
Kinza dan Al kembali ke mobil. Kurang lebih setengah jam berada di Bandara, akhirnya mereka pulang ke rumah setelah pesawat yang di tumpangi Putri terbang ke Magelang.
Baik Al maupun Kinza, kedua manusia itu sama-sama terdiam. Mereka hanyut dalam kesedihan dan kekecewaan nya masing-masing. Pikiran keduanya sama-sama kacau. Masing-masing dari mereka sama-sama kehilangan.
Biasanya Kinza selalu banyak bicara. Tapi sekarang? gadis itu justru terlihat murung. Wajah nya tak ceria seperti dulu.
"Nanti sore kita pindah ke Asrama. Setelah ini siapkan semua baju-baju kamu." ujar Al membuka suara. Entah ada angin dari mana. Kinza menoleh pelan.
"Kok cepet banget? Bukan nya ada waktu satu minggu buat bebas dinas? Bukan nya kita di kasih waktu buat jalan-jalan berdua?" tanya Kinza penasaran.
"Gini ya, Za. Saya nggak mau berlama-lama di rumah kamu. Kenapa? Karena dalam waktu satu minggu, pasti ketemu nya sama kamu terus. Entah apa yang saya rasain. Tapi tiap kali saya liat kamu, bawaannya kesel." ucap Al jujur. Kinza lantas mendelik. "Ah, sudah biasa juga di perlakukan macam ini sama Kak Al." batin Kinza protes.
"Kakak pikir aku mau gitu ketemu Kakak? Ogah, bikin mumet otak ku. Tapi mau gimana lagi, dalam waktu seminggu ini Bunda sama Papa mu mau mengadakan acara tiga harian. Apa kata mereka kalau kita pindah secepat itu. Ada alasan apa yang memperkuat keinginan Kakak? Pasti mereka nggak bakal setuju." balas Kinza dengan gamblang. Pingin rasanya dia memaki Al.
Al terdiam sejenak. Dia mengusap wajah nya dengan gusar. "Kenapa gue bisa lupa sih?" batin Al protes, tengsin sekali rasanya.
"Bisa gila saya deket-deket kamu terus." sinis Al judes.
"Udah deh, Kak. Ikutin aja semua keinginan mereka. Toh pernikahan ini di laksanakan karena keinginan keluarga kita. Turuti dan berbakti sama mereka apa salah nya? Ini juga karena kemauan Kakak, kan?" sindir Kinza asal. Entah dorongan dari mana gadis itu mampu mengatakan hal demikian. Al bungkam? Tentu saja. Kata-kata Kinza semua nya benar. Al lah yang menerima perjodohan ini dengan cepat. Tanpa berfikir terlebih dahulu.
Al tak membalas. Dia tak menggubris ucapan Kinza sedikit pun. Keduanya malah sama-sama terdiam lagi.
"Seminggu itu waktu yang singkat. Setelah pindah ke asrama, Kakak bebas kok mau ngelakuin apa aja. Aku juga harus fokus sama kuliah ku." ujar Kinza memecah keheningan. Namun, perkataan nya barusan tak di hiraukan oleh Al. Pria itu fokus pada kemudi nya, dia malas berdebat lagi dengan Kinza.
...---...
"Siap, Bunda. Besok pagi Kinza dan Kak Al berangkat ke Yogyakarta."
"....."
"Iya Bunda, wa'alaikum sallam."
Klik
Sambungan terputus.
Kinza menaruh kembali ponsel nya di dalam tas. "Bunda?" tanya Al cuek. Kinza menganggukkan kepala nya pelan.
"Dia bilang apa saja sama kamu?" tanya Al kembali. Kali ini terkesan lebih lembut.
"Ya gitu deh, kita di suruh siap-siap buat berangkat ke Yogyakarta. Aku sama Kakak duluan kesana, nanti Mama dan rombongan keluarga ku belakangan." jawab Kinza.
"Btw, Kakak nggak ada kerjaan lain gitu? Atau nggak mau jalan-jalan keluar?" tanya Kinza pelan.
"Nggak, malas, apalagi kalo jalan sama kamu." imbuh Al judes. Kinza mendelik kesal.
"Dih, siapa juga sih yang mau jalan sama Kakak." decak Kinza tak suka. Gadis itu kembali menatap jalanan.
"Ya bagus deh." balas Al enteng.
"Kakak tuh kenapa sih, kayak nya gak suka banget sama aku. Salah aku apa coba sama Kakak?" tanya Kinza memberanikan diri.
Al yang ditanya demikian, langsung menatap Kinza dingin. "Nggak sadar posisi kamu, ya? Udah jelas-jelas saya harus putus sama Putri gara-gara kamu. Gara-gara perjodohan ini." bubuh Al pedas. Kinza langsung bergantian menatap Al.
"Kok jadi salah aku sih, Kak? Udah jelas-jelas ini semua karena keinginan kedua orang tua kita. Salah Kakak juga dong kenapa mau di jodohin sama aku!" decak Kinza setengah marah.
__ADS_1
"Hey, denger, ya! Perjodohan ini nggak akan terjadi kalo kamu nggak di lahirkan ke dunia." sinis Al tajam.
"Apa sih mau nya Kakak? Emang nya aku bisa milih mau dilahirkan atau nggak? Kakak ngaco banget sih." cecar Kinza tak suka. Al menghela nafas nya pelan.
"Udah ya, stop. Kita nggak usah bahas hal-hal yang nggak masuk akal. Perjodohan ini nggak akan mengubah segala nya. Kita tetap akan masing-masing, meskipun serumah, anggap aja kita gak kenal." ujar Kinza menyudahi perdebatan nya. Al diam. Pria itu tak menatap Kinza lagi.
Kinza juga ikutan diam. Otak nya di penuhi perasaan marah. Setiap kali berbicara dengan Al, pasti gadis itulah yang mengalah. Al tak ingin kalah, gengsi nya terlalu besar. Sulit sekali menandingi Al dan semua sifat egois nya.
Meskipun demikian, Al juga manusia. Dia tetap punya hati dan otak. Tapi, emosi nya selalu mencuat saat berbicara dengan gadis menyebalkan, yang sekarang telah resmi menjadi istri nya.
Al kadang merasa kasihan, bahkan kadang merasa dirinya terlalu kejam. Tapi, Al bisa apa? Gengsi nya terlalu tinggi untuk sekedar berbicara halus pada Kinza.
"Saya minta maaf." bubuh Al tiba-tiba. Kinza yang tak mengerti apa maksudnya, lantas menatap Al lekat.
"Maaf buat apa?" tanya Kinza dingin.
"Maaf, karena perkataan saya barusan terlalu kejam." balas Al.
Kinza tersenyum kecut. "Baru nyadar, Kak? Kenapa nggak dari dulu minta maaf nya?" sinis Kinza judes.
"Kenapa memang nya? Kamu nggak mau memaafkan saya?" protes Al.
"Gimana ya, Kak? Rasa sakit yang Kakak beri ke aku itu, terlalu besar. Pasti sangat sulit untuk memaafkan. Kalo Kakak mau, aku bisa aja maafin Kakak, tapi ada syarat nya." ujar Kinza menggantungkan kalimat terakhir nya.
"No, nyesel saya minta maaf sama kamu." tolak Al cepat.
"Ya udah, aku juga nggak maksa kok. Kalo mau, ya turutin syarat dari aku. Kalo pun nggak, ya gak masalah." imbuh Kinza malas.
Al mendelik malas. "Iya, gak jadi minta maaf."
"Terserah Kakak deh."
...---...
Suasana di ruang tamu mereka begitu hangat, bahkan Al dan Kinza terlihat begitu romantis. Mereka bak dua orang yang saling mencintai dengan tulus. Tanpa paksaan dan tanpa permintaan. You know lah, mereka sedang membuat sebuah drama.
"Nduk, sini duduk sama Yangti, ajak suami mu juga." panggil seorang wanita paruh baya. Senyuman lembut terukir di wajah cantik nya yang sudah mulai keriput.
Kinza yang merasa terpanggil, dia lantas menengok ke sumber suara. Gadis itu mendapati Nenek nya-Asti, yang sedang tersenyum lembut ke arah nya.
"Kak, dipanggil Yangti. Yuk, temuin dia" ajak Kinza. Al lantas mengiyakan.
"Iya, Yangti, Ada apa?" tanya Kinza lembut. Mereka lantas duduk di hadapan Asti.
"Nduk, semoga pernikahan kalian bahagia. Yangti tau, dasar pernikahan ini karena kalian di jodohkan, bukan karena cinta. Tapi, Yangti harap, suatu saat kalian akan saling mencintai." ujar Asti lembut, sambil menyatukan tangan Al juga Kinza. Kedua sejoli itu lantas terdiam, terpaku dengan kata-kata Asti barusan.
"Jangan membenci siapapun, jangan salahkan siapapun. Ini semua kehendak Yang Kuasa. Kita, harus terima dengan lapang dada. Yangti harap, cinta kalian akan tumbuh seiring berjalan nya waktu. Tak usah terburu-buru, Nduk." bubuh Asti lembut. Bagaikan sebuah panah menancap di tubuh nya. Hati Kinza tertohok mendengar wejangan Asti. Gadis itu bahkan sudah meneteskan air mata.
Al juga sama, pria itu tak menangis. Hanya saja, wajahnya terlihat begitu sendu. Mungkin terharu dengan ucapan Asti.
Al menatap Kinza yang terisak kecil. Entah kenapa hati nya sakit. Bagaimana cinta bisa tumbuh, jika Al terus menyiksa Kinza? Al selalu memperlakukan Kinza dengan tidak semestinya. "Maafkan saya, Kinza." batin Al lirih.
Al mengusap punggung Kinza lembut, dia tak bisa melihat Kinza menangis. Al turut sedih dibuat nya.
"Ingat pesan Yangti ya, Nduk. Jangan pernah membenci siapapun, apalagi membenci orang tua kita sendiri. Ingat, Nduk, ini semua rencana Allah. Kita tidak bisa menolak apalagi memilih. Allah menyatukan kalian dengan cara yang kurang kalian sukai, tapi percaya lah, Allah tau yang terbaik untuk kalian.
__ADS_1
Jika kalian bertengkar, salah satu nya harus bisa meredam. Jika Al jadi api, maka Kinza harus jadi air. Begitu juga sebaliknya. Bersikaplah seperti seorang suami istri, meskipun sulit. Tapi Yangti yakin, semua nya akan mudah jika kalian saling berusaha. Jagalah nama baik keluarga, jangan buat mereka sedih. Sebelum bertindak, Yangti harap kalian berfikir terlebih dahulu.
Semoga, hati kalian tergerak. Karena sesungguhnya, Allah lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Begitu juga kita." sambung Asti panjang lebar. Rasanya semakin sakit.
"Jangan menangis, Nduk. Jadikan wejangan ini sebagai acuan untuk kehidupan kalian. Kinza paham, kan?" imbuh Asti lembut.
Kinza mengangguk pelan. Bibir nya terasa kelu untuk berbicara.
"I-iya, Yangti. Terima kasih atas segala nya, Kinza janji, Kinza akan mengikuti semua perkataan Yangti. Kinza akan jadi manusia penyabar, Kinza juga akan jadi istri yang baik. Mohon doakan Kinza selalu." lirih Kinza sambil mencium tangan Asti.
"Pasti, Nduk. Doa Yangti akan selalu menyertai mu."
"Nak, Al. Tolong jaga Kinza dengan baik, bimbing dia ke jalan yang benar. Yangti tau, Nak Al ini sungguh orang yang berhati baik dan lembut." sambung Asti.
"Siap, Yangti." balas Al seraya mencium tangan Asti, bergantian dengan Kinza. Setelah itu saling berpelukan.
"Ya sudah, kalian istirahat ya. Besok pagi kalian harus berangkat ke Yogyakarta. Yangti nggak mau kalo Kinza juga Al kelelahan." alih Asti cepat.
Mereka bertiga menurut. Kedua nya langsung menuju kamar atas. Masih tetap sama, drama mereka masih berjalan, sampai tak ada seorang pun yang menyadari.
Kinza masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai. Tangan lentik nya masih terus di genggam oleh Al. Ada yang aneh, mereka sudah berada di kamar. Tapi, kenapa Al tak melepas genggaman tangan nya pada lengan Kinza?
"Kak, lepasin, ini udah di kamar." ujar Kinza pelan.
Al langsung gelagapan. Tingkah nya sangat aneh, bak maling yang tertangkap basah.
"Maaf." balas Al kikuk seraya melepas genggaman tangan nya.
"Aku mau istirahat, kalo Kakak mau tidur di bawah, aku udah siapin karpet nya. Nanti tinggal di pasang aja." bubuh Kinza sambil beranjak ke tempat tidur. Tapi langkah Kinza terhenti saat sebuah tangan menghalau nya.
"Saya mau tidur di atas." ujar Al datar.
"Maksud Kakak, aku tidur di bawah gitu?" sinis Kinza judes.
"No, kamu tidur berdua sama saya. Besok perjalanan kita lumayan jauh, bisa sakit badan kalo tidur di lantai." alibi Al datar.
"Ya udah terserah, Kakak. Aku ngantuk, capek, mau tidur." ujar Kinza malas. Jauh di lubuk hati nya, Kinza begitu merasa gugup. Jantung nya berdetak lebih cepat dibandingkan biasa nya. Tapi, sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan kegugupan nya.
Kinza naik ke atas ranjang, di susul oleh Al yang berbaring di sebelah nya. Gadis itu membelakangi Al, dia bahkan tidak tau posisi Al tidur.
Jarak mereka lumayan jauh, ada sebuah pembatas juga di tengah-tengah mereka. Tapi entah kenapa, rasa gugup semakin dan semakin menjalar ke seluruh tubuh Kinza.
Kinza terlihat gusar, dia bahkan sulit memejamkan mata.
Perlahan tapi pasti, gadis itu membalikkan badan nya. Dia mendapati Al tengah tertidur pulas sambil menghadap ke arah Kinza. Wajah nya yang biasa judes, jutek, dingin dan datar. Kini, terlihat lembut. Nafas nya teratur. Kinza suka posisi ini, dia bisa leluasa menatap wajah damai Al saat tertidur.
"Jadi Kak Al udah tidur? Kok cepet banget?" gumam Kinza.
"Coba aja wajah Kakak selalu kayak gini. Nggak usah pasang wajah datar, judes, dan dingin. Kalo begini, Kakak kelihatan lebih ganteng. Sumpah aku ga bohong, Kakak emang ganteng, kok." ujar Kinza dengan suara pelan. Gadis itu terus menatap wajah Al dengan lekat.
"Ah, aduh, kenapa aku jadi perhatiin dia. Jangan sampe naksir, please Kinza jangan sampai sukaaak." alih Kinza cepat. Kenapa juga dia bisa memuji Al macam tadi? Kenapa dia bisa dengan mudah nya melupakan rasa sakit yang Al beri. "Plis Kinza, jangan jadi perempuan murahan." protes Kinza dalam hati.
Kinza lantas mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Dia dengan leluasa menatap langit-langit kamar. Sungguh, ini lebih baik dari pada harus menatap wajah Al.
Hingga tanpa Kinza sadari, ternyata Al belum tertidur. Pria itu pun merasakan kegugupan yang sama. Al bahkan mendengar semua perkataan yang keluar dari bibir manis milik Kinza. Al tau, entah kenapa hati nya menghangat saat mendengar ocehan bodoh dari Kinza.
__ADS_1
Senyum Al tercetak jelas, perlahan pria itu membuka matanya. Al bisa melihat dengan jelas wajah Kinza yang terlihat gusar. Tingkah gadis itu terlihat lucu dan menggemaskan. Al suka, dia suka melihat Kinza gugup atas dirinya. Al merasa menang atas Kinza.
"Cantik sekali." bubuh Al dalam hati.