Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
40. Tempat Rahasia


__ADS_3

Lalu pada batang pohon tersebut terdengar bunyi yang cukup keras. Putri Leona mengalihkan pandangannya pada pohon tersebut.


Bugh-bugh-bugh-bugh-bugh-bugh..


Tangga-tangga kayu muncul dari dalam batang pohon satu persatu melingkar di sepanjang tinggi pohon tersebut hingga ke yang paling tinggi. Putri Leona tertegun sesaat. Bagaimana bisa apa....


Seseorang muncul dibalik rimbun dedaunan, ia menyelipkan dedaunan kesamping agar tidak menghalangi pandangan. Sosok anak laki-laki itu turun melewati tangga hingga sampai dihadapan putri Leona.


"Ule apa kau tahu siapa dia?".


"Dialah yang akan melatihmu".


"Hah?".


"Kenapa kau suka sekali meremehkan tubuh kecil seseorang tuan putri?". Sindir Ule kesal.


"Tentu saja Ule. Bagaimana ia melatihku tubuhku bahkah lebih tinggi darinya"?


"Jangan banyak mengeluh. Perkenalkan saja dirimu dan minta dia untuk melatihmu. Membujuk orang ini sedikit susah". Imbun Ule kemudian.


"Ah maaf jika aku mengganggumu. Tapi perkenalkan namaku Leona". Putri Leona mulai memperkenalkan diri dihadapan anak laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Untuk apa kau kemari. Jika hanya ingin mengganggu pergilah cepat. Tempat ini tidak aman untuk peri cacat sepertimu". Ujar anak laki-laki itu lalu hendak berbalik menaiki tangga.


Sreeeeeeeerrtttt.


Pedang putri Leona menebas salah satu anak tangga yang hendak dinaiki oleh anak laki-laki tadi hingga membuat kakinya hanya menggantung diudara beberapa saat sampai kembali menginjak tanah.


"Bisakah bersikap sedikit sopan ditempat tinggal orang lain?". Ketus anak tersebut menatap tajam putri Leona.


"Bisa saja jika kau juga melakukan hal yang sama. Aku sudah berbaik hati memperkenalkan namaku dengan benar tapi kau malah menyinggungku. Apakah itu sikap sopanmu dalam menyambut tamu?". Tukas putri Leona. Pedangnya kini sudah mengarah pada leher anak laki-laki tadi. Ia menyingerai kearah anak laki-laki itu dengan licik.


"Dasar lemah". Ejek anak tersebut langsung memutar tubuhnya kebelakang tubuh putri Leona dan melingkarkan tangan kanannya pada leher putri Leona dengan erat hingga putri Leona kesulitan bernafas. Pedang yang ada ditangannya terlepas karena ia tidak kuat lagi menahannya.


"Ule lakukan sesuatu".


Ule langsung membuka aura putri Leona seketika.


"Kau......". Ujar anak laki-laki itu perlahan melepaskan tanganya dari leher putri Leona.


"Maafkan aku". Ungkapnya menunduk dihadapan putri Leona.


"Jadi sekarang kita berteman?". Ujar putri Leona mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

__ADS_1


"Namaku Hippo. Maaf telah menyinggugmu tuan putri". Hippo mengulurkan tangan menerima jabatan tangan dari putri Leona.


"Langsung saja. Apa kau bisa mengajariku bertarung mnggunakan pedang dan senjata lainnya Hippo?". Tanya putri Leona.


"Tentu saja tuan putri . Suatu kehormatan". Ungkap Hippo tersenyum.


"Mari ikutlah denganku". Ungkapnya lagi terbang keatas pohon perlahan menuntun putri Leona.


"Kalau kau punya sayap lalu untuk apa kau membuat tangga Hippo?". Tanya putri Leona ingin tahu.


"Karena ada ramalan bahwa akan ada seorang peri tanpa sayap yang akan datang menemuiku". Ungkap Hippo tersenyum kearah putri Leona.


"Begitukah? Apa kau sudah bertemu dengan peri itu?".


"Baru saja. Dan dia mencoba membunuhku". Ujar Hippo lagi.


Putri Leona menaiki satu persatu tangga yang semakin tinggi. Ia menoleh kebawah sesaat. Ternyata sangat tinggi. Gumannya perlahan.


Saat sampai di atas pohon tersebut Hippo seperti menggariskan sebuah sihir pada batang pohon tersebut yang terlihat sangat rumit. Hingga sebuah cahaya muncul dibalik tempatnya menggaris hingga terlihat jelas pola bunga teratai berwarna putih.


Setelah cahaya dari pola bunga teratai tersebut meredup sebuah pintu besar seukuran tubuh Hippo terbuka dan Hippo masuk kedalamnya diikuti oleh putri Leona.

__ADS_1


__ADS_2