam ke rumah ku?
"Lo nggak butuh baju-baju dan keperluan koas? Bukannya menginap satu minggu di rumah Kapten Alief?" tebak Ervin seolah-olah dia tau kegiatanku selanjutnya. Ya ampun, aku saja sampai lupa masalah baju dan antek-anteknya. Lah ini Ervin? Kenapa bisa dia tau bahkan ingat dengan barang-barang ku?
"Nggak usah kaget gitu, gue dapet pesan dari Mbak Alisha buat nganter lu ngambil baju. Udah sana turun, jangan lama-lama, ini udah malem." desak Ervin setibanya di rumah. Aku terhenyak sesaat. Perlakuan Ervin sungguh di luar dugaan. Dia mampu membuat ku melongo kapan saja, hiks!
Baiklah, aku melipir dari hadapan Ervin. Meninggalkan beliau di dalam mobil sendirian. Ervin nampak tertawa geli melihat tingkah ku yang seperti orang bodoh ini. Iya lah. Aku jelas linglung dengan perubahan sikap Ervin yang jauh berbeda. Ervin nampak lebih hangat dan terbuka, dan sontak itu justru membuat ku bak orang gila.
Beberapa saat kemudian, aku keluar dari rumah dengan membawa tas ransel besar berisi pakaian. Sementara tangan kiri ku membawa beberapa buku-buku yang nantinya akan aku gunakan untuk keperluan koas.
Ervin turun dari mobil. Membantu aku membawakan tas ransel besar masuk ke dalam mobil.
"Om Altha udah tidur?"
"Udah."
"Oh syukurlah."
"Hmm."
"Cepet masuk deh. Udah malam, nggak enak soalnya harus masuk lewat provost." ujar Ervin menyuruhku masuk ke mobil nya. Setalah masuk, mobil lantas meninggalkan pekarangan rumah Papa.
---
"Ini kunci mobil lo."
"Thanks, Vin. Makasih juga udah repot-repot temenin ke rumah. Dan, makasih udah mau terbuka sama gue." balas ku ramah dan pelan.
"Iya sama-sama. Harusnya gue yang bilang makasih."
"Kok gitu? Kenapa?"
"Udah jangan di bahas. Yang ada lo nggak jadi pulang. Udah sana masuk." balas Ervin resek. Ya udah lah aku manut aja. Ini udah jam sepuluh malam, Mbak Acha pasti khawatir deh.
"Gue turun, Vin."
"Mau gue bantu?" tanya Ervin menawarkan bantuan. Aku menggeleng cepat. Tak ingin banyak merepotkan.
"Nggak usah, Vin. Gue bisa sendiri, kok." tolak ku halus.
"Oke lah."
Aku turun dari mobil. Sempat menyesal menolak bantuan Ervin. Sumpah, tas ransel ku berat. Di tambah buku-buku tebal di dalam totebag. Ku lihat mobil Ervin mulai berjalan dan hilang di telan kegelapan. Baiklah Aruna, rasakan penderitaan mu sekarang!
---
__ADS_1
Semoga suka, jangan lupa votmen, okay?