
Di Bab ini ada sedikit adegan17+ nya, tapi tenang, tidak begitu vulgar. Jadi masih aman, yups!
Kinza Irsyania Malik POV
“Beristirahat lah sayang. Jangan pernah ikut campur terhadap urusan orang lain. Cukup tingkat kan saja kewaspadaan. Tapi, tetap harus bersikap sewajarnya saja!”
Kalimat yang keluar dari mulut Mas Al terngiang jelas di telinga ku. Demi apa beliau tak memusingkan ini? Demi apa beliau tak percaya dengan perkataan ku? Sekarang, aku harus berbuat apa? Memaksa beliau percaya adalah suatu ketidakmungkinan. Mas Al bisa marah besar nantinya!
“Mam, ini Alief nangis lho. Kok diem aja?” buyar suara berat milik Mas Al. Dia keluar dari kamar sambil menggendong Alief.
“Mm-maaf, Mas. Aku ngga fokus tadi.” ucap ku gagal. Fokus Kinza! Fokus!
“Kamu ini kenapa sih? Masih memikirkan urusan tadi, hmm?” tanya Mas Al.
“Ng-nggak, Mas, aku gak apa-apa, kok!”
“Beneran sayang?” tanya Mas Al meyakinkan ku.
“Iya bener!”
“Ya sudah, ini gendong Alief. Aku mau mandi sore dulu.” Mas Al menyerahkan tubuh Alief pada ku.
Aku meraih tubuh anak ku, Alief. setelah itu menyusui beliau. Dia nampak kehausan dan kelaparan sekali, terasa pada hisapan nya yang kuat pada payudara ku.
“Maafkan Mama, ya, Nak. Karena Mama nggak fokus, Alief jadi kelaparan kaya gini. Maafkan Mama, Mama sayang Alief.” ucap ku sendu sambil menangis. Alief terlihat fokus pada dunia nya. Tentu hal ini membuat ku semakin merasa bersalah.
Hidup ku sekarang terasa berat. Pikiran ku melayang pada kejadian beberapa jam lalu. Terus terngiang di telinga ucapan Bang Arjuna, Mbak Putri dan Mas Al. Huh, pikiran ku benar-benar rancu sekarang!
“Dek, kamu nih kenapa sih? Aku perhatikan lebih banyak murung nya? Cerita, ada apa sebenarnya?” tanya Mas Al seraya duduk di sebelahku.
“Mas, aku udah jelasin ke kamu. Tapi tetap kamu nggak percaya 'kan? Jadi buat apa aku ceritakan ulang?” sindir ku cuek. Mata ku tak beralih dari Alief.
“Masih tentang Arjuna dan Putri? Sayang, please, hidup kita nggak semuanya tentang dia. Kamu nggak bisa dong terus-menerus bengong kayak gini cuma karena memikirkan mereka? Come on, relaks aja sayang!” ujar Mas Al membuat kepala ku mendadak pening.
“Cuma, Mas? Kamu anggap aku cuma memikirkan mereka? Mas, ini masalah besar! Mbak Putri bahkan berniat untuk menghancurkan rumah tangga kita! Apa aku bisa diam saja, setelah mendengar dia berkata demikian? Nggak, Mas! Aku takut, aku benar-benar takut!” ucap ku tegas sembari menitikkan air mata. Tak peduli dengan Alief yang terus menghisap air susu.
Mas Al terlihat menghela nafas nya, “Maafkan, Mas, sayang. Mas seperti ini hanya tak ingin pikiran mu terganggu. Maaf kalau ucapan Mas menyakiti hati mu.” ucap nya lembut sembari mengusap punggung ku. Aku langsung bersandar di bahu nya.
“Aku takut, Mas. Aku takut Mbak putri merebut kamu dari aku. Aku nggak mau itu terjadi, Mas, hiks..hiks..” pertahanan ku runtuh. Tangisan yang semua kecil sekarang berubah menjadi besar.
Mas Al lalu mendekap ku, “Suut, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Mas cuma milik mu, bukan orang lain apalagi Putri. Secuil pun nggak ada rasa yang terbagi dari mu, Sayang! Percayalah, semua akan baik-baik saja. Jangan menangis sayang, Mas nggak bisa lihat kamu sedih!” ucap Mas Al terdengar begitu lembut. Sangat-sangat lembut sampai membuat tubuh ku melemah. Aduh gimana ini?
“Kamu istirahat,ya, Mam. Dari pagi belum ada istirahat nya kamu ini. Sini, biar Alief aku yang jaga.” bubuh Mas Al sembari mengambil alih tubuh Alief dari tangan ku.
“Dia masih mimi, Mas. Biarkan aja dulu.” cegah ku spontan.
Mas Al tersenyum jahil, “Mas kapan, ya, bisa kayak Alief gini. Mas haus juga, Dek.” kekeh nya pelan membuat ku merinding disko. Uh, enak nya di apain ini bapak satu?
“Ngaco, ah, Mas. Sekarang ini semua punya Alief. Kamu puasa dulu, yups!” ucap ku sok-sokan nolak. Ekhm, aslinya mau banget! *singkirkan otak mesum!
“Iya deh, Mas ngalah aja demi Alief. Biar Alief cepat besar, dan Papa bisa nempel-nempel sama Mama.” bubuh Mas Al pada Alief yang khusyuk minum susu. Tangan Alief bergerak menyentuh wajah Mas Al, kalau dia sudah bisa bicara, pasti Alief bilang “Nggak boleh Papa, ini punya Alief!” haha lucu ya, kalau beneran bilang gitu. Aku pasti orang pertama yang ngakak!
__ADS_1
Perlahan Alief mulai memejamkan matanya. Dia terlelap sambil terus menghisap ASI. Wih, nggak mau di bagi, ya, Dek? *aku ngakak!
“Istirahat, sayang, mumpung Alief lagi bobo. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa! Apalagi pikiran mu sedang terbagi seperti ini! Istirahat sekarang, biar Mas yang jaga Alief.” tegas Mas Al seraya mengusap kepala ku. Ya udah nurut aja. Lagi pula benar apa yang di katakan oleh Mas Al barusan, Aku butuh istirahat sejenak untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif.
“Aku titip Alief, ya, Mas! Kalau dia nangis, bangunin aja aku, okey!”
“Ya, sayang. Udah sana tidur!”
“Siap, Mas!”
Temans, aku butuh istirahat sekarang. Jangan rindu!
...---...
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
“Bang Arjuna dan Mbak Putri, Mas. Mereka bertengkar karena aku. Aku sangat berdosa, Mas.”
“Bang Arjuna menikahi Mbak Putri hanya karena aku. Dia tak ingin melihat ku bersedih pada saat Mbak Putri merebut mu dari aku, Mas. Aku berdosa banget, aku salah besar!”
“Mbak Putri masih mencintai mu, begitu juga Bang Arjuna. Dia masih mencintai ku, Mas! Mereka menikah tanpa cinta, Bang Arjuna hanya memanfaatkan Mbak Putri supaya Mbak Putri tidak bisa merebut kamu dari aku, Mas!”
“Mas, aku serius. Bang Arjuna masih mencintai ku!”
“Maafkan Mama, ya, Nak. Karena Mama nggak fokus, Alief jadi kelaparan kaya gini. Maafkan Mama, Mama sayang Alief.”
“Cuma, Mas? Kamu anggap aku cuma memikirkan mereka? Mas, ini masalah besar! Mbak Putri bahkan berniat untuk menghancurkan rumah tangga kita! Apa aku bisa diam saja, setelah mendengar dia berkata demikian? Nggak, Mas! Aku takut, aku benar-benar takut!”
“Aku takut, Mas. Aku takut Mbak putri merebut kamu dari aku. Aku nggak mau itu terjadi, Mas!”
Pertama, bisa-bisanya Lettu Arjuna masih menyimpan perasaan pada istri ku Kinza. Empat tahun berlalu, namun perasaan nya pada Kinza masih tetap sama. Tapi, untunglah Kinza sudah tidak mencintai dia, sebab istriku ini sudah mencintai ku sepenuhnya. Hanya aku yang ada di benaknya, titik!
Kedua, lagi-lagi Lettu Arjuna. Apa mungkin alasan dia menikahi Putri adalah demi Kinza? Dia tak ingin aku di rebut oleh Putri kembali? Ck, padahal kenyataannya, sebesar apapun Putri berusaha merebut ku kembali, aku tidak akan pernah mau kembali dengan nya. Secuil rasa pun tak akan aku beri untuk perempuan itu! Bagaimana pun, cinta ku hanya untuk Kinza! Hanya dia, tak ada yang lain!
Ketiga, apa benar Putri hendak melakukan suatu rencana yang dapat menghancurkan kehidupan rumah tangga ku bersama Kinza? Ah, walaupun Putri berusaha keras menghancurkan rumah tangga kami, aku tak akan pernah mundur. Aku akan menjadi orang pertama yang akan bertindak tegas pada nya, dengan catatan nggak main fisik, ya!
Bagi ku tak terlalu penting, sebab, cinta ku ini sudah cukup kuat untuk menghentikan pergerakan Putri. Lagi pula, aku merasa jijik pada nya. Tak peduli se-cinta dan se-sayang apa aku padanya dulu! Bagi ku, Putri hanyalah perusak rumah tangga. Dia sudah seperti sampah!
Maafkan kata-kata ku yang kejam. Sebab aku terlalu marah pada nya. Kalau sampai dia berani menyakiti fisik anak dan istri ku, maka aku tak segan-segan untuk memenjarakan nya! Tak hanya berlaku pada Putri, tapi untuk semua orang yang mempunyai niat buruk terhadap keluarga ku. Jangan main-main sama Tentara. Satu kali kalian berulah, seribu kali kami akan membalas! *hem motto dadakan.
Sekarang istriku sudah terlelap, bersamaan dengan Alief yang juga tertidur di dalam box bayi nya. Aku memandangi wajah Kinza saat sedang tidur. Dia terlihat beribu-ribu kali lebih cantik. Wajah nya polos, terlihat sangat damai dan tentram seperti tak ada beban. Padahal ketika dia sedang tersadar, wajah nya terlihat sedih dan kuyu. Seperti manusia paling menderita di seluruh dunia.
Aku menyingkirkan anak rambut Kinza yang menghalangi pandangan ku. Tangan ku terulur mengelus rambut nya yang kian memanjang. Tak hanya di rambut, aku juga mengelus di pipi nya yang tirus, serta hidung nya yang mancung dan kecil.
Bibirnya berwarna pink. Maklum saja, dia selalu perawatan. Alhasil bibir nya terlihat manis dan segar sekali. Macam stroberi, pingin ku gigit rasanya!
“Semoga hati mu dikuatkan. Langkah mu diberi kemudahan. Dan, senyummu selalu memancar.”
“Aku tak bisa selalu ada di samping mu. Sebab, pengabdian ku pada Negara ini harus ku laksanakan. Tapi, aku akan selalu menjamin keselamatan mu. Itu pasti!”
“Kuatkan hati mu, Sayang!” aku bergumam sembari memohon pada Tuhan. Ini yang bisa ku lakukan sekarang. Berdoa, dan selalu waspada. Aku yakin Kinza pasti bisa melewati semua nya. Dia wanita kuat dan hebat, aku percaya itu.
__ADS_1
“Ngghhh” tubuh nya menggeliat kecil. Matanya terbuka, “Mas, ngapain?” tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur. Wajah nya terlihat polos, tapi begitu menggoda bagi ku.
“Lagi liatin bidadari tidur.” ucap ku menggoda nya. Tangan ku tak lepas mengelus pipi tirus nya.
“Tidur lagi aja, Cinta. Baru beberapa menit kamu tidur kok udah bangun kamu. Kenapa, tangan ku ganggu kamu, ya?” tanya ku super lembut. Hem, meleleh nggak dia, ya?
“Aw, Mas so sweet bener sih. Nggak kok, nggak ganggu sama sekali. Justru aku senang, tangan mu lembut sekali, Mas.” ujar nya kegirangan sembari membawa tangan ku ke dalam dekapan nya.
“Duh-duh, makin gemesin aja kamu, Dek!” bubuh ku hangat sambil mencium pipi nya. Dia terkekeh.
“Mas?”
“Ya, Dek, kenapa?”
“Aku cinta banget sama kamu!” ucap nya dengan mantap. Senyum di bibir pink nya terangkat. Sangat cantik!
Aku mesem, “Iya, Mas juga cinta sama kamu! Sangat mencintai mu!” balas ku tak kalah mantap. Dia tersenyum lembut, pipi nya merah merona.
“Mas, boleh minta sesuatu gak?” tanya nya membuat ku bingung. Minta apa pula ini bidadari?
“Mau apa, Sayang? Ngomong aja lah.”
“Aku mau minta cium di sini!” ucap nya malu-malu sembari menunjukkan tangannya ke arah bibir. Oh, minta cium tok! Aku geli mendengar penuturan nya. Ngapain coba, mau cium aja pake minta-minta segala? Padahal tanpa di suruh pun aku pasti mau!
“Nggak perlu kamu minta-minta pun, Mas, pasti mau, Dek. Ini kesukaan, Mas.” ucap ku penuh kelembutan. Bukan lembut, ini sudah masuk fase nafsu wkwk.
Perlahan aku mendekatkan wajah ku pada wajah nya. Senyuman Kinza terukir, semakin membuat ku bergairah pada nya.
Ku kecup bibir nya yang manis rasa stroberi itu. Begitu lembut dan hangat. Aku ******* nya pelan sembari terus mengecap rasa stroberi nya yang manis.
Tak menunggu lama, dia membalas ku. Kinza ******* bibir ku dengan penuh kehati-hatian. Aku suka ini, selalu sama seperti saat aku mencium Kinza untuk yang pertama kali nya. Jantung terus berpacu dengan cepat, nafas terengah-engah dan keringat yang membajiri pelipis aku dan Kinza. Sungguh mendebarkan.
Tak terasa, satu tangan ku mulai nakal bergerilya kesana-kemari. Sementara tangan lainnya menahan tengkuk Kinza agar tak lepas. Begitu juga dengan Kinza, tangan nya nakal dan mulai membuka kaos kerah ku hingga ke perut. Sementara tangan lain nya masih setia di pipi, yang sekarang beralih pada tengkuk ku.
“Aku cinta kamu.” ucap ku sambil terus mengecap bibir nya. Isapan nya berubah menjadi kuat seperti bayi yang sedang kehausan. Sementara itu, tangan ku sudah sukses membuka baju bagian atas Kinza. Tentu kalian tau apa yang tersaji untuk ku.
“Mas nggak tahan, Dek. Kita lakukan saja sekarang, hm?” ajak ku dengan gairah yang sudah memuncak. Nafas nya tersengal, keringat mulai membasahi pelipis dan juga leher nya. Mata Kinza sudah tertutup oleh kabut gairah. Uh, aku suka ini.
Kinza mengangguk pasrah. Dengan sigap, aku mulai membuka semua pakaian nya satu-persatu. Begitu juga Kinza, dia sudah berhasil membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuh ku. Aku benar-benar polos sekarang.
“Sudah siap, Dek?” tanya ku tak sabaran. Dia hanya mengangguk lemah.
“Ss-siap, Mas.”
“Baiklah, sekarang kita mulai.”
Kinza hanya bisa pasrah, sementara itu, aku bermain lidah sambil melakukan penyatuan. Namun, ketika hendak di mulai, suara tangis Alief terdengar begitu nyaring.
“Oekk..Oekk.. Oekk..”
“Ya ampun, gagal lagi, Dek.” ucap ku pasrah pada Kinza yang tertawa kencang. Dia malah menertawakan ku yang sudah berada di puncak gairah ini.
__ADS_1
“Baiklah, Alief. Kamu sukses mengacaukan kebahagiaan Papa. Papa dan Mama datang, Nak!” ucap ku gemas sembari memakai kembali pakaian ku. Sementara Kinza, dia malah semakin terbahak membuat ku kesal.
“Sabar sayang, belum waktunya kita penyatuan!”