
"Ayo minta maaflah". Ucap Zary untuk kesekian kalinya pada Giee yang masih tak bergeming.
"Untuk apa. Dia hanya penyihir yang tidak tahu malu". Gerutunya dengan sangat pelan terdengar.
"Putri maafkan kesalahan kami. Sebaiknya kami pergi saja". Ungkap Zary membungkukan diri dihadapan putri Leona.
"Maafkan kami tuan putri". Lanjutnya lagi kemudian menarik paksa lengan Giee untuk menjauh dari sana bahkan sebelum putri Leona mengatakan sesuatu.
"Kumohon kakak jangan seperti ini lagi. Inilah alasanku untuk selalu pergi sendiri daripada mengajak kakak ataupun kakak Alexa". Ucap putri Leona.
"Dialah yang tidak minta maaf dan pergi begitu saja. Kenapa jadi aku yang bersalah?". Ujar Aretha membela diri.
"Lagipula untuk apa kau bersedih hanya untuk peri ahli bunga seperti mereka". Imbunnya lagi.
Putri Leona menarik nafas dengan berat kemudian beralih memandang Aretha yang masih dengan ekspresi datar tanpa rasa bersalah.
"Kakak bertanya untuk apa aku bersedih untuk mereka?". Aretha mengangguk menanggapi perkataan putri Leona.
"Itu karena mereka sama pentingnya dengan kakak. Untuk itulah aku butuh mereka disisiku".
"Tapi untuk apa? Istana ayahmu bahkan mempunyai begitu banyak prajurit tapi kau masih membutuhkan mereka?". Aretha menyela perkataan putri Leona dengan nada yang tinggi.
"Karena mungkin suatu saat nanti aku akan sangat membutuhkan bantuan dari mereka walau sekecil apapun untuk bisa melawan peri penyihir jahat Helena". Jawab putri Leona menatap Aretha yang berkedut mendengar jawabannya.
"Baiklah".
__ADS_1
"Baiklah?". Putri Leona mengulangi perkataan Aretha.
"Kau ingin melawan penyihir jahat Helena-kan? Baiklah mari kita lakukan". Ujar Aretha menimpali perkataan putri Leona.
"Kita tidak akan bisa melawannya sekarang. Aku harus menyempurnakan kemampuan sihir untuk bisa mengalahkannya". Ungkap putri Leona. "Dan aku butuh banyak orang yang mendukungku untuk itu". Sambungnya lagi.
"Karena itu kakak bersikap baiklah pada siapapun yang akan kita temui nanti".
"Kita hanya akan membuang waktu secara sia-sia jika hanya menemui orang-orang dengan cara seperti itu". Tukas Aretha.
"Aku tahu itu". Sambung putri Leona.
"Apa kita tidak punya pilihan lain lagi?". Tanya Aretha sekali lagi.
"Mereka? Siapa?".
"Monster duyung". Ungkapnya tersenyum memandang Aretha.
"Kau ingin menyerahkan nyawamu pada mereka?". Ketus Aretha.
"Tentu tidak jika aku membawakan sesuatu yang berharga sebagai penggantinya".
"Jangan bercanda. Tidak ada yang lebih berharga lagi bagi monster itu jika bukan dirimu sendiri". Ujar Aretha.
"Putuskan saja kakak ikut atau tidak".
__ADS_1
"Bagaimana dengan raja dan juga permaisuri? Kenapa tidak tanyakan saja pendapat itu pada mereka?". Tanya Aretha ketus. "Mari pulang dan bicarakan lagi dengan penyihir lainnya". Sambungnya lagi lalu terbang meninggalkan putri Leona.
"Penyihir lainnya? Dia lucu sekali". Batin putri Leona. Ia tersenyum simpul memikirkannya.
_________________
Alexa terbangun dari tidurnya yang terasa panjang. Keringat keluar dari tubuhnya dengan sangat banyak mengalir diantara wajah cantiknya.
"Adikku....
Ia langsung bergegas keluar mencari putri Leona. Entah kenapa ia hanya ingin bertemu dengan adiknya dan memeluknya dengan sangat erat dan kemudian ia akan meminta maaf serta akan banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada adiknya itu.
"Kenapa terburu-buru seperti ini Alexa? Apa telah terjadi sesuatu?". Alexa langsung memeluk tubuh permaisuri dengan sangat erat ketika mendengar suaranya. Ia kembali menangis dengan tersedu-sedu.
"Ada apa?". Tanya permaisuri lagi.
"Aku kakak yang buruk. Aku memperlakukan adikku dengan sangat buruk ibu. Bagaimana bisa aku menjadi seorang kakak seperti ini. Maafkan aku ibu. Hiks-hiks".
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?". Tanya permaisuri yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Alexa. "Jika kau berbuat salah pada adikmu maka minta maaflah padanya bukan pada ibu. Mengerti?". Lanjut permaisuri lagi yqng diangguki oleh Alexa.
"Ibu tahu dimana dia sekarang?". Alexa menatap permaisuri menunggu jawaban.
"Ibu juga tidak tahu. Semakin besar dia jadi sering berkeliaran tanpa memberitahu pada ibu dan ayah". Ujar permaisuri tersenyum lembut.
"Tunggu saja dikamarnya dia pasti segera kembali". Alexa mengangguk setuju dengan perkataan permaisuri dan menunggu putri Leona disana.
__ADS_1