Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
64. Aura Asing


__ADS_3

Putri Leona melesat cepat dengan Magnus diikuti Alexa dan juga Aretha serta Hippo dari arah belakang. Kemampuan terbang Magnus memang jauh lebih unggul dibandingkan dengan peri maupun makluk lainnya bahkan


peri ahli terbang sekalipun. Hal ini tidak lepas dari statusnya yang merupakan binatang ilahi tingkat satu.


"Bawa aku lebih cepat Magnus. Semakin cepat kita sampai akan semakin bagus".


"Sesuai perintah darimu tuan putri".


"Tidakkah kalian memikirkanku?" . Suara Ule ikut terdengar dipikiran putri Leona.


"Ah aku hampir melupakanmu. Kemarilah". Ujar putri Leona sembari menjulurkan sebelah tangannya hingga Ule bisa mendarat diatasnya. Putri Leona kemudian meletakan Ule didalam busurnya yang telah ia pindahkan kedepan. Ule memegang salah satu anak panah itu dengan kuat kemudian memasang wajah marahnya pada putri Leona saat ia tak sengaja melihat putri Leona tersenyum kearahnya.


"Bahkan setelah selama ini kau masih belum berubah tuan putri". Putri Leona mengerutkan keningnya mendengar ocehan Ule.


"Kau masih saja menilai seseorang dari ukuran tubuh mereka dan bukan pada kemampuan mereka". Lanjut Ule.


"Apa aku tadi mengatakan sesuatu?". Putri Leona balik bertanya.


"Kau memang tidak mengatakannya secara langsung....tapi senyummu barusan telah mengatakan segalanya tuan putri". Ule kembali mencibir.

__ADS_1


"Jika itu yang mau pikirkan maka terserah padamu. Berpeganglah yang erat karena aku ingin kita lebih cepat menyelesaikan ini".


Setelah itu Magnus melesat dengan kecepatan berkali-kali lebih dari pada sebelumnya hingga putri Leona harus berpegangan lebih erat agar tak jatuh begitupu dengan Ule.


Sementara Alexa, Aretha dan juga Hippo berusaha secepat mungkin mengejar Magnus agar tidak kehilangan jejak. Ule sendiri sudah sejak awal menyembunyikan aura Magnus agar tak mengundang makluk lainnya mendekat dan lagipula mereka tidak menemukan siapapun selama perjalanan. Itu mungkin karena larangan dari istana agar seluruh peri dan hewan dihutan ini tidak berkeliaran kecuali mengambil buah.


"Magnus menurutmu kita akan berhasil?".


"Tentu tuan putri. Kita sudah bergerak sejauh ini sudah pasti akan berhasil".


"Baiklah. Terimakasih Magnus". Ungkap putri Leona seraya menarik masker daunnya agar tidak terbang terbawa angin.


"Apa kau merasakan sesuatu Ule?". Tanya putri Leona menimpali perkataan Ule sebelumnya.


"Iyah.....aku merasakannya. Tapi sangat asing".


"Apa kau tahu itu apa?". Putri Leona kembali bertanya.


"Apa terjadi sesuatu?". Putri Leona menatap Alexa saat suara Alexa terdengar dari arah belakang.

__ADS_1


"Ule mengatakan bahwa ia mencium aura asing yang sangat kuat sedang menuju kemari". Jelas putri Leona.


"Benarkah coba kulihat". Ujar Alexa sambil kedua belah tangannya memegang kepala dengan dua jari telunjuk dan jari tengah untuk memusatkan kosentrasinya terhadap apa yang sedang mendekat.


"Apa yang dia lakukan?". Aretha ikut bersuara.


"Mencari tahu siapa yang kuat yang sedang mendekat kearah kita saat ini". Terang putri Leona.


"Dia bisa melakukan hal semacam itu?" Aretha bertanya seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putri Leona.


"Ada apa dengan kakakku yang satu ini. Sudah lama kau bersama kami dan kau tidak mengetahui tentang hal ini?". Ujar putri Leona sambil menyibakan rambut pada leher Alexa hingga menampilkan titik hitam berbentuk bulan sabit yang sangat kecil.


"Jadi dia...?".


"Yah kakak benar. Jadi percayakan saja padanya". Ungkapnya tersenyum.


Alexa membuka matanya perlahan lalu berbalik menatap putri Leona. Lama ia menatap putri Leona dari atas smpai bawah tanpa mengatakan apapun. Putri Leona mengerutkan keningnya.


"Apa yang kakak lihat?". Putri Leona bertanya akhirnya.

__ADS_1


"Belum melihat apapun karena kau sudah terlebih dahulu mengganggu kosentrasiku". Ujat Alexa dengan nada ketus..Sementara Hippo sudah menahan tawanya terlebih dahulu.


__ADS_2