
“Selamat ya, semoga pernikahan ini menjadikan awal kebahagiaan untuk kalian berdua.” ujar Putri lirih. Kinza tertegun sesaat. Dia tak menyangka jika Putri akan menghadiri acara pernikahan nya bersama seorang pria.
Dan, di samping Putri. Pria itu adalah Arjuna. Sosok yang sangat ingin Kinza temui sejak satu tahun lalu. Sosok yang tiba-tiba menghilang tanpa pernah mengucapkan sepatah kata pun. Sosok yang sangat Kinza rindukan selama ini. Dia datang, dengan sosok yang berbeda.
“Happy wedding ya, Kinza dan Bang Al. Semoga selalu bahagia.” ucap Arjuna getir sambil memaksakan senyum nya. Hati nya sakit melihat pemandangan di hadapan nya ini. Tapi, dia berusaha tetap terlihat baik-baik saja.
Tentara boleh sedih kan? Tentu saja! Hal ini sedang di rasakan oleh pria bernama lengkap Arjuna Bima Nusamalima. Sakit melihat orang yang di cintai nya, bersanding dengan pria yang brengsek seperti Al. “Aku harap, keberuntungan dan kebahagiaan selalu berpihak kepada mu. Kamu orang baik, tidak pantas untuk di sakiti. Berbahagialah Kinza, doa ku selalu menyertai mu.” lirih Arjuna dalam hati sebelum turun dari pelaminan.
Kinza masih tak bisa berkata-kata. Otak dan hati nya terus bertanya-tanya. Sakit juga bahagia turut serta dalam kekalutan nya. Sekarang dia harus apa?
...---...
Pesta pernikahan selesai di laksanakan pada pukul sepuluh malam. Meskipun demikian, para tamu undangan tetap berdatangan ke rumah Kinza sampai larut. Banyak juga sanak saudara yang masih terus bermunculan hingga saat ini.
Kinza sudah mengganti gaun pesta nya menjadi baju tidur biasa. Rasa pegal juga kantuk menyelimuti gadis itu. Sejauh ini, Kinza hanya sendiri di kamar nya. Beberapa menit lalu, Al turun ke bawah untuk menemui anggota yang juga bertamu. Tak apalah, yang Kinza butuhkan sekarang hanyalah istirahat.
Sementara di taman belakang rumah. Al bersama anggota nya tengah duduk sambil mengopi ria. Gelak tawa terdengar nyaring hingga menambah suasana hangat.
“Suh, sudah malam begini masih duduk-duduk aja sama kita-kita. Nggak mau nyusul istri?” canda Mayor Kristal, seketika langsung mengundang gelak tawa lagi. Al geleng-geleng kepala sendiri.
“Ah Abang bisa saja, masih enak begini, Bang.” balas Al kikuk.
“Izin, istri Danton cantik sekali ya, apalagi saat memakai gaun pesta tadi.” celetuk Lettu Ivan.
“Hush nggak baik memuji istri orang, apalagi istri Danton sendiri. Di kasih sikap tobat abis kamu.” sambar Mayor Kristal. Lagi-lagi tawa memecah, mencairkan suasana di antara mereka.
Hingga akhirnya, mereka semua berpamitan saat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Para anggota nya kembali ke Batalyon, sementara Al kembali ke kamar nya.
Perlahan, Al membuka pintu kamar Kinza. Dia mendapati seorang perempuan tengah terbaring meringkuk di atas kasur.
Al berjalan ke kamar mandi, dia melepaskan Pakaian Dinas Upacara yang sejak pagi tadi melekat di tubuh nya. Rasa penat dan kantuk menyeruak ke seluruh tubuh Al. Al juga butuh istirahat sekarang.
Setelah mengganti pakaian nya dengan kaos oblong berwana putih, serta celana pendek selutut, Al mendekati ranjang. Sejenak dia memperhatikan Kinza yang tengah damai dalam tidur nya. “Gue kudu tidur berdua gitu? Nggak! Lo nggak bisa lakuin itu!” Gumam Al prustasi.
Al memilih mundur. Dia mencari tikar atau benda apapun yang bisa dijadikan sebagai alas tidur. Mata nya mencari ke setiap sudut ruangan. Tak lama kemudian, mata Al terpaku pada lemari box di sudut ruangan. Sebuah tikar plastik bertengger di sebelah nya. Al mengambil nya lalu menggelar nya di lantai.
...---...
Banyak yang berubah sejak satu tahun lalu. Sedikit demi sedikit perubahan itu terjadi pada kehidupan Kinza. Gadis itu menjadi sedikit lebih dewasa. Sifat manja nya perlahan memudar sebab, dia lebih sering mengurung diri di kamar ketibang bermanjaan dengan Mama atau Papa. Bukan tanpa alasan, justru hal ini terjadi karena Kinza sedikit kecewa pada Papa juga Mama.
Kinza juga lebih sering terbangun pagi-pagi atau di sepertiga malam. Gadis itu belajar merutinkan ibadah sholat tahajud. Meminta dan mencurahkan semua isi hati nya. Seperti pagi ini, Kinza terbangun pada pukul tiga dini hari. Mata nya mengerjap beberapa kali, hingga fokus nya sudah kembali.
Pandangan nya menyapu ke sekitar. Dan, gadis itu mendapati pria yang sedang tertidur pulas dengan beralaskan tikar plastik sambil memeluk sebuah guling. Wajah nya yang damai menambah ketampanan nya. Nafas nya teratur, terlihat dari perut nya yang kembang kempis bertukar oksigen dan karbondioksida.
“Segitu benci nya kah sama aku?” batin Kinza kecut. Kinza tak berharap pada Al. Tapi, entah kenapa hati nya sakit saat melihat tingkah Al yang seakan sangat membenci nya.
“Salah ku dimana? Perjodohan ini pun bukan aku yang menginginkan nya.” gumam nya lirih. “Ah sudah lah, buat apa sih aku mikirin dia? Bikin sakit hati yang ada!” ucap nya seraya menyibakkan selimut motif Doraemon. Setelah nya, gadis itu bergegas untuk membersihkan diri dan menemui Tuhan-Nya.
...---...
“Kak, bangun. Ini udah masuk waktu subuh.” panggil Kinza sambil menggoncang lengan Al. Perlahan Al terbangun, namun kesadaran nya belum begitu pulih.
“Jam berapa?” tanya Al datar.
“Setengah lima pagi.”
__ADS_1
“APA?!” teriak Al memekik. Kinza langsung tersentak kaget.
“Apa-apaan sih, Kak. Pagi-pagi begini malah teriak gak jelas!” decak Kinza.
“Saya harus ke Airport.” balas Al sambil bergegas. Pria itu buru-buru mencari pakaian di dalam tas ransel motif Tentara. Semua yang ada di dalam nya di acak-acak begitu saja. Kinza bingung. Kenapa juga Al sepanik ini?
“Kakak kenapa sih? Mau ngapain ke Airport?” bingung Kinza.
“Saya mau temuin Putri, dia mau pindah ke Magelang.” balas Al enteng. Kinza menghela nafas nya gusar.
“Biar aku yang siapin baju, Kakak. Mendingan, Kakak mandi aja sana. Terus jangan lupa sholat subuh.” ujar Kinza. Al langsung menghentikan kegiatan nya. Pria itu menatap Kinza dengan lekat.
“Kamu sehat?” tanya Al.
“Ya sehat lah, udah deh Kakak cepetan mandi, sanaaa!”
“Okay!”
Tanpa ba-bi-bu dan tanpa embel-embel lain nya, Al segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Pergerakan nya lincah dan gesit.
Sementara Kinza. Perempuan itu menyiapkan semua pakaian Al. Mulai dari celana jeans cream selutut, kaos lengan pendek berwarna navy, hingga celana dan kaos dalam. Kinza tersenyum, tapi hati nya sakit.
“Harus terbiasa. Kinza nggak boleh cengeng, ya?!” lirih Kinza.
Lima menit berlalu. Al sudah selesai mandi. Terdengar dari suara knop pintu yang di putar.
Al hanya memakai handuk berwarna hijau muda yang dililitkan di pinggang ramping nya. Tubuh atas nya di biarkan terbuka. Dada nya bidang serta perut kotak-kotak yang membuat Kinza terkesiap. Pemandangan apa yang baru saja di lihatnya?
“Baju saya sudah disiapkan?” tanya Al membuyarkan lamunan Kinza.
“I-iya, s-su-udah kok.” ucap nya terbata. Wajah gadis itu memerah. “Duh ****-****-****! Kenapa gugup sih, aduh malu nyaaa!” batin Kinza berdesir.
“Kenapa? Kamu gugup liat saya bertelanjang dada seperti ini?” cecar Al. Matanya tetap terfokus pada Kinza.
“N-nggak, kok. Cepet pakai baju nya, habis itu sholat. Aku mau ke bawah bantu Mama bikin sarapan.” ujar Kinza dengan gusar. Dengan susah payah ia menyembunyikan kegugupan nya. Yang jelas, dia butuh lenyap dari hadapan Al sekarang.
Al memperhatikan punggung gadis yang kian menghilang. Sesuatu di dalam hati nya berdesir. Sebersit rasa hangat memenuhi hati nya. Al tersenyum penuh kemenangan. “Mudah nya bikin bocil itu malu.” gumam Al puas.
...---...
“Kepindahannya Mbak Putri ke Magelang atas dasar apa? Apa dia mau jauhin Kakak?” tanya Kinza saat mobil mereka mulai melaju. Kinza ikut menemani Al menemui Putri di Bandara. Bukan tanpa sebab. Gadis itu pun punya maksud untuk ikut membersamai Al.
Al menatap gadis di samping nya. “Nggak usah tanya itu bisa kan? Makin kesini makin kepo aja kamu.” sindir Al judes. Bukan nya menjawab. Al justru malah berbalik tanya dan mengelak.
“Aku pengen tau, Kak. Kalian begini karena perjodohan kita.” balas Kinza kecut.
“Ah sudahlah, saya malas bahas ini. Buat apa sih kamu tau? Apa untung nya buat kamu?” tandas Al tajam. Sorot matanya menyiratkan kemarahan. Apa salah jika bertanya demikian? Al benar-benar sudah keterlaluan.
Kinza langsung terdiam. Dia sadar posisi. Al seperti ini karena perjodohan yang dua hari lalu telah terlaksana. Tapi apakah Al sadar, bukan hanya dirinya yang terluka. Kinza pun tersakiti karena nya.
“Maaf, Kak.” imbuh Kinza pelan.
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Tepat nya pada pukul delapan kurang dua puluh menit. Tanpa berpikir panjang, Al segera mencari keberadaan wanita yang di cintai nya.
Banyak nya orang yang berlalu lalang membuat akses jalan sedikit tersendat. Hal ini mengakibatkan Al harus berlarian begitu juga Kinza. Nafas kedua nya terengah-engah ketika sampai di ruang tunggu, mata mereka langsung mencari ke sekitar. Dan akhirnya, kedua manusia itu menemukan sosok yang di cari. Orang itu adalah Putri Naima.
__ADS_1
Al mengatur nafas nya sejenak. Perlahan tapi pasti kaki nya melangkah ke tempat Putri berdiri sekarang. Putri tak sendiri, ada Arjuna di samping nya. Ke-empat orang itu sama-sama terkejut.
“Saya mau bicara sama, Putri, empat mata saja.” ujar Al dingin. Putri langsung menatap Arjuna, lalu pria itu mengiyakan dengan menganggukan kepala pelan, setelah itu pergi entah kemana.
Apa kabar dengan Kinza? Gadis itu justru mematung di tempat. Dadanya bergemuruh sebab menahan rindu kepada Arjuna.
Arjuna mendekati Kinza. Seulas senyum terpasang di bibir tipis nya.
“Hai, apa kabar?” sapa Arjuna lembut. Kinza masih terdiam, matanya masih tak berhenti menatap Arjuna.
“Za?” sambung Arjuna.
“Eh, iya Bang. Ada apa?” ujar Kinza gugup.
“Kamu ngelamun?” tanya Arjuna sambil terkekeh. Kinza tersenyuk kikuk sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
“Ah, nggak juga. Anu-itu, Bang. Ah, udah lama nggak bertemu. Bang Juna kemana aja?” tanya Kinza spontan. Semua pertanyaan yang ada di pikiran nya langsung dilontarkan begitu saja.
Arjuna diam sesaat. Pria itu tak langsung menjawab pertanyaan Kinza. Sangat tidak mungkin Arjuna harus mengatakan yang sebenarnya. Kinza bisa tersakiti saat itu juga.
“Abang tugas di perbatasan Kalimantan. Maaf tak sempat pamit sama kamu.” ujar Arjuna. “Maafkan aku, Kinza.” batin Al gusar.
“Ehm, i-iya nggak apa-apa, Bang. Kinza juga minta maaf sebab tak memberitau soal pernikahan Kinza dan Kak Al.” imbuh Kinza tak enak. Arjuna tersenyum tipis.
“Iya nggak apa-apa, kok. Semoga Kinza bahagia selalu, ya?”
“Kinza mau bicara sesuatu.”
“Apa itu?” tanya Arjuna.
Kinza menghela nafas nya gusar. Haruskah dia mengutarakan semua nya pada Arjuna? Tapi bukankah ini lebih baik? Ah, sudahlah. Biarkan gadis itu mengatakan yang sejujurnya.
“Kinza cinta sama Abang. Maafkan Iza karena telah lancang mencintai Bang Juna. Tapi, sepertinya kita tak akan pernah bisa disatukan.” lirih Kinza. Air wajah nya terlihat murung.
Arjuna semakin mendekat sambil memasang senyum nya. “Nggak apa-apa, kok. Cinta itu tidak harus memiliki, kan? Sekarang, tugas Kinza hanyalah berusaha mencintai Bang Al. Lupakan Abang, dan terima kehadiran Bang Al. Paham?” balas Arjuna lembut. Sakit sekali rasanya mengatakan ini. Haruskan Arjuna berbohong pada hati nya sendiri? Haruskah Arjuna merelakan Kinza untuk Al? Tuhaaan, kenapa ini begitu menyiksa!
Sementara di lain tempat. Al bersama Putri masih terus berdebat. Pasal nya, pria itu terus menahan Putri agar tak pergi. Al juga terus mengatakan bahwa dirinya mencintai Putri. Perempuan mana yang hati nya tak luluh diperlakukan demikian?
“Aku harus pergi, Al. Sekarang aku minta sama kamu. Tolong lupakan aku, dan hapus rasa cinta mu padaku. Cintailah Kinza, dia adalah istri mu, Al!” ujar Putri untuk yang kesekian kali nya.
“Aku nggak bisa, Put. Aku cuma cinta sama kamu.” balas Al gusar.
“Aku nggak cinta sama kamu, aku benci sama kamu, Al. Kamu laki-laki brengsek yang pernah mengisi hati ku. Cukup sudah, aku tak ingin mengenal mu lagi.” imbuh Putri lirih, gadis itu perlahan meninggalkan Al yang masih membisu.
Waktu tersisa lima menit, Putri lantas mencari keberadaan Kinza dan Arjuna.
“Mbak harus pergi, tolong kamu jaga Mas Al, ya? Buat dia melupakan Mbak dan berganti mencintai mu.” ujar Putri pada Kinza. Seulas senyum tercetak jelas di bibir ranum nya.
Kinza lantas memeluk Putri. “Terima kasih dan maaf, Mbak. Semoga, Mbak Puput bahagia selalu.” balas Kinza sambil terisak.
“Iya, Mbak pamit yaa.”
“Ar, gue pamit ya. Kalau tugas lo selesai, lo harus pergi ke Magelang. Gue selalu nungguin lo, Ar.” ujar Putri pada Arjuna. Pria itu lantas memeluk Putri.
“Iya, lo hati-hati ya. Gue pasti akan menemui lo setelah tugas gue selesai. Jaga diri baik-baik, ya?” balas Arjuna lembut.
__ADS_1
Kinza memperhatikan mereka. Sakit bukan main melihat pemandangan di depan nya. Arjuna, pria yang di cintai nya memeluk perempuan lain.
“Terima kasih sudah menyadarkan ku.” batin Kinza lirih.