
“M - mas Al, M - mbak Amira?” tubuh Kinza membeku seketika. Pemandangan di hadapan nya membuat hati Kinza kembali hancur.
“K - kinza.” pekik Al dan Amira bersamaan. Wajah mereka berdua sama-sama terlihat sangat terkejut.
Kinza menutup mulutnya sambil mundur beberapa langkah, tatapan nya nanar menatap suami nya yang menimpa tubuh perempuan itu, Amira.
“Mas Al jahat! Aku benci sama kamu, Mas!” Kinza langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Dia terus berlari menjauh tanpa memedulikan panggilan yang dilontarkan oleh suami nya berulang-ulang.
“Bang, ini gimana? Aku ikut ya? Aku yang akan jelaskan semua nya sama Kinza.” ucap Amira dengan gusar. Wajahnya sama terlihat panik dan merasa bersalah.
“Nggak! Hadir mu hanya akan membuat Kinza semakin marah. Mendingan kamu pulang, Ra! Biar aku yang urus semua nya!” tegas Al seraya meninggalkan Amira yang masih terkejut. Lelaki itu langsung mengejar kemana istri nya pergi.
“Kinza, stop! Ini semua tidak benar. Kamu salah paham sayang.” teriak Al frustrasi sembari terus mengejar langkah Kinza yang terburu.
Tangisan Kinza kian menjadi, mengingat hati nya yang benar-benar hancur tak bersisa. Dada nya sesak, sulit untuk bernafas karena tangisan yang justru semakin mengencang. Di tambah dengan Alief yang ikut menangis sambil satu tangan nya melambai ke arah Papa nya, Al.
“Pa - pa da - da..” (Papa, dedek) ucap Alief sembari menangis. Tangan nya terus di lambaikan ke arah Al, membuat Al semakin gencar mengejar istri dan juga anak nya.
Al berhasil mengejar Kinza. Dia menahan nya agar Kinza tidak pergi. “Kamu salah paham, sayang. Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Sumpah demi Allah ini hanya kecelakaan, ini tidak disengaja.” ujar Al frustrasi.
“Nggak usah bawa-bawa nama Allah, Mas! Ini semua pasti disengaja kan, Mas?! Jelas-jelas aku lihat kamu menimpa badan Mbak Amira! kalaupun itu adalah sebuah kecelakaan, lalu kenapa kamu membawanya nya ke rumah ini saat aku sedang tidak ada?! Kenapa pintu nya kamu tutup rapat-rapat, hah? Lelaki brengsek kamu, Mas! Lelaki bejat!” balas Kinza frustrasi. Air wajahnya terlihat kacau dengan semburat kemerahan. Kinza marah besar. Dia benar-benar kecewa pada orang di hadapan nya ini.
“Nggak, ini semua salah, Dek. Mas bisa jelaskan semuanya. Tolong dengarkan semua penjelasan Mas!” ucap Al dengan lemah. Wajah pria itu sama kacaunya dengan air mata yang terus-menerus berlinang.
“Nggak! Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mas! Semuanya udah jelas! Kamu memang sengaja 'kan membawa Mbak Amira masuk ke dalam rumah? Sekarang semuanya sudah terjawab! Kalian ini ada sesuatu 'kan? Aku udah ngira ini semua! Dan benar, semua itu terjadi sekarang!” Kinza terus meronta-ronta. Menolak penjelasan yang akan di berikan oleh suami nya.
“Kinza, dengarkan penjelasan Bang Al. Ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan. Kami bisa jelaskan!” suara itu? Kinza langsung menatap sang pemilik suara dengan tatapan benci.
“Apa?! Apa yang mau kalian jelaskan, hah?! Mau bilang kalau selama nggak ada aku, kalian malah mesra-mesraan di rumah ini? Bercanda-canda, ketawa haha hihi dengan keadaan rumah yang tertutup rapat? Gitu 'kan, Mbak?! Iya 'kan?!” bentak Kinza tersulut emosi.
“Mau bilang apa lagi? Oh aku tau, pasti kalian mau bilang kalau kalian sudah berbuat mesum di rumah ini? Iya 'kan? Ngaku kalian!” vonis Kinza tak tentu arah. Emosi sudah di puncak kepala hingga membuat tuduhan demi tuduhan pedas keluar dari mulut nya.
Amira hanya diam sambil menunduk. “Kenapa diam, Mbak? Benar 'kan semua yang aku bicarakan tadi? Jadi selama ini kalian bermain di belakang ku?! Iya gitu, Mas? Jawab aku!” tuding Kinza sembari menunjuk wajah suami nya. Dia teramat benci pada kedua manusia yang berada di hadapan nya ini.
“Dek, stop bicara seperti ini. Stop nuduh aku dan Amira macam-macam. Kita masuk ke rumah, ya, Dek? Mari bicarakan ini baik-baik. Nggak enak berdebat di sini, malu di lihat banyak anggota.” ajak Al sembari menarik tangan Kinza masuk ke dalam rumah. Tapi dengan cepat Kinza menolak dan menepis tangan Al.
“Biar, Mas. Biar semua warga asrama tau kebusukan kalian berdua!” tandas Kinza dengan cepat. Untung nya, keadaan Asrama sepi hari ini. Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain di taman. Itu pun mereka cuek saja.
“Aku minta kunci mobil, Mas!” pinta Kinza dengan suara lemah. Dia lalu berjalan ke arah rumah, meninggalkan Al dan Amira dengan perasaan kacau.
“Udah gue bilang 'kan, Ra! Lu nggak usah ke sini! Sekarang Kinza makin marah. Dia makin salah paham!” tegas Al sembari meninggalkan Amira yang diam menunduk. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa masalah ini akan benar-benar rumit.
Di dalam rumah, Kinza mencari kunci mobil dengan tergesa. Dia melempar, menendang, dan memukul apapun yang menghalangi pandangan nya. Emosi perempuan itu sudah meluap-luap. Tak bisa di bendung lagi. Bahkan tangisan anak nya pun sudah tidak di dengar.
“Pa - pa da - da a - tit” (Papa, dedek sakit) ucap Alief sambil menangis. Satu tangan nya terus melambai ke arah Al.
__ADS_1
“Dek, stop. Kasian anak kita, dia kesakitan, Dek! Kamu nggak akan dapat kunci mobil ini!” tegas Al sembari menarik Kinza dengan paksa, mendekap tubuh istri nya dengan erat. Hingga, Kinza tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya menangis dan menangis. Rupanya kunci mobil Kinza sudah ada di tangan Al, tentu Al tidak memberikan nya pada Kinza. Sebab, Al tahu bahwa Kinza hanya akan menghindar dari nya tanpa mendengar penjelasan apapun.
“L - lepas, M - mas! Bi - biarkan aku pergi!” mohon Kinza dengan suara lemah. Dia sudah tidak sanggup berada di posisi ini. Siapapun orangnya, Siapa perempuan nya, dia pasti tidak akan rela melihat suami nya bersama wanita lain. Di dalam rumah, sepi dan sunyi. Hal itu membuat pikiran-pikiran negatif bermunculan.
“Nggak, Dek. Mas nggak akan ngebiarin kamu pergi lagi sebelum kamu mendengar penjelasan dari, Mas. Kamu harus tau yang sebenarnya!” tolak Al dengan lembut. Air mata nya mengalir deras. Al juga menangis sambil mendekap tubuh istri nya.
Kinza terus meronta-ronta, namun dia kalah tenaga. Mana mungkin bisa melawan seorang tentara yang gagah. Tentu itu mustahil.
“Lepas, atau aku tusuk perut ku sendiri, Mas!” ancam Kinza sembari menodongkan pisau ke arah perut nya sendiri. Entah dari mana pisau itu di dapat oleh Kinza. Yang jelas, hal itu tidak di ketahui oleh Al semata.
Mendengar ancaman Kinza, sontak pria itu melepaskan pelukan nya. Tentu hal itu ia lakukan supaya Kinza tidak berbuat nekat. Al tidak ingin Kinza terluka.
“No, sayang, jangan lakukan itu. Istighfar, Dek. Istighfar!” Al berteriak memohon, pasalnya, pisau itu sudah tepat berada di hadapan perut Kinza.
“Kalau kamu nggak mau aku lakuin hal ini. Berikan kunci mobil nya sekarang, Mas!” tegas Kinza masih dengan ancaman yang sama. Seketika, Al di buat bingung. Dia benar-benar tidak bisa memilih kedua nya.
“Dek, jangan lakuin itu. Mas, mohon. Mas akan berikan kunci mobil nya tapi kamu harus..”
Sleb,
“Demi Tuhan, Kinzaaa!!!” pekik Al hebat saat pisau menancap pada perut Kinza. Darah segar langsung bercucuran dengan deras.
Al menopang tubuh Kinza. Mengendong Alief dan menaruh nya di lantai. Setelah itu, Al pergi dan langsung membawa Kinza masuk ke dalam mobil.
“Ya Tuhan, Kinza kenapa, Bang? Apa yang terjadi?” Amira menangis sembari menutup mulutnya. Dia benar-benar terkejut dan cemas melihat kondisi Kinza sekarang.
Kesadaran Kinza mulai menghilang karena darah yang terus bercucuran. Nafas nya tersengal, bahkan sulit untuk bernafas.
Sesekali Kinza menatap wajah panik suami nya yang sedang berkendara. Meskipun pandangan nya mengabur, tapi Kinza tetap berusaha memfokuskan nya.
“M - mas, a - a ku n - ng - ga ku - k - uat. T - t - to - lo - ng j - ja - jaga A - al - lief.” ucap Kinza terbata. Nafas nya semakin tersengal dengan keringat dan air mata yang terus bercucuran. Juga, darah segar yang tak henti nya keluar dari perut Kinza.
Al meraih tangan Kinza, menggenggam dan mencium nya dengan gemetar. “Demi Tuhan, jangan katakan itu, Dek. Kamu kuat, kamu perempuan kuat. Mas yakin kamu pasti bisa melewati semua nya. Yang kuat ya, Dek. Bertahan lah!” ucap Al penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan.
“M - mm - mas, a - a - ak - aku m - min - ta m - ma - af. A - a - ku - u n - ng - ga k - ku - ku - at." ucap Kinza dengan terbata. Perlahan, kesadaran nya mulai hilang. Wajah Al terasa berbayang, hanya terdengar suara nafasnya yang memburu dan suara panggilan dari Al dengan samar. Lalu, dunia nya berubah menggelap.
...---...
Al duduk termenung sembari terus memanjatkan doa-doa. Cukup lama dia menunggu kabar dari dalam ruangan ICU namun, dokter belum juga keluar. Perasaan Al sudah tidak bisa di gambarkan. Rasa sesal, rasa bersalah, rasa cemas, dan khawatir semua nya bersatu. Membuat Al tak henti-hentinya menitikkan air mata sembari berdoa.
Di samping Al, sudah ada Pak Zein dan Bu Zahra. Mereka menemani Al yang sedang merasa resah.
Pak Zein tidak marah, dia hanya menyayangkan semua perlakuan Kinza terhadap diri nya sendiri. Lagi-lagi ini bukanlah salah Al, tapi salah Kinza yang tak juga bisa mengontrol emosi nya, pikir beliau.
Al sudah menjelaskan semua nya, tanpa ada yang di tambahkan atau di kurangi. Semua nya Al katakan dengan sejujur-jujurnya.
__ADS_1
Flashback on
Pagi ini, Al sedang mengerjakan beberapa laporan untuk acara HUT suatu. Sengaja ia membawa pekerjaan itu ke rumah karena, tubuh Al sedikit demam. Wajar saja, selama tiga hari yang lalu, asupan makanan Al tidak terkontrol. Dia jarang makan, terlalu sibuk pada pekerjaan. Yang paling mendasari, yaitu karena tak ada yang memasakkan makanan untuk nya. Juga, Al sering hujan-hujanan.
Saat sedang fokus mengerjakan laporan, tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang. Sontak aktivitas nya terhenti dan membukakan pintu untuk orang yang belum ia ketahui.
“Izin, selamat pagi Bapak Danramil. Mohon izin, saya ingin meminta laporan keuangan yang sudah di buat oleh Mbak Kinza. Hari ini harus di fotokopi dan di serahkan ke bendahara. Izin, laporan kemarin masih belum tepat.” ucap seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Amira, dia satu tim dengan Kinza untuk acara santunan anak yatim nanti.
Al sedikit terkejut, lalu dia menyuruh Amira untuk menunggu. Pintu nya ia biarkan terbuka, Al takut ada yang salah paham dengan kehadiran Amira.
“Tunggu, disini. Biar saya cari laporan itu.” ucap Al dingin sembari berlalu dari hadapan Amira. Perempuan itu hanya mengangguk.
Brak, pintu di tutup paksa oleh Shakira, anak dari Amira. Sontak Amira langsung menggendong anak nya tanpa membuka pintu kembali. Tak lama, Al datang.
“Maaf, pintu nya di tutup paksa oleh Shakira. Dia sedang aktif-aktif nya, Pak.” ucap Amira sembari mendudukkan anak nya.
“Langsung saja, ini laporan keuangan nya. Coba di periksa barang kali ada yang..”
“Ma - ma a - auu.” (Mama, mau) potong Shakira sembari menarik pot bunga ukuran besar yang ada di sudut ruangan, sontak hal itu membuat Amira dan Al terkejut. Mereka buru-buru menghalau pot yang sebentar lagi akan menimpa Shakira.
Brugh, Al terjatuh tepat di atas tubuh Amira. Untung saja pot itu tidak mengenai mereka bertiga.
Pintu tiba-tiba terbuka dengan paksa, Al dan Amira refleks menengok ke arah sang pelaku. Mereka terkejut bukan main.
“M - mas Al, M - mbak Amira?” ucap orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kinza. Tatapan nya terlihat nanar dan matanya menyorotkan kemarahan.
Flashback off
“Terus berdoa, ya, Al. Mama yakin Kinza pasti selamat. Dia perempuan kuat, perempuan hebat. Percayalah, Allah pasti memberikan Kinza keselamatan dan kekuatan.” ucap Bu Zahra sembari mengusap punggung menantu nya. Bu Zahra benar-benar tidak menyangka semua masalah yang ada akan bertambah pelik. Dia pun begitu merasa sedih dan khawatir.
“Lek, gimana keadaan anak Bunda? Dia baik-baik aja 'kan, Lek?” tanya Bunda Sada, Ibu dari Al yang jauh-jauh dari Yogyakarta ke Jakarta. Dia ikut cemas dengan keadaan Kinza setelah mendapat kabar dari anak laki-laki nya.
Al mencium tangan Bunda nya dan langsung memeluk nya dengan erat. Al menangis di pelukan ibu nya.
“Sabar, Lek, sabar. Ini semua cobaan untuk rumah tangga kalian.” ucap Bu Sada sembari mengelus punggung anak nya dengan lembut.
“Ini semua salah Al, Bun. Al kurang tegas, Al nggak becus jadi suami. Maafkan kesalahan anak mu ini, ya, Bunda?” lirih Al sembari mengadukan semua isi hati nya.
“Suut, nggak boleh berbicara seperti itu, Lek. Ini semua sudah rencana Allah, dia yang menentukan semuanya. Jangan menyalahkan diri mu sendiri.” balas Bu Sada dengan pelan. Al tak menjawab.
Tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka, seorang lelaki berjas putih keluar sembari membawa stetoskopnya. “Keluarga pasien?” tanya dokter itu. Semuanya lantas mengangguk.
“Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Al dengan cemas.
“Istri bapak sudah kami tangani sementara. Begini Pak, luka di perut Ibu Kinza cukup dalam sehingga mengenai usus nya. Karena itu, saya ingin meminta persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan proses operasi kecil.” ucap sang dokter membuat semua nya langsung merasa lemas.
__ADS_1
Al bungkam, tak bisa berkata-kata lagi.
Bantu like dan vote ya temans✨