
Magnus terbang mengitari sekelompok kawanan Orgh yang berusaha menanahnya dengan anak panah beracun. Namun semua anak panah yang mereka panah selalu meleset dan tidak mengenai Magnus sekalipun. Putri Leona dan Ule masih mengawasi dengan waspada semuanya dibalik bukit salju sambil mengamati keadaan mereka berdua sendiri karena putri Leona tidak membawa senjata apapun saat ini jadi ia harus lebih waspada jikalau sewaktu-waktu ada Orgh lain yang mengawasinya sedang sendirian maka berakhirlah hidupnya.
Ah benar ia punya balok kayu dalam rumah tua itu, kenapa tidak dari tadi.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?".
"Baik aku mengerti tuan putri". Setelah itu Ule pangsung bergegas masuk kembali kedalam bangungan tua itu.
Setelah beberapa saat Ule kembali dengan membawa kayu kecil seukuran jarum jahit lalu menyihirnya kembali kebentuk semula. Putri Leona mengambil balok tersebut, masih berat seperti sebelumnya lalu melihat sekitar. Semua Orgh masih sibuk dengan Magnus ini adalah suatu keuntungan tersendiri. Lalu dengan merangkak ia berjalan bersembunyi di balik pohon kemudian lanjut lagi setelah merasa aman dan tidak ada yang menyadari pergerakannya.
Sruuurrkkkkhhh
"Arrgggghhh". Putri Leona jatuh terduduk setelah sebuah anak panah menembus punggungnya.
Duuuuaaaaarrrrr
__ADS_1
Magnus menyemburkan api dalam mulutnya dengan memb*bi-buta kesemua makluk Orgh setelah melihat putri Leona terkena anak panah beracun milik makluk itu.
"Tuan putri". Panggil Ule menyadarkan putri Leona yang beberapa saat mulai tak sadarkan diri.
"Tuan putri, kumohon bangunlah hiks-hiks-hiks". Tangis Ule melihat putri Leona.
Semua Orgh kini sudah terbakar habis tanpa perlawanan sama sekali. Magnus lalu pergi melihat keadaan putri Leona dan mendengus beberapa kali hingga asap putih keluar dari kedua lubang hidungnya.
Kemudian ia meniupkan udara dari dalam mulutnya kedalam tubuh putri Leona. Sebuah cahaya berwarna keemasan melesat dari mulutnya dan berputar mengelilingi tubuh putri Leona hingga akhirnya masuk kedalam tubuhnya meninggalkan tanda bergambar mahkota emas dalam tubuh putri Leona.
"Huuueeeekkk, Hueeekkkkk". Putri Leona memuntahkan semua cairan berwarna hijau dari dalam mulutnya. Rasanya sangat pahit dan juga berbau busuk.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku Ule. Apa yang mereka simpan pada anak panah itu. Kenapa efeknya sangat mematikan seperti ini?". Tanya putri Leona pada Ule dan juga Magnus setelah merasa dirinya sudah jauh lebih baik.
"Yang pasti bukan racun biasa. Dan lagi cairan hijau itu seperti darah makluk itu sendiri. Aku rasa mungkin mereka juga memasukan sedikit darah mereka dalam racun itu. Karena darah mereka sendiri jika mengenai tubuh peri seperti kalian pasti akan langsung mati saat itu juga". Terang Ule pada putri Leona.
__ADS_1
"Apa ada orang lain dalam hal ini. Maksudku adalah kenapa mereka membunuh banyak sekali peri? Bahkan semua anggota tubuh bagian dalam mereka sepertinya di ambil". Tukas putri Leona.
"Tanyakan semuanya pada makluk itu. Mungkin mereka menggunakannya sebagai makanan mereka". Ungkap Magnus menunjuk pada salah satu makluk Orgh yang sudah ia sandra sebelumnya untuk mencari tahu apa motif mereka yang sesungguhnya membunuh semua peri.
"Seperti yang diharapkan dari pria kecilku yang sudah bertumbuh besar" . Ujar putri Leona tersenyum menatap Magnus.
"Katakan padaku kenapa kalian membunuh banyak sekali peri?". Tanya putri Leona pada salah satu makluk Orgh yang sudah mereka seret masuk kedalam bangunan tua itu.
Makluk tersebut mendengus dan memandang rendah pada putri Leona. Terlebih tampilan putri Leona tidak tampak seperti peri yang biasa mereka temui pada umumnya.
"Apa kau tidak mendengar pertanyaanku?". Tanya putri Leona lagi. Namun makluk itu semakin tersenyum licik kepadanya membuatnya merasa kesal.
"Nagaku akan membakarmu saat ini juga jika kau sekali lagi memandang rendah terhadapku seperti itu. Jadi segera katakan saja kenapa kalian membunuh semua peri yang ada disini?". Ungkapnya lagi sambil menunjuk pada Magnus lalu berbalik pada Orgh tersebut.
__ADS_1
"*Magnus lakukan saja. Makluk ini terlalu membuang waktu ki...".
"Baiklah aku akan mengatakannya*". Sebuah suara asing muncul dalam pikiran putri Leona.