
"Lantas bagaimana dengan perasaan aku, Kak?"
---
Empat bulan kemudian.
Kinza melangkahkan kaki nya masuk ke dalam salah satu Wedding organizer ternama di kota Bogor. Beberapa bulan lalu, Kinza resmi menjadi seorang Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta, fakultas Sastra Indonesia. Hal ini merupakan tanda semakin dekat nya pernikahan antara Kinza dan Althafariz. Lebih tepat nya dua bulan lagi.
Perlahan gadis itu menerima kehadiran Al. Meskipun sulit, tapi Kinza tetap memaksakan nya. Kadang-kadang Kinza melihat kedekatan antara Al dan Putri, entah kenapa dada nya selalu bergemuruh. Ada rasa tak rela melihat Al bersama perempuan lain. Kinza jatuh cinta pada Al? Tentu saja tidak! Kinza merasa demikian sebab bagi nya, sesuatu yang akan dekat dengan nya maka akan menjadi milik nya.
Seperti saat ini. Entah ide gila dari mana, Al malah mengajak Putri ikut ke wedding organizer untuk memilih konsep pernikahan. Padahal kedua orang tua mereka ada di sana. Al benar-benar sudah gila.
"Lho, Puput ikut ke sini juga?" tanya Zahra setibanya di dalam ruangan. Putri tersenyum ramah. Gadis itu mengangguk pelan.
"Eh sebentar ya tante, Puput mau bicara dulu sama Kinza." ucap Putri seraya menarik lengan Kinza. Kinza langsung terperanjat, kaget dengan perlakuan Putri yang tiba-tiba. Tapi gadis itu memilih diam mengikuti langkah Putri.
Putri menutup pintu toilet. Sebelumnya dia memastikan kembali agar benar-benar tidak ada orang.
"Ada apa, Mbak?" tanya Kinza pelan. Putri langsung menghempas tangan Kinza dengan kasar. Lagi-lagi Kinza di buat kaget. Semakin lama sikap Putri terhadap nya semakin kejam. Tak peduli sedekat apapun mereka dahulu. Kinza menerima, mungkin kesalahan nya terlalu besar hingga membuat Putri menjadi bringas.
"Kamu ngerti kan apa yang Mbak bilang tempo lalu?" tanya Putri memastikan. Dia melipat tangan nya di dada. Raut wajah nya berubah menjadi sinis.
Kinza ingat betul.
"Iya masih ingat, Mbak. Konsep pernikahan nya seperti yang Mbak dan Kak Al inginkan. Nuansa gedung serba berwarna navy dan silver. Hiburan dengan lagu Timur Tengah, dekorasi bunga harus berwarna putih dan merah, hiasan nya berwarna gold. Serta eskrim durian." ucap Kinza dengan lancar. Tidak ada yang cacat, semua nya seperti keinginan Al dan Putri.
"Satu lagi, jangan bilang pada siapapun ide ini. Bilang saja ini semua keinginan Kinza." sambung Kinza sambil menatap kosong ke depan. Kinza tau sekarang, bukan Al lah yang mengajak Putri bergabung ke tempat ini. Tapi Putri lah yang memaksa.
Putri mengangguk senang. Lantas dia pergi meninggalkan Kinza dengan seluruh perasaan yang berkecamuk di dada nya.
'Sebenarnya yang menikah, gue atau Mbak Putri?!' gumam Kinza lirih sambil menatap kepergian Putri dengan nanar.
Tak lama kemudian, Kinza beranjak dari toilet menyusul kepergian Putri. Sebisa mungkin dia memasang wajah yang biasa saja seakan tak terjadi apa-apa. Cukup sulit bagi Kinza. Dia masih terlalu dini untuk mendapatkan ini semua. Bagi nya, masa-masa di usia yang baru akan menginjak delapan belas tahun harus lah di isi dengan keceriaan. Bukan kesedihan yang datang bertubi-tubi macam sekarang. Kinza hanya bisa menghela nafas nya pelan.
"Aduh lama sekali sih ini calon mempelai wanita." canda mama halus sambil mengusap kepala Kinza pelan. Kinza langsung tersenyum kikuk.
"Jadi gimana konsep nya, coba Kinza sebutkan apa saja konsep yang di inginkan?" tanya Sada lembut. Dia juga lantas membelai kepala Kinza dengan sayang. Kinza melirik ke arah Al, pria itu masih tetap cuek dan dingin. Kinza bergantian menatap Putri, gadis itu terlihat iri dan sedikit terluka. Kinza langsung merasa tak enak.
Putri langsung memberikan kode agar Kinza mengatakan konsep yang sudah Putri dan Al pilih. Dia mengedipkan mata pertanda mengerti.
"Konsep nya gini Tante, Nuansa gedung nya berwarna Navy dan Silver, terus hiburan nya dari musik Timur Tengah. Dekorasi bunga berwarna merah putih, hiasan nya gold, serta harus ada es krim durian." balas Kinza sambil menatap ke arah Putri.
Al langsung terkejut. Kenapa semua konsep nya sama seperti yang di inginkan oleh Al dan Putri. Siapa yang membocorkan semua nya?
Sementara itu, Mama memandang Kinza tak percaya. Bagaimana bisa semua konsep yang di pilih Kinza berbanding terbalik dengan apa yang ia suka.
Kinza suka nuansa pink putih, musik Indonesia, dia menyukai bunga mawar pink, serta tidak suka apapun yang berbau durian.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya mama memastikan. Kinza langsung terperanjat.
"Iyaa nggak apa-apa lah Ma, memang nya kenapa?" tanya Kinza balik. Dia memasang wajah biasa saja. Mama mendelik, dia langsung menatap Kinza tak percaya.
__ADS_1
"Ini bukan Kinza yang mama kenal."
Blash..
Kinza langsung mematung seketika. Tubuh nya menegang bak tersengat aliran listrik. Sekarang dia harus apa? Bagaimana menjawab pertanyaan mama barusan?
"Kamu mau bikin hancur pesta pernikahan mu sendiri?" tanya mama datar. Dia lantas memegang bahu Kinza.
"N-ng-nggak ma, a-anu. Kinza, itu pilihan Kak Al sama Kinza. Kita sudah sepakat, iya kan Kak?" tanya Kinza pada Al. Cowok itu masih diam. Bingung dengan perkataan Kinza barusan.
"Kak Al?" tanya Kinza lagi.
"Eh, iya tante." balas Al singkat.
"Kalian nggak lagi menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Sada mengintimidasi. Mama juga ikutan menatap mereka lekat-lekat.
"Nggak." balas Al dan Kinza berbarengan.
"Oke deh, yuk kita lanjutkan." ujar mama seraya menarik lengan Kinza lembut, sekarang hanya tinggal tersisa Al dan Putri.
...---...
"Kamu yang sudah membocorkan semua nya?" tanya Al pada Putri. Gadis yang di tanya demikian langsung menghentikan langkah nya.
"Jawab aku Put, apa kamu yang sudah membocorkan konsep pernikahan yang kita inginkan?" tanya Al sekali lagi. Putri langsung diam. Gadis itu menatap Al sendu.
"Iya, ini semua ide ku Al. Kenapa memang nya? kamu nggak suka?" jawab Putri lirih. Dia mendekati Al satu langkah.
"Tapi Kinza tidak suka apapun yang berbau durian! Kamu sudah tau kan sejak dulu?! Kenapa harus ada es krim durian?" tanya Al tidak percaya. Lantas pria itu memegang bahu Putri.
"Kenapa memang nya? Es krim durian itu kesukaan kita berdua. Bukankah itu keinginan kita Al? Bukahkan ini pernikahan idaman kita?!"
"Tapi ini pernikahan ku dengan Kinza, Put! Kinza bisa pingsan mencium bau durian! Kamu mau bikin pesta ku hancur?!" balas Al sambil meninggikan suara nya. Al benar-benar kecewa dengan sikap Putri barusan.
Plak.
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Al. Al yang belum siap menerima tamparan tersebut, membuat tubuh nya sedikit goyah.
"Kamu jahat bangat ya, Al! Kamu nggak menghargai perjuangan ku untuk membuat mu senang di pesta pernikahan mu! Kamu udah nggak waras Al!" ujar Putri dengan tatapan nanar.
"Kamu yang udah nggak waras! Di pikiran kamu cuma ada kita berdua. Kamu nggak pernah memikirkan perasaan orang lain kan?! Sudah cukup Kinza di buat menderita sama kamu Put, jangan terus-menerus siksa dia!" ujar Al sambil memegang pipinya yang memanas.
"Apa peduli mu Al? Kenapa sekarang semua nya tentang Kinza?! Kamu nggak mikirin perasaan aku kan? Mana Al yang selalu mencintai ku? Mana Al yang penurut? Mana Al yang romantis? Kamu udah berubah Al, kamu udah gak sayang sama aku!" Putri mulai terisak kecil. Al bingung harus apa.
"Harus nya aku yang bicara seperti ini sama kamu, Put. Kamu udah berubah, mana Putri yang lemah lembut? Mana Putri yang penyayang dan baik hati? Mana Putri yang peduli dengan orang-orang?!"
"PUTRI SUDAH MATI BERSAMA SEMUA KEKECEWAAN DAN KEBENCIAN!" ujar Putri seraya meninggalkan Al yang masih membisu. Al menatap kepergian Putri dengan perasaan berkecamuk. Dia seperti hancur sekarang. Di satu sisi dia mencintai Putri, tapi di sisi yang lain dia juga peduli pada Kinza. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Mengejar Putri atau menemui Kinza?
...---...
Seorang gadis cantik tengah duduk merenung di salah satu cafe ternama di Kota Bogor. Gadis itu terisak kecil sambil menatap sebuah foto-foto mesra antara diri nya dan juga seorang pria yang amat sangat ia cintai. Gadis itu bernama Putri Naima. Gadis yang menjadi korban diantara perjodohan seorang Althafariz dan Kinza Irsyania. Gadis yang sekarang menyimpan kebencian dan kekecewaan di hatinya.
__ADS_1
Putri Naima. Dahulu perempuan itu amat penyayang, dia gadis yang ceria, baik hati, dan selalu bersimpati pada setiap orang. Gadis dengan tutur kata yang lemah lembut dan gadis yang mempunyai jiwa penyabar. Dan sekarang, semua nya sudah hilang. Putri telah berubah menjadi sosok yang dingin dan jahat. Dia tak lagi memikirkan orang lain. Gadis ini menjadi angkuh dan pendendam. Dia lah Putri Naima. Gadis yang kehilangan seluruh cinta di hidup nya.
"Put?!" sapaan seseorang membuat Putri mendongak ke arah nya. Matanya terpaku pada sosok pria berbaju loreng dengan topi khas Tentara yang bertengger di kepala orang itu. Dia adalah Arjuna Bima Nusamalima.
"Boleh gue duduk di sini?" tanya Arjuna. Sontak Putri mengangguk mengiyakan Arjuna untuk duduk di hadapan nya. Putri kembali merenung, di tatap nya lagi foto-foto dia dan Al di dalam benda persegi panjang miliknya.
Arjuna menatap Putri lekat-lekat. Gadis di hadapan nya ini adalah teman Arjuna sewaktu SMA dulu. Mereka sudah saling kenal, bukan hanya di sekolah. Tapi juga di Asrama.
"Masalah Al?" tanya Arjuna memastikan. Putri lantas kembali mendongak dan menatap Arjuna.
"Bukan urusan lo, Ar!" ujar Putri malas sambil menatap Arjuna dengan sinis. Arjuna mendelik, dia malah menatap Putri semakin dalam.
"Oh ya? Jelas ini urusan gue, Put. Selama ini, lo selalu berbuat kejam sama Kinza. Dengan kepergian gue, bukan berarti gue berhenti mengawasi lo!" balas Arjuna dingin. Dia menatap Putri yang tersenyum kecut.
"Gue nggak peduli!" ujar Putri lirih.
"Semua orang hanya peduli sama Kinza. Semua nya Ar, bukan hanya Al. Tapi lo juga hanya mementingkan Kinza di bandingkan gue. Teman macam apa lo, hah?" sambung Putri sambil berkaca-kaca. Arjuna menghela nafas nya pelan. Dia tau wanita ini, dia tau sifat asli Putri. Dia tidak jahat, dia hanya iri.
"Lo tau, Ar? Sekarang semua orang nggak ada yang peduli sama gue. Gue sendiri Ar, gue sakit. Orang tua gue sudah meninggalkan gue, dan sekarang? Al pun akan pergi meninggalkan gue! Salah gue dimana Ar? Gue selalu baik sama orang lain, tapi di sini gue yang paling tersakiti! Gue bingung Ar, kenapa hidup gue jadi berantakan seperti ini, hiks-hiks." ucap Putri gamblang sambil mulai terisak. Air mata kesedihan nya langsung luruh membasahi wajah cantik nya yang mulai kemerahan. Arjuna berpindah posisi, dia duduk di sebelah Putri. Arjuna membawa Putri ke pelukan nya.
Gadis itu semakin terisak, tangis nya memecah menjadi besar. Tubuh Putri bergetar hebat. Sungguh Putri sangat hancur sekarang.
"Kesalahan lo cuma satu, Put. Lo hanya iri dengan kedekatan Al dan Kinza. Put, dengerin gue baik-baik. Mulai sekarang lo harus bisa ikhlasin Al buat Kinza. Sebesar apapun usaha lo untuk terus membersamai Al, pasti semua nya akan sia-sia. Lo nggak di takdirkan buat Al, begitu juga gue. Gue nggak di takdirkan buat Kinza." ucap Arjuna lirih.
"Lo sakit hati, gue pun sama Put. Tapi gue sudah ikhlaskan mereka untuk bersama. Lo tau kepergian gue beberapa bulan lalu? Itu nggak semata-mata gue tugas, tapi itu adalah cara gue mengikhlaskan Kinza. Dan lo! Sekarang lo harus terima kenyataan dan ikhlasin Al. Lo ngerti kan ucapan gue?!" sambung Arjuna lagi. Putri malah semakin menangis. Sangat sulit untuk mengikhlaskan orang yang sudah membersamai nya selama lima tahun.
"Ar?" panggil Putri lirih seraya melepas pelukan Arjuna. Putri mendongak, dia menatap Arjuna dengan sendu.
"Bantu gue untuk ikhlasin Al." ujar Putri lirih. Arjuna mengangguk.
"Gue pasti bantuin lo." balas Arjuna.
"Bantu gue untuk menghilangkan kebencian ini Ar."
"Gue akan bantuin lo Put, tapi dengan satu syarat." ujar Arjuna seraya menggantungkan kalimat terakhir nya. Putri lantas menatap Arjuna penuh pertanyaan.
"Apa syarat nya?" tanya Putri.
"Jangan pernah muncul lagi di kehidupan mereka berdua." balas Arjuna.
"Apa gue bisa?"
"Lo pasti bisa, gue akan selalu bersama lo. Gue akan bantu lo untuk melupakan Al, begitu juga lo. Lo akan bantu gue melupakan Kinza. Tapi harus ingat syarat dari gue, jangan pernah ganggu kehidupan mereka berdua dan jangan pernah sakiti Kinza."
"Gue janji!" balas Putri sambil memeluk Arjuna. Arjuna membalas nya. Ini semua harus Arjuna lakukan. Dia hanya tidak ingin melihat Kinza di sakiti. Arjuna memang mencintai Kinza. Tapi bukankan cinta tidak harus memiliki?
Arjuna mencintai Kinza dengan sepenuh hati. Arjuna rela mengorbankan apapun untuk Kinza. Termasuk perasaan nya sendiri.
Sekarang Arjuna tau. Keselamatan dan kebahagiaan Kinza adalah segala nya untuk dia. Apapun yang terjadi, Arjuna tetap akan mencintai gadis nya.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like dan komentar nya aku tunggu. Dan, jangan lupa vote aku yaps!🥰
__ADS_1