
"Kita sama-sama memiliki aura itu. Aura yang membuat semua makluk kembali hidup dengan mencium aura kita".
"Hanya saja aku bisa menyembunyikan aura itu kapanpun aku mau, tapi kau sepertinya belum mengetahui hal itu bahkan mungkin tida bisa melakukannya". Ungkap Ule pada putri Leona.
"Lalu apa tujuanmu menemuiku? Bukankah kau mengatakan bahwa tidak semua orang dapat melihatmu?". Tanya putri Leona ketus.
"Aku sudah lama menunggu kedatanganmu tuan putri".
"Maksudmu?". Tanya putri Leona keheranan.
"Apa kau pernah mendengar cerita tentang peri penyihir?".
"Ya aku pernah mendengar ceritanya beberapa kali dari kakakku Alexa. Ada apa dengannya?".
"Dia semakin hari semakin kuat saja, dan juga jumlah pasukannya semakin banyak". Ule memulai menceritakan kekhawatirannya selama ini.
"Aku khawatir dia akan melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan pada peri lainnya". Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Melakukan apa? Bukankah selama ini ia tak pernah mengganggu peri di hutan ini dan hanya memburu peri penyihir baik untuk di buat jahat sepertinya". Ujar putri Leona mengingatkan.
"Memang benar ia belum melakukan apapun selama ini. Tapi apa kau tahu apa yang di rencanakannya?". Tanya Ule sambil berkacak pinggang di hadapan putri Leona.
"Kau belum memberitahukannya, jadi aku tidak tahu apa yang di rencanakan oleh peri penyihir itu". Jawab putri Leona sambil ikut berkacak pinggang seperti menantang pada Ule. Ia masih kesal dengan sifat sombong Ule itu.
"Dia ingin menjadi penguasa seluruh hutan dan negeri ini. Bahkan ia ingin menjadi satu-satunya ratu, baik untuk kaum penyihir maupun kaum kalian". Ujar Ule pada putri Leona.
"Apa........!". Putri Leona berteriak keras. Namun Ule segera menyihir mulut putri Leona hingga ia tak bisa membuka mulutnya lagi.
"Putri apa anda baik-baik saja?". Tanya prajurit yang berjaga di depan pintu kamarnya dengan nada kekhawatiran.
"Yah aku baik-baik saja". Teriaknya dari dalam kamar pada para prajuritnya.
"Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu Ule?". Tanya putri Leona setengah berbisik pada Ule yang terbang di hadapannya.
"Tentu saja. Dan yang paling aku khawatirkan adalah ia akan mengambil jantung dari hutan ini jika ia gagal menjadi ratu". Ujar Ule dengan raut wajah yang serius. Putri Leona sedikit menahan tawa ketika melihat ekspresi dari wajah kecil itu, ia menjadi gemas dan ingin mencubit kedua pipi Ule saat itu juga namun ia sadar bahwa Ule sangat kecil, mungkin jika ia sedang bersin saja Ule sudah terlepar jauh. Putri Leona tertawa geli dengan apa yang baru saja dipikirkannya.
__ADS_1
"Mengambil jantung hutan? Maksudmu kuncup teratai itu?". Tanya putri Leona sedikit terkejut.
"Yah kau benar. Dan kau sudah taukan apa yang akan terjadi jika kuncup tersebut di ambil?". Tanya Ule dan putri Leona menjawab dengan anggukan kepala.
"Jadi apa rencanamu?". Tanya putri Leona akhirnya.
"Tentu saja menggagalkan semua rencana penyihir jahat itu".
"Tapi bukan aku yang akan menggagalkannya, melainkan kau tuan putri". Lanjut Ule lagi.
"Apa .....? Aku.....?". Tanya putri Leona bingung sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Tentu saja. Kau pikir apa yang bisa dilakukan oleh tubuh kecilku ini?". Cibir Ule.
Putri Leona sedikit menahan tawanya lalu
"Bukan itu maksudku adalah banyak sekali peri di hutan ini, kenapa hanya aku? Bukankah semakin banyak yang membantu akan semakin baik?". Tanya putri Leona memberikan argumennya.
__ADS_1
"Karena kau adalah yang terpilih".