
Kinza Irsyania Malik POV
Setelah melaksanakan shalat isya, kami sekeluarga mulai sibuk pada tugas nya masing-masing. Aku dan Claudia sibuk menyiapkan sosis, udang, dan daging yang akan di bakar. Mama dan Bunda menyiapkan sambal, nasi, dan antek-anteknya. Mas Al, Papa, dan Ayah sibuk menghidupkan api. Sementara Kenzo, dia sibuk mengabadikan momen menggunakan kamera digital.
Untung Alief sudah tidur. Jadi, beliau hanya di jaga oleh Bi Iyam.
Sempurna! Malam ini kami bisa happy-happy. Bercengkrama hangat dengan anggota keluarga di temani Beefsteak dan aneka sosis bakar. Rasanya, Ah mantap!
“Pa, udah siap arang nya?” tanya ku setengah berteriak.
“Sudah, Nak. Coba kamu bawa ke sini daging dan sosis nya!”
“Siap, Papa!”
Aku menyerahkan hasil mahakarya ku dan Claudia ke hadapan Papa. Tak ambil pusing dengan bentuk nya yang aneh, Papa langsung membakar sedikit demi sedikit daging dan sosis yang sudah di siapkan.
“Jo, foto kami dong! Sini-sini kamu buat video nya.” ujar Ayah mertua pada Jojo yang sibuk bercengkrama dengan Claudia. huhu, bener-bener ini anak. Budak cinta alias bucin tingkat dewa!
“Siap, Bapak Jenderal!” ucap nya tegas.
Suasana hangat terjalin saat ini. Kami bercengkrama hangat. Berbagi pengalaman satu sama lain.
Momen seperti ini lah yang akan kami rindukan. Menjalin kasih bersama orang-orang spesial. Ah, lagi-lagi aku teringat anak-anak yatim piatu tadi. Mereka sedang apa, ya? Sudah makan atau belum? Mereka makan enak seperti ini atau nggak, ya? Huft, mendadak hati ku sedih.
Mas Al duduk di sebelah ku sembari membawa piring berisi udah lobster yang sudah matang. Dia menawarkan, namun aku tolak secara.
“Mam, kamu kenapa? Sakit? Kok diam terus?” tanya nya sembari mengecek dahi dan juga pipi ku.
Aku menggeleng cepat, “nggak, Mas, aku hanya sedih aja sekarang. Tiba-tiba teringat anak yatim piatu yang tadi sore. Dia masih kecil sekali, Mas.” balas ku sembari bersandar di bahu nya.
Mas Al mengusap kepala ku dengan lembut. “Kalau kamu mau, besok kita temui dia.” ujar Mas Al memberikan sebuah ide. Wah, boleh juga tuh!
“Mau, Mas, mau banget! Ajak ke rumah saja, makanan di rumah kita 'kan banyak!” ajak ku antusias. Seketika, kesedihan yang tadi melanda langsung sirna begitu saja.
“Boleh sayang, ada syarat nya tapi.”
“Apa itu?” tanya ku penasaran. Eh, apa sih Mamas ku ini, kenapa harus ada syarat nya segala?
“Kamu nggak boleh sedih lagi. Aku nggak mau lihat kamu murung, aku nggak mau melihat kamu diterpa kesedihan.” ucap nya seketika membuat ku meleleh. Woah, benar-benar so sweet sekali suami ku ini! Makin sayang dan cinta, sumpah nggak bohong!
“Makasih banyak, ya, Mas! Aku makin cinta sama kamu. huhu sayang banget!” ucap ku sambil mencium pipinya. Weh tau tempat say, ada yang tua-tua itu! Hihi biar saja lah, toh mereka pernah seperti ini 'kan?
“Hem, itu yang lagi berduaan. Sini gabung lah, Nak. Asoy bener seperti dunia milik berdua.” ucap Bunda setengah meledek.
“Yang lain nya ngontrak tuh! Dasar budak cinta!” sungut Kenzo ikut-ikutan.
“Heh, nggak nyadar diri banget! Lo juga bucin terus, Jojo!” cecar ku tak mau kalah. Sontak semua orang tertawa.
Hm, kalau masalah ribut antara aku dan Kenzo memang tidak ada habis nya. Aku sudah menikah. Tapi, kalau sudah bertengkar dengan nya, berubah seperti anak SMP. Nggak mau kalah.
“Udah yuk makan. Nih sambal buatan Mama dan Bunda sudah jadi, yuk mari makan yuk!”
“Ayuk Bunda, Al sudah lapar ini!” seru Mas Al seperti bocah TK. Memang, sambal buatan Bunda itu sangat lezat. Sampai ketagihan rasanya!
“Claudia, sini gabung, Nak!”
“Iya Tante, Claudia telepon Mama dulu.”
“Oke, sayang.”
...---...
Pagi hari nya, aku dan Mas Al bersiap untuk pulang. Mengingat hari ini adalah weekend, maka kami memutuskan untuk berangkat ke Jakarta lebih awal.
Alief sudah terbangun dari pukul tiga pagi. Sampai saat ini dia tak tidur kembali. Maklum, Alief tidur lebih awal tadi malam. Pasti ketika di perjalanan nanti, dia bakalan tertidur kembali. Hmm, lucunya bayi ku! Menggemaskan sekali kamu, Nak!
Nah, sekarang beliau sedang di mandikan oleh Bunda. Sementara Mama, beliau menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga di bantu oleh Claudia. Hm, sahabat ku menginap, tak di izinkan pulang oleh Mama sebab di rawan di perjalanan malam.
Dan aku? Santai-santai sembari menyiapkan keperluan Alief. Maklum saja, kalau sudah ada Bunda dan Mama, aku seperti Nyonya. Tak di biarkan bekerja. Aneh 'kan? Tapi aku suka, gimana dung?
“Sayang, baju Mas dimana, ya? Kok Mas cari-cari di tas nggak ada?” tanya Mas Al yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh bagian atas nya erekspos sebab Mas Al hanya melilit handuk di bagian pinggang nya. Aw, gemes!
__ADS_1
“Ini sayang, tadi aku setrika soalnya berantakan.” ucap ku sembari mengacungkan kaos kerah berwarna hitam.
“Uh, terima kasih istri ku.” ucap nya seraya mengambil alih baju kerah tersebut dari tangan ku. Namun, ketika beliau hendak mengambil alih, dengan cepat aku menarik nya kembali. Menjahili suami pagi-pagi seperti ini boleh 'kan? Boleh dong!
“Ih nakal! Mau Mas cium sampai lemes kamu, ha?” ujar nya sembari memeluk dan menggelitik perut ku.
“Mau dong, mau di cium sama, Mas. Aku kangen kamu, Mas!” bubuh ku manja. Murahan sama suami boleh kok, halal! Nggak dosa wkwk.
Mas Al mendekatkan wajahnya ke wajah ku. Ah, jantung berasa mau copot. Rasa nya seperti baru pertama kali jatuh cinta. Aku suka, aku suka.
“Cup.”
“Cup.”
“Cup.”
Beliau mencium ku dengan cepat. Satu di pipi kanan, satu di pipi kiri, dan satu nya lagi di kening. Lho, di bibir nya mana ini?
“Di sini nggak?” ucap ku sembari menunjuk ke arah bibir. Mas Al mesem singkat dan mendekatkan kembali wajahnya.
“Kalau yang itu buat nanti malam. Kita habiskan waktu bersama, Dek. Mas juga sudah kangen berat sama kamu.” ucap nya berbisik di telinga ku. Seketika membuat bulu kuduk berdiri.
Aw - aw - aw aku mau terbang rasanya! Merinding akut!
“Nanti di lanjut, ya, sayang. Sekarang kita siap-siap pulang.” ucap beliau menyapa pikiran ku yang kotor. Duh, mikir nya yang nggak-nggak terus sih aku ini, malu tapi mau, hiks!
“Siap sayang ku!”
Well, waktunya sarapan setelah itu capcuss pulang!
“Kinza pamit, ya, Ma!” ucap ku berpamitan sembari cipika-cipiki dengan Mama. Beliau nampak sedih melepas ku dan Alief.
“Sering-sering ke Bogor, ya, Nduk! Mama cepet kangen sama Alief soalnya!” balas Mama sambil mencubit pipi ku dengan gemas, setelah itu mencium wajah Alief.
“Iya, Nini, doakan saja semoga Alief sehat terus. Doakan juga supaya Alief cepat besar!” ucap ku menirukan bahasa bayi.
Mama dan Mas Al terkekeh, “Yuk pulang, keburu macet sayang. Kasian nanti Alief nya.”
“Iya, Mas!”
...---...
“Mas, beneran hari ini kita ke rumah anak yatim itu? Mendadak badan ku lemas, Mas. Gimana kalau lain hari aja?” tanya ku pada Mas Al yang fokus menyetir.
“Aku ikut kamu aja, Sayang. Kapan kamu siap nya, ya terserah kamu. Cuma satu pesan dari aku, jangan dadakan ya, sayang. Soalnya aku nggak bisa izin sembarangan.” balas beliau dengan lembut.
“Iya, siap, Mas!”
“Pintar!” bubuh nya sembari mencubit pipi ku dengan gemas! Hello Mas Al tercinta, ada anak mu ini lho!
Waktu tempuh sekitar satu jam lima belas menit. Untung saja kami berangkat tepat waktu. Karena kalau tidak, sudah sejak tadi kami terkena macet. Bisa gawat sebab aku bawa bayi mungil.
Sesampainya di rumah, aku langsung menidurkan Alief di box bayi nya. Dia sudah terlelap sejak dari jalan tol. Tuh kan apa aku bilang. Bayi ini tidur melulu kerja nya hihi.
Sementara Mas Al, beliau mencuci tangan dan muka terlebih dahulu, setelah itu rebahan di atas kasur. Dan aku? ya ngikut Mas Al lah! Capek pantat, wkwk
“Mas, itu kok rumah Mbak Putri dekat dengan kita? Kok bisa, Mas?” tanya ku penasaran sambil ikutan rebahan di samping Mas Al.
“Ya biar aja, sayang. Nggak usah ambil pusing. Yang penting dia nggak sering-sering ke sini.” ucap Mas Al nampak tenang.
“Tapi kalau dia datang ke rumah gimana, Mas?”
“Ya terima aja, sayang. Kamu tetap jaga nama baik ku. Sewajarnya saja memperlakukan dia, toh dia jauh di bawah kamu.” ujar Mas Al masih tetap tenang.
“Kok gitu, Mas? Jauh di bawah aku maksud nya apa, ya?” tanya ku makin penasaran.
“Sayang, masih ingat sama ucapan aku soal pangkat? Jadi, Arjuna itu pangkat nya jauh di bawah Mas, dia masih Lettu, sedangkan aku sudah Mayor. Jadi bersikap lah sewajarnya saja. Tapi ingat, ya, jangan sesekali kamu menyalahgunakan kekuasaan. Pangkat itu kepunyaan aku, tugas kamu menjaga nama baik ku. Itu saja!” ucap nya kalem tapi terdengar tegas. Walah, dia tidak sombong ternyata. Makin kagum, makin cinta!
“Lagi pula kantor kami beda, kok, sayang. Mas tugas di Koramil.” sambung Mas Al.
“Siap, Mas, aku akan selalu jaga nama baik kamu, nama baik keluarga kita.”
__ADS_1
“Nah gitu dong sayang! Uh, Mas makin cinta jadi nya sama kamu. Makin dewasa saja ya!”goda Mas Al sembari mencolek dagu ku.
“Ih Mas apaan sih! Genit ah!” ujar ku sok-sokan nolak, padahal aslinya mau banget.
“Masa nifas mu sudah selesai, sayang?” tanya nya membuat ku langsung merinding. Wah, aku tau arah pembicaraan ini.
“Ss-sudah, Mas. Memang nya kenapa?”
“Boleh dong kalau mau penyatuan?” goda nya semakin membuat ku merinding disko. Ih takut takut mau gitu haha.
“Bb-boleh aja, Mas. Emang nya mau sekarang?”
“Iya, Mas udah ga tahan!” ucap beliau dan langsung menarik ku ke dalam dekapan nya.
Mas Al mencium bibir ku dengan lekat. Asoy, nikmat bener!
Tangan nya mulai bergerilya kesana-kemari membuka pakaian yang aku pakai saat ini. Tak tinggal diam, aku juga membuka pakaian yang sedang Mas Al kenakan. Ketika tinggal penyatuan, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu.
“tok tok tok”
Kegiatan kami langsung terhenti. Aku dan Mas Al saling melempar tatapan. “Itu siapa sih? Ganggu aja!” ucap Mas Al seraya memakai pakaian nya kembali. Wajah nya memerah menahan gairah dan amarah.
Dengan cepat, aku memakai kembali pakaian yang sudah terlepas seutuhnya. Begitu juga dengan Mas Al. Huft, gagal penyatuan wkwk.
“Sabar, Mas, mungkin belum waktu nya.” ucap ku sambil terkekeh geli.
“Tok tok tok” bunyi ketukan pintu terdengar lagi. Mas Al terlihat sangat marah dan malas.
“Siapa sih pagi-pagi udah berkunjung?” tanya beliau dengan nada kecut.
“Udah lah, Mas, kamu datengin aja sana. Siapa tau penting 'kan?”
“Iya sayang.”
“Pasang dong wajah ganteng kalem nya? Wibawa nya harus tetap terlihat!” ucap ku memberi nya semangat. Ahay, kasian sekali yang sudah ngebet penyatuan dan akhirnya gagal. Tahan sayang, nanti malam kita lanjutkan hihi.
...---...
Althafariz Ramaditya Dirgantara ****POV****
“Izin, selamat pagi Danramil, maaf menganggu waktu istirahat nya.” sapaan sok akrab meluncur mulus dari tamu tak di undang ini.
“Iya, kalian ganggu banget! Merusak kebahagiaan orang aja bisa nya!” batin ku bergemuruh. Ingin rasanya menutup pintu sekarang juga! Kalian tau siapa yang datang? Beliau adalah Arjuna dan Putri, ekhm, si manusia purba lagi!
“Iya nggak apa-apa. Ada datang ke sini pagi-pagi?” tanya ku dengan nada kalem.
“Izin, saya ingin berkunjung, dengar-dengar katanya Bapak Danramil baru saja melangsungkan acara aqiqah. Izin, kami hanya ingin mempererat tali silaturahmi.” ucap Arjuna dengan tegas.
Aku melongo. Demi apa mereka datang hanya karena ingin berkunjung? Sumpah, nggak ada gairah banget buat nyuruh mereka masuk. Ekhm, jaga sikap, Al! Tahan, tahan!
“Siapa yang datang, Mas?” tanya istri ku dari dalam sana. Tak kama kemudian, beliau datang sambil mengikat rambut nya tinggi-tinggi.
Dia langsung terdiam. Ups, sepertinya dia kaget. Ya jelas kaget, baru beberapa menit yang lalu kami membicarakan mereka, eh, sekarang sudah ada di hadapan kami. Hem, sepertinya karma nih, karma membicarakan orang lain wkwk.
“Ajak masuk, Mas.” ujar Kinza dengan ramah. Dia langsung melipir ke dapur.
“Ah iya, Mas, lupa. Mari silakan masuk, maaf berantakan, maklum mau penyatuan tapi gagal.” sindir ku secara halus. Sontak, wajah mereka berdua memerah. Malu nih, ye!
“Izin, siap tidak apa-apa!”
“Alief nya kemana, Mas?” tanya Putri memecah keheningan.
“Tidur, kecapean karena kami baru sampai dari Bogor.” ucap ku sembari menaikkan suhu AC. Maklum, adegan panas yang tertunda membuat ku butuh yang dingin-dingin. Gak tahan cok! Untung saja “Adik” ku masih bisa di kontrol.
“Owalah, maaf ya, Mas, kami datang di saat yang tidak tepat.” ujar Putri tak enak. Hem, baru nyadar, Bu?
Eh tapi, berani banget dia manggil aku Mas. Pasti belum di beri tahu oleh Arjuna. ck ck ck, pasangan baru ini! Harus ada bimbingan khusus!
“Iya nggak apa-apa, saya sudah biasa seperti ini.”
Tak lama kemudian, Istriku datang sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
“Ini silakan di minum.” ucap Kinza dengan ramah.
Baiklah-baiklah, istri ku masih bisa lembut dan kalem. Beda dengan aku yang memasang wajah kecut tapi berusaha di buat biasa aja. Nggak bisa, sumpah! Sebab mereka telah menghancurkan semua nya!