EPOCH

EPOCH
Bab 11


__ADS_3

Siang ini cuaca begitu panas. Matahari seakan enggan untuk menepi. Cahaya nya yang menyorot tajam mampu membuat kulit terbakar seketika. Banyak orang yang memilih mengunjungi cafe untuk duduk-duduk manja sambil menikmati segelas es atau kopi dingin.


Hal itu pun di lakukan Kinza dan Intan. Mereka berdua memilih salah satu cafe dekat kampus untuk sekedar bersantai ria.


"Belum ada kabar dari Claudia?" tanya Intan membuka suara pada Kinza yang masih sibuk dengan minuman nya. Gadis yang di tanya itu menghentikan kegiatan nya sejenak.


"Untuk hari ini nggak ada. Tiga hari yang lalu dia bilang bakalan sibuk sama UPRAK. Dan gue nggak tau sampai kapan." balas Kinza pelan. Intan manggut-manggut paham.


"Kira-kira pas lo nikahan, dia datang nggak?" tanya Intan lagi. Kinza mengedikkan bahu nya asal. Dia bukan dukun yang bisa tahu segala nya.


"Berdoa aja deh supaya dia libur, lagi pula gue nggak memaksa dia untuk datang. Secara, jarak Bogor-Malang itu jauh." imbuh nya sedikit kecewa. Memang benar adanya. Jarak ratusan kilo meter telah membuat Kinza dan Claudia terpisah jauh.


Kinza memilih untuk berkuliah di Jakarta, dan Claudia melanjutkan pendidikan nya sebagai seorang Dokter di salah satu Universitas Negeri di Malang.


"Ah, kenapa jadi mellow begini sih. Ha ha ha." ujar Kinza sambil tertawa. Tak apalah Claudia tak datang. Toh pernikahan ini bukanlah pernikahan impian Kinza. Hanya pernikahan lelucon saja.


...---...


Menjelang hari pernikahan, rumah Kinza mulai di padati sanak saudara yang berdatangan dari berbagai wilayah. Besok Kinza akan menikah, dan malam ini adalah acara pengajian. Rumah nya hanya di pakai untuk pengajian dan Ijab Kobul saja. Selebihnya mereka akan melaksanakan acara resepsi pernikahan di Gedung Braja Mustika, Bogor.


Kinza sudah cantik dengan balutan gamis brokat berwarna peach serta hijab senada. Polesan make-up yang tak terlalu tebal, membuat kesan cantik natural di wajah Kinza yang berseri-seri. Sangat pas untuk gadis seusia nya.


"Za, bisa ikut gue ke taman?" panggil Kenzo tiba-tiba.


"Iya sebentar." balas Kinza cepat.


"Kenapa?" tanya Kinza setibanya di taman belakang rumah.


"Jelasin ke gue soal Bang Al, Mbak Putri dan Bang Arjuna!" cecar Kenzo.


Tubuh Kinza langsung menegang sempurna. Semacam ada aliran listrik yang menyengat tubuh nya. Kenzo tau masalah Al, Putri dan Arjuna? Dari mana?


"Lo-lo tau dari mana?" tanya Kinza gugup. Tangan dan dahi nya berkeringat, menunjukkan betapa gugup nya gadis itu sekarang.


"Nggak penting gue tau dari mana. Yang jelas sekarang, lo harus jujur sama gue!" pinta Kenzo serius. Sisi kakak dari pria itu terlihat jelas. Kenzo mengkhawatirkan adik nya.


"Gue nggak bisa kasih tau, anu-itu-Mbak Putri,"


"Bilang semua nya sama gue!" cecar Kenzo.


"Gue nggak bisa, Jo!"


"Kenapa harus nggak bisa?! Ini pernikahan lo, pernikahan adik gue! Nggak seharusnya lo menutupi semua kebusukan Mbak Putri. Ini pernikahan, Za. Lo nggak bisa main-main setelah nya!" vonis Kenzo seakan mengetahui semua nya.


Kinza mematung seketika. Bibir nya terasa kelu dan nafas nya sedikit tercekat. Gadis itu takut setengah mati.


"Lo juga berhak bahagia dengan pernikahan ini!" sambung Kenzo.


"Nggak bisa, Jo. Ini bukan pernikahan impian gue! Apa untung nya buat gue, karena sudah merebut calon tunangan Mbak Putri?! Apa gue bisa bahagia karena menikah dengan Bang Al? Nggak Jo, Gue tersiksa." lirih Kinza. Tubuh nya bergetar seraya menahan isakan nya. Dada nya bergemuruh hebat dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Kenzo menarik tubuh Kinza ke dekapan nya. Tubuh Kenzo yang lebih tinggi dari Kinza membuat Kinza tenggelam di pelukan Kenzo.


Isak tangis langsung meluncur dari bibir tipis Kinza. Gadis itu tak bisa menahan gejolak di dada nya. Terasa begitu sakit dan menyesakkan untuk di ingat.


"Gu-gue nggak tau harus sampai kapan menyembunyikan masalah ini. Claudia pergi, Mama dan Papa seakan nggak peduli. Dan lo! Lo akan ninggalin gue karena masuk ke AKMIL beberapa bulan lagi."


"Gue sendiri, Jojo. Gue bingung harus apa setelah menikah dan setelah semua nya pergi. Gue hancur, Jo. Gue benar-benar hancur, hiks-hiks." racau Kinza sambil terus menangis. Penampilan nya sudah tak sebagus tadi. Ini lah Kinza. Kinza yang sudah berbeda dengan Kinza yang dulu. Kinza yang hancur kehidupan nya termakan perjodohan itu.


"Suutt, lo nggak boleh bicara seperti itu. Gue masih berada di sini sekitaran tiga bulan lagi. Dan sebelum gue pergi, lo bisa jadikan gue sebagai tempat curhat." ujar Kenzo.

__ADS_1


Kinza mendongakkan kepala nya, gadis itu menatap Kenzo dengan lekat. "Terima kasih, Jo." balas Kinza seraya mengeratkan pelukan nya pada tubuh tinggi milik Kenzo.


"Everything is gonna be alright. Don't be sad, okay?!"


"Okay!"


...---...


Kinza memperhatikan penampilan nya di depan cermin. Kebaya putih dengan kain batik sudah melekat pas di tubuh nya. Polesan make-up, serta hiasan kepala adat Sunda juga telah tertata rapi di wajah dan kepala Kinza.


Gadis itu menghela nafas nya pelan.


"Hari ini aku akan menikah? Ini mimpi kah? Tapi kenapa semua nya terasa begitu nyata?" gumam Kinza bertanya-tanya. Cukup. Kinza tidak boleh menangis. Dia harus terlihat bahagia di depan orang tua dan para tamu undangan.


"Mbak, jangan nangis ya. Make-up nya takut luntur, lho." ujar sang penata rias sambil membetulkan riasan Kinza di bagian ujung kelopak mata. Kinza langsung tersadar, seakan tertampar dengan kenyataan ini.


"Maaf ya, Mbak." balas Kinza sambil tersenyum canggung.


Pintu kamar nya terbuka. Menampilkan sosok Mama yang terbalut kebaya brokat berwarna cream. Senyum nya mengembang, begitu melihat putri nya sudah siap di depan cermin.


"Cantik sekali anak, Mama." puji Mama seraya ikut memperhatikan Kinza di depan cermin. Kinza ikut tersenyum.


"Tipu semua orang, buatlah mereka semua tersenyum." batin Kinza lirih.


"Makasih, Ma."


"Iya sayang. Ya sudah kita turun ya. Al dan keluarga nya sudah datang." ujar Mama seraya membantu Kinza berdiri.


Perlahan tapi pasti. Kinza di bantu Mama nya menuruni tangga. Semua mata langsung tertuju pada mereka berdua. Decak kagum tak henti-henti nya keluar dari bibir-bibir para tamu undangan. Kecuali Al. Pria itu nampak tak bergeming sedikit pun. Bahkan menoleh pun tidak.


Sesampainya di meja akad. Kinza langsung duduk di samping Al. Terlihat canggung sekali. Antara gugup dan ragu melanda kedua nya.


Acara demi acara telah di laksanakan. Beberapa menit lalu Al sudah merapal kan sebuah janji suci yang tak pernah di inginkan oleh kedua nya.


Seperti itu lah, kata-kata sakral yang di ucapkan Al.


Semua nya tersenyum bahagia. Tapi tidak dengan Kinza. Hati nya bahkan sudah hancur. Benar-benar hancur. Sekarang, gadis itu telah menjadi istri sah dari seorang Kapten. Inf. Althafariz Ramaditya Dirgantara. Sekaligus seorang perempuan yang sudah merebut kekasih Putri. "Ampuni aku, ya Tuhan." lirih nya dalam hati.


...---...


"FLASHBACK OFF"


Seorang gadis cantik nan mungil tengah meringkuk sambil menangis di atas kasur. Ah, tepat nya bukan gadis. Status nya telah berubah sejak sepuluh jam lalu. Dia, sudah resmi menjadi NY. Dirgantara. Istri dari seorang Tentara yang usia nya berbeda sepuluh tahun. Perjodohan sialan itu telah mengubah semua nya. Cinta, sahabat, dan semua kehidupan nya.


Kinza. Gadis itu masih terus menangis setelah akad selesai di laksanakan.


Hancur. Satu kata yang menggambarkan kondisi Kinza saat ini. Tubuh nya yang masih terbalut kebaya putih terbaring lemah di atas kasur. Gadis itu menangis kencang. Menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan nya.


"Maafkan aku, Mbak."


"Maafkan aku, Bang Juna."


"Kita sama-sama hancur sekarang." lirih Kinza sambil terus terisak. Dada nya sesak. Mata nya membengkak. Sakit sekali Tuhaaaan.


Tiba-tiba pintu terbuka. Sosok Al datang dan masih memakai beskap senada dengan kebaya Kinza. Kinza buru-buru menghapus air matanya. Atmosfer berubah menjadi canggung saat Al terus mendekat ke arah Kinza.


"Malam ini saya akan ke asrama. Ada beberapa yang harus saya urus. Pintu jangan di kunci" ujar Al datar seraya melepas baju yang terpasang di tubuh atletis nya.


Kinza mendongak. Dia langsung menatap ke arah Al.

__ADS_1


"Bukan nya ada cuti satu minggu? Terus apa yang Kakak urusin?" tanya Kinza ragu-ragu. Dia menatap Al dengan tatapan sendu.


"Bukan urusan kamu!" balas Al cepat. Kinza langsung diam.


"Tapi apa kata Mama dan Papa kalau sampai mereka tau Kakak nggak ada di kamar ku?" imbuh Kinza.


"Saya bisa cari alasan. Kamu nggak usah urusin saya." lagi-lagi Kinza terdiam. Dia menghela nafas nya pelan. Terserah apa kata pria ini.


Al mengganti baju nya dengan kaos hitam lengan pendek serta jeans selutut. Penampilan nya bukan seperti ingin ke asrama. Al justru terlihat seperti akan menemui seseorang.


Al pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Kinza. Dia langsung melajukan mobil nya menuju salah satu cafe ternama di Kota Bogor. Tak menunggu waktu lama, mobil nya sudah terparkir mulus di depan kedai kopi.


Al mencari sosok perempuan yang sangat ingin ia temui. Beberapa bulan lalu dirinya sibuk dengan acara pernikahan. Maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu.


Al memasuki kedai kopi tersebut. Mata nya mencari sosok perempuan cantik pujaan hati nya. Putri Naima.


"Put?" panggil Al sambil tersenyum tipis. Putri yang merasa terpanggil lantas menoleh ke sumber suara.


"Duduk, Al." tutur Putri datar.


"Udah lama nungguin aku?" tanya Al lagi. Putri menggeleng cepat. "Nggak kok."


"Sudah lama tak jumpa. Aku kangen kamu, Put." ujar Al hangat. Dia mencoba meraih tangan Putri. Tapi, gadis itu langsung menghempas nya.


"Nggak usah basa-basi. Sekarang katakan apa mau mu?" tanya Putri datar. Sudah cukup. Putri tidak boleh tergoda lagi!


"Kamu banyak berubah ya? Semua ini berkat Arjuna?" Al berbalik tanya. Putri mendelik. Dia tidak bisa menahan diri. Dia rindu pria ini. Dia rindu sosok Al.


"Al, stop! Jangan buat aku menjadi berat melepaskan mu!" lirih Putri.


"Aku nggak pernah meminta kamu buat melepas aku. Aku cinta sama kamu, Put! Cuma kamu yang ada di hati ku."


"Sekarang aku sudah menikah. Tapi, aku ingin tetap berhubungan dengan mu. Maaf kan aku, Put. Tapi rasa cinta ku pada mu terlalu bes..."


Plak!!


"Cukup, Al!" potong Putri cepat. Gadis itu menampar Al cukup keras. Untuk kedua kali nya Putri menampar Al. Menampar pria yang di cintai nya.


Al terdiam seketika. Pipi nya terasa panas sekarang. Cukup kuat tamparan yang di berikan Putri. Hingga, terlihat bercak kemerahan di pipi mulus Al.


"Aku nggak akan bisa berhenti." balas Al hambar.


"Lupakan aku, dan terima kehadiran Kinza. Jangan pernah kamu sakiti dia."


"Hubungan kita sudah berakhir sejak beberapa bulan lalu. Aku minta sama kamu, jangan pernah temui dan hubungi aku lagi." ujar Putri lirih.


"Lusa aku akan pindah ke Magelang. Aku ingin memulai kehidupan yang baru. Tanpa kamu. Tanpa rasa sakit ini. Dan tanpa kenangan kita." ujar Putri seraya meninggalkan Al sendirian. Al langsung mematung seketika. Al menatap kepergian Putri dengan lirih. Kisah nya berakhir sekarang? Disini? Di kota hujan ini?


"Aaarrgsss." racau Al frustrasi.


Tanpa Al sadari. Seseorang tengah mengintai nya. Orang itu tersenyum getir. Kepalan tangan nya yang kuat, seakan mewakilkan gejolak hati nya yang menggebu. Rasa marah dan kecewa berkumpul menjadi satu. Dia, pria itu adalah Kenzo Irsyanio Malik.


...---...


Suara tembakan membuat riuh suasana gedung Braja Mustika, Bogor. Rupanya Upacara Pedang Pora akan segera berlangsung. Terlihat dari dua puluh anggota Tentara sudah berjajar dan berjalan rapih serta gagah memasuki kawasan gedung Braja Mustika ini.


Kinza sudah berdiri tegap sambil menggandeng lengan Al. Jujur saja dirinya merasa gugup. Selain harus berpura-pura bahagia, dia juga gugup karena sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian. Tubuh mungil nya terbalut gaun berwarna hijau senada dengan pakaian yang di pakai oleh Al. Wajah cantik nya sudah di poles make-up yang tidak terlalu tebal. Serta buket bunga sebagai pemanis di pegang oleh Kinza kuat-kuat.


Sementara Al. Pria itu nampak terlihat gagah dengan balutan seragam Pakaian Dinas Upacara (PDU). Berbagai brevet kecakapan dan beberapa penghargaan yang terpasang di dada nya, menunjukkan prestasi Al yang terbilang banyak.

__ADS_1


Sekilas, decak kagum terlihat dari gadis cantik itu. Senyum nya mengembang melihat dan merasakan serangkaian acara Pedang Pora yang begitu khidmat dan terkesan romantis. Banyak orang-orang yang mengabadikan moment ini. "Sangat di sayangkan, pernikahan ini berlangsung tanpa ada nya cinta." lirih Kinza dalam hati.


Kedua nya mulai berjalan di bawah hunusan pedang. Sangat mengagumkan. Kinza bak menjadi ratu. Ratusan pasang mata menatap nya. Secuil rasa bangga terbesit di hati Kinza. "Bangga juga ya dapet suami Tentara. Tapi, lebih bangga kalau menikah dengan CINTA!" batin nya menggebu.


__ADS_2