
Putri Leona berjalan menuju hutan setelah berpamitan pada raja Luis sang ayah dan juga permaisuri. Ia berdalih ingin menemui Kila dan Konou, bahkan sang kakak Alexa tidak di ajaknya karena sibuk menjaga kuncup teratai.
Ia menyusuri hutan berdasarkan perintah dari Ule yang duduk diatas pundaknya. Pohon-pohon besar yang mereka jumpai disepanjang hutan bergoyang kekiri dan kekanan seraca perlahan karena tertiup angin atau mungkin karena menciun aura samar putri Leona. Ia melompat melewati sungai kecil yang lebarnya hanya selangkah kaki orang dewasa kemudian menunduk ketika sebuah batang pohon besar menghalangi jalannya. Batang pohon tersebut perlahan menjadi segar kembali dengan mengelupasnya kulit-kulitnya dan tumbuh kulit baru yang masih muda serta ranting-ranting dan dedaunan mulai tumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi pohon baru. Putri Leona menyaksikan peristiwa itu dan merasa takjub. Auranya benar-benar sangat membantu menghidupkan batang pohon tersebut menjadi pohon yang baru.
"Cepatlah kita harus terus berjalan". Tukas Ule yang duduk manis dipundak putri Leona.
Putri Leona kembali melanjutkan perjalanan melewati hutan yang sangat indah. Pepohonan rindang yang tumbuh dengan jarak masing-masing sekitar dua meter.
Dibawahnya terdapat hamparan dedaunan kering peninggalan musim gugur tahun lalu. Tidak ada tumbuhan atau tanaman liar lainnya yang tumbuh dibawah hutan itu. Benar-benar pemandangan yang sangat menakjubkan.
Putri Leona dapat melihat sinar matahari masuk kedalam dengan cukup jelas. Itu mungkin karena jarak tumbuh antar pohon yang lumayan jauh.
"Apa perjalanan kita masih jauh Ule". Tanya putri Leona secara langsung. Karena ia yakin tidak ada orang lagi selain mereka di tempat tersebut.
"Istirahat sebentar dulu. Aku lelah". Ungkapnya dengan nafas tersengal. Kemudian ia menyandarkan punggungnya pada salah satu pohon dihutan itu yang sedikit mencondongkan batangnya seperti memberikan putri Leona tempat bersandar agar putri Leona merasa nyaman.
__ADS_1
Mempunyai aura berbeda benar-benar memberikan keuntungan tersendiri baginya.
"Dasar payah". Umpat Ule kesal.
"Apa kau bisa berbicara sedikit sopan kepadaku Ule?". Dengan nafas yang masih tersengal.
"Aku bukanlah peri yang sempurna. Aku cacat huh". Mengatur nafas dengan baik.
"Jika aku punya sayap tentu aku tidak akan kelelahan seperti sekarang". Ungkapnya lagi.
"Tidak masalah. Baiklah kemana lagi sekarang kita pergi?". Tanya putri Leona bergegas dari sandarannya.
"Setelah menuruni bukit ini kita akan sampai
tuan putri". Jawab Ule menatap ujung bukit tersebut.
__ADS_1
Keduanya melanjutkan perjalanan hingga ke ujung bukit hutan itu dan berhenti sesaat. Putri Leona menatap kebawah kaki bukit tersebut. Tidak ada rumah atau apapun dibawah sana. Lalu siapa yang akan mereka temui?
"Kenapa tidak ada apa-apa disana Ule. Apa kau yakin orang yang akan melatihku tinggal dibawah sana?". Tanya putri Leona ingin tahu.
"Kita akan tahu setelah turun". Jawab Ule datar.
Seperti sebelumnya tidak ada apapun setelah mereka sampai di bawah kaki bukit itu. Tidak ada rumah atau tanda-tanda kehidupan. Hanya pepohonan besar yang sangat rimbun bahkan matahari tidak akan bisa menembusi tanah dibawahnya.
Saat putri Leona sedang bingung dengan pikirannya sendiri tiba-tiba pepohonan besar disekitar itu bergoyang dengan sangat hebatnya menimbulkan angin menjadi sedikit kencang hingga membuat dedaunan kering dibawahnya terbang kemana-mana. Putri Leona sangat terkejut. Bahkan jika pohon tersebut mencium auranya tidak akan sehebat ini goyangannya. Ia mengerutkan kening seraya melihat kekiri dan kekanan meningkatkan kewaspadaannya jika sesuatu yang buruk akan menimpanya.
"Sedang apa kau tuan putri?". Tanya Ule dengan entengnya sementara putri Leona sudah memasang kuda-kuda dengan mantap.
"Tentu saja berjaga-jaga jika ada bahaya yang sedang mengintai". Ungkapnya berbisik.
"Dia akan turun". Ujar Ule kemudian.
__ADS_1