
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan selalu mendengarkan doa-doa, curahan, dan keluhan setiap hamba nya. Maka, apapun itu bisa terjadi jika Tuhan sudah berkehendak.
Contohnya, batu yang di tetesi air secara terus-menerus ternyata bisa legok, seperti yang tertera dalam peribahasa. Secara logika, memang batu itu keras. Akan sangat sulit untuk merubahnya. Tapi, siapa yang tau. Jika di tetesi secara terus-menerus, batu tersebut akan mengalami perubahan.
Yang jelas, jangan pernah berhenti berusaha. Kita bisa, sebab ada yang Kuasa.
Sama hal nya pada hati Al. Ibarat kata, hati nya terbuat dari batu. Bukan tanpa alasan dia bisa menyukai Kinza. Itu karena, dengan sabar Kinza selalu bisa membuat hati Al luluh. Siapa sangka semakin hari Al semakin menyukai Kinza bahkan cinta sudah mulai tumbuh di hatinya. Dengan sifat manja nya, dengan sikap cerobohnya, dan dengan segala keunikan-keunikan yang ada padanya.
Seperti pagi ini, rumah dinas Al yang biasanya rapih ternyata bisa berantakan juga. Al sibuk memasak sarapan untuk mereka berdua, sementara Kinza kelabakan mencari keperluan untuk kuliah nya nanti.
"Kakak liat kamus bahasa Indonesia aku nggak?"
"Aduh, tas ku kemana yak yang warna peach."
"Apa sih ini kucing ngikut aku terus."
"Aduh setrika dimana kak?"
"Ah pusing ah."
Ocehan dan umpatan Kinza membuat Al tertawa geli. Pagi-pagi sekali rumah nya sudah heboh dibuat Kinza. Gadis itu sibuk mencari sambil terus mengoceh.
"Tas kamu di dekat TV, kamus nya ada di meja kerja saya. Setrika ada di bawah meja ruang tengah." ujar Al setengah berteriak, Kinza mengangguk paham. Dia langsung bergegas menuju tempat-tempat yang di tunjukkan oleh Al.
Selang beberapa menit, Kinza sudah siap dengan segala keperluan nya. Tas berwarna peach, kamus bahasa Indonesia yang terbilang tebal sudah ada di dalam genggaman nya. Gadis itu lantas menemui Al yang tengah memasak.
"Udah siap?" tanya Al pelan. Kinza mengangguk cepat.
"Kak, selama ini kita terbalik nggak sih? Aku sekali pun nggak pernah masakin Kakak. Jadi, istri nya itu Kakak atau aku?" ujar Kinza sambil menunduk, wajah nya terlihat di tekuk-tekuk sebab merasa malu dan bersalah.
Al menyajikan makanan di atas piring seraya menyusul Kinza duduk. "Baru nyadar sekarang, heh?" balas Al jutek dan membuat Kinza semakin menundukkan kepala nya dalam-dalam.
"Maafkan aku, kak." bubuh Kinza tak enak. Al menatap Kinza dengan lembut.
"Udah lah nggak apa-apa, selama saya bisa sendiri, ya nggak masalah. Kapan-kapan, kalau ada waktu kita belajar masak." ujar Al dengan kelembutan. Kinza mendongak menatap wajah Al. Sebuah senyuman tercetak jelas di bibir tipis Kinza.
"Makasih, kak." seru Kinza sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama, yaudah makan. Habis ini saya langsung berangkat, maaf nggak bisa antar. Hari ini kamu di antar sama Wisnu." ujar Al sambil mengacak puncak kepala Kinza. Gadis itu menganggukkan kepala dengan cepat.
...---...
"Izin mbak, nanti siang tidak saya jemput. Kapten Altha yang akan menjemput mbak." ujar serda Wisnu di sela-sela perjalanan ke kampus.
Kinza menoleh cepat, "Okay om, terimakasih sebelumnya dan maaf merepotkan om Wisnu." balas Kinza dengan ramah.
"Sama-sama, mbak. Izin tidak merepotkan sama sekali."
Selang beberapa menit, mereka sampai di kampus tempat Kinza berkuliah. Gadis itu langsung turun dari mobil setelah berpamitan pada Wisnu.
"Makasih banyak, om. Hati-hati!" imbuh Kinza setelah turun dari mobil.
"Siap, mbak, saya pamit ya." balas Serda Wisnu sambil melajukan mobil yang di kendarai nya.
...---...
Siang ini, Kinza dan Intan memilih untuk duduk-duduk di cafe yang letak nya tak jauh dari kampus. Gadis itu memesan minuman berperisa lemon serta pisang keju.
Cuaca hari ini begitu panas seperti biasa, terik matahari di siang hari begitu menyengat, mampu membakar kulit siapapun yang berjalan di bawahnya tanpa memakai pelindung. Maka dari itu, cafe dipenuhi berbagai macam kalangan.
Kinza menyeruput minuman nya, sangat segar menyejukkan kerongkongan nya yang terasa kering.
"Gue nggak bisa lama-lama, jam tiga harus balik." ujar Intan membuka suara. Sekilas Kinza melirik gadis dihadapan nya.
"Iya nggak apa-apa, kok. Kayak nya gue juga bakal balik, tinggal nunggu suami gue jemput." balas Kinza apa adanya. Intan mengangguk paham.
“Drttdrtt...”
Ponsel Kinza bergetar, sebuah pesan dari aplikasi whatsapp muncul di layar ponsel nya.
From: Kapten Al
__ADS_1
Lihat ke arah jam sembilan, saya ada di sana.
Kinza sedikit bingung, dia lantas menoleh ke samping dan mendapati Al tengah duduk sambil melambaikan tangan.
"What the? Kenapa Kak Al tiba-tiba ada disini? Gila sih gila, kok nggak bilang sih?" protes Kinza dalam hati.
Intan melihat perubahan di wajah Kinza, gadis itu mengikuti Kinza menengok ke samping.
"Lho, Za, itu kan suami lo." pekik Intan kaget.
Kinza tersenyum kikuk, "He he he, iya, Tan. Gue duluan, yak." pamit Kinza seraya beranjak dari tempatnya. Gadis itu buru-buru menghampiri Al yang terlihat lempeng saja.
"Kenapa nggak bilang-bilang sih?" tanya Kinza malas.
"Lho, tadi kan saya bilang di whatsapp. Apa masih belum jelas?" balas Al berbalik tanya. Kinza mendesah berat.
"Kenapa sih? Segitu nggak maunya saya datang ke sini?" tanya Al cepat.
Kinza tersenyum kikuk, wajahnya sedikit memerah. "Bukan, bukan itu, aku cuma kaget aja liat Kakak tiba-tiba ada disini. Datang nggak bilang-bilang kayak hantu." alih Kinza.
"Semoga Kak Al nggak denger saat gue bilang Ke Intan mau di jemput suami, aduh tengsin abis kaleee. Walaupun dia memang beneran suami, seenggak malu lah kalau sampai dia denger. Arghss kesel!" batin Kinza harap-harap cemas.
"Eh, btw, nggak salah mau di jemput suami?" bubuh Al sambil tertawa geli. Sontak membuat Kinza membulatkan matanya dengan sempurna. Tengsin abis kayaknya!
"Nggak, sejak kapan sih kakak suka nguping pembicaraan orang?" sinis Kinza sok serius.
"Sejak suka sama kamu." balas Al cepat.
"Eh maksudnya apa? Kakak udah suka sama aku?" tanya Kinza antusias.
Al mengangguk cepat, "Hmmm."
"Beneran nih, Kakak nggak lagi bohong, kan?" tanya Kinza meyakinkan.
"Udah deh, pertanyaan nya basi. Konek mu itu lama sekali, dasar lemot!" cibir Al mengejek. Kinza mendengus kesal.
"Udah yuk, saya mau ajak kamu ke suatu tempat." ajak Al menyudahi, Kinza menatap Al lekat.
"Mau kemana?" tanya Kinza penasaran.
Perlahan, mobil Al mulai berjalan. Entah kebetulan atau tidak, cuaca yang tadi nya nampak panas, sekarang mulai sejuk. Cahaya matahari pun tak begitu menyorot padahal masih pukul dua siang. Aneh tapi nyata, teman-teman..
...---...
"Kita mau kemana sih, Kak?" tanya Kinza penasaran. Matanya terus memperhatikan jalanan yang begitu familiar di benak nya.
"Lho, ini kan Bogor. Kakak mau ajak aku kemana, sih? Sumpah penasaran!" cecar Kinza semakin penasaran.
Al menoleh kearah Kinza, "Kita mau ke Kebun Raya Bogor." balas Al cepat.
Kinza membulatkan matanya, "Demi apa panas-panas gini kek Kebun Raya?" batin Kinza protes.
"Nggak suka?" tanya Al setelah melihat perubahan di wajah cantiknya. Kinza menggeleng cepat, "Suka, kok, tapi aneh aja Kak. Masa siang-siang gini ke Kebun Raya, panas lho!" imbuh Kinza yakin.
Al tersenyum tipis, "Mana ada panas sih, nggak liat cuaca jadi teduh gini?" ujar Al jengah.
Kinza memperhatikan keluar jendela dengan seksama. Perkataan Al benar, langit yang tadi terlihat sangat cerah berubah menjadi sedikit teduh. Tidak mendung, hanya menjadikan udara lebih sejuk. Efek berada di kawasan Bogor kali yaaak? Bisa jadi kan?
"Ayo turun!" ajak Al datar. Pria itu menggendong ransel berukuran sedang yang berwarna hijau army.
Kinza turun dengan segera, kamus tebal yang sejak pagi berada di genggaman nya ia taruh di mobil Al. Hanya tersisa tas kecil berwarna peach yang bertengger di punggung gadis itu.
...---...
Perkataan Al dapat di buktikan, saat masuk ke area Kebun Raya, seketika udara sejuk menyambut mereka. Memang sih, jam setengah empat sore udara menjadi semakin sejuk. Apalagi berada di bawah pepohonan yang menjulang tinggi ke atas.
Kinza di buat takjub, rupanya kebun raya ini sudah banyak di renovasi. Ada bangunan berdiri kokok yang mirip seperti bola, saat Kinza datang kemari, bangunan itu belum di buat.
"Banyak yang berubah disini, dulu belum ada bangunan itu." ujar Kinza seraya menunjukkan bangunan yang mirip seperti bola pada Al. Pria itu tersenyum kecil.
"Sama hal nya pada hati, cepat atau lambat pasti ada yang berubah. Karena, hati kita itu milik Allah, dan dia yang Maha membolak-balikkan hati manusia." imbuh Al pelan.
__ADS_1
Kinza mengangguk, "Sama kayak aku, dulu rasanya aku benciii banget sama Kakak. Bawaannya emosi tingkat dewa, tapi sekarang? Siapa yang jamin kalau aku malah kepincut sama pesona Kakak." balas Kinza dengan jujur. Tak ada rasa malu sedikit pun.
Al mengacak puncak kepala Kinza dengan gemas. "Anak kecil ini sudah pinter masalah cinta-cintaan, ya? Masih kecil lho, fokus belajar jangan mikirin cinta terus!" seloroh Al yang membuat Kinza sebal seketika.
Nggak ada romantis nya yak bapak Tentara ini? Hobi nya bikin orang kesal terus!
Aku udah kuliah kaleee, udah nikah juga. Sekarang kan usia ku delapan belas tahun. Iya sekarang lho! Eh tunggu-tunggu, sekarang aku ulang tahun gitu? Ini seriusan aku ulang tahun? Kok aku nggak nyadar sih! Jadi jadi jadi, Kak Al ngajak aku ke sini mau ngasih surprise gitu? Acieeee, romantis juga! batin Kinza girang.
"Selamat ulang tahun anak kecil!" ucap Al seraya memegang cupcake kecil dengan satu lilin di atas nya.
Bukannya senang atau speechless Kinza justru terlihat bingung. Dia menganga sambil menatap Al untuk meminta penjelasan.
"Sejak kapan ada cupcake ini di tangan Kakak?" bingung Kinza yang terlihat polos.
"Sejak kamu ngelamun." balas Al enteng.
Okay Kinza terkejut, segitu dodol nya dia sampai tak melihat Al mengeluarkan sebuah cupcake dari dalam ransel nya. Wait, ini Al yang terlalu gesit atau Kinza yang memang dodol?
"Tiup lilin nya dulu, angin di sini kencang banget." suruh Al sembari melindungi lilin nya supaya tidak mati. Kinza sontak buru-buru mendekati Al. Perlahan dia memejamkan mata lalu meniup lilin tersebut.
Fyuh!
Al tersenyum lembut, "Selamat ulang tahun, semoga kamu semakin dewasa, semoga semua yang kamu inginkan dapat terwujud. Dan, semoga kehidupan pernikahan kita menjadi semakin harmonis. Kurangin oon nya, jangan manja terus bisanya!" ujar Al sedikit judes. Okay, kali ini Kinza benar-benar terharu. Meskipun tak enak di ujung, namun doa-doa yang dipanjatkan oleh Al membuat Kinza diam sesaat.
"Makasih banyak, Kak. Btw, kita mau berdiri terus?" dengus Kinza yang mulai pegal-pegal. Al langsung gelagapan.
"Aduh sampai lupa, kita duduk di sana." ajak Al seraya menunjuk sebuah padang rumput yang terhampar luas. Hijau dan terlihat bersih. Mereka lantas duduk di atas nya.
"Nggak nyangka banget, ternyata Kakak bisa romantis juga." bubuh Kinza membuka suara. Al lantas menatap Kinza.
"Saya nggak pertama kalinya kayak gini, udah punya mantan!" balas Al tak santai.
Kinza tersenyum kikuk, tuhkan dodol nya kumat lagi. "Maaf Kak, aku lupa." imbuh Kinza tanpa dosa.
"Udah aku bilang kan? Kurangi makan micin, gitu aja kok susah!" balas Al sekenanya. Dia mengingat kembali kejadian satu tahun lalu.
"Wait-wait, kakak bilang apa barusan? Aku? Kok aneh yak Kak?" bingung Kinza sambil tertawa. Al tersenyum canggung.
"Nggak boleh gitu, emang salah?" seloroh Al tak santai.
"Nggak sih, nggak ada yang salah. Cuma aku sedikit aneh aja denger nya. Ngomong-ngomong, dalam rangka apa sih tiba-tiba bersikap lembut gini?" tanya Kinza penasaran.
"Heh, kamu itu lemot beneran atau pura-pura lemot? Ini tuh hari ulang tahun kamu, lho!" gemas Al terlihat kesal.
"Hi hi, maaf-maaf. Abisnya speechless aku tuh." balas Kinza kikuk.
Al tak menggubris ucapan Kinza. Pria itu justru sibuk mencari sesuatu di dalam ransel nya. Wajah nya terlihat panik.
"Nyari apa, Kak?" tanya Kinza pelan.
"Cincin!" balas Al cepat. Kinza melongo, cincin? Untuk apa? Untuk siapa?
"Ketemu nggak Kak?" tanya Kinza lagi.
Al menggeleng pasrah, "Rencana saya gagal sepertinya." ujar Al dengan sedikit kecewa. Tentara bisa ceroboh juga, yaaak? Ya iyalah, dia kan manusia!
"Emang rencana apa? Terus cincin itu buat siapa?" tanya Kinza sedikit kepo.
"Buat kamu, saya pengen kasih cincin itu untuk hadiah ulang tahun sekaligus untuk melamar kamu kedua kalinya. Waktu itu saya melamar kamu karena perjodohan dan tanpa cinta. Tapi hari ini, saya ingin melamar kamu dengan sepenuh hati saya. Saya mencintai mu Kinza, saya benar-benar mencintai mu. Entah kapan rasa itu datang, yang jelas, saya mencintai mu." ujar Al panjang lebar. Kinza diam mematung, antara terharu atau tidak mengerti. Semoga saja otak nya konek ya teman-teman!
Secara gitu ya, pertama kalinya Al mengungkapkan perasaan nya pada Kinza. Dan ini perdana Al berbicara panjang kali lebar plus romantis.
Kinza tersenyum kecil, bibir nya terasa kelu untuk membalas ucapan Al. Hati kecil nya begitu tersentuh dengan ucapan Al barusan. Kinza super terharu!
"K-kakak sadar kan?" tanya Kinza gugup. Tangan dan pelipis gadis itu dibanjiri keringat. Jantung nya pun berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Saya serius, saya nggak pernah main-main sama kamu." balas Al dengan mantap. Manik hitam pekat milik nya menatap wajah Kinza dengan lekat.
Kinza mendesah berat, masih tak percaya dengan perkataan Al barusan. "Kak? Aku boleh peluk Kakak?" tanya Kinza meminta izin.
Al tersenyum lembut, "Sini." balas Al seraya merentangkan kedua tangan nya. Dengan segara, gadis itu mendekati Al, duduk di samping pria itu dan langsung memeluk nya.
__ADS_1
Kinza dapat merasakan degupan jantung Al yang sama kencang nya. Kinza dapat merasakan hangat nya pelukan Al. Dia semakin yakin, bahwa Al benar-benar mencintai nya.
Jadi gini yaak rasanya meluk kak Al. Hangat, lembut, nyaman, dan wangi. Terima kasih Tuhan, terima kasih sudah menghadirkan Kak Al di dalam kehidupan ku. Terima kasih sudah memberikan kado terindah di hari bertambah nya usia ku. Satu pinta ku Tuhan, tetap satukan kami sampai ajal menjemput.