Fairy Princess Without Wings

Fairy Princess Without Wings
30. Uwi


__ADS_3

Putri Leona sampai di istana dan memerintahkan prajurit istana untuk segera menyiapkan kandang terbaik untuk Uwi. Sementara Ule masih bersembunyi di antara rambut putihnya di belakang telinga putri Leona.


"Kenapa anak ayah lama sekali? Apa tempat tinggal temanmu itu sangat jauh?". Tanya raja Luis saat melihat kedatangan putri Leona.


"Heheh ayah. Aku merindukan ayah". Ungkap putri Leona langsung memeluk ayahnya dengan sangat erat. Pergi seharian bersama bibi Angel rasanya seperti setahun tidak berjumpa dengan ayah dan ibunya.


"Mari masuk. Lalu ceritakan pada ayah tentang temanmu itu sampai membuatmu lupa waktu". Ungkap raja sambil menggendong tubuh putri Leona.


"Ah baiklah ayah. Aku akan menceritakan pada ayah dan juga ibu". Ujarnya sambil mengeratkan pelukan pada raja Luis.


"Semoga ayah tidak melihat Ule". Batin Leona yang masih dalam gendongan raja Luis.


"Tenang saja tuan putri. Tidak akan ada yang melihatku. Aku sudah menutup auraku dengan sangat baik". Kata-kata Ule terngiang di pikiran dan telinga putri Leona membuatnya berkerut kening.


"Ule kau mendengarkan pikiranku?". Tanya putri Leona dalam hati.

__ADS_1


"Iyah tuan putri aku mendengarkanmu. Tanpa kita sadari sepertinya raja sudah membuat sihir penghubung pikiran, dia pasti sudah memikirkan tentang hal ini sebelumnya".


"Wah kakekku benar-benar diluar dugaan. Dia melakukan segala sesuatu dengan sangat baik" Puji putri Leona yang di setujui juga oleh Ule. Memang benar raja peri bulan memang sangat bijaksana dalam mengambil segala keputusan dan mempertimbangkan segala baik dan buruk sebelum bertindak. Hal ini disadari betul oleh Ule.


"Turunkan aku disini ayah. Aku ingin membersihkan diri dulu. Aku akan sangat cepat melakukannya".


"Baiklah ayah menunggumu di kamar bersama ibumu".


Tok-tok-tok


"Iyah kakak. Masuklah".


"Darimana saja kau sepanjang hari. Bahkan tidak mengajak kakakmu ini. Apa hanya sebatas itu persaudaraan kita heh?". Sergah Alexa yang kesal karena ditinggal seharian oleh putri Leona.


"Heheh. Tentu saja tidak kakakku yang manis. Ada sesuatu hal yang memang aku sendiri yang harus menyelesaikannya. Kemarilah aku akan menceritakan semuanya nanti di kamar ayah dan ibu". Lalu putri Leona menarik paksa kedua tangan kakaknya untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


Putri Leona menceritakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditutup-tutupi kecuali perihal Ule. Berawal dari mimpi dengan wanita teratai, lalu bertemu bibi Angel dan berakhir di istana peri bulan menemui kakek raja dan juga hadiah pemberian dari kakek raja untuknya.


"Apa....! Kau sudah bertemu dengan bibi dan kakekmu?". Pekik permaisuri tidak percaya. Ini sungguh tidak adil baginya. Bagaimana bisa ia sudah ditinggalkan dan tidak pernah di kunjungi oleh adik dan juga sang ayah. Tapi mereka malah datang menemui putrinya Leona. Seperti tahu isi hati sang ibu putri Leona berkata.


"Bibi dan kakek selalu mengawasi kita ibu. Jadi jangan khawatir, mereka sama sekali tidak pernah meninggalkan kita sendirian". Ungkapnya tersenyum menatap ibunya dengan lembut.


Sementara jauh dari tempat tinggal mereka saat ini, seorang kakek tua tersenyum menatap sebuah bola kristal ajaib miliknya. Didalam bola kristal tersebut ia dapat melihat dan mendengar dengan jelas semua yang terjadi pada anak dan juga cucu perempuannya. Dia adalah kakek raja putri Leona. Raja peri bulan.


"Cucuku benar-benar luar biasa". Gumannya pelan.


"Lalu dimana kuda pemberian kakekmu". Tanya permaisuri setelah menenangkan rasa sedihnya. Sebenarnya tanpa diberitahu oleh putri Leona ia sendiri pasti yakin jika ayahnya sedang mengawasinya dengan bola kirstalnya. Tapi bertatap secara langsung adalah kerinduan tersendiri untuknya.


"Ah uwi. Dia sudah ada dikandang yang baru di buat oleh prajurit". Ungkap putri Leona tersenyum.


"Uwi....?".

__ADS_1


__ADS_2