
Putri Leona benar-benar tercengang setelah masuk dalam pintu tersebut. Yang pertama kali dilihatnya saat ini adalah sebuah padang rumput yang sangat luas dengan banyak bunga-bunga berwarna-warni. Dibawahnya terdapat rumah-rumah kecil yang tersambung dengan satu atap serta terdapat jembatan kecil yang melintang diatas danau kecil yang sangat jernih. Bahkan putri Leona dapat melihat dengan jelas kedalam dasar kolam tersebut. Pemandangannya benar-benar menakjubkan.
"Tempat apa ini Hippo?". Tanya putri Leona tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah-rumah tersebut.
"Ini adalah tempat tinggal keluargaku tuan putri. Apa kau menyukainnya?". Tanya Hippo dengan bangganya.
"Tentu aku menyukainya. Tempat ini sangat bagus".
"Dan Hippo aku penasaran dengan bagaimana kita bisa berakhir ke tempat ini. Bukankah tadi kita berada didalam hutan?". Tanya putri Leona ingin tahu. Ia mengalihkan pandangannya menatap Hippo yang sedang menuruni bukit tersebut menuju rumah keluarganya.
"Itu adalah sihir yang dilakukan oleh ayahku untuk mencegah orang jahat memasuki kawasan kami. Ia menciptakan semacam dimensi lain untuk tempat tinggal kami. Jadilah seperti ini. Ayo bergegas ayah sudah lama menunggumu". Tukasnya seraya menarik tangan putri Leona untuk berjalan lebih cepat.
"Wah kalian sudah datang rupanya. Ayo silakan masuk tuan putri". Ungkap seorang pria paruh baya yang merupakan ayah Hippo ramah menyapa putri Leona.
__ADS_1
"Apa ini kunang-kunang Hippo?". Tanya putri Leona saat melihat bola-bola rajutan rotan menggantung diatas plafon rumah dengan puluhan kunang-kunang menyala didalamnya hingga membuat rumah menjadi lebih terang.
"Yah kau benar tuan putri". Jawab Hippo cepat.
"Kemarilah tuan putri". Ajak ayah Hippo yang bernama Hanos itu kebelakang rumah. Putri Leona berjalan mengikuti ayah Hippo didepannya.
Hanos ayah Hippo mengambil dua bilah pedang satu untuknya dan satu untuk Hippo. Kemudian dengan gerakan cepat ia mengarahkan pedangnya pada putri Leona. Putri Leona yang tak siappun langsung membeku ditempat namum beberapa saat kemudian ia sudah mengendalikan tubuhnya dan meraih pedang miliknya yang ada di punggungnya dan mengarahkannya pada Hanos. Hingga saat ini mereka saling bertatapan dengan pedang masing-masing menempel pada leher keduanya.
"Kau harus bisa mendengar ataupun merasakan hembusan benda yang bergerak walau dengan sangat pelan sekalipun". Ungkap Hippo di belakang putri Leona.
"Darimana kau dapatkan ini?". Tanyanya lagi sambil mengamati pedang putri Leona dengan saksama.
"Para prajurit. Aku mencurinya dari mereka". Sambung putri Leona cepat.
"Aku akan memperbaikinya lagi. Kalian berlatihlah lagi". Imbun Hanos meraih pedang dari tangan Hippo dan berlalu meninggalkan Hippo dan putri Leona agar berlatih lebih banyak.
__ADS_1
"Tenang saja. Ayahku seorang ahli pedang yang baik. Dia akan membuat pedangmu jadi lebih baik untuk kau gunakan. Percayalah". Ungkap Hippo yang melihat putri Leona menatap pedangnya yang dibawa pergi dengan sedih. Lalu ia melemparkan pedang miliknya kearah putri Leona yang langsung menangkap dan ia mengambil pedang milik ayahnya untuk mulai berlatih.
"Cobalah untuk tidak segan kepada musuh". Ungkap Hippo yang melihat putri Leona ragu-ragu dalam menyerangnya.
Srrreeerrrrrrrrrtttttttt
Darah mengucur deras dibalik lengan baju yang menutupi luka dilengan kiri Hippo akibat sabetan pedang putri Leona.
"Arrgggghhhh". Pekik Hippo kesakitan.
"Maaf aku hanya mencoba untuk tidak segan kepada musuh". Ungkap putri Leona yang langsung membekap luka Hippo dengan kedua tangannya agar darah tidah terus keluar.
"Yah kau sudah melakukannya dengan baik. Bahkan sangat baik". Imbun Hippo menahan sakit.
"Maaf". Ujar putri Leona kecut.
__ADS_1