Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
56. Perjalanan Alexa Part II


__ADS_3

"Halo sayang. Kau baru sampai?" . Wanita tua itu menyapa pria itu yang sepertinya adalah suaminya. sementara Alexa masih mematung tak percaya. Bagaimana pria itu berjalan melewatinya begitu saja? Bahkan ia seperti tak terlihat di mata mereka. Dan juga makluk apa mereka ini?


"Ayah. Itu kau". Alexa menitikan air mata saat melihat wajah pria itu dengan jelas. Ia menutup mulut tak percaya. Meskipun rupanya sedikit berbeda dengan ayahnya tapi ia yakin kalau itu adalah ayahnya walau saat ini pria itu tidak bersayap dan terlihat sedikit berbeda dengan peri pada umumnya.


Ini benar-benar ayahnya bahkan sangat mirip.


Perlahan Alexa mencoba menyentuh bahu pria yang mirip ayahnya tapi tangannya selalu menembus kulit tubuh pria tersebut. Ia seperti sebuah bayangan yang tipis yang tak terlihat oleh kedua orang tersebut.


"Putri ayah yang lucu. Bagaimana kabarmu sayang?". Pria itu kini menggendong bayi perempuannya dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana kalau kita memberinya nama Leona". Ungkap pria itu lagi yang langsung disetujui oleh istrinya.


"Leona. Jadi ini putri Leona adikku?". Alexa menutup mulut tak percaya.


Ayah dan putri Leona? Bagaimana bisa?


Apa maksud dari mimpi ini sebenarnya? Kenapa sangat membingungkan?


Kemudian dalam sekejab mata Alexa sudah berada diruangan yang berbeda. Ia bahkan bingung bagaimana hal ini bisa terjadi. Jika didunia modern mungkin akan terlihat seperti sebuah layar monitor yang memampilkan gambar-gambar tempat yang berpindah dengan mudahnya. Seperti itulah situasi yang dirasakan Alexa saat ini.


"Ayah.......". Panggil seorang gadis kecil. Mungkin berusia sekitar tujuh tahunan yang berlari melompat pada seorang pria yang di panggilnya dengan sebutan ayah. Sang ayah menangkapnya dalam pelukannya dan mencium lembut kening gadis kecilnya itu.

__ADS_1


"Berhentilah berlari seperti itu Leona atau kau akan terjatuh". Seru wanita paru baya yang datang dari arah dapur dengan membawa sepiring kue dan segelas cokelat panas.


Putri Leona?


Sudah sebesar ini? Memang terlihat mirip dengan putri Leona waktu kecil dulu. Ia tersenyum kala mengingat kebersamaannya dan juga putri Leona.


Alexa mengamati setiap kejadian aneh ini dengan saksama meskipun ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Tak berapa lama ia sudah berada di sebuah taman bunga yang indah. Disana ada sebuah bangku panjang berwarna hitam. Di bangku tersebut terdapat dua orang yang sedang duduk berpelukan sambil salah satunya mengelus puncak kepala dengan rambut hitam panjang.


Perlahan Alexa mendekati bangku tersebut dan dapat melihat dengan jelas siapa yang duduk disana.


Putri Leona dan ibunya.


"Usiamu sudah tujuh belas tahun. Kau sudah cukup dewasa untuk menjaga dirimu sendiri. Lagipula ada ayahmu yang akan setia padamu. Dan ibu tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri walaupun ibu sudah tidak ada didunia ini uhuk-uhuk". Jawab ibunya dengan terbatuk. Leona langsung sigap memberikan minum pada sang ibu agar batuknya reda.


Alexa yang tengah duduk dihadapan Leona dan ibunya perlahan mulai mengerti dengan arah pembicaraan kedua ibu dan anak itu.


Dalam hatinya ia ikut merasakan kesedihan seperti yang di alami oleh Leona.


Kemudian ia kembali terbawa pada tepat yang baru lagi. Sebuah gedung mewah yang berhiaskan bunga berwarna putih pada setiap sudutnya. Dan juga semua meja dan kursi diberi lapisan kain berwarna putih sehingga terlihat serasi dengan bunga-bunga. Ada banyak orang disana. Pria wanita dan juga anak-anak. Mereka semua terlihat sama. Sama-sama tidak terlihat seperti peri pada umumnya. Tanpa sayap dan telinga mereka sangat kecil.

__ADS_1


Alexa berjalan menembus keramaian dan berhenti tepat dimana putri Leona berada. Ia dapat melihat raut kesedihan dalam diri Leona. Karena tak bisa berbuat apa-apa Alexa akhirnya memutuskan untuk mencari wanita paruh bayah itu lagi. Tapi ia tak menemukannya.


Ia lalu berjalan ketempat dimana ada ayah putri Leona berada bersama seorang wanita yang masih kabur dalam penglihatannya. Ia semakin mempercepat langkahnya saat melihat seorang yang tidak asing baginya dan berusaha memastikan penglihatannya tidak salah.


Penyihir Helena?


Alexa jatuh terduduk dengan kedua belah tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.


Bagaimana bisa? Ada ayah bersama penyihir Helena. Dan juga putri Leona di tempat ini? Siapa lagi orang-orang yang di kenalnya yang berada di tempat ini? Alexa kembali memandang pada penyihir Helena yang melebarkan senyum terbaiknya pada setiap orang yang bersalaman dengannya. Penyihir itu? Apa dia penyebab kesedihan putri Leona? Jika benar maka ia tidak akan diam saja.


Alexa bangkit dari duduknya dan berniat menemui putri Leona. Ia terbang di atas orang-orang yang duduk dibawahnya karena ingin lebih cepat bertemu putri Leona.


"Hey kau gadis payah, pergi dari sini. Sekarang ini adalah tempatku". Ujar seorang gadis pada putri Leona yang langsung menuruti perintahnya.


Alexa masih mengamatinya dari kejauhan.


"Awas jika kau melaporkan ini pada ayahmu". Ancam gadis itu lagi yang membuat putri Leona ketakutan.


"Dasar payah". Ejeknya lagi saat putri Leona menghilang dari pandangannya.


Siapa dia beraninya membentak dan memarahi adikku seperti itu. Alexa berniat menggunakan sihirnya untuk mengerjai gadis itu tapi sia-sia karena sihirnya sama sekali tidak berfungsi di tempat itu dan membuatnya merasa kesal dan tidak berguna.

__ADS_1


Sorot mata Alexa membulat saat gadis itu berbalik kearahnya.


Apakah itu aku?


__ADS_2