EPOCH

EPOCH
Bab 33


__ADS_3

Para tamu undangan mulai memadati kediaman Mayor Althafariz Ramaditya Dirgantara. Mulai dari ibu-ibu pengajian yang mana itu adalah ibu-ibu pengurus Persit. Anak-anak yatim yang sengaja di undang untuk santunan, dan kerabat-kerabat terdekat dari Mayor Althafariz maupun Ibu Kinza.


Tak hanya itu, ada Komandan, wakil komandan dan para istri. Ada juga anggota dan orang-orang terdekat mereka. Semua berkumpul dan saling menjalin tali silaturahmi.


Kinza sudah siap dengan mengenakan baju gamis brokat berwarna peach serta kerudung pashmina senada. Sementara Al, dia mengenakan baju Koko berwarna senada dengan Kinza, dan Celana bahan putih. Dan Alief, dia mengenakan Koko anak yang ukurannya sangat kecil. Tentu hal itu membuat Alief semakin menggemaskan.


“Selamat pagi Bapak dan Ibu Komandan, mari silakan masuk.” ujar Al dengan ramah dan sopan. Sementara Kinza membuntuti Al sembari menggendong Alief.


“Sayang, kita menjamu komandan dulu, ya. Tamu yang lain biar Bunda dan Mama yang urus.” ucap Al pada Kinza.


“Siap, Mas. Ini titip Alief, aku mau ngambil jamuan nya dulu.” balas Kinza seraya menyerahkan tubuh mungil Alief pada suami nya.


“Aduh, si ganteng. Sini coba Al, saya mau gendong!” ujar Bapak komandan dengan antusias. Dengan sigap Al menyerahkan tubuh Alief pada Komandan Batalyon.


“Sebentar lagi acaranya di mulai, Ndan. Mohon izin mendahului.”


“Laksanakan, Al!”


Tak lama kemudian, Kinza dan beberapa sanak saudara nya datang membawa jamuan untuk Bapak komandan dan jajaran nya. Masing-masing dari mereka sibuk mempersiapkan.


Sementara Al, dia di bantu Papa nya mempersiapkan diri untuk memulai acara aqiqah. Yang mana, acara di mulai dengan pengajian terlebih dahulu, di susul santunan kepada anak yatim dan yang terakhir makan bersama. Acara nya sederhana, namun terkesan mewah dan elegan.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..”


“Wa'alaikum sallam warahmatullahi wabarakatuh..”


“Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana pada kesempatan kali ini, kita semua dapat berkumpul di tempat yang insyaallah di berkati oleh Allah SWT.


Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak komandan beserta jajaran nya, yang sudah menyempatkan hadir pada acara aqiqah anak pertama saya yang bernama Alief Arzanta Dirgantara. Sungguh suatu kehormatan bagi keluarga besar saya. Terima kasih juga pada ibu-ibu pengurus Persit yang sudah membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Dan, terima kasih kepada anak-anak yang Sholih dan Sholihah yang sudah menyempatkan datang ke rumah ini.


Baiklah, untuk mempersingkat waktu. Mari kita mulai acara ini dengan membaca Basmalah.”


“Bismillahirrohmanirrohim..”


“Kepada bapak ustadz, saya persilahkan untuk memimpin acara pengajian nya.” Al mengakhiri pidato singkatnya dengan menyerahkan acara selanjutnya pada Ustadz yang biasa memimpin pengajian di masjid.


Dan, acara pengajian pun di mulai.


Setelah pengajian dan memotong rambut si kecil, acara pengajian berganti dengan acara santunan. Pada acara ini, Kinza, Al dan keluarga besar nya yang berperan aktif. Mereka saling memberikan amplop yang sudah di siapkan sebelumnya kepada para anak yatim.


“Makasih ya, sudah datang, Tante mohon doa nya untuk kesehatan Alief.” ucap Kinza pada anak-anak yatim tersebut.


“Sama-sama, Tante. Makasih juga hadiah dan makanan nya, aku suka.” ucap salah satu anak yatim yang seketika membuat hati Kinza merasa sedih. Sebab, anak ini usia nya masih terlalu kecil.


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Teman-teman, apa yang kalian rasakan saat melihat para anak-anak yatim. Pasti sedih kan? Kalau iya, kita sama!

__ADS_1


Sedih dan terharu sekali rasanya. Pertama, aku terharu sebab bisa memberikan sebagian harta ku untuk nya. Ah, bukan harta ku, lebih tepat nya bagian mereka yang di titipkan pada ku. Mereka nampak senang sekali, dan tentu itu yang membuat ku terharu. Sebab, bisa melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.


Kedua, aku sedih sekali melihat anak-anak yang usia nya masih sangat kecil sekali. Di usia sekecil itu, mereka sudah di tinggalkan oleh ayah mereka. Miris bukan jika di bandingkan dengan masa kecil ku, aku merasa benar-benar merasa beruntung sebab, sampai aku punya anak pun Mama dan Papa masih berada di samping ku. Alhamdulillah mereka masih di berikan kesempatan untuk hidup dan melihat anak-anak nya sukses.


Ah sudah lah, nggak baik sedih berlama-lama. Aku harus nya bahagia, sebab ada Alief dan semua keluarga ku yang menemani di sini. Terutama Papa, Mama dan Mas Al tercinta.


“Sayang, kok, sedih gitu? Kenapa, hm?” tanya Mas Al sembari mencolek dagu ku genit. Aku cemberut manja.


“Sedih lihat anak-anak yatim ini, Mas. Mereka nggak seberuntung aku dulu. Sejak kecil, aku di manjakan oleh Papa. Apa-apa serba ada, bahkan tanpa meminta. Tapi mereka? Masih kecil sudah di tinggalkan oleh orang tuanya, kasian kan, Mas? Aku sedih banget, hu hu” balas ku sembari menitikkan air mata. Ini bukan air mata buaya, ini asli! Aku beneran sedih pakai banget 'lho ini.


“Nah itu kamu tau, maka dari itu, wajib kita mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan pada kita semua. Sekecil apapun itu, sayang. Jangan pernah mengeluh dengan apa yang kita punya saat ini. Lihat, masih banyak orang-orang yang hidup nya tidak seberuntung kita.” ucap Mas Al memberikan wejangan nya. huhu, aku makin merasa menjadi manusia paling beruntung. Boleh nggak sih peluk Mas Al sekarang juga? Aku butuh di peluk sumpah ini, Mas Al, peluk dong! Mau banget, hiks!


Acara santunan selesai, sekarang tinggal acara makan bersama. Sebagian orang sudah pulang, pun dengan para anak-anak yatim. Mereka di antar pulang menggunakan mobil truk militer. Wajah-wajah mereka senang serta perut yang kenyang. Alhamdulillah, aku sekeluarga masih bisa berbagi rezeki untuk mereka. Sampai jumpa lagi anak-anak Sholih dan Sholihah, Aku menyayangi kalian.


“Mayor Al, saya izin pamit, masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Maaf ya, tidak bisa berlama-lama?” ucap Bapak komandan dengan sungkan.


“Izin, siap tidak apa-apa komandan, saya mengerti. Terima sudah menyempatkan waktunya untuk hadir lada acara kami!” tegas Mas Al sembari memberikan hormat nya.


“Dek Al, kami izin pamit pulang, ya. Semoga Nak Alief tumbuh menjadi anak Sholeh, anak yang kuat dan bisa membanggakan Mama juga Papa nya, sehat-sehat terus, Nak.” pamit Ibu Komandan seraya menciumi wajah Alief yang super menggemaskan.


“Aamiin, terima kasih banyak atas doa-doanya, Ibu. Terima kasih juga sudah menyempatkan datang ke acara kami.” ucap ku berterima kasih sembari menyalami Ibu Komandan.


“Sama-sama. Kalau begitu saya pamit ,ya, assalamualaikum..”


“Wa'alaikum sallam..”


...---...


Bunda mertua dan Ayah mertua ikut serta. Tak hanya itu, Claudia pun ikut serta. Dia di paksa oleh Kenzo ikut ke rumah Mama. Iya, Kenzo 'kan sedang gencar-gencarnya memperkenalkan Claudia pada banyak orang. Calon istri gitu, Mbok!


“Za, nanti di jalan kamu beli sosis dan teman-temannya, ya! Kalau masalah daging, sudah Mama persiapkan, tinggal di bakar aja.” ujar Mama menyuruh aku membeli sosis dan antek-anteknya. How dengan Alief?


“Alief sama Bunda, aja, ya. Kinza sama Al nggak usah pusing-pusing mikirin.” tambah Bunda mertua ikut-ikutan. Hadeuh, bakalan berebutan Alief sepertinya!


“Iya, siap, Bunda. Terima kasih, ya, sudah mau repot-repot jagain Alief. Kinza jadi nggak enak sama Bunda.” balas ku dengan sungkan.


“No, sayang, justru seharusnya Bunda yang berterima kasih. Sebab, kamu sudah memberikan kami cucu yang begitu tampan dan sehat!” ucap beliau dengan sangat lembut lembut.


Kami semua berangkat menggunakan empat mobil yang berbeda. Aku satu mobil dengan Mas Al, kami hanya berdua. Mama satu mobil dengan Papa, mereka juga hanya berdua. Bunda mertua, Ayah mertua dan anak ku Alief, mereka bertiga satu mobil. Sementara itu, Kenzo dan Claudia, mereka juga berangkat menggunakan mobil yang sama.


Baiklah temans, doakan kami supaya selamat sampai tujuan, Aamiin.


“Mas, inget kata Mama tadi. Jangan lupa berhenti buat beli sosis.” ucap ku halus pada Mas Al yang tengah fokus menyetir mobil. Dia mengangguk pelan.


“Siap, cinta ku.” ucap nya hangat. Ah, meleleh aku Mas. Pengen cium kamu rasa nya!


Saat mobil kami keluar dari gerbang batalyon, samar-samar aku melihat mobil Bang Arjuna masuk ke dalam Batalyon, mobil kami saling berlawanan arah. Mas Al tau nggak, ya, kalau itu mobil Bang Arjuna? Entah lah!


“Mas, tadi aku lihat mobil Bang Arjuna masuk ke batalyon. Mau ngapain dia, Mas?” tanya ku lagi, sumpah aku penasaran banget.

__ADS_1


“Kamu lupa, ya, kalau Arjuna mau pindah Dinas ke Batalyon ini? Pasti dia lagi pindahan itu, Dek.” balas Mas Al terdengar santai. Iya santai, ngapain juga aku ini ribet-ribet ngurusin dia? Unfaedah banget rasanya.


“Kamu nggak bantuin, sayang?”


“Nggak perlu sayang, di sana juga banyak anggota. Kan hari ini, Mas, lagi lepas dinas.”


Aku mengangguk cepat pertanda sudah mengerti, “Oh, gitu.”


“Iya, Sayang. Memang nya kenapa, sih? Kamu mau bantuin dia? Mau emang nya ketemu sama Putri?” sindir Mas Al dengan halus. Wah, pasti nya dia tau kalau aku sudah tak terlalu respect pada manusia itu. Trauma masa lalu, Mbok!


“Bukan gitu, Mas. Toh, kalau benar dia tinggal di sini, aku bakalan satu kegiatan sama dia 'kan? Mau menghindari nya pun nggak bisa. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau sudah satu asrama itu tandanya kami satu keluarga.” ucap ku sok-sokan bijak. Asli nya aku tak mau ini terjadi. Sumpah, nggak nyangka bakalan kayak gini akhirnya. Kenapa sih dia segala pindah ke sini? Satu naungan dengan ku dan Mas Al pula, hadeuh.


“Nah pinter kamu. Pokoknya, nanti kamu jangan terlalu dekat. Boleh dekat saat ada kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama aja. Misal, HUT satuan, kunjungan Pangdam atau KASAD. Atau acara besar lainnya. Kalau cuma pengajian, main voli dan sebagainya, nggak usah terlalu dekat. Harus bisa jaga jarak, ya, Dek!” peringat Mas Al secara terperinci. Woah, sepertinya dia anti banget dengan kedua manusia itu. Padahal Mbak Putri pernah mengisi relung hati nya. Tapi, kenapa sekarang bisa begitu menghindari nya? Takut apa gimana ini manusia?


“Kenapa over protektif banget sih, Mas? Emang dia ada salah apa sampai harus aku jauhi kayak gitu?” tanya ku super kepo.


“Sayang, belajar lah dari masa lalu. Kamu ingat, setelah Putri menjadi baik hati? Itu masih ada masalah yang muncul, sampai-sampai membuat kita harus berpisah. Kamu mau itu terjadi? Kalau aku sih nggak mau, Dek!” ujar nya kekeuh.


Aku nampak berfikir, betul juga ucapan beliau. Serem kalau sampai terjadi, apalagi aku sudah punya bayi. Hadeuh, amit-amit deh.


“Udah ngerti, hm?” ujar nya sembari menciumi tangan ku. Ih, lagi nyetir juga, masih sempat-sempatnya berbuat romantis.


“Ngerti kok, Mas. Aku paham ketakutan itu. Karena jujur, aku pun takut hal itu terjadi lagi. Janji, ya, Mas, hanya ada aku di hati mu?!”


“Tanpa kamu minta, aku sudah berjanji pada hati ku sendiri. Di dalam sini, hanya ada nama kamu, hanya ada cinta untuk mu. Tak ada secuil pun rasa untuk orang lain, apalagi untuk Putri. Aku hanya cinta kamu, Dek!” tegas nya sembari membawa tangan ku meraba dada nya. Ku rasakan detak jantungnya yang memompa dengan cepat. Seperti sebuah sinyal yang membisikkan ku sesuatu “Percayalah, hati ini hanya untuk mu!”


“Mas cinta sekali sama kamu, Dek. Mas benar-benar menyayangi mu!” ucap nya membuat hati ku semakin meleleh. Aw, pengen cium! Gak tahan, hiks!


“Aku juga cinta sekali sama kamu, Mas. Aku sangat menyayangimu! Apapun yang terjadi nanti, kita hadapi bersama. Sepahit apapun itu, kita harus tetap bersama. Demi cinta kita, demi rumah tangga kita, dan demi anak-anak kita!”


Mas Al mencium tangan ku lagi, “Siap sayang!”


...---...


Mobil kami terhenti di salah satu pusat perbelanjaan fast food. Terdapat banyak sekali jenis makanan yang tersedia. Mulai dari sosis, udang lobster, ikan segar dan lainnya. Enak nya beli yang mana, ya?


“Mas, ini ada udang kemasan, beli nggak sayang?” tanya ku pada Mas Al yang sibuk memilih aneka sosis untuk di bakar. Wow, sudah nyolong star dia!


“Kalau kamu suka beli saja, sayang! Mas mau cari sosis yang enak dulu, sosis kesukaan, Mas.” ucap nya tanpa menatap ke arah ku. Weh, serius sekali orang ini!


Lantas, aku memasukkan dua bungkus udang kemasan ke dalam keranjang. Tak lupa membeli saus tomat, saus barbeque, dan saus cabai. Um, pasti lezat sekali ini. Pesta barbeque, cuy! Asoy bener kan?


Mas Al datang ke hadapan ku dengan membawa tiga bungkus sosis sapi yang ukurannya besar, entah nama nya apa. Yang pasti rasanya nikmat dan lezat. Paling jago kalau soal makanan.


“Perut mu gendut 'lho, Mas. Makanan nya kok begini semua!” ucap ku memperingati.


“Nggak sayang, Mas 'kan selalu olahraga. Mas tau pola makan yang benar juga. Udah, kamu nggak perlu khawatir, oke?”


“Iya terserah, Mas, aja deh. Awas kalau balok-balok nya hilang, aku suruh kamu tidur di luar, ya?!” ancam ku judes dan membuat nya langsung bergidik ngeri.

__ADS_1


“Ampun sayang, nggak akan gendut, kok!”


__ADS_2