
Putri Leona bangun dari duduknya dengan kedua tangan masih memegang balok. Ia tak harus putus asa hanya karena beberapa kali gagal. Ia hanya perlu mencobanya lebih banyak. Setidaknya ia tak harus mati seperti mayat-mayat itu. Terlalu mengerikan jika harus mati seperti itu. Putri Leona bergidik sendiri kala membayangkannya.
"Semoga keberuntungan berpihak padaku". Ucapnya kemudian melakukan sihir itu kembali. Balok itu hanya bergerak sedikit keudara sebelum terjatuh kelantai dengan suara yang cukup keras.
Putri Leona semakin bersemangat. Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi ia pasti akan berhasil.
Kemudian ia mencobanya lagi dan lagi. Balok tersebut hanya melayang diudara untuk beberapa saat lalu jatuh kelantai.
"Sialan kau balok. Aku akan membakarmu nanti kalau kau jatuh lagi". Umpatnya dengan kesal lalu kembali membuat sihir pada balok tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuatnya terkejut. Balok tersebut berhasil terbang dan mendarat dengan sempurna di atas lantai tempatnya terjatuh. Apa-apaan ini? Apa ia harus mengancam terlebih dahulu baru sihirnya akan berhasil? B*doh amat! Yang penting sekarang ia harus keluar dulu dari tempat ini.
"Tuan putri syukurlah kau baik-baik saja". Putri Leona terdiam sesaat kala mendengar suara Ule dalam pikirannya.
"Tuan putri kau baik-baik saja?". Kini suara Magnus yang terdengar
"Kalian! Sejak kapan kalian kesini?". Kini putri Leona yang bertanya dengan senang pada Ule dan juga Magnus yang sudah ada dihadapannya.
"Kami mengikuti auramu sampai kesini tuan putri. Dan ternyata kau sedang berusaha melakukan sihir pada balok itu tadi jadi aku membantumu saat baru sampai disini". Ujar Ule menjelaskan.
__ADS_1
"Hah???? Jadi tadi kau yang melakukannya?" Ule mengangguk menjawab pertanyaan putri Leona.
"Jadi memang bukan aku yang melakukannya?". Ucapnya dengan lemas.
"Ayo kita segera pergi dari sini tuan putri. Tempat ini tidak aman". Setelah mendengar perintah Ule, putri Leona lalu naik keatas punggung Magnus yang sudah berjongkok dihadapannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Ule aku penasaran dengan tempat ini. Bisakah kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi disini?". Tanya putri Leona pada Ule.
"Itu bukan ide yang baik. Sebaiknya kita langsung pergi saja". Ujar Ule memberitahu.
"Magnus mendarat disana". Tunjuk putri Leona pada tumpukan salju yang berwarna merah pekat. Magnus mengikuti arahan dari putri Leona sedangkan Ule hanya mendengus kesal. Untuk apa bertanya pendapatnya jika akhirnya memutuskannya sendiri.
"Kau merasakan sesuatu Ule?"
"Hanya tumpukan mayat yang sangat banyak. Kau ingin melihatnya lebih jelas? Aku bisa membuka tumpukan salju itu dengan sihirku". Jawab Ule.
"Tidak perlu?" . Ungkap putri Leona lalu mengalihkan pandangannya sekitar.
__ADS_1
"Apa kau yakin tidak merasakan aura apapun lagi selain mayat-mayat yang terkubur disini?". Ungkapnya menatap Ule sambil menunjuk bukit salju itu dengan telunjuknya.
"Aku tidak merasa apapun lagi selain itu. Apa kau merasakan sesuatu?". Ule bertanya pada putri Leona yang masih mengedarkan pandangan matanya kesegala arah.
"Entahlah. Aku hanya merasa...
"Si*alan..... menunduk". Umpat putri Leona sambil menunduk dibalik bukit salju. Sebuah anah panah tertancap pada batang pohon yang berada tidak jauh dari tempat putri Leona berdiri.
"Apa kau melihatnya?". Tanya putri Leona yang mengintip dari bukit salju itu.
"Itu...itu Orgh. Sekawanan Orgh". Ujar Ule yang masih berlindung dipundak putri Leona.
"Magnus alihkan perhatian mereka ". Ungkap putri Leona berbisik.
"Tidak ada yang mendengarmu". Protes Ule atas kekonyolan putri Leona.
"Hanya untuk berjaga-jaga". Putri Leona membela diri.
__ADS_1
Magnus terbang dengan gagah diatas sekawanan Orgh yang berusaha memanah putri Leona tadi. Sementara putri Leona masih mengintip dibalik bukit salju menunggu saat yang tepat untuk beraksi.