
“Saya terima nikah dan kawinnya Alisha Nimitia Sagita binti Anton Soedirdjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat lima puluh gram dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulillah..”
Plong, satu kata yang bisa aku gambarkan saat ini. Alhamdulillah, aku masih bisa menyaksikan acara pernikahan putra sulung ku, Alief Arzanta Dirgantara.
Rasa syukur, haru dan bahagia datang bertubi-tubi kedalam relung sukma ku. Ya, meskipun ada beberapa hal yang kapan saja bisa membuat hatiku terhenyak begitu saja. Tapi aku tak ingin membahas ini, biarlah aku bahagia melihat putra ku telah menyandang status sebagai seorang suami.
“Alief, anak papa, selamat ya sayang. Ingat baik-baik pesan yang sudah papa sampaikan kepada mu. Terapkan di dalam kehidupan pernikahan kalian. Semoga, ini bisa menjadi pedoman untuk hubungan kalian.” ujar ku pada Alief disaat prosesi sungkeman. Air mataku mengalir, begitu juga dengan Alief.
“Siap, papa! Alief akan lakukan yang terbaik untuk pernikahan Alief. Alief minta doa restunya dari papa.” bubuh Alief tegas. Aku mengangguk cepat.
“Papa selalu doakan kamu!” Ujar ku sebelum akhirnya Alief bergantian sungkeman dengan mertuanya.
“Mohon doa restu, ya, pa? Doakan semoga pernikahan kami sakinah mawadah warohmah.” ujar Alisha, seorang Dokter yang sekarang sudah menjadi menantu ku. Alisha gadis yang baik, penyabar dan pengertian. Sifat nya yang ramah dan apa adanya, membuat aku merestui hubungan nya dengan anakku.
“Iya, Cha, papa doakan kamu. Ikuti perkataan Alief, ya, nak? Jadilah istri yang penurut dengan suami, apapun itu kondisi nya. Dan, dampingi Alief kemana pun dia ditugaskan!” ujar ku lembut sambil tersenyum tipis.
“Siap, papa!” ujar Alisha lembut dan tegas.
Baiklah, selesai sudah. Aku melipir sejenak, menatap dari jauh kebahagiaan yang menghampiri anak ku. Tentunya, aku ikut berbahagia.
Sedikit tak menyangka, Alief sudah dewasa sekarang. Dia tumbuh menjadi sosok laki-laki idaman. Sifat nya yang cuek, judes, kendati lembut di dalam, ya, Alief mewariskan seluruh sifat ku. Bedanya, semasa remaja sampai dewasa, Alief tak pernah menyakiti hati perempuan. Beda dengan ku, bahkan aku sudah melukai dua hati sekaligus.
Alief juga tak pernah pacaran, dan Alisha, dia gadis pertama dan terakhir di kehidupan Alief. Ya, semoga saja!
“Pa, makan yuk, jangan diem-dieman terus. Nggak enak di pandang lho!” seru seorang gadis dan sukses membuyarkan lamunanku. Ah, anak ini, selalu saja jadi pengacau!
“Run, nggak lihat papa lagi sedih? Lha kok malah di ajak makan sih, naaaak!” ujar ku lembut sambil menyentil pelan lengan nya. Aruna tertawa kecil.
“Habis nya papa bengong terus ah, Aruna nggak suka lihat nya. Mana nih wibawanya seorang Jenderal? Coba lakuin sekarang!” bubuh Aruna judes.
“Siap!” ujar ku tegas ala-ala Tentara gitu. Kami lantas tertawa bersama.
Aruna Aritama Dirgantara, putri ku satu-satunya. Aruna lahir saat Alief berusia lima tahun. Kehadiran nya membawa bahagia sekaligus duka untukku. Pertama aku senang akhirnya bisa mempunyai anak perempuan. Kinza telah memberikan nya tepat di hari ulang tahun ku. Tidak ada kebetulan, semua sudah di rencanakan oleh Tuhan. Maka dari itu, hari ulang tahun aku dan Aruna berbarengan.
Kedua, perasaan hancur langsung melanda jiwa ku tatkala melihat tubuh Kinza yang terbujur kaku. Istri ku meninggal sepuluh menit setelah Aruna dilahirkan kedunia. Rasa bahagia langsung berganti dengan duka yang masih kurasa sampai saat ini.
Sebenarnya, Aruna adalah anak ketiga ku. Ya, Kinza pernah mengalami keguguran saat mengandung anak kedua kami bernama Aluna Sagita Dirgantara. Kisah ini akan ku ceritakan nanti.
Sudah hampir dua puluh tahun Kinza meninggalkan kehidupan dunia. Meninggalkan aku, Alief, dan juga Aruna. Kami, terlebih lagi aku harus menghabiskan sisa umur ku tanpa kasih sayang seorang istri. Tanpa pelukan yang hangat, ciuman yang manis, dan senyuman yang mendebarkan. Aku akui, aku memang kesepian. Kadang kali, aku mengunjungi makan Kinza, mencurahkan semua kejadian-kejadian yang aku dan anakku alami.
Disamping itu, Aruna dan Alief tidak pernah membiarkan ku kesiapan. Kedua anak ku yang super duper hebat mampu mengisi kekosongan hati ku. Ya, meskipun tak sama dengan yang Kinza lakukan. Tapi sedikit bisa membuat hatiku menyejuk.
“Paaa, tuh kan bengong lagi! Papa kenapa sih? Kangen, ya, sama mama?” tuding Aruna yang seratus persen benar.
“Ah, nggak, papa terharu aja liat Mamas mu menikah. Gadis papa kapan nih nyusul nya?” balas ku jahil seraya berbalik tanya. Aruna langsung terdiam seketika.
“Ih, papa apaan sih. Aruna belum selesai kuliah, belum kerja, belum punya uang sendiri. Gak mau lah nikah duluan! Lagi pula Aruna masih jomblo!” elak Aruna. Aku tertawa pelan.
“Yakin Aruna jomblo? Cowok yang waktu itu nganterin kamu siapa, ya?” goda ku semakin usil. Aruna cemberut. “Itu ojol papaaa!” pungkas Aruna kesal. Oke baiklah, sudahi ini semua.
“Ha ha ha, yasudah mari makan.” ujar ku akhirnya mengalah. Aruna menarik lengan ku pelan, kami lantas beranjak menuju stand makanan untuk mengisi perut yang kosong.
Sayang, bisa kamu lihat? Bisakah kamu mendengar percakapan aku dan putri kita? Oh, sungguh aku bersyukur dikaruniai anak yang betul-betul baik, penurut, dan lemah lembut. Aruna tumbuh menjadi gadis yang ceria, meski, kadang kali Aruna mengeluh ingin melihat wajah asli mu. Aku tak bisa mengabulkan nya untuk Aruna. Tapi aku selalu mengatakan kepadanya, “Mama sangat cantik, seperti Aruna ini. Dia gadis manja kendati dewasa. Bagi papa, mama itu pembawa ceria, sama seperti Aruna. Jadi, kalau Aruna rindu mama, maka bercermin lah. Tatap lah diri Aruna sendiri. Disitu Aruna akan melihat mama.”
Sayang, doakan aku dari sana, ya? Kuatkan aku agar tetap bisa menjaga Aruna sampai ada lelaki yang siap menggantikan posisi ku. Doakan aku agar dapat menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuknya. Doakan aku, agar selalu dapat bertahan dalam menahan segala kerinduan padamu. Aku mencintaimu Kinza, sangat-sangat mencintai mu.
...---...
Malam ini, upacara Pedang Pora akan berlangsung di gedung Megantara Lanut Atang Sendjaja, Bogor. Alief dinas di kota hujan, kebetulan menemukan jodoh disana. Ya, pernikahan ini pun berlangsung di kota tersebut.
Alief begitu gagah dengan balutan seragam PDU. Beberapa brevet kecakapan, serta beragam prestasi yang berhasil di raih nya terpasang di dada kiri Alief. Sama seperti waktu pernikahan ku dulu, bedanya, Alief memakai seragam berwarna biru dan aku menggunakan seragam hijau lumut. Alief angkatan udara, aku angkatan darat.
__ADS_1
Sementara Chaca, atau Alisha. Gadis itu menggunakan gaun berwarna baby blue. Rambutnya di sanggul dan mahkota kecil berada di atas nya. Sungguh, pasangan yang sangat serasi. Alief tampan, dan Alisha cantik!
Sayang, kamu ingat momen ini? Inilah momen yang mungkin di idamkan oleh sebagian orang terutama perempuan. Dulu kita pernah melakukan nya, meski tidak dengan cinta. Tapi sekarang aku sadar, betapa bahagianya bila momen ini bisa kita ulang. Aku selalu berharap itu terjadi, melaksanakan upacara Pedang Pora dengan sepenuh hati dan cinta yang teramat besar. Sekarang, aku hanya bisa diam sembari menatap anak kita yang akan berjalan di atas karpet merah dengan begitu gagahnya. Di samping itu, ada perempuan cantik pemilik hati Alief. Mereka benar-benar serasi, sama seperti kita dulu.
“Aruna pingin juga kayak gitu.” ujar Aruna tiba-tiba. Refleks kepala ku menengok ke arah gadis berbusana batik keluarga.
“Nanti papa carikan jodoh perwira, biar bisa kayak gini.” balas ku spontan. Aruna tertawa kecil. “Tapi jangan di jodohkan ya, pa! Aruna nggak kepingin.”
“Kalau kamu bisa cari sendiri, ya, nggak akan papa jodohkan. Kalau nggak bisa, ya terpaksa harus papa jodohkan.” jawab ku usil. Aruna memutar bola matanya dengan jengah.
“Papa nantangin Aruna nih? Aruna bisa kok cari pasangan sendiri, yang sesuai dengan kriteria Aruna. Bahkan papa akan sangat suka dengan pilihan Aruna!” decak Aruna kesal. Aku tersenyum tipis.
“Boleh, biar Aruna semangat nyari nya, ha ha ha.”
“Udah ah, papa resek banget nih. Aruna di godain terus!” racau Aruna kesal. Ya, ya, ya, sukak kali aku lihat dia macam ini.
“Bercanda ya sayang, urusan pasangan terserah kamu saja. Yang penting dia laki-laki yang bertanggung jawab, baik hati dan setia.” bubuh ku menyudahi perbincangan.
Suara tembakan terdengar nyaring, itu tandanya upacara akan segera dimulai. Dua barisan tentara yang masing-masing barisan nya terdiri dari enam orang, sudah masuk ke tempat upacara. Aba-aba di serukan oleh komandan pasukan, mereka lantas berbaris membentuk sebuah lorong dengan pedang yang di hunuskan ke atas membentuk sebuah atap. Perlahan, Alief dan Alisha mulai berjalan, melewati gapura pedang yang memiliki banyak makna. Terlihat, senyuman Alisha mengembangkan meski terlihat sedikit gugup. Dan Alief, pria itu berwajah datar tapi terlihat serius. Dasar anak ini!
Decak kagum terdengar dari bibir orang-orang yang ikut menyaksikan betapa khidmat nya acara ini. Masing-masing dari mereka memvideokan momen pernikahan Alief dan Alisha. Mengabadikan agar dapat di kenang sepanjang masa.
Alief, semoga Tuhan memberkati mu!
...---...
Aku memarkirkan mobil di dekat pemakaman Almarhum Kinza. Sore ini, aku dan Aruna berkunjung ke makam Kinza. Alief dan Alisha juga ikut, tapi mereka akan menyusul.
“Harusnya mama masih ada di sini. Ini semua karena Aruna, kan, pa? Mama meninggal karena Aruna dilahirkan ke dunia ini, kan?” tanya Aruna sumbang. Wajahnya terlihat lesu dan tertekuk-tekuk.
“Eh, Aruna bicara apa sih? Ini semua sudah takdir Allah, nak. Mama pergi karena Allah lebih sayang dengan beliau. Bukan karena Aruna.” balas ku mencoba menenangkan hati Aruna.
“Papa bisa ceritakan kronologi kepergian mama? Aruna sudah berkepala dua lho ini.” cecar Aruna seraya menyadarkan ku. Ya ampun, aku sampai lupa. Hari ini usia Aruna genap berusia dua puluh tahun. Itu berarti aku juga sedang berulang tahun. Bukan hanya itu, hari ini juga adalah hari dimana Kinza meninggalkan ku tepat dua puluh tahun lamanya.
Ya Allah, tak menyangka aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Mendidik kedua buah hati hingga menjadi pribadi yang sangat baik. Kuatkan terus hati dan ragaku, ya Allah. Agar aku bisa mengantarkan Aruna pada laki-laki yang tepat. Batin ku menggebu seraya menatap Aruna dengan lekat.
“Kalau papa nggak mau cerita gak apa-apa kok. Aruna ngerti perasaan papa, maafkan Aruna kalau terus memaksa papa.” ujar Aruna sendu tanpa melirik wajah ku. Aku mengusap punggung nya sambil tersenyum tipis.
“Nggak kok, sekarang juga papa ceritakan sama Aruna. Aruna sudah siap?” tanya ku lembut.
“Siap selalu papa!” balas Aruna dengan mantap. Bagaimana sekarang? Apa aku sanggup menceritakan ini semua pada Aruna? Apa aku sanggup mengingat kejadian memilukan yang begitu menggores hati ku?
Aku menarik nafas dalam-dalam, menenangkan pikiran dan hati ku terlebih dahulu. Manata kata-kata yang tepat agar tak menyinggung hati Aruna. Dan tentunya, memberi jeda agar aku bisa lebih siap dan mantap sebelum mengatakan semua nya. Baiklah, aku sudah siap sekarang!
Flashback on
Siang hari yang begitu terik, aku dan Kinza berada di salah satu mall di Jakarta. Merayakan hari ulang tahun ku sekaligus berbelanja perlengkapan untuk bayi kami nanti. Setelah semua nya siap, niat kami ingin beristirahat dan melaksanakan sholat Dzuhur meski sedang dalam perjalanan, ya, gak apa-apa lah nyari mesjid terlebih dahulu.
Aku melihat Kinza sedikit kelelahan dengan perut yang sudah membesar kendati baru berusia delapan bulan. Itu tandanya janin bayi belum siap untuk dilahirkan.
Banyak orang mengatakan, bayi akan siap dilahirkan ketika kandungan berusia tujuh atau sembilan bulan. ‘Lho kok delapan bulan nya nggak disebutkan?’ Jadi seperti ini, pada saat usia delapan bulan, kandungan menjadi muda kembali. Bukan berarti mengecil, hanya saja tidak siap untuk dilahirkan, kecuali lahir prematur. Mungkin saja terjadi sebab, aku tak tau banyak soal kehamilan.
Terus apa dong yang membuat Kinza meninggal? Hubungan nya apa? Kinza lahir di usia delapan bulan? Atau beliau kecelakaan?
Ya, pertanyaan-pertanyaan dari berbagai pihak semua nya benar. Kinza kecelakaan dan harus melahirkan di usia delapan bulan. Bisa kalian bayangkan? Bagaimana rasa sakit yang Kinza rasakan saat itu? Juga, bagaimana perasaan aku saat menyaksikan kejadian yang amat memilukan dalam kehidupan ku. Sungguh, itu teramat sakit! Sangat-sangat sakit.
Aku menyaksikan secara langsung bagaimana tubuh mungil istri ku tertabrak mobil saat berada di dekat tempat parkir. Kinza tersungkur setelah mendapat benturan pada bagian tubuh belakangnya. Gadis itu menyelamatkan aku, sebab dengan cepat tangan nya mendorong tubuhku yang juga ikut terpental.
Sejenak aku masih tergugu, belum menyadari apa yang terjadi pada istri dan juga anak ku. Pun, kesadaran ku juga ikutan tergoya. Sebab benturan di kepala ku juga lumayan kencang. Hingga beberapa saat kemudian, area di sekeliling ku dipadati oleh orang-orang juga berbagai petugas. Sampai aku sendiri tak bisa melihat bagaimana kondisi istriku sendiri.
Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya merasa tubuh ku terangkat dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Sementara Kinza? Aku tak tau bagaimana keadaan nya.
...---...
Entah berapa lama mataku terpejam, saat sadar aku sudah berada di ruangan serba putih dan biru. Aku yakin seratus persen, ini adalah rumah sakit. Kenapa aku bisa di sini? Dan Kinza? Ya, Tuhan! Dimana gadis ku?
“Sus, istri saya dimana, ya? Keadaan dia bagaimana?” tanya ku cemas pada suster yang sedang bertugas.
__ADS_1
“Mohon maaf bapak, istri bapak sedang berada di ruang operasi. Hari ini juga harus segera di lakukan persalinan karena pendarahan yang hebat.” balas suster tadi. Sekejap aku masih bingung, persalinan? Bukannya masih ada satu bulan sebelum persalinan? Entah, aku tak tau.
“Bisa tunjukkan dimana ruangan nya sus? Saya ingin kesana.”
“Baik bapak, mari saya antar.”
Aku mulai berjalan mengikuti kemana suster itu pergi. Kepala ku masih sedikit cenat-cenut, ya maklum saja, benturan di kepala masih begitu kentara.
Pun dengan hatiku, rasa cemas, khawatir dan apalah itu mengisi nya seketika. Apalagi saat melewati lorong-lorong rumah sakit yang begitu kelam. Bukan nya takut, aku hanya mencemaskan Kinza, takut dia kenapa-kenapa, dan yang makin membuat ku khawatir, ternyata Kinza bukan berada di ruang persalinan, melainkan di ruangan operasi. Ya, seperti perkataan suster tadi.
“Mohon maaf bapak, silahkan masuk ke dalam. Operasi sudah selesai dan anak bapa sudah dilahirkan.” ujar seorang dokter yang keluar dari dalam ruangan. Aku sedikit terkesiap, jadi anak ku sudah lahir? Lantas aku buru-buru masuk ke dalam ruangan. Tak sabar melihat anak dan juga istriku.
Pemandangan yang pertama kali aku lihat ialah, saat Kinza tengah terbaring lemas. Keringat membanjiri gadis itu, tak terkecuali beberapa noda merah pada alat-alat di samping nya. Ah, itu pasti alat operasi.
“Mas?” panggil Kinza lirih. Aku lantas mendekat ke arah beliau, mencium kening juga tangan nya.
“Mas anak kita perempuan, seperti yang kamu inginkan.” ujar nya antusias.
“Aku sudah kabulkan permintaan kamu, jadi, sekarang kamu bisa kabulin permintaan aku?” bubuh nya membuat ku bingung. Aku mengangguk cepat.
“Apa sayang? Apa yang aku bisa lakukan untuk kamu? Pasti akan aku lakukan.”
“Jaga anak kita mas, maaf, seperti nya aku tak bisa menemani mu sampai akhir hayat nanti. Dan sepertinya umurku tak akan lama lagi.” balas Kinza lirih.
“No sayang, kamu harus bertahan, ya? Untuk aku, untuk anak kita. Ku mohon jangan berbicara seperti itu.” jawab ku sambil terisak.
“Nggak mas, aku udah nggak kuat. Rasanya begitu sakit, mas. Tolong, aku minta tolong sama kamu, adzani anak kita. Aku ingin melihat sebelum akhirnya aku menutup mata untuk selamanya.” bubuh Kinza seraya menahan sakit. Air mataku tak bisa terbendung. Bagaimana bisa merelakan orang yang kita cintai pergi untuk selamanya? Bagaimana aku bisa? Tuhan, kenapa semenyakitkan ini?
Ku tarik nafas dalam-dalam sambil melangkahkan kaki menuju box bayi. Dengan jelas, aku bisa melihat seorang bayi mungil yang cantik. Begitu cantik dan sangat mirip dengan Kinza.
Dari kejauhan, aku juga menatap Kinza yang sedang tersenyum lemah ke arah ku. Hingga lagi dan lagi aku hanya bisa menarik nafas dalam. Perlahan, aku mengumandangkan adzan sambil berlinang air mata. Sesekali aku melirik Kinza yang lagi-lagi tersenyum ke arah aku. Sungguh, ini momen yang sangat membahagiakan juga sangat menyakitkan.
Setelah selesai, aku langsung menghampiri Kinza. Terdengar nafas beliau yang memburu, seperti orang yang sedang sakaratul maut. Ya Allah, ya Robbi, haruskan Kinza pergi secepat ini?
Sekujur tubuh Kinza dibanjiri keringat, pun dengan air mata dan nafas yang tersengal-sengal. Lantas aku mendekatkan wajah ku ke samping wajah Kinza.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.” ujar ku seraya memandu Kinza mengucapkan syahadat. Sungguh mengiris hati melihat Kinza direnggut nyawa nya.
“Ass—syhadu an—an laa ilaa—laha illallahu, wa—wa asyhaduan—nna mu—muham—madu rasu—rasululla—aah....”
Tuuuuuuuuuut....
“Innalillahi wainnailaihi rojiun.” ujar ku sambil mencium kening Kinza untuk yang terakhir kalinya.
Tangis ku menggema, memenuhi seisi ruangan. Begitu juga dengan bayi mungil yang baru saja dilahirkan kedunia. Beberapa dokter juga suster langsung bergegas, namun hasil nya nihil. Istri tercinta ku harus pergi meninggalkan dunia pada hari ini.
“Selamat jalan sayang ku, semoga kamu disandingkan dengan kekasih Allah. Terima kasih sudah hadir di dalam kehidupan ku, membawa ceria dan mengisi relung sukma ku. Aku selalu mencintaimu, Kinza.”
Flashback off
“Tes” satu tetes air keluar dari kelopak mata ku. Bagai masuk ke dunia lain di hari itu. Rasa sakit ku kembali terasa.
“Aruna sayang papa, maafkan atas kehadiran Aruna, ya pa?”
“Suuuutt, Aruna nggak boleh bilang gitu. Ini semua sudah jalan takdir papa. Yang harus Aruna tau, mama dan papa sayang Aruna. Dan mama pergi bukan semata-mata karena Aruna, tapi karena kehendak Allah.” balas ku sambil memeluk tubuh Aruna. Tangisan ku langsung meledak, mencurahkan semua kehampaan dan kesakitan yang kurasa selama dua puluh tahun.
Ya, inilah akhirnya, akhir cerita yang menyedihkan juga membahagian untuk ku dan anak-anak ku. Aku percaya, Tuhan sudah punya rencana yang terbaik untuk kami, meskipun datang dengan cara yang tidak kita sukai.
Banyak cerita yang harus aku ungkapkan nanti. Untuk saat ini, biarlah duka mengisi relung hatiku. Aku sedang patah dan sedang tidak baik-baik saja.
...End...
Terkesan gantung, tapi aku ingin membuat ceritanya seperti ini. Pasti kalian banyak yang bertanya-tanya, kok endingnya gini sih? kok gantung banget? kok Kinza kembali meninggal sih?
Jangan kecewa ya teman, aku memang sengaja membuat alur yang seperti ini. Memang konsep nya sudah ku buat dari jauh-jauh hari. Pada akhirnya Kinza memang harus pulang ke pangkuan Tuhan lebih awal. Sebab, sequelnya sudah aku buat di wp berjudul SEMPITERNAL. Buat yang penasaran, yuk ceki-ceki ke akun ku di wp *promosi🤣
See you temans
__ADS_1