
"Harusnya kau dengan sukarela menyerahkan dirimu pada peri penyihir jahat Helena. Wajahmu saja sudah sangat cocok untuk menjadi penyihir jahat dan kejam. Jadi berhentilah bermimpi untuk menjadi baik. Orang yang melihatmu pasti sudah bisa menebak kalau kau adalah peri penyihir jahat". Tukas Alexa dengan senyum penuh kemenangan karena bisa mengejek Aretha dengan puas.
"Kakak". Tegur putri Leona yang sudah risih dengan kelakuan Alexa.
"Baiklah. Padahal kakak mengatakah hal sebenarnya".
"Sebagai sama-sama peri penyihir seharusnya kalian akur. Lagipula kakak selama ini belum pernah bertemu dengan peri penyihir lainnya jadi sekarang berhubung ada Aretha kenapa kalian tidak reunian saja. Seperti sebuah keluarga lama yang terpisah dan akhirnya dapat bertemu kembali".
"Hueeeek". Alexa bergaya seolah ingin muntah mendengar penuturan adikknya.
"Aku kurang paham dengan silsilah keluarga kerajaan kalian. Tapi satu hal yang masuk akal bagiku yaitu kalian tidaklah sedarah. Aku betul kan putri?". Tanya Aretha.
"Keluarga tak harus sedarah. Kami saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Bahkan ketika aku bayi kakakku ini yang selalu menemaniku dan mengajakku bicara". Ungkap putri Leona menatap wajah Alexa tersenyum.
"Kau dengar itu penyihir jelek?".
"Kakak!!!!".
__ADS_1
"Yah baiklah".
"Aretha bagaimana kalau kau ikut pulang bersama kami ke istana. Ayah dan ibu kami pasti tidak akan keberatan. Betul begitukan kakak?". Putri Leona mengajak Aretha yang nampak diam itu.
"Berhubung adikku yang memintanya jadi ikut saja. Tidak usah membantah". Ujar Alexa menimpali perkataan putri Leona.
"Bagaimana Aretha?". Tanya putri Leona sekali lagi.
"Baiklah aku ikut. Ini atas permintaanmu yah putri". Ungkap Aretha datar. Sementara Alexa memicingkan matanya memandang Aretha. Ada senyum kecil yang tersungging di bawah bibirnya meski tak dapat di lihat oleh yang lainnya.
"Apa kau yakin baik-baik saja kita membiarkan anak itu disini bersama kita?".Tanya raja Luis pada permaisuri yang sedang bersandar di dadanya.
"Jika itu yang putri-putri kita inginkan tentu saja aku menyetujui. Mereka pasti tahu dengan keputusan yang mereka ambil rajaku".
"Emmm. Aku khawatir bagaimana jika anak itu suruhan penyihir jahat itu. Jika benar itu bukan hal baik".
"Biarkan saja dulu. Putri kita menyukainya. Lagipula jika dilihat dari penampilannya memang terkesan dingin dan jahat. Tapi kita juga tidak bisa menilai sesuatu hanya dari luarnya saja bukan?".
__ADS_1
"Anak-anak pasti bisa melihat itu dalam diri Aretha. Oleh karena itu mereka membawanya kemari". Ungkap permaisuri panjang lebar.
"Baiklah. Kali ini aku serahkan pada anak-anak kita. Tapi jika sesuatu terjadi karena anak itu maka aku akan menghabisinya". Ungkap raja kemudian.
"Ini kamarmu. Tidurlah dengan nyenyak. Besok aku akan mengajakmu menemui teman-temanku yang lain". Setelah berkata demikian putri Leona kembali kekamarnya.
"Ule". Panggilnya dengan suara pelan.
"Ada apa putri?". Jawab Ule yang muncul di balik kotak kayu penyimpanan mahkota pemberian Alexa.
"Ceritakan padaku semua yang kau ketahui tentang peri penyihir jahat Helena dan semua binatang yang dimilikinya". Ungkap putri Leona dengan wajah serius menatap Ule.
Ule menghela napas anjang sebelum memulai cerita tentang peri penyihir jahat.
"Jadi seperti itu rupanya?". Ungkap putri Leona menganggukan kepala berkali-kali. Ia baru mengetahui segala cerita tentang peri penyihir jahat dari Ule. Termaksud hubungannya dengan ayah dan ibu Alexa yang sudah dibunuhnya.
"Baiklah jika seperti itu. Bukan hanya kerajaan ayahku saja yang dinginkannya tapi dia juga berani membunuh ayah dan ibu kakakku". Ungkapnya dingin dengan senyum menyingerai dibibir kecilnya.
__ADS_1