EPOCH

EPOCH
Bab 37


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Pagi ini cerah, secerah hati ku. Nggak cerah-cerah amat sih. Kenapa? Karena aku harus sudah harus mengikuti kegiatan Persit. Ekhm, siap-siap buat acara kunjungan KASAD yang akan di laksanakan dua hari mendatang.


Alief sudah aku mandikan, dia terlihat tampan dan menggemaskan saat memakai kaos yang di berikan oleh Bunda. Kaos motif buah pisang. Lucu sekali dia!


Aku sudah siap memakai baju olahraga khas ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana, serta rambut yang aku ikat tinggi-tinggi. Maklum, sebelum beberes di mulai, terlebih dahulu kami melakukan senam rutin. Jadi wajib ikat rambut untuk para ibu-ibu yang tidak mengenakan hijab. Uh, untung nggak voli, kalau sampai iya, bisa berabe. Alief nggak ada yang jaga, hiks.


Mas Al sudah berangkat pagi-pagi sekali ke kantornya. Maklum, Danramil lagi sibuk-sibuknya sekarang. Berangkat pagi, pulang pagi *bercanda ah. Dia bilang harus ambil apel pagi jam lima subuh. Setelah itu di lanjut mengotak-ngatik berkas dan anggota nya. Mangats Papa nya Alief!


“Dek, barengan yuk ke lapangan nya!” ajak sebuah suara yang ku kenali betul. Ini suara Mbak Putri. What, ngapain dia ada di sini?


“Izin, kok Bu Arjuna manggil nya, Dek! Nggak boleh, lho Bu. Pangkat suami ibu 'kan jauh di atas Bu Al. Bisa di tegur Ibu Komandan lho, Bu!” sambar ibu-ibu Persit lain nya yang kebetulan berada di dekat ku. Mbak Yuni, istri nya Serda Ucok.


Wajah Mbak Putri merah padam. Dia seperti menahan malu dan amarah.


“Tidak apa, Bu. Kebetulan Mbak Putri ini memang kenalan saya. Kita biasa memanggil dengan sebutan ini ketika sedang bicara berdua.” ucap ku beralasan.


“Izin, tidak bisa begitu, Bu. Sesama anggota Persit kita mesti saling mengingatkan. Nggak baik kalau di biasakan seperti itu. Ketahuan Ibu Komandan bisa besar urusan nya.” ucap Mbak Yuni kekeuh. Duh, jangan di perpanjang. Mbak Putri bisa makin benci sama aku, hiks!


“Baik, Bu. Yuk berangkat, nanti telat bisa di tegur Ibu Komandan.” ajak ku mengalihkan perhatian. Nggak mau berlama-lama debat masalah pangkat. Selain karena tidak mengerti, aku malas membahas nya. Apalagi bersangkutan dengan Mbak Putri. Beuh, makin aja diri ku muak.


Aku berjalan di samping Mbak Putri yang terus memperhatikan Alief. Entah apa maksudnya tatapan itu, yang pasti, aku merasa takut.


Ketakutan ku tidak di tunjukkan. Aku bersikap biasa saja supaya Mbak Putri tak berbuat hal aneh. Aku seperti orang tidak tau, padahal aku tau semuanya. Aku diam, tak mau terlalu menunjukkan. Cukup waspada saja pada nya. *Pesan Mas Al.


Sesampainya di lapangan, ibu-ibu Persit lainnya sudah berkumpul. Masing-masing dari mereka ada yang membawa anak, ada yang tidak. Maklum, di satuan ini ada lima pengantin baru. Mereka masih malu-malu gemesin, sama seperti Mbak Putri.


Aku tak ambil pusing. Alief aku titipkan pada Ibu Yonathan yang kebetulan tak ikut senam. Beliau bilang kaki nya ngilu akibat terjatuh dari tangga. Alhasil beliau hanya bisa duduk sambil menggendong Alief. Duh, ada-ada saja Ibu Yonathan ini, untunglah tak ada luka yang begitu parah.


“Mbak nggak bisa senam nya, Dek. Gimana dong?” ujar Mbak Putri sedikit ketakutan.


“Nggak apa-apa, Mbak. Kita sama-sama belajar aja. Mbak cukup ikuti irama sambil meniru gerakan Ibu Wina di depan.” ucap ku ramah sembari menunjuk Bu Wina selaku pemimpin senam kali ini.


“Oke, Dek!” ucap nya terdengar pasrah. Halo, Mbak, nggak bisa senam ya biarin aja. Nggak akan di gigit, kok. Paling hanya di tegur Ibu Komandan aja, wkwk. Nggak ih bercanda, Ibu Komandan pasti memaklumi. Pasalnya beliau masih baru, sama seperti ku empat tahun yang lalu.


Kalau di ingat-ingat lucu juga, ya. Bahkan aku lebih bodoh dari Mbak Putri. Aku suka menghapal gerakan variasi dan formasi saat di Paskibra. Dulu, otak ku menyerap sangat cepat. Dua atau tiga kali pelatih mengajarkan gerakan, aku langsung bisa mempraktekkan nya dengan lihat.Tapi eh tapi, saat menghapal gerakan senam, aku berubah menjadi manusia ter-oon yang pernah ada. Lama sekali menghapal gerakan senam padahal kelihatan nya sangat mudah. *Please aku ngakak!


Apalagi saat main bola voli, beuh bodoh nya kebangetan! Aku bahkan tidak suka olahraga, paling mentok hanya sekedar lari pagi. Itu pun baru satu putaran saja langsung ngek-ngok-ngek-ngok. Ngos-ngosan abis. Bisa-bisa sampai pingsan di lapangan. Tapi, saat ikutan agenda Persit, semua yang aku tak suka mendadak harus menjadi kegiatan rutin ku. Macam main bola voli, senam, rapat mengenai baksos, dan teman-temannya. Bikin aku tersiksa tapi ujung-ujungnya nyaman juga.


Aneh nya, sekarang aku selalu bersemangat saat ada agenda Persit. Antusias ku tinggi. Nggak tau karena apa dan siapa, yang pasti aku sangat suka. Apalagi kalau ada kegiatan baksos, aku pasti menjadi orang pertama yang ikut serta dalam acara, wkwk.


Balik lagi ke topik!

__ADS_1


“Ayo ibu-ibu, gerakkan pantat nya. Semangat!!!” teriak Ibu Komandan heboh membuat ibu-ibu lain nya tertawa geli, termasuk aku dan Mbak Putri. Beda nya, wajah Mbak Putri terlihat kusut. Beda dengan ku yang ceria dan berseri-seri.


Dua puluh menit berlalu, acara senam sudah berakhir. Berganti dengan acara istirahat dan rumpi-rumpi. Maklum, Ibu Komandan sedang ke toilet sebentar. Kalau beliau ada di sini, bisa kena tindak ibu-ibu yang banyak ngerumpi itu.


“Ekhm, sudah ya ngerumpi nya ibu-ibu! Sekarang mari kita mulai acara rapat nya untuk kunjungan KASAD nanti. Oh ya, pertama-tama, saya ucapkan selamat datang untuk ke-lima anggota baru Persit KCK Cabang XX*** Brigif Raider 20 Kostrad, yang telah menyempatkan dirinya untuk hadir pada acara ini. Sebelum di mulai, harap perkenalkan diri kalian terlebih dahulu, supaya ibu-ibu lainnya tau dan kalian bisa saling mempererat kekeluargaan di satuan ini. Mari, maju ke depan!” ujar Ibu komandan mempersilahkan para pengantin baru itu untuk memperkenalkan diri di hadapan ibu-ibu. Begitu hal nya dengan Mbak Putri. Dengan senyuman malu-malu beliau maju ke depan.


Satu-persatu dari kelima pengantin baru itu memperkenalkan diri. Mulai dari Mbak Sekar, Mbak Sinta, Mbak Rena, Mbak Rika dan yang terakhir adalah Mbak Putri. Setelah selesai semua, mereka di persilahkan untuk duduk kembali.


“Gimana rasanya, Mbak?” tanya ku berbisik pada Mbak Putri yang kelihatan nya sedang di landa kegugupan.


“Mantap, Dek. Grogi akut, Mbak. Sampai ngomong aja tadi kepleset.” ucap nya sumringah. Aku nggak tau ini sifat aslinya atau bukan. Yang jelas, aku harus bisa bersikap sewajarnya saja.


“Iya memang seperti itu, Mbak. Lama-kelamaan juga akan terbiasa. Mbak harus sering-sering kumpul gini biar suami nggak dapat teguran.” ucap ku memberikan sedikit wejangan. Mbak Putri mengangguk pertanda mengerti.


“Iya, Dek, Mbak mengerti. Sebelumnya makasih atas saran dan perhatian nya!” balas Mbak Putri sambil menatap lurus ke depan. Wey, kenapa sikap nya tiba-tiba berubah? Aku salah ngomong kah? Kok Mbak Putri langsung diam tanpa berkata apa-apa lagi?


“Dek Arjuna dan Dek Al, tolong perhatikan, ya! Habis ini kita langsung bekerja. Tidak ada penjelasan ulang, sebab waktunya sudah mepet, paham!” tegur Ibu Komandan tegas. Waduh, aku kena imbas nya deh. Huhu, nggak lagi-lagi ngajak ngobrol saat sedang rapat. Maafkan kami, Bu!


“Izin, siap, Bu!” ucap ku langsung menghentikan pembicaraan dengan Mbak Putri. Niat nya mau basa-basi. Malah kena tegur haha.


“Dek Al bagian pemantauan saja, ya. Karena masih punya bayi yang masih kecil. Kalau ada yang meminta bantuan, tolong di bantu, ya, Bu. Kita utamakan kerja sama dan kekeluargaan.” tegas Ibu Komandan pada ku. Kalau begini, Alief tetap bisa terpantau. Yes, keberuntungan sedang berpihak kepada ibu dan anak ini hehe.


“Izin, siap Bu!” balas ku bersemangat.


“Izin, siap, Bu!” balas Mbak Putri dengan tegas.


“Sekarang semua nya mulai bekerja, ya! Ingat, utamakan kerja sama dan kekeluargaan. Semuanya saling bantu, bukan saling mengandalkan! Kalau ada yang tidak dimengerti, tanyakan! Jangan sampai membuat kesalahan! Paham ibu-ibu?!” ujar Ibu komandan tegas.


“Siap paham, Ibuuuu!” seru semua ibu-ibu yang berada di aula tersebut. Lantas semua nya mulai bekerja sesuai tugas nya masing-masing. Ada yang mencuci piring, ada yang membungkus sendok dengan tisu, ada juga yang membersihkan aula macam ngepel, nyapu lap kaca dan sebagainya.


Sementara itu, aku ikut membantu Ibu Yanto membungkus sendok makan menggunakan tisu. Ekhm, ini sih sudah jago nya aku. Dulu-dulu kerja nya selalu seperti ini. Jadi sudah betul-betul paham dan mengerti apa yang harus di kerjakan.


“Dek, bisa tolong bantuin, Mbak, nggak? Mbak nggak tau rumah Bu Joni dimana. Bisa tolong antar?” ucap Mbak Putri meminta bantuan ku. Sontak aku berdiri.


“Lho, Bu Arjuna. Nggak sopan lho, Bu, manggil Bu Al seperti itu. Ingat jabatan suami, harus hormat sama yang lebih tinggi!” tegur Bu Yonathan tegas membuat Mbak Putri kembali terdiam. Wajah nya terlihat memerah, entah takut, entah malu, entah marah. Yang jelas, aku nggak mau ambil pusing.


“Izin, ss-ssiap, Bu. Saya minta maaf.” balas Mbak Putri dengan gagap.


“Udah ibu-ibu, nggak usah di bahas lagi. Maklum kalau Mbak Putri ini salah memanggil, beliau masih baru. Jadi, tidak perlu di besar-besarkan masalah ini. Sekarang kita fokus lagi pada tugas masing-masing.” ujar Ibu komandan yang kebetulan berjalan melewati kami. Selamat kamu, Mbak. Untung nggak sampai di sidang.


“Ada keluhan apa, Dek? Biar saya yang bantu.” tanya Ibu Komandan pada Mbak Putri yang merasa tak enak dan ketakutan.


“Izin, Bu. Saya tidak tau letak rumah Bu Joni dimana. Maka dari itu saya meminta bantuan sama Kin.. maksudnya sama Bu Al.” ucap Mbak Putri lagi-lagi gagap. Hampir saja dia keceplosan.

__ADS_1


“Mari ikut saya, Dek. Biar saya yang antar.” ucap Ibu Komandan berbaik hati. Dia menawarkan bantuan pada Mbak Putri.


“Izin, siap, Bu. Apa tidak merepotkan?” Mbak Putri tak enak hati, dia merasa sungkan.


“Nggak apa-apa, Dek. Yuk berangkat sekarang.”


“Ss-ssiap, Bu!” mereka berdua lenyap dari pandangan ku.


...---...


“Gimana kegiatan Persit mu setelah punya anak? Apa ada kendala, sayang?” tanya Mas Al sembari melahap pisang goreng krispi buatan ku. Asoy lahap bener.


Aku menggeleng cepat, “nggak ada Mas, untuk sekarang ini masih lancar-lancar aja.” jawab ku enteng.


“Kok untuk saat ini? Berarti ada niatan buat nggak lancar kedepannya?” tanya Mas Al membuat ku langsung berfikir.


“Ehe, nggak Mas. Maksudnya, alhamdulilah nggak ada kendala apapun. Semuanya lancar.” ucap ku meralat kata-kata yang pertama aku sebutkan. Mas Al tersenyum tipis.


“Nah gitu dong, sayang. Omongan itu adalah doa. Emang kamu mau omongan mu yang tadi di kabulkan sama Allah. Nggak, 'kan?”


“Iya, Mas. Jelas nggak mau lah. Aku pengen nya hidup damai aja.”


“Nah gitu dong, sayang!”


“Ehe, iya, Mas. Oh iya, ngomong-ngomong gimana kerjaan kamu. Udah beres semua?” tanya ku penasaran.


Mas Al menyeruput teh manis hangat yang aku buatkan tadi. “Belum, Dek. Ada satu laporan lagi yang belum Mas selesaikan. Deadline nya besok malam. Jadi, saat rapat dengan Komandan, semuanya harus sudah beres. Makanya, malam ini Mas mau lembur, Dek.” tutur Mas Al secara rinci. Aku mengangguk-anggukan kepala pertanda paham.


“Semangat, ya, sayang! Mau aku temenin gak? Mumpung Alief udah tidur, dia juga nggak rewel.” ujar ku menawarkan bantuan pada Mas Al.


Mas Al menggeleng cepat, “no, sayang. Mas sendiri aja. Lebih baik kamu istirahat,ya! Mas yakin besok pagi kamu pasti sibuk, butuh tenaga banyak untuk membantu persiapan kunjungan KASAD nanti.” tolak Mas Al secara halus. Kalau di pikir-pikir benar juga ucapan beliau. Pasti banyak tenaga yang di butuhkan menjelang kunjungan KASAD nanti.


“Kamu istirahat sekarang aja, Dek. Biar Mas lanjut bikin laporan.” tutur Mas Al dengan lembut. Aku hanya pasrah dan mengikuti perkataan nya.


“Semangat, ya, Mas! Kalau butuh apa-apa bangunin aku.” ucap ku sembari mencium bibir nya secepat kilat.


“Siap, Dek. Terima kasih banyak! Good night!”


“Good night to, Mas!”


Aku meninggalkan Mas Al dengan semua tugas-tugas nya. Padahal mau menemani, tapi beliau menolak dengan dalih tak ingin aku kelelahan. Aku bisa apa coba teman? Nurut! Ya udah iya aku pasrah. Pergi menyusul Alief yang sudah tertidur pulas di kamar nya.


Baiklah, selamat malam Papa nya Alief. Semoga di beri kelancaran dan di beri kemudahan dalam setiap urusan. Semoga laporan yang di buat hasil nya baik dan bisa memuaskan hati komandan. Sukses selalu cinta ku!

__ADS_1


__ADS_2