Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
47. Tumpukan Mayat


__ADS_3

Kedua mata putri Leona membesar saat mendapati dirinya berada ditengah hamparan salju berwarna merah muda. Yah benar ini adalah salju berwarna merah muda. Putri Leona tertegun bagaimana ia bisa berada di tempat ini? Dan lagi salju ini berbau anyir.


"Ule Magnus! Kalian bersamaku? Dimana kalian?" . Panggilnya namun tidak ada jawaban dari Ule maupun Magnus.


Ia bangkit berdiri sambil membersihkan sisa-sisa salju yang menempel pada pakaiannya. Lalu mulai berjalan kesekitar mencari tahu dimana keberadaannya maupun keberadaan Magnus dan juga Ule.


Sepanjang jalan yang ia telusuri tidak ada tanda-tanda atau petunjuk apapun mengenai tempat ini. Hanya pohon-pohon yang tumbuh disepanjang jalan tanpa sehelai daun sisa musim gugur.


Kedua kakinya berhenti melangkah saat melihat sebuah bangunan tua yang sangat kuno. Mungkinkah ada seseorang yang tinggal disana? Tidak ada salahnya jika ia pergi memeriksa untuk memastikannya.


Akhirnya ia kembali berjalan sampai di gerbang bangunan tua itu. Kemudian membuka pagar tersebut dan mulai masuk kedalamnya.

__ADS_1


Gelap...hanya itu yang dilihatnya saat pertama kali membuka pintu bangunan yang tidak terkunci itu.


"Halo....Apa ada seseorang disana?".Panggilnya dengan keras hingga menimbulkan gema. Sepertinya bangunan ini sangat besar.


Karena tidak ada jawaban juga setelah ia berkali-kaki memanggil akhirnya ia masuk kedalam bangunan itu. Bau anyir lebih terasa saat ia semakin dalam masuk dalam bangunan tersebut.


"Tempat apa ini. Kenapa tidak ada seorangpun yang tinggal disini?". Gumannya sensdiri sambil terus melangkah maju. Tangan kirinya menutup kuat hidung saat bau anyir makin menusuk kedalam hidungnya. Ia ingin muntah tapi dengan sekuat tenaga ia menahannya.


Bruughhhhh


Huueeekk-huueeekkk.

__ADS_1


Putri Leona memuntahkan segala isi perutnya saat melihat sekelilingnya yang dipenuhi oleh tumpukan mayat dengan berbagai macam bentuk. Ada yang kehilangan kepala, tangan kaki. Ada pula yang kehilangan setengah badannya. Beberapa mayat sudah membusuk dengan ulat-ulat kecil yang menggeliat menggerogoti sisa-sisa daging ada pula yang sudah menjadi tengkorak.Tapi dari semua itu semua mayat itu perut mereka sudah terbelah dan segala isinya telah hilang. Apa ini pembunuhan masal?


Putri Leona dengan susah payah segera bangkit berdiri menjauhi tumpukan mayat tersebut. Tubuhnya sangat lemas setelah semua isi perutnya telah habis ia muntahkan Ditambah bau anyir dari mayat-mayat tersebut membuat kepalanya terasa pusing. Bagaimana caranya ia keluar dari tempat ini. Lantai atas tempatnya terjatuh sangat tinggi dan sulit untuk ia gapai begitu saja. Ia melirik kesegala arah berusaha mencari jalan keluar. Tidak ada apa-apa. Semuanya gelap.


Kemudian ia melirik pada tumpukan mayat tersebut. Ada banyak baju-baju dan juga segala benda yang sepertinya milik para mayat itu. Dengan keberanian yang terpaksa ia meraih potongan-potongan baju dari para mayat yang sudah bercampur dengan daging busuk dari mayat-mayat itu. Beberapa ulat juga nampak menggeliat di jari - jari putri Leona saat kedua tangannya tanpa sengaja mengenai ulat tersebut. Dengan gerakan cepat putri Leona segera mengibaskan ulat tersebut dengan sebelah tangannya hingga bersih. Semua potongan baju tersebut diikatnya menjadi tali yang panjang. Kemudian diujung tali tersebut ia mengikatkan sebuat balok yang sangat besar dan berat untuk ukurannya.


Dengan ancang-ancang yang kuat ia melemparkan balok yang sudah terikat itu keatas lantai tempatnya terjatuh. Gagal. Balok tersebut jatuh bahkan tak sampai setengah diudara. Memang terlalu berat untuknya.


Beberapa kali ia masih mencoba namun hasilnya tetap gagal. Dengan kesal ia melemparkan bakok tersebut pada tumpukan mayat hingga mayat tersebut semakin hancur dan tak berbentuk.


Sihir. Ah benar sihir kenapa ia tidak mencobanya.

__ADS_1


Dengan senyum sumringah ia mengambil kembali balok tersebut yang sudah bercampur daging busuk dan ulat-ulat tersebut. Kali ini ia menyesali perbuatannya yang melempar balok itu pada tumpukan mayat. Dengan helaan napas panjang ia mulai melakukan sihir seperti yang di ajarkan Ule untuk membuat benda-benda melayang seperti yang diinginkan. Berkali-kali ia mencoba namun balok kayu tersebut masih berdiam di atas tangannya. Apa yang salah? Kenapa bahkan disituasi yang sulit seperti sekarang bahkan ia tak bisa melakukan sihirnya? Tidakkah cukup menjadi peri tanpa sayap dan sekarang ia bahkan tak punya kekuatan apapun. Ia menangis dengan sedih. Bagaimana jika ia juga akan berakhir seperti tumpukan mayat tersebut tanpa diketahui oleh ayah dan juga ibunya. Dengan Alexa dan juga Aretha. Sahabatnya Kila dan Konou. Kemudian para sayapnya Uwi dan juga Magnus. Dan juga Ule tempatnya selalu meminta pendapat. Ia semakin sesih memikirkan smua orang yabg dikasihinya.


#Jgn lupa like komen dan vote


__ADS_2