EPOCH

EPOCH
Bab 53


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Mama dan Papa menyambut kedatangan ku dengan gembira. Mereka tidak tahu kalau kenyataannya rumah tangga ku sedang mendapat masalah besar.


Begitu melihat wajah Mas Al yang kusut. Papa lantas menyuruh Mas Al masuk terlebih dahulu. Merangkul dan langsung mengintrogasi Mas di ruang kerja nya. Sementara aku dan Alief di boyong oleh Mama ke kamar ku.


Aku menangis tersedu sambil memeluk Mama. Benteng pertahanan ku runtuh saat Mama mendekap erat tubuh ku. Aku menangis sesenggukan.


Mama diam saja, membiarkan aku menangis sampai merasa tenang. Karena memang ini yang aku butuhkan. Menangis sepuasnya di pelukan Mama.


“Kinza berdosa, Ma. Kinza sudah buat Alief demam karena ulah Kinza. Kinza tau Kinza salah, tapi haruskah di bentak bertubi-tubi oleh suami sendiri? Kinza sakit hati, Ma! Hati Kinza sakit, hiks hiks..” Aku mengadukan semuanya pada Mama. Dia masih diam dan mencerna semua ucapan ku baik-baik.


“Air mata Kinza di sebut air mata buaya. Padahal Kinza benar-benar merasa bersalah. Ini fakta, bukan bohongan, Ma. Namun Mas Al tetap menyalahkan Kinza.” lagi dan lagi aku mengadu pada Mama. Seperti anak kecil. Semua nya aku keluarkan.


“Mas Al juga jahat, Ma. Dia dekat-dekat dengan perempuan lain. Mengobrol haha hihi di pinggir jalan. Padahal acara pendataan anak-anak yatim masih berlangsung.”


“Mas Al nggak mengerti rasa cemburu ku, Ma. Dia malah menyalahkan rasa cemburuan ini.”


“Udah ngadu nya, sayang?” tanya Mama setelah tangis ku mulai reda. Dia lantas melepaskan pelukan nya berganti dengan memegangi bahu ku dengan erat. Aku mengangguk lemah.


“Za, Mama mengerti semua kekesalan kamu. Mama mengerti semua rasa sakit yang ada di hati kamu. Mama juga mengerti rasa cemburu mu. Namun, apakah sudah kamu mengoreksi kesalahan diri sendiri?” ujar Mama membuat aku bingung seketika. Kata-kata yang Mama ucapkan mengandung banyak makna.


Aku mengerutkan dahi. Seketika rasa sedih ku berganti dengan sebuah kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan tetiba muncul di benak ku.


“Coba, Sekarang ingat-ingat lagi. Dimana letak kesalahan kamu. Telaah lebih dalam lagi, mengapa Al bisa berkata kasar sama kamu? Kenapa Al bisa menyalahkan kamu seperti itu? Kenapa Al bisa menuduh kamu seperti itu? Semua pasti ada penyebabnya, Za. Ada asap, berarti ada api.” ucap Mama membuat ku nampak berfikir. Ingatan ku berputar pada kejadian kemarin dan hari ini.


Tetap, aku belum bisa berfikir jernih. Otak dan pikiran ku masih di penuhi oleh api cemburu dan perasaan sakit.


Aku menggeleng lemah, kembali menangis. “Kinza belum bisa berfikir jernih, Ma. Kinza masih merasa sakit hati. Tolong jangan tanyakan itu. Niat Kinza kesini hanya untuk menenangkan diri. Kinza ingin melupakan rasa sakit hati ini, Ma.” ucap ku getir sembari menutup wajah dengan kedua tangan. Aku menangis lagi.


Mama mengulum senyum nya. “Ya udah, nggak apa-apa kok, Nak. Mama mengerti. Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, ya. Nanti bila mana hati mu sudah tenang, kita bicarakan lagi. Ingat, Dek, jangan pernah lari dari suatu masalah. Hadapi dan selesaikan dengan kepala dingin.”


“cup”


Mama meninggalkan aku dan Alief di kamar ini. Dia pergi keluar kamar setelah mengecup kepala ku dengan lembut. Aku tau, Mama tak ingin mengganggu ku untuk saat ini. Karena aku sedang membutuhkan sebuah kedamaian dan ketenangan. Bukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan menimbulkan kemarahan.

__ADS_1


...---...


Sementara itu, Al dan Pak Zein tengah duduk berdua di dalam ruang kerja. Sesekali obrolan santai di lakukan oleh mereka sambil menyesap teh hangat.


Namun, Al tidak bisa menutupi kekalutan nya. Dia kelihatan kacau. Bisa di lihat dari gelagat nya yang gelisah.


“Papa bisa tebak, kamu dan Kinza pasti sedang ada masalah, ya?” tanya Pak Zein sambil menyesap teh hangat nya.


“I - iya, Pa.” balas Al gugup.


“Ada masalah apa? Cerita dong sama Papa. Tapi, kalau ini bersifat rahasia. Sebaiknya tidak usah di bahas. Papa nggak apa-apa.” Pak Zein mengerti situasi nya saat ini. Mungkin akan sulit bagi Al untuk mengatakan masalah yang sedang di hadapi nya.


“Nggak, Pa. Nggak ada yang bersifat rahasia. Saya tau, masalah ini memang sering muncul pada hubungan rumah tangga seseorang.” balas Al dengan gamang. Pandangan nya kosong.


Pak Zein menepuk bahu Al. “Pasti masalah perempuan lain, ya?” tebak Pak Zein yang benar seratus persen benar.


“Al, Papa percaya kamu nggak mungkin bermain wanita. Papa yakin, kamu laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang pada keluarga. Terutama pada Alief dan Kinza. Papa tau, kamu lelaki dewasa yang bisa menyelesaikan masalah rumah tangga nya sendiri. Al, selesaikan lah masalah yang ada diantara kamu dan Kinza dengan segera. Jangan sampai masalah ini semakin terlarut, itu hanya akan membuat semua nya kacau. Bicara baik-baik dengan Kinza saat semua emosi sudah mereda. Kalian harus bisa memahami satu sama lain. Harus bisa mengayomi, harus bisa bersabar, dan harus percaya satu sama lain. Yang paling penting, komunikasi jangan sampai lupa.” ucap Pak Zein memberikan wejangan pada menantu nya. Dia yakin betul, menantunya ini adalah sosok lelaki yang bertanggung jawab dan begitu penyayang. Pak Zein yakin, bahwa Al bisa mengatasi semua masalah yang ada.


“Siap, Pa. Saya janji akan segera menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Saya janji akan memperbaiki hubungan yang sempat rentak ini. Mohon bimbingan Papa. Saya juga meminta bantuan Papa, tolong jaga Kinza di sini. Maaf, saya tidak bisa menemani sebab ada tugas negara yang harus di kerjakan.” bubuh Al seraya memeluk tubuh ayah mertua nya.


“Terima kasih banyak, Pa. Maaf sekali lagi karena saya belum bisa membimbing Kinza dengan benar. Saya masih banyak kekurangan, saya sering mengecewakan Kinza. Tapi saya janji, saya akan memperbaiki semuanya seperti sedia kala. Saya janji akan terus berusaha menjadi lelaki terbaik untuk putri Papa.” bubuh Al kuyu. Tetapi tidak dengan tekad nya. Al yakin, semua ini pasti akan segera berlalu.


“Sama-sama, Al. Ya sudah, kamu santai saja dulu di sini. Biar, nanti Papa dan Mama akan bicara baik-baik pada Kinza saat emosi nya sudah bisa di redam.” ujar Pa Zein hangat. Tapi di tolak oleh Al.


“Terima kasih, Pa. Tapi saya tidak bisa berlama-lama. Ada urusan yang harus di selesaikan di Batalyon. Saya pamit saja, Pa. Titip salam untuk Kinza.” pamit seraya keluar dari ruangan kerja mertuanya. Tak lupa dia mencium tangan Ayah mertuanya terlebih dahulu sebelum keluar ruangan.


Saat sudah di luar ruangan, Bu Zahra keluar dari kamar Kinza. Sontak Al menemui beliau dan izin pamit untuk pergi kembali ke Batalyon. Sementara itu, Al tidak melihat Kinza keluar dari kamar itu. Dia mengerti, mungkin Kinza enggan menemuinya untuk beberapa hari ke depan. Al memahami itu, dia tahu niat Kinza pergi ke rumah ini hanya untuk mendapatkan kedamaian. Al berharap, semoga setelah ini hati Kinza bisa lebih membaik.


“Buru-buru sekali, Al? Kamu nggak mau nemuin Kinza dulu?" tanya Bu Zahra padahal yang yang kelihatan bingung.


Al mengulum senyumnya, dia menggeleng pasrah sebab tak ingin mengganggu Kinza untuk saat ini. “Nggak mah, Al takut ganggu Kinza. Lebih baik saya langsung pulang saja, Ma. Saya titip Alief dan Kinza ya Ma, Al pamit, assalamualaikum..” pamit Al seraya menolak tawaran Mama mertua nya. Bu Zahra paham, mungkin membiarkan Kinza sendirian adalah hal yang terbaik. Sebab Kinza butuh ketenangan di sini.


“Waalaikumsalam, ha udah nggak apa-apa, Al. Mama tahu, Mama mengerti. Pasti Mama akan jaga Alief dan Kinza dengan baik. Kamu hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik di batalyon sama.” balas Bu Zahra dengan lembut.


Al beranjak pergi dan keluar dari rumah Bu Zahra. Namun, ketika dia hendak masuk ke dalam mobil, Kinza tiba-tiba memanggilnya. “Mas Al?!” pekik Kinza disertai suara isak tangis yang keluar dari mulutnya. Perempuan itu berdiri di ambang pintu sembari menatap Al dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Al sontak membalikkan badannya. pandangan mereka beradu.


“Dek, kak-kamu kenapa ada di sini? Ada apa memanggilku, Dek?” tanya Al dengan perasaan teraduk. Di satu sisi Dia sangat ingin memeluk Kinza, di sisi lain dia sadar akan kesalahan yang telah dia perbuat pada Kinza. Al hanya diam mematung, sembari menunggu apa yang akan kita lakukan selanjutnya.


Perlahan Kinza melangkah kearah Al. Dengan tatapan sendu, dengan air mata yang terus mengalir membanjiri pipinya, dan dengan perasaan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Kinza menguatkan hatinya untuk bertemu dengan Al.


“Mas, maafkan atas semua tindakan ku ini. Aku melakukan ini supaya tidak ada ada korban lagi yang tersakiti akibat pertengkaran kita. Aku harap kamu bisa mengerti semuanya, dan kuharap hatiku akan kembali membaik setelah berada di sini selama beberapa hari. Jaga dirimu baik-baik ya, Mas. Maaf, aku tidak bisa menemanimu beberapa hari ini." ucap Kinza dengan lirik. Air matanya tak henti-henti keluar dari pelupuk mata, Kinza sedang menahan seluruh perasaan yang bergejolak di dalam hatinya. Dada nya terasa sesak sekali.


Tanpa banyak berkata, Al langsung mendekap Kinza kedalam pelukannya. Lelaki itu ikut menangis dengan tersedu.


“Mas mengerti semuanya. Mas mengerti keadaan hatimu seperti apa. Mas harap, kamu bisa menjaga diri baik-baik di sini. Jaga Alief, anak kita. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi lagi. Dan yang paling penting, semoga hatimu lekas membaik. Semoga kamu cepat-cepat mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Mas mencintaimu Dek, Mas akan selalu merindukanmu. Kapanpun dan di manapun itu! ajangan lama-lama, ya, Dek. Sumpah demi apapun, Mas tidak bisa jauh-jauh denganmu terlalu lama. Itu menyakitkan untuk Mas, Dek..” lirih Al sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Kinza. Dia benar-benar pasrah saat ini.


“Jaga diri mu baik-baik, ya, Mas. Jangan lakukan hal yang membuat hubungan kita semakin runyam. Aku menaruh kepercayaan besar pada mu. Jadi, jangan menghancurkan itu. Di sini aku berusaha untuk menjernihkan pikiran. Berharap pikiran ku bisa terbuka dan bisa berfikir secara logis lagi. Aku juga mencintaimu, Mas. Aku juga tidak bisa berlama-lama jauh dari mu. Tapi ku harap, masalah ini segera berakhir dan kita bisa bertemu kembali.” balas Kinza dengan di iringi isak tangis. Dia tak dapat menahannya. Begitu juga dengan Al. Mereka sama-sama menangis di dalam pelukan hangat.


Sejenak mereka membiarkan pelukan itu berlangsung. Keduanya sama-sama terdiam, menikmati hangatnya pelukan yang mungkin tidak akan mereka rasakan selama beberapa hari ke depan.


Cukup lama mereka berpelukan, Kinza akhirnya melepaskan pelukan itu. Ditatapnya wajah Al yang kacau dan frustrasi ditambah dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sejenak Kinza merasa tidak tega pada Al. Namun, perasaan di hatinya tetap saja membuat Kinza harus menjauh dari Al untuk beberapa hari ke depan.


Perlahan tangan Al menyentuh wajah Kinza, dia membelainya lembut seakan ini adalah hari terakhirnya bersama Kinza. "Jaga dirimu baik-baik, ya, Dek. Sekarang mas harus pamit, ada pekerjaan yang harus mas urus di Batalyon.” pamit Al seraya mencium kening Kinza dengan lembut. Kinza menutup matanya, menikmati hangatnya sentuhan bibir Al yang berada di kening. Kinza tidak menolak, dia membiarkan hal itu terjadi pada dirinya. Setelah itu, Al pergi dari hadapan Kinza.


Perlahan mobil Al mulai menjauh, di barengi dengan Kinza yang terus memperhatikan Al sampai mobil itu hingga benar-benar lenyap dari pandangannya. Kinza kembali menangis.


“Za, udah yuk masuk. Di luar sudah mau hujan. Nanti kamu sakit.” ajak Bu Zahra lembut. Tak di sangka mata nya basah, Bu Zahra ikut menangis menyaksikan perpisahan antara anak dan menantu nya.


Kinza pasrah, dia tidak sadar bahwa langit sudah mulai mendung. Mungkin sebentar lagi tetesan hujan akan membasahi bumi.


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


“Kinza, makan dulu, yuk sayang. Mama masak udang asam manis kesukaan mu.” teriak Mama dari luar kamar. Sudah tiga kali berturut-turut dia mengajak aku makan. Namun, aku sama sekali tidak menanggapi nya.


Ku tolak terus-menerus, sebab nafsu makan ku hilang entah kemana.


Pikiran ku rancu. Terbagi kemana-mana. Aku terus memikirkan Mas Al. Bertanya-tanya dalam hati, apa Mas Al sudah makan? Kira-kira dia sedang apa sekarang? Bagaimana kondisi rumah saat aku tidak ada di sana? Mungkin kacau, atau malah sebaliknya? Apa Mas Al masih menjaga hati nya untuk ku? Gimana kalau dia membawa Mbak Amira diam-diam masuk ke dalam rumah? Gimana kalau mereka berbuat mesum?

__ADS_1


Arrghhhh, sial! Berjauhan dengan nya malah membuat hati ku semakin kacau. Aku gelisah, tidak enak hati. Padahal baru tiga hari berpisah dengan nya. Oh Tuhan? Aku harus apa?


__ADS_2