
Kinza diam tergugu saat Al bertanya "Kamu siapa?" Gadis berparas cantik itu langsung terlihat shock berat.
"...D-dok, ini mak-maksudnya gimana?" tanya Kinza gagap. Wajah gadis itu terlihat cemas dan tak santai.
Sang dokter terlihat bingung sesaat, "Begini bu, akibat benturan yang lumayan kencang terhadap kepala Kapten Al. Seperti nya Kapten Al mengalami amnesia sebagian."
Deg!
Dunia Kinza seakan runtuh detik itu juga. Wajahnya murung, menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah. Sementara itu, Zahra juga Sada mendekati Kinza. Mendekap gadis itu kedalam pelukan nya. Kinza tak kuat, gadis itu langsung menangis kencang saat itu juga.
"Nggak mungkin ini terjadi, hiks-hiks. Kenapa kak Al lupa sama aku sih? Kenapa dia jadi amnesia kayak gini, Bun?" racau Kinza semakin terisak. Dengan sabar Sada juga Zahra menenangkan gadis itu.
Sementara Al, dia masih nampak linglung. Mungkin tak biasa dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Apalagi suara bising yang ditimbulkan oleh tangisan Kinza.
"Begini bu, Kapten Al hilang ingatan sebagian. Dia hanya bisa mengingat orang-orang yang bersama nya sekitaran dua tahun lalu. Selebihnya dia akan lupa. Saya sarankan, untuk tidak memberikan Kapten Al pertanyaan tentang ingatan masa lalu nya. Karena itu bisa mempengaruhi kinerja otak Kapten Al. Hasil diagnosa bisa diambil tiga hari mendatang." jelas sang Dokter sebelum akhirnya pergi.
Kinza terduduk lemas dengan air mata yang terus berderai. Gadis itu merasa kacau, hilang arah, dan sangat menyesal.
Zahra membantu Kinza berdiri, memboyong gadis itu untuk duduk di sofa. Sementara kedua bapak-bapak nya asik mengajak Al mengobrol. Merangsang Al supaya tetap terjaga.
Kinza memperhatikan Al dari kejauhan, tatapan gadis itu terlihat sendu. Sesekali dia mengusap air mata yang terus berjatuhan. Pikiran nya melayang kemana-mana, juga perkataan dokter membuat otak nya bekerja keras.
"Kak Al hanya ingat pada orang-orang yang telah bersamanya selama dua tahun lalu. Itu tandanya dia nggak akan ingat aku, dia hanya ingat mbak Putri. Ya Tuhan, kenapa ini semua terjadi? Kenapa hati ku sakit sekali, sesak rasanya. Arghsss!" batin Kinza meronta.
...---...
Kinza Irsyania Malik POV
Menangis, menangis, dan menangis. Apasih yang bisa Kinza Irsyania Malik lakuin sekarang? Ya cuma nangis, hiks!
Aku terkejut, jelas! Aku panik, jelas! Aku shock, sangat jelas! Arghss, kenapa ini semua terjadi begitu saja? Tanpa tanda, dan tanpa jeda. Sungguh Tuhan, ini sangat menyakitkan!
Aku duduk di sofa sembari menangis kencang, sesekali aku sesenggukan akibat shock berat ditambah tangis ku yang tiada hentinya. Kenapa hidup ku seperti ini? Kenapa kisah cinta ku serumit ini? Sumpah, seperti sebuah drama yang sedang dimainkan.
Bunda memberi ku segelas air hangat, kata nya supaya aku lebih relaks. Tapi nyatanya nggak sama sekali! Aku malah semakin gencar menangis sambil memeluk mama.
Sesekali aku melihat interaksi antara papa, ayah dan kak Al. Mereka terlihat begitu akrab, dengan papa juga macam itu. Iyalah jelas akrab, mereka sudah kenal sejak lama. Sementara aku? Baru muncul di kehidupan kak Al selama satu tahun enam bulan. Jadi dia bakalan lupa dong sama aku? Iya Kinza, itu pasti, hiks!
"Ma, kak Al lupa sama aku. Gimana dong? Ini semua salah aku, ma. Aku yang udah buat kak Al kayak gini, hiks-hiks." racau ku terus-menerus. Mama tak ambil pusing, beliau hanya mengusap punggung ku dan sesekali membisikkan ku kata-kata semangat. Ya amsyong, gimana aku bisa semangat? Lha wong penyemangat ku sedang terbaring lemah, terlebih dia tak ingat dengan ku sama sekali. Jujur itu sakit, sangat-sangat sakit.
__ADS_1
"Kinza yang sabar, ya. Mama yakin sedikit-demi sedikit Al pasti akan ingat Kinza. Sekarang Kinza hanya perlu berdoa supaya ingatan Al kembali ke semula." balas mama sambil mengusap air mata ku.
"...Tap-tapi sampai kapan, ma? Jujur aku nggak mau kayak gini, aku pingin kak Al ingat aku. Itu aja, aku nggak minta lebih." hu hu hu terus aja terus nangis. Menangis memang tak akan menyelesaikan masalah, setidaknya bisa membuat hati sedikit melega.
"Kinza istirahat, ya." pinta bunda Sada dengan lembut. Aku menggeleng lemah.
"Kinza pingin bicara dengan kak Al, boleh kan bunda?" tanya ku pada bunda Sada.
Beliau menggeleng cepat. "...No sayang, ingat kan apa ucapan dokter? Hal itu hanya akan membuat kinerja otak Al melemah. Percaya sama bunda, cepat atau lambat ingatan Al pasti kembali." balas bunda meyakinkan ku. Sumpah demi apapun, aku nggak bisa lakuin apa-apa. Aku terlalu lemah, ada yang bisa bantu aku kah? Tulung, ini terlalu menyiksa ku.
"Za, papa dan mama pulang dulu ya. Besok ada dinas keluar kota. Ingat pesan papa ya nak, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Bertingkah lah sewajarnya saja. Papa yakin, Kinza bisa melewati semua ini." ujar papa lembut. Beliau mencium puncak kepala ku. Setelah itu meninggalkan aku.
Begitu juga dengan mama, dia melepaskan pelukan nya dengan perlahan. Tak lupa dia mencium juga puncak kepala ku, setelah itu pamit undur diri.
Okay, kini hanya tersisa aku, bunda, dan ayah. Beberapa menit setelah papa dan mama pulang kerumah, aku lantas menghentikan tangis ku. Capek juga lama-lama menangis, bikin dada sesak dan pening kepala, hu hu hu.
Aku melangkahkan kaki mendekati brangkar kak Al. Wajah suami ku terlihat damai saja, seperti membaik lebih cepat. Syukurlah, aku sedikit melegah bahwa dia baik-baik saja. Aku juga merasakan sedih yang mendalam sebab mengingat perkataan dokter Ibram.
Ayah menyudahi perbincangan nya, beliau lantas menyusul bunda duduk di sofa, serta-merta membiarkan aku berbicara berdua dengan kak Al. Kulirik wajah kak Al sekilas, ah, semakin lama memandang semakin sakit juga yang kurasakan. Harus gitu ya, aku nangis lagi di depan dia. No, ogah! Secara kak Al pasti tak mengingat ku, setidaknya aku nggak mau terlihat lemah pada first meet kami.
"Kakak baik-baik aja?" tanya ku sedikit lesu.
"Kak Al benar-benar tidak ingat aku?" tanya ku memastikan. Dia mengangguk singkat.
"Saya pertama kali lihat kamu, memang nya kamu siapa?" tanya Kak Al linglung. Nangis jangan nih? hiks-hiks-hiks aku nggak kuaaaat!
"Aku Kinza, istri sah nya kakak. Kita sudah pernah menikah, tapi sayang sekali kakak lupa dengan semua itu." balas ku gamang. Oke, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata ku.
"Kamu ngaco, ya, jelas-jelas tunangan saya Putri. Bukan bocah ingusan macam kamu! Dan kita sudah menikah? Cih ngaku-ngaku aja kamu." tandas kak Al cepat. Aku tertohok, oke gak apa-apa beliau lupa, tapi tulung jangan sebutkan nama itu lagi. Sumpah aku eneeeeg!
"Oke baiklah, nggak apa-apa kalau kakak nggak ingat. Yang jelas kakak tuh cinta sama aku, dan aku cinta sama kakak. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Yang penting kita sudah menikah!" ucap ku kukuh. Ah bodo amatlah sama imej. Sama suami sendiri ngapain malu. Meskipun dia amnesia, tapi nggak salah dong aku?
"Pede gila, saya nggak cinta sama kamu, ya. Tolong jangan mengada-ngada, ouch aarrghh." ucap nya terhenti. Dia sedikit berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Aku langsung diam, sementara Bunda dan ayah langsung menyongsong kepada ku. Mereka panik sepertinya, "Al kenapa, apa yang sakit?" tanya bunda panik.
Kak Al menunjuk ke arah ku, "Tolong jauhkan dia, bun. Kepala Al sakit sekali bila melihat bocah ini." tandas Kak al kesakitan. Aduh, rupanya aku salah lagi ya? Sakit banget sih diusir gitu aja sama suami sendiri. Sakit nggak ketulungan, cuy!
...---...
__ADS_1
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
Aku memegangi kepalaku yang terasa sakit. Kalian tentu tau apa penyebab nya. Gara-gara si Kinza dodol wk wk wk. Eh tapi kok Al bisa kenal dia, sih? Okay, aku mau kasih tau rahasia besar.
Sebenarnya aku tidak hilang ingatan. Eits, jangan marahi aku dulu, jangan nuduh aku sembarangan, okay?Jangan langsung kesel ya, kalian harus baca penjelasan dari aku dulu.
Pertama, aku lakuin ini supaya membuat Kinza jera atas kelakuan nya. Bukan berarti aku balas dendam, sumpah nggak gitu kok. Justru aku mau mendidik dia supaya nggak gampang marah, dan nggak gampang mengambil keputusan saat keadaan marah. Aku cuma pingin Kinza lebih sabar, dan bisa mengatur emosi supaya lebih baik kedepannya.
Kedua, aku pingin ngerjain dia wk wk. Sebenarnya aku rindu, sangat-sangat rindu tingkah konyol gadis itu. Aku rindu sikap manja nya, rindu cemberut nya yang kelihatan begitu manis, dan aku rindu omongan nyablak nya. Ah bukan nyablak, dia lebih ke keras kepala. Kukuh sama pendirian nya gitu. Maka dari itu, aku memilih cara ini. Di pikir-pikir jahat juga ya, aku? Tapi gimana dong, hanya ini satu-satunya cara. Jadi no protes, no marah-marah!
Ketiga, aku pingin tau seberapa besar usaha dia untuk membuat ku yakin kalau aku mencintai dan mengingat nya. Secara ya, yang dia tau itu aku sedang mengalami amnesia. Jadi ku pikir dia akan bekerja keras mengembalikan ingatan ku, tapi aku salah. Dia malah terburu-buru, ngajak aku ngobrol, memberitahu kalau aku sudah nikah. Ini anak beneran oon ya, ya kali orang amnesia dikasih pertanyaan yang berat-berat. Hiii, bikin gemas, bikin pingin sumpel mulutnya pakai bibir!
Jujur agak ngeri juga sih, aku takut amnesia beneran. Ah, tapi sepertinya Tuhan berpihak kepadaku. Semoga saja, ya? Niat ku nggak jahat-jahat, kok. Ini buat kebaikan rumah tangga kami berdua.
...---...
"Oke baiklah, nggak apa-apa kalau kakak nggak ingat. Yang jelas kakak tuh cinta sama aku, dan aku cinta sama kakak. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Yang penting kita sudah menikah!" ini contoh kalimat yang dia lontarkan kepada ku. Kebayang gak sih, gimana kalau orang yang menderita amnesia betulan diberi pernyataan macam itu. Bisa-bisa edan, pusing tujuh keliling bahkan koma lagi. Tapi untunglah itu tak terjadi padaku. Hello, aku cuma akting aja di depan dia, pura-pura sakit. Walaupun sakit beneran juga.
Sebenarnya nggak tega lihat dia menangis. Jujur aku kepingin peluk dia saat itu juga, tapi lagi-lagi aku kepikiran akting ku. Semoga dia nggak curiga deh!
Oh iya, soal mama, bunda, ayah dan papa, serta dokter Ibram. Sebenarnya mereka juga ku ajak kompromi. Mereka juga akting lho sebenarnya. Pinter kan aku? Hebat juga lho, sadar dari koma langsung membuat rencana picik ini, wk wk wk. Abis gimana lagi dong, aku benar-benar kepingin Kinza menjadi lebih baik lagi, ah itu sih alasan mu aja Al, doeng!
Ku lirik ke samping kanan, Kinza-gadis itu terduduk di atas sofa dengan wajah tertekuk-tekuk, bibir manyun dan mata membasah. Aih, aku nggak tahan deh pengen meluk tubuh mungil nya. Pingin rasanya mendekap dia kedalam pelukan ku. Tapi aku sadar kondisi dan situasi. Lagi pula keadaan ku belum baik secara menyeluruh, kepala ku juga kadang sakit seperti di pukul-pukul. Mungkin efek terbentur kencang saat kecelakaan, mungkin juga efek tertidur selama sepuluh hari lamanya.
Ah iya, ngomong-ngomong soal kecelakaan. Ya, aku memang mengalami nya. Disaat aku antusias menjemput istri ku di puncak, justru aku yang hampir di jemput malaikat maut. Tapi syukurlah, aku masih diberikan kesempatan hidup. Buktinya detik ini aku kembali bernafas meskipun banyak luka-luka yang hinggap di tubuh molek ku.
Waktu itu jalanan terbilang ramai lancar, cuaca juga baik. Tapi entah kenapa pikiran ku tiba-tiba kacau, amburadul kemana-mana. Aku memikirkan Kinza, memikirkan kata-kata apa yang harus aku ucapkan saat bertemu dia nanti, memikirkan dia akan menerima penjelasan ku atau tidak, serta memikirkan dengan siapa dia berada di puncak selama satu minggu.
Sumpah, pertanyaan itu langsung membuat ku ambyar seketika. Fokus ku tiba-tiba hilang, bahkan aku sampai tak sadar sebuah mobil sedan di depan ku berhenti mendadak. Jelas aku menghindari tubrukan dengan mobil itu, aku membanting stir ke samping dan menabrak sebuah pohon besar. Benturan nya lumayan kencang, hingga mengakibatkan aku hilang kesadaran.
Dari situlah awal mula kecelakaan ini terjadi. Suasana jalanan puncak langsung ramai dan macet parah. Iya sih, secara ini weekend ditambah insiden kecelakaan yang menimpa ku. Okay, lengkaplah sudah! Aku langsung di boyong ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Hingga sepuluh hari kemudian, tepat nya jam 18.00 aku sudah sadarkan diri. Ya, yang aku cari pertama kalinya yaitu Kinza. Tapi sayang, beliau tidak ada di dekat ku saat itu.
Tapi aku tak masalah, mama bilang, Kinza sedang pulang untuk berbebenah diri. Katanya supaya kelihatan cantik saat aku membuka mata. Aih, menggemaskan sekali tingkah nya.
Ku pikir dia akan datang cepat, tapi entah kenapa begitu lama sekali. Jujur aku merasa cemas, lantas aku memanjatkan doa untuk keselamatan beliau. Cukup kesal sih menunggu dia yang tak kunjung datang, lantas tiba-tiba ide jahil muncul di benakku. Nggak jahil juga sih, buktinya orang tua juga mertua ku setuju atas tindakan yang akan aku tempuh. Mereka juga setuju untuk memainkan peran masing-masing, dan tadaaaa, Kinza masuk ke dalam perangkap ku wk wk wk.
Semoga dia nggak marah saat mendengar penjelasan ku, semoga dia juga mengerti kenapa aku melakukan ini, dan semoga kejadian ini membuat nya semakin baik untuk menyongsong kehidupan rumah tangga yang terbilang rumit.
__ADS_1