Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
46. Tempat Asing


__ADS_3

"Bagaimana pria kecilku ini bisa tumbuh dengan sangat cepat seperti sekarang. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya tapi sekarang tubuhmu malah jauh lebih besar dari sebelumnya. Ah aku bangga padamu Magnus". Ungkap putri Leona sembari mengelus puncak kepala Magnus.


"Ibu naiklah keatasku. Aku akan mengajakmu berkeliling". Ungkap Magnus yang terngiang dipikiran putri Leona.


"Ah sudah kukatakan jangan memanggilku ibu. Panggil saja tuan putri seperti yang lainnya". Protesnya saat Magnus kembali memanggiknya dengan sebutan ibu.


Putri Leona naik diatas Magnus dan memeluk erat leher magnus. Perlahan Magnus mengepakkan sayapnya dan mukai terbang membawa putri Leona dan juga Ule. Magnus membawanya jauh berkeliking didunia keluarga Hanos yang belum sempat di jelajahinya itu. Magnus turun di hadapan air terjun dengan sebuah danau dibawahnya yabg berwarna jernih. Bahkan putri Leona dapat melihat dengan jelas segala jenis ikan kecil dan hewan lainnya yang tinggal didasar danau. Pancaran warna-warni pelangi yang berada didanau benar-benar menambah keindahan tersendiri ditempat ini. Benar-benar pemandangan yang sangat luar biasa. Ini semua pasti ide dari bibi Ann. Sangat disayangkan selama ini ia tidak pernah tahu bahwa ada tempat yang mengagumkan seperti ini di tempat ini.


"Ule bagaimana kalau aku masuk kedalam? Apa akan baik-baik saja?". Tanya putri Leona ingin memastikan keadaan aman untuknya.


"Masuklah. Aku tidak merasakan aura apapun kecuali hanya beberapa binatang kecl". Jawab Ule setelah tidak menemukan aura aneh yang berbahaya.

__ADS_1


Putri Leona melangkan masuk kedalam air danau itu. Pertama kali yang ia rasakan adalah seluruh tubuhnya menjadi dingin seperti es. Air ini benar-benar sangat segar. Dengan sekali tarikan napas putri Leona menyelam kedasar danau. Sementara Ule hanya memperhatikannya dari atas puncak kepala Magnus dan duduk dengan manisnya.


Selama beberapa saat putri Leona belum juga muncul kepermukaan dan masih asik menyelam semakin kedasar danau.


"Kenapa kau lama sekali. Aku hampir saja ingin menarikmu keluar" . Ujar Ule saat putri Leona berjalan keluar dari dalam danau.


"Kau mengkhawatirkanku Ule?". Ungkapnya tersenyum tipis kearah Ule sambil menguras sisa air dirambutnya.


"Tentu saja aku khawatir padamu. Kau sangat lama berada didalam air. Bagaimana kau bisa bernapas nantinya?". Ungkapnya lagi sedikit kesal.


"Benarkah? Aku tidak tahu soal kemampuanmu yang itu".

__ADS_1


"Lalu apa kakekku mengetahui ini?". Tanya putri Leona lagi. Ule menjawabnya dengan gelengan kepala.


"*Bahkan peri ahli air sekalipun tetap butuh udara untuk bernafas. Mereka akan memindahkan air jika ingin bernapas didasar danau dan menciptakan ruang kecil untuk menyimpan pasokan udara. Mereka bahkan melakukannya dengan cepat karena jika tidak demikian maka ruang udara itu akan meletus dan berubah kembali menjadi air". Jelas* Ule panjang lebar pada putri Leona.


"Namun untuk apa yang baru saja kau katakan tadi aku benar-benar sangat terkejut. Sepertinya ini salah satu kelebihanmu yang istimewa yang tidak pernah diperhitungkan olehku selama ini". Imbunnya lagi.


"Maksudmu ini hal pertama kali yang terjadi?". Ule kembali mengangguk menjawab pertanyaan putri Leona.


"Aku akan masuk kembali. Kau dan Magnus tunggulah disini sampai aku kembali". Ungkap putri Leona lalu kembali masuk kedalam danau tersebut dan menyelam kedasar danau.


Putri Leona menyelam semakin dalam. Dasar danau yang ia lihat dengan jelas dari permukaan tampak sangat jauh untuk ia raih. Pasalnya semakin ia berusaha menyentuh dasar danau itu semakin jauh pula rasanya dasar tersebut berada. Ia benar-benar sangat kesulitan untuk sekedar menyentuh atau meraih salah satu bebatuan dari danau tersebut . Ia benar-benar bingung. Bahkan ia berenang sudah cukup jauh tapi kenapa dasar danau itu tak pernah sampai ia raih. Ini benar-benar sangat membingungkan.

__ADS_1


Saat ia sedang sibuk dengan pikirannya tida-tiba tubuhnya terhempas jauh oleh sebuah gelombang yang sangat besar dari arah kirinya tanpa bisa ia hindari. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Tulangnya serasa remuk. Ia meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya dengan sebelah tangan. Ia membuka mata perlahan sambil bangun dari tidurnya.


"Eh ini dimana?".


__ADS_2