Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
24. Malaikat?


__ADS_3

"Bukan itu maksudku adalah banyak sekali peri di hutan ini, kenapa hanya aku? Bukankah semakin banyak yang membantu akan semakin baik?". Tanya putri Leona memberikan argumennya.


"Karena kau adalah yang terpilih".


"Aku? Siapa yang berani memilihku tanpa persetujuanku? Apa ayah atau ibuku?". Tanya putri Leona sedikit kesal.


Sementara Ule hanya bisa menarik nafas berat. Ia sungguh berpikir kenapa Deus memilih gadis bodoh seperti ini? Lalu ia mengatakan.


"Terkadang beberapa orang di lahirkan karena suatu alasan".


Putri Leona mematung untuk beberapa saat setelah mendengar perkataan Ule.


"Kau itu anak tidak berguna".


"Kau terlahir di dunia ini saja sudah menjadi suatu kesalahan".


"Kau hanya menjadi beban untuk ayahmu".


"Dasar anak tidak diuntung".


Sekebelat kata-kata ibu tirinya terngiang kembali di telinganya.


Tapi Ule, bahkan baru saja bertemu dengannya mengatakan sesuatu yang sangat berbeda dari yang biasa di dengar dari ibu tirinya dulu. Ia tertalu sibuk dengan kehidupan barunya saat ini sebagai seorang putri raja, pewaris sah kerajaan yang di pimpin oleh sang ayah baru dan melupakan kehidupannya yang dahulu. Melupakan ayahnya yang dulu. Bagaimana keadaan ayahnya saat ini? Apakah ayah baik-baik saja tanpaku? Aku rindu ayah, aku rindu. Begitu batinnya berseru lirih.

__ADS_1


"Jadi apa keputusanmu tuan putri?". Tanya Ule akhirnya.


"Baiklah aku bersedia".


"Lalu bagaimana sekarang?". Tanya putri Leona lagi.


"Kita akan kembali esok untuk menemui kuncup teratai".


"Untuk apa?".


"Kau sudah di beritahu sebelumnya. Apa kau lupa sekarang?".


"......"


"Tadi aku bermimpi menemui.... tunggu jadi tadi bukan mimpi?". Tanya putri Leona kaget.


"Tentu saja. Tadi adalah kuncup teratai yang menemuimu. Besok kita akan kesana. Sekarang kembalilah tidur".


"Baiklah".


Keesokan harinya.


"Ayah aku ingin bertemu temanku. Bolehkan ayah".

__ADS_1


"Tentu saja. Ajaklah kakak Alexa untuk ikut bersamamu".


"Tidak ayah, temanku seorang pemalu. Nanti jika ia sudah siap aku akan mengajaknya bertemu dengan kakak".


"Kalau begitu baiklah. Berhati-hatilah".


Setelah meminta ijin dari sang ayah putri Leona segera berangkat menuju sisi utara hutan ini sesuai permintaan wanita teratai yang di ketahui adalah kuncup teratai itu sendiri. Ia pergi bersama dengan Ule yang duduk di bahu kirinya. Ule sengaja menutup seluruh auranya agar tidak memancing banyak tumbuhan dan juga hewan, serta yang paling di takutkannya adalah peri penyihir jahat akan mencium auranya. Sama seperti sebelum-sebelumnya aura tubuh putri Leona memancing banyak perhatian tumbuhan dan hewan, memperlakukannya dengan baik sehingga ia bisa melewati jalanan tanpa ada hambatan apapun hingga sampai ke sisi utara hutan.


"Akhirnya kau datang juga putri". Sapa wanita yang ada dalam mimpinya semalam.


"Jadi benar semalam aku tidak bermimpi". Batin putri Leona.


"Iyah aku datang sesuai permintaanmu. Jadi siapa yang ingin menemuiku?". Tanya putri Leona langsung.


"Rupanya kau sudah tidak sabar". Ujar wanita teratai itu terkekeh.


"Pergilah ke dalam sana. Disana kau akan menemuinya". Imbunnya lagi.


Tanpa menunggu putri Leona langsung mengikuti arahan dari wanita teratai tersebut.


Dia menunggu lama, melihat kiri dan kanan tapi tida ada tanda-tanda seseorang akan datang. Hal ini membuatnya kesal dan berniat kembali. Tapi tiba-tiba saja udara disekitar tempatnya berpinjak menjadi semakin gemuruh oleh angin yang entah dari mana asalnya. Ia membuka kedua matanya yang terpejam sebelumnya karena angin tersebut, lalu memandang ke atas langit. Sosok wanita cantik dengan sayap putih nan besar terlihat seperti malaikat turun dari atas langit.


"Apa ini malaikat yang sesungguhnya? Dunia ini ternyata lebih indah dari yang kubayangkan sebelumnya. Ternyata malaikat juga ada disini". Batin putri Leona yang terpanah melihat sosok tersebut yang sudah ada di hadapannya tersenyum menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2