Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
42. Aura Kuat Yang Misterius


__ADS_3

Putri Leona memanah salah satu papan yang disediakan oleh Hippo tepat pada sasaran menggunakan dua anak panah sekaligus.


Prok Prok Prok......


"Wah wah wah". Ujar Hanos yang baru tiba bertepuk tangan pada putri Leona.


"Waktu sepuluh tahun benar-benar cepat berlalu dan kau sudah sekuat ini bahkan mampu mengalahkan kami berdua sendirian?". Sambungnya lagi sambil menunjuk pada dirinya dan juga Hippo bergantian.


"Ayah benar. Bagaimana kita melatihnya selama sepuluh tahun ini jika hanya untuk mengalahkan kita berdua?". Imbunnya lagi.


"Ah kalian terlalu berlebihan paman. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik agar tidak menyia-nyiakan apa yang telah kalian ajarkan padaku selama ini. Aku hanya tidak ingin mengecewakan kalian Hippo". Ungkap putri Leona merendah dihadapan paman Hanos dan juga Hippo sambil membereskan anak panahnya yang berserahkan di tanah.


"Mari beristirahat. Istriku sudah menyiapkan makanan untuk kita". Setelah itu mereka semua kembali kedalam rumah dan melanjutkan makan siang bersama.


"Paman bibi. Aku akan pulang lebih awal hari ini". Ujar putri Leona setekah selesai dengan makan siangnya.


"Ah baiklah tentu saja. Mau Hippo yang mengantarkanmu atau kau bisa sendirian?". Tanya bibi Ann yang merupakan ibu Hippo.

__ADS_1


"Biar aku sendiri saja. Aku sudah banyak merepotkannya selama ini". Ungkapnya tersenyum dan disambut kekehan dari keluarga Hanos.


Putri Leona benar-benar tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Dibekali dengan kulit seputih susu dan rambut panjang yang berwarna putih juga benar-benar membuatnya semakin mempesona. Setelah berpamitan ia kembali ke atas bukit tempat dimana ia dan Hippo untuk pertama kalinya sampai ditempat itu. Paman Hanos juga mengajarkannya bagaimana membuka portal antara dunianya dan juga dunia ini. Ia melakukan hal serupa seperti Hippo dulu melakukan sihir rumit hingga sebuah cahaya muncul di balik dinding membentuk bunga teratai transparant tersebut dan ia sudah berada di luar batang pohon dihutan sama seperti spuluh tahun lalu.


"Ule".


"Iya tuah putri".


"Bagaimnaa menurutmu? Apa aku sudah cukup kuat sekarang"?. Tanya putri Leona.


"Aku takut aku tidak bisa melakukannya Ule". Tanya putri Leona sembari mengangkat sebelah tangannya membiarkan Ule hinggap diatas telapak tangan indahnya.



"Apa kau ragu saat ini tuan putri?". Putri Leona mengangguk pelan.


"Aku akan selalu bersamamu. Jadi jangan khawatir tuan putri".

__ADS_1


"Baiklah. Terimasih Ule". Kemudian ia meletakan Ule kembali ke atas pundaknya dan meneruskan perjalanan pulang.


"Aku haus. Bagaimana denganmu Ule?".


"Aku juga. Sedikit lagi tuan putri didepan sana ada sungai kecil. Kita akan istirahat disana jika kau kelelahan berjalan". Ungkap Ule dibalik pundak putri Leona.


" Lain kali aku akan mengajak Uwi bersamaku. Supaya aku tidak kelelahan seperti sekarang ".


"Aaahhh segarnya?". Ungkapnya setelah meminum air sungai yang nampak sangat jernih itu.


"Pelankan suaramu tuan putri. Aku rasa ada yang sedang mengawasi kita". Ungkap Ule yang masih bersembunyi di balik rambut putri Leona.


"Apa kau mencium auranya Ule. Apa itu penyihir? ". Tanya putri Leona sembari bangun dari duduknya perlahan dan meraih anak panah yang menggantung di punggungnya lalu bersiap dengan waspada kekanan dan kekiri sambil mengarahkan anak panah yang sudah siap melesat itu.


" Sesuatu yang sangat kuat. Pasti bukan penyihir jelek itu". Ucapnya dengan nada bergetar dan putri Leona dapat merasakan ketakutan Ule.


#Jgn lupa like, komen dan vote novel ini sebanyak-banyaknya. Author akan sangat berterimakasih🤗 atas dukungan kalian.

__ADS_1


__ADS_2