
"Lalu kenapa kau menangis Zary? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?". Lanjut wanita itu bertanya.
"Aku tak bisa mengunjungi kakakku. Aku......kesulitan untuk menghubunginya. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpanya?. Aku....harusnya tidak pergi dan tetap disana bersamanya". Timpal Zary beruntun menyesali tindakannya dulu.
"Lantas dimana kakakmu itu tinggal?".
"Aku tidak bisa memberitahumu. Karena akupun tidak tahu dimana tempat itu berada. Hanya kakakku yang bisa membuka gerbang menuju tempatnya berada itu".
"Aku biasanya hanya memikirnya dan dia akan datang menjeputku dimanapun aku berada. Tapi sekarang.....bahkan sudah berapa kali aku memanggil namanya, kakakku itu belum datang menemuiku". Ungkap Zary kembali menatap sendu wanita tua itu.
"Kalau begitu ikutlah denganku. Aku akan membantumu mencari keberadaan kakakmu". Wanita tua itu mencoba mendekati Zary.
"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Lagipula kau juga tidak akan banyak membantu. Aku tidak ingin bergantung pada siapapun kecuali kakakku karena aku tidak ingin jika membantu seseorang akhirnya kau harus membalas budi untuk bantuan yang kau terima. Itu sangat merepotkan". Timpal Zary seraya bangkit dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakakmu? Apa kau akan tetap menolak bantuanku? Maksudku adalah, bagaimana jika penyihir jahat Helena yang sudah menghabisi kakakmu? Apa kau akan berdiam diri seperti sekarang tanpa perlawanan?". Zary berhenti saat teriakan dari wanita tua itu terdengar. Kemudian ia berbalik menatap wanita itu
"Jika seperti itu maka aku tidak akan bisa diam saja. Aku hanya perlu pastikan keadaan kakakku baik-baik saja". Ungkapnya terbang menjauh meninggalkan wanita itu.
"Kau harus kembali padaku bagaimanapun caranya". Guman wanita itu menatap kepergian Zary. Ada senyum tipis yang ia tampilkan disudut bibirnya. Setelahnya ia terbang kearah berlawanan dari Zary.
"Flugh....jika kau bisa mendengarkan panggilanku, aku mohon bawa aku kesana. Aku mohon bantuanmu sekali ini saja. Aku menyesali segala perlakuan serta kata-kata kasar yang sering aku perbuat padamu. Hanya untuk hari ini Flugh kumohon bantuanmu". Ucap Zary seraya mengatupkan kedua matanya. Ia mengusap air mata yang jatuh dari pipinya.
"Flugh kumohon. Untuk sekali ini saja. Aku akan meminta kakakku untuk meringankan segala perkerjaanmu. Kumohon bawa aku sekarang Flugh".
"Ah syukurlah Flugh. Aku pikir kau tidak akan datang. Ayo kita pergi sekarang. Tadinya aku pikir ada sesuatu yang buruk terjadi, tapi setelah melihatmu aku merasa lega". Ucap Zary seraya menarik tangan Flugh.
"Maaf putri Zary, kedatanganku ini bukan untuk menjemput putri melainkan untuk memberitahukan bahwa ratu Sevilla telah meninggal. Dan kami keturunan Orgh telah mengabdikan diri pada ratu baru kami". Ungkap Flugh dengan tegas dan jelas.
__ADS_1
Zary memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dan kesulitan bernafas hingga ia jatuh terduduk dihamparan rumput. Bagaimana kakaknya bisa semudah itu mati? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Bukannya ini terlalu mengejutkan? Tidak-tidak, setidaknya siapa yang telah menggantikan posisi sang kakak pasti orang itu juga yang telah membunuh kakaknya.
"Flugh...siapa.....siapa orang yang telah menghabisi kakakku? Apa ratu baru kalian? Jika benar dia siapa dia dan apa yang ia miliki sampai ia bisa masuk kedunia kalian?". Tanya Zary dengan nafas tersengal.
"Maaf putri, aku tidak ingin membahayakan ratu kami dengan membeberkan identitasnya kepada orang asing. Sekarang putri sudah tahu kenyataannya jadi aku akan pergi. Selamat tinggal putri". Ungkap Flugh lalu menghilang di udara kosong tanpa Zary sempat berkata-kata.
Zary menangis sejadi-jadinya mengingat sang kakak yang sudah meninggal.
"Dunia ini kejam bukan? Mereka mengambil hal paling berharga bagi orang lain tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang menyayanginya". Zary mengangkat wajah saat mendengar suara wanita yang ia temui beberapa hari yang lalu. Wanita itu sudah ada dihadapannya.
"Bawa aku ikut bersamamu. Kumohon". Ucap Zary lirih terdengar.
Wanita itu tersenyum lembut pada Zary
__ADS_1
"Kemarilah anak malang, Ikut ibu".